Mengapa dokter hewan harus mempelajari patologi?

Patologi

Patologi adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang berperan penting dalam mendiagnosa penyakit. Adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan nenyakit, termasuk penyebab timbulnya penyakit.

Karena dokter hewan harus mendiagnosa dan pengobatan penyakit, maka harus melakukan diagnosa yang tepat, dan mencari penyebabnya. Beberapa tahap pembelajaran tentang perkembangan struktur normal, dan fungsi tubuh pada masa embriologi, bentuk anatomi, histologi, genetik, farmakologi, biokimia dan fisiologinya sangat diperlukan. Patologi mempelajari perkembangan perubahan struktur dan fungsi pada sel, jaringan, cairan dan organ yang menyebabkan kesalahan fungsi dan menimbulkan penyakit. Agen, merupakan penyebab penyakit, dipelajari mata kuliah mikrobiologi, paras ogi, virologi, parasiter dan sebagainya. Dengan mengetahui latar belakang mengenai apa dan bagaimana terjadinya kerusakan gangguan dari fungsi jaringan/organ itu terjadi, seorang klinisi dapat menemukan permasalah apa yang terjadi dan bagaimana terapinya Oleh karena itu patologi merupakan pintu utama dari seorang klinisi dalam menegakkan diagnosis dan menemukan penyebab dari suatu gangguan fungsional dari organ yang abnormal dan terapinya. Dapat disimpulkan ada 4 aspek dalam mempelajari patologi, yaitu sebagai berikut:

  1. etiologi patogenesis
  2. Patogenesis (mekanisme terjadinya abnormalitas/sakit)
  3. kelainan morfologi baik secara makroskopis/miskroskopis
  4. kelainan fungsi, gejala klinik, prognosis dan pencegahan.
    Tujuan utama mempelajari patologi untuk mengidentifikasi sebab suatu penyakit, selanjutnya untuk program pencegahan suatu penyakit.

Patologi adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang berperan penting dalam mendiagnosa penyakit, terutama kanker. Secara umum, patologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit, analisis, dan pengambilan sampel jaringan, sel, dan cairan tubuh.

Hal ini dilakukan karena semakin meningkatnya laju mobilitas manusia di dunia saat ini yang menyebabkan arus penularan penyakit pada hewan, ternak dan manusia menjadi sangat mudah terjadi. Peran ilmu patologi sebagai pendeteksi atau diagnosa penyakit dalam rangka mencegah, mendeteksi dan menangkal masuknya penyakit-penyakit yang bersifat zoonosis dari negara negara lain.

Pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang sangat diperlukan oleh dokter dalam mendiagnosis, memantau dan meramalkan penyakit seorang penderita. Laboratorium seperti itu dikenal dengan berbagai nama, di luar negeri dengan nama Medicine Laboratory, Clinical Laboratory, Pathology and Laboratory Medicine atau Clinical Pathology. Patologi Klinik pada awalnya dibentuk sebagai jembatan antara ilmu kedokteran dasar dan ilmu kedokteran klinik. Prof. Dr. R. Gandasoebrata merupakan pelopor yang meletakkan dasar-dasar kurikulum Patologi Klinik di Indonesia yaitu dengan mendirikan departemen Patologi Klinik FKUI pada tahun 1956.

Definisi Patologi Klinik saat itu merupakan bagian dari ilmu kedokteran klinik yang mempelajari masalah diagnostik dan terapi, meneliti wujud dan perjalanan penyakit pada seorang penderita atau bahan yang berasal dari seorang penderita. Dengan fungsi itu, Patologi Klinik telah melakukan pemeriksaan morfologis, mikroskopis, kimia, mikrobiologis, serologis, hematologis, imunologis, parasitologis, dan pemeriksaan laboratorium lainnya. Definisi lain menyebutkan bahwa Patologi Klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari aspek-aspek pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh, baik teknis pemeriksaan maupun interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium terhadap bahan yang berasal dari manusia dengan tujuan membantu dokter klinik dalam menegakkan diagnosis, pemantauan hasil terapi dan perjalanan penyakit.

Karena fungsi itu, maka Dokter Spesialis Patologi Klinik dan perangkatnya (laboratorium yang dikelolanya) memiliki peran sebagai jembatan antara pasien dan dokter klinis yang menanganinya untuk melakukan diagnostik.

Mempelajari patologi pada hewan juga berkaitan dengan manusia, dalam ilmu kedokteran terdapat istilah patologi anatomi. Patologi anatomi berkaitan dengan mengidentifikasi berbagai jenis tumor atau kanker, tapi tes ini juga membantu dalam mendiagnosis penyakit lainnya, seperti penyakit ginjal dan hati dan infeksi yang melibatkan pemeriksaan spesimen bedah dari tubuh atau bahkan kadang pemeriksaan seluruh tubuh (otopsi) untuk menyelidiki adanya suatu penyakit. Pada pemeriksaan biopsi, aspek yang dipertimbangkan seperti penampilan sel secara mikroskopis, sampel secara kimiawi, penanda imunologis yang ditemukan dalam sel, dan biologi molekuler dari sel.

Secara garis besar, deteksi penyakit melalui patologi anatomi bergantung pada jenis spesialisasi dari tes kesehatan ini sendiri. Adapun bagian spesialisasi dari patologi anatomi adalah sebagai berikut:

Patologi Bedah

Kondisi ini melibatkan pemeriksaan spesimen yang diperoleh selama operasi. Sesuai dengan namanya, tes ini banyak dilakukan dalam proses bedah, seperti misalnya pengambilan sampel atau biopsi terhadap benjolan payudara yang diperoleh selama proses mastektomi jaringan.

Histopatologi

Jenis patologi anatomi ini melibatkan pemeriksaan jaringan utuh dari biopsi hasil operasi dengan menggunakan mikroskop. Pemeriksaan ini sering dibantu oleh penggunaan teknik pewarnaan khusus dan tes terkait lainnya, misalnya penggunaan