Mengapa kita harus mendirikan shalat ?

Sholat

Sholat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Mengapa kita harus mengerjakan shalat?

Inilah 5 (lima) alasan logis dan rasional disertai landasan aqidah islamiah mengapa kita harus sholat.

Pertama : Sebagai pernyataan perwujudan kesadaran dari yang tercipta (manusia) kepada Sang Maha Pencipta (Allah swt, Al Khalik). Manusia diciptakan oleh Allah tentu bukan tanpa tujuan. Apa tujuan Allah menciptakan manusia? Allah berfirman dalam Al Qur’an, tiada Ku-ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembahKu (Adz Dzariyat ayat 56).

Lebih tegas lagi ditekankan pada QS Al Mukminun ayat 115 dan 116 :

“Maka, apakah kamu mengira, Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka, Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘arsy yang tinggi”.

Jadi, keberadaan manusia sebagai makhluk yang tercipta,kewajibannya hanya menyembah dan beribadah pada Allah Sang Maha Pencipta, yang menciptakan alam semesta beserta dengan segala isinya, baik yang tampak maupun yang ghaib, yang hidup maupun yang mati (dalam penglihatan manusia). Perintah menyembah ini menjadi misi tunggal manusia, tak ada misi lainnya dari keberadaan eksistensi manusia di kehidupan alam dunia yang sifatnya sementara. Alam dunia sesungguhnya bukanlah alam nyata. Kehidupan manusia di dunia bagai fatamorgana. Segala sesuatu yang telah berlalu (beberapa detik / menit / jam / hari / minggu / bulan / tahun / abad yang lalu) bagai mimpi. Alam nyata yang sesungguhnya adalah alam akhirat atau alam abadi, hanya saja manusia dalam kehidupan alam dunia belum menapaki ke sana. Sebagaimana dalam QS Al An’am ayat 32:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendagurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Kematian itu juga sebuah keniscayaan, tak ada mahluk yang abadi di dunia. Setiap yang berjiwa akan mengalami kematian, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah pahalamu disempurnakan (QS Ar Rahman ayat 25 dan 26, serta QS Ali Imran ayat 185).

Kehidupan abadi menurut Qur’an adalah alam akhirat. Perwujudan kesadaran ini akan dipertanggungjawabkan manusia setelah mati (di dunia, fisik) kepada Allah di kehidupan akhirat, oleh karena perintah menyembah kepada Allah berlaku pada semasa hidup manusia di dunia. Rasulullah memberi petunjuk cara menyembah Allah.

Kedua : Sebagai perwujudan rasa syukur (terima kasih) atas begitu banyak kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Anugerah ini sebagai aplikasi sifat Mahapemurah, Mahapenyayang, Mahapengasih, Mahapenyantun dari Allah kepada mahluk ciptaanNya. Firman Allah, bersyukurlah engkau maka akan Ku-tambahkan nikmatKu (QS Ibrahim ayat 7). Juga dalam QS Ibrahim ayat 34:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya…”

Al Qur’an juga menyebutkan, semua mahluk ciptaan Allah bertasbih sebagai pernyataan perwujudan rasa syukur.

Ketiga: Sebagai perwujudan permohonan ampun atas segala dosa dan kesalahan, yaitu melanggar perintah dan laranganNya. “Maka, mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepadaNya? Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang”(QS Al Maidah ayat 74).

Al Qur’an juga ada menyebutkan, Allah memberi ampun atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukan hambaNya, kecuali dosa syirik. Mengapa Allah tak mengampuni dosa syirik? Oleh karena dosa syirik ialah di mana manusia mempertuhankan banyak tuhan, atau menuhankan Tuhan yang bukan Allah swt. Jadi hal yang logis bila Allah tidak menurunkan rahmatNya pada manusia yang tidak menyembah padaNya dan memandang ada tuhan tidak pada Allah swt. Karena itu atas dasar kasih sayangNya, Allah wanti-wanti mengingatkan manusia, janganlah engkau mati melainkan dalam keadaan Islam.

