© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Mengapa kita perlu memahami risiko operasional?

Risiko operasonal oleh Basel II didefinisikan sebagai suatu risiko kerugian yang disebabkan karena tak berjalannya atau gagalnya proses internal, manusia dan sistem, serta oleh peristiwa eksternal.

Untuk membentuk suatu perusahan yang maju maka perusahaan harus dapat menjalankan sebuah sistem yang baik. Sistem yang baik dilakukan untuk meminimalkan akan terjadinya risiko karena setiap organisasi perusahaan pasti memiliki risiko. Menurut Hanafi (2006) mendefinisikan manajemen risiko pada organisasi adalah suatu sistem pengelolaan risiko yang dihadapi oleh organisasi secara komprehensif untuk tujuan meningkatkan nilai perusahaan sedangkan pengertian dari resiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau sebagai akibat dari kejadian eksternal. Definisi resiko operasional tersebut terdapat dalam kerangka kerja Basel II.

Berikut ini adalah ke-4 faktor penyebab Risiko Operasional :

  1. Manusia
    Risiko yang disebabkan atau terjadi karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh karyawan perusahaan (lalai dan ceroboh). Contoh: tanda tangan di palsukan oleh karyawan.

  2. Proses
    Risiko yang terjadi karena adanya kesalahan proses. Contoh: Kesalahan input data oleh karyawan.

  3. Sistem
    Risiko yang disebabkan karena adanya gangguan sistem. Contoh: Komputer down

  4. Kejadian Eksternal
    Faktor atau kejadian eksternal yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Contoh: banjir, gempa bumi

Manajemen Risiko Operasional sangat penting diterapkan dengan tujuan/sasaran sebagai berikut:

  • Meminimalisir terjadi posisi rugi yang disebabkan oleh proses atau kejadian yang bersifat operasional

  • Meningkatkan kepercayaan kepada pelanggan dengan memberikan layanan yang baik.
    Meningkatkan nilai saham (Shareholder Value).

Manajemen Risiko Operasional terdiri dari 4 tahapan yang saling terkait, dimulai dari identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian.

  1. Identification (Identifikasi)
    Proses untuk melihat dan identifikasi secara kontinu atas paparan risiko operasional dan penerapan manajemen risiko operasional serta melakukan pelaporan internal/eksternal atas paparan risiko yang terjadi.

  2. Measurement (Pengukuran)
    Proses menilai paparan risiko operasional pada produk, jasa, proses, dan sistem untuk mengetahui profil risiko perusahaan secara kuantitatif serta efektifitas penerapan manajemen risiko operasional.

  3. Monitoring (Pemantauan)
    Proses untuk mengamati secara berkelanjutan atas paparan risiko operasional dan penerapan manajemen risiko operasional serta melakukan pelaporan internal/eksternal atas paparan risiko yang terjadi.

Jadi mengapa kita perlu memahami dan apakah peran kita sangat di butuhkan dalam rangka Mengelola Risiko Operasional? Tentu saja, beberapa kontribusi yang dapat kita kerjakan yaitu:

  • Mengerjakan seluruh tugas dalam pekerjaan sesuai dengan prosedur yang berlaku

  • Selalu bersikap hati-hati dalam melaksanakan pekerjaan

  • Menghindari fraud

  • Melakukan pencatatan data kejadian risiko operasional.

Ringkasan

Sebenarnya, sejak dulu kita telah menghadapi berbagai risiko operasional ini. Jika anda bergerak di bidang usaha (bisnis), maka bisnis setiap kali harus berhadapan dengan berbagai sifat manusia yang tidak luput dari kesalahan, proses yang tidak sempurna, dan teknologi yang sulit dikendalikan. Risiko operasional ini makin menjadi perhatian kita akhir-akhir ini, dengan semakin banyaknya kasus atau peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Adanya berbagai kasus, seperti pada Enron, Worldcom, membuat perhatian orang terhadap adanya risiko operasional makin meningkat.

Risiko operasional dulu dikelola secara informal, sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari seorang manajer, yang tak pernah memikirkan bahwa sebetulnya pekerjaannya merupakan praktek dari manajemen risiko. Selain itu, pengelolaan risiko operasional umumnya dilakukan oleh bidang audit dan kepatuhan. Namun seringkali risiko operasional ini terlambat diidentifikasikan, karena audit menilai berdasarkan past performance.

Oleh karena itu perlu diadakan pendekatan yang lebih aktif dan proaktif, karena:

  • Penelitian bencana keuangan besar periode yang lalu (Barings, Kidder, Daiwa) mengidentifikasikan bahwa masalah risiko operasional sebagai penyebab utama. Sebab itu, masalah risiko operasional harus dikelola sebagai bagian manajemen risiko perusahaan.

  • Risiko operasional seringkali terkait dengan risiko kredit dan risiko pasar, kegagalan risiko operasional dalam kondisi pasar yang tertekan mempunyai potensi menimbulkan kerugian yang besar. Contoh, dalam kasus Barings, terjadi karena pengawasan manajemen yang tidak efektif atas operasi perdagangan di Singapura, dan penurunan yang tajam di bursa Nikkei pasca gempa bumi, yang membuat Bank yang berusia 233 tahun bangkrut dan rugia miliaran dolar.

  • Jika risiko operasional tidak dikelola sebagai disiplin risiko yang berbeda, dapat mengabaikan masalah risiko yang penting, serta bias dalam mengukur kinerja, yang berakibat pada risko keputusan manajemen yang kurang tepat, karena informasi yang tidak akurat.

  • Risiko operasional bersifat tanpa batas dan melekat di semua aktivitas bisnis dan operasional.

Ringkasan

https://edratna.wordpress.com/2012/09/09/mengapa-kita-perlu-memahami-risiko-operasional/

Alasan yang mendasar pentingnya memahami risiko operasional dikarena risiko operasioanal sebagai bentuk pengasntisipasian risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau kejadian kejadian eksternal. Secara umum, risiko operasional terkait dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau prosedur. Oleh karena itu, risiko operasional sebenarnya bukan merupakan suatu risiko yang baru dan tidak hanya dihadapi oleh bank, walaupun semua bank akan menghadapi kegagalan dan harus memiliki proses untuk mengatasinya. Risiko operasional merupakan risiko yang mempengaruhi semua kegiatan usaha karena merupakan suatu hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu proses atau aktivitas operasional.