Keempat: Sebagai perwujudan memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah. Manusia pada ghalibnya makhluk lemah dan rentan. Apalagi setan setiap saat menggoda manusia berbuat dosa. Qur’an begitu banyak mengabarkan agar manusia berlindung dan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Cukuplah hanya Aku sebagai penolongmu (QS Ali Imron ayat 150,. QS Al Maidah ayat 55 dan 56). Surath Al Fatihah ayat 5, iyyaa kana’budu wa iyyaa kanasta’iin (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan). Demikian juga ayat-ayat surah lainnya, dirikanlah sholat sesungguhnya sholat mencegah kamu dari perbuatan keji dan mungkar (QS Al Ankabut ayat 45). Tafsir atas kalimat “…mencegah kamu dari perbuatan keji dan mungkar” tidak hanya timbul dari dalam diri sendiri, tapi melindungi diri dari perbuatan orang lain. Juga, jadikan sabar dan sholatmu sebagai penolongmu.

Kelima : Sholat sebagai sarana perwujudan memohon /meminta pada Allah atas segala keinginan /permintaan apa yang menjadi hajat kita. Qur’an begitu banyak menyebutkan agar manusia meminta hanya kepada Allah. Bahkan Allah sangat suka pada manusia yang banyak meminta pada Allah. Bahkan Allah memastikan mengabulkan setiap permintaan hambaNya. Mintalah padaKu, maka pasti Aku akan memberikannya.

Sholat pada dasarnya adalah kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Sama seperti kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi dengan makan, minum dan olahraga, rohani atau jiwa juga membutuhkan “energi” agar senantiasa dalam kondisi yang sehat. Salah satu cara untukmemberikan “energi” pada rohani manusia adalah dengan mendirikan sholat. Berikut beberapa manfaat yang didapat ketika kita mendirikan sholat.

1. Shalat sebagai sumber keimanan dan ketentraman

Keimanan dan ketentraman adalah dua unsur yang membentuk kepribadian dan rupa orang mukmin. Ketika keimanan pada diri seorang muslim telah sempurna, maka ia akan menjadi benteng serta penyelamat dari segala bahaya dan kesengsaraan lahir maupun batin.

Kita memang tidak memungkiri suatu kenyataan bahwa pengaruh lingkungan secara langsung maupun tidak langsung juga mempengaruhi fisik dan jiwa manusia. Shalat bagaikan hembusa angin segar dan harum yang menghilangkan polusi dan bau pada udara. Shalat bagaikan besi yang dapat menghancurkan batu. Shalat dapat memecahkan gumpalan keputusasaan dan penderitaan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:

“jadilah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu‟. (QS. Al-Baqarah: 45)

Allah telah menjadikan shalat sebagai suatu sarana meminta pertolongan untuk mengatasi berbagai penyakit, penderitaan, dan kekotoran dunia. Betapa ketegangan saat ini telah menimpa banyak orang dari setiap lapisan masyarakat, karen banyaknya kesulitan ang dialami oleh individu, baik secara materi maupun spiritual. Apalagi, semakin bertambahnya problem sering tidak sesuai dengan harapan dan impian. Hal itu menyebabkan terjadinya kecemasan dan ketegangan.

Seorang muslim sejati akan selalu berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Melihat. Dialah Sang Penguasa segala sesuatu. Kepada-Nya-lah segala urusan yang baik dan buruk. Seorang muslim akan selalu menumbuhkan hubungan antara dia dan Allah yaitu melalui shalat. Bila jalinan ini kokoh, maka manusia berada dalam tempat yang selamat, karena dia selalu bersama Allah.

Bila manusia menumpahkan segala problem yang dialaminya, maka ia tidak perlu khawatir akan tersebarnya rahasia pribadinya. Karena Allah Maha Bijaksana dan Maha Menutupi segala rahasia. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di mata Allah. Karena Allah Maha Mengetahui segala rahasia dan segala sesuatu yang disembunyikan. Mungkin seseorang yang sedang tegang akan khawatir mengungkapkan segala problemnya kepada orang lain. Sehingga ia semakin ertambah bingung dan tegang. Tetapi berlindung hanya kepada Allah dan mencurahkan segala problem jiwanya, akan membuat orang itu tentram secara sempurna.

Berlindung kepada Allah saat ditimpa kesulitan sudah menjadi sifat alamiah jiwa. Jalinan manusia dapat Zat Yang Maha Kuat dan Maha Besar akan memberikan rasa bagi manusia bahwa ia selalu bersama dengan Zat Yang Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Perkasa, dan Maha Besar. Bila manusia mencurahkan segala ketakutan dan ketegangannya kepada Allah, maka tenanglah jiwanya dan terhentilah segala keluh kesahnya.

Keteganggan dan kesulitan tersebut tdak dapat diobati kecuali orang yang benar-benar beriman kepada Allah. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu‟ dalam sembahyangnya." (QS. Al- Mu’minun: 1-2)

2. Shalat sebagai sarana Berkomunikasi bagi Hamba dengan Allah.

Shalat adalah komunikasi antara hamba dengan Tuhannya bila seorang mukmin memperhatikan dan memikirkan apa yang ia ucapkan di dalam shalatnya, maka ia akan memasukkannya ke dalam hati walaupun seberat gunung.

Bila seorang muslim berfikir bahwa di dalam shalatnya dia sedang berbicara dengan Tuhannya Allah SWT., maka haruslah ia melakukanya dengan khusyu‟, jiwa dan hati yang tenang. Maka shalat menjadi jalinan yang bersinar, yang dapat melepas segala kesulitan dan kesusahan.

3. Shalat sebagai sarana mendapatkan keberuntungan

Shalat adalah tiang agama. Oleh karena itu, Allah SWT menghubungkan shalat dengan keberuntungan orang muslim yang menaiki tangga keimanan.

Allah SWT berfirman:

sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu‟ dalam sembahyangnya.” (QS. Al- Mu’minun: 1-2).

Kata Al-Falah (keberuntungan) pengertiannya luas. Mendapatkan sesuatu yang diinginkan manusia adalah keberuntungan. Dapat memiliki kebugaran dan kesehatan merupakan salah satu keberutungan, merasa bahagia, tenteram, dan tenang adalah kebahagiaan. Jauh dari faktor-faktor ketegangan, kesusahan, dan tekanan jiwa maupun mental, juga merupakan keberuntungan.

4. Shalat memuat bacaan Al-Qur’an yang menjadi Obat

Al-Qur’an merupakan obat (penawar) bagi manusia. Allah SWT telah menyebutkan hal itu secara terang-terangan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

Dan kami turunkan dari Al-Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al- Isra’: 82).

5. Shalat adalah pencegah dosa-dosa

Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Allah SWT berfirman:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45).

6. Shalat dapat mengusir rasa sepi

Perasaan kesepian merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian para dokter kejiwaan saat ini. Karena perasaan ini memberikan reaksi tertentu pada tubuh manusia, sehingga ia terancam oleh perasaan tegang (tertekan). Membiasakan shalat jamaah lima kali dalam sehari, menuntut seseorang keluar dari rumahnya menuju masjid setiap hari.

Saat di masjid, seseorang akan bertemu dengan saudara-saudaranya, yang memberi kesempatan kepada mereka untuk bercakap-cakap dan berinteraksi, antara satu dengan yang lain sebelum dan sesudah shalat. Allah telah menganjurkan untuk shalat berjamaah dalam Al-Qur‟an pada surat Al-Baqarah ayat 43:
َ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. (QS. Al-Baqarah: 43)

7. Shalat dapat mencegah rasa takut dan keluh-kesah

Pada dasarnya manusia juga memiliki watak jenuh dan jemu,tidak sabar menghadapi cobaan dan tidak bersyukur ketika mendapat nikmat. Jika ditimpa kesusahan berupa kemiskinan, sakit atau ketakutan, ia sangat berkeluh kesah. Tetapi jika mendapat kebaikan berupa kaya, sehat atau rezeki melimpah menjadi bakhil.

Allah SWT berfirman:

Sesungguuhnya manusia diciptakan (dengan tabiat) sudah berkeluh kesah serta kikir. Jika ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Tetapi jika ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, dan tetap mengerjakan shalatnya. (QS. Al-Ma’arij: 19-23).

Allah telah memuji hamba-Nya, yaitu mereka-mereka yang membiasakan shalat. Karena orang yang suka berkeluh-kesah sangat rakus dan sedikit kesabaran. Sedangkan shalat mengajarkan kepada mereka yang melakukannya, untuk tidak terjebak dan tidak hanya memberi perhatian kepada dunia saja. Sebab, mereka sadar bahwa dunia tidak menjadi ukuran di hadapan Allah.

Sumber : Khuly, Hilmy. 2007. Mukjizat Kesehatan Gerakan Shalat. Jogjakarta: Hikam Pustaka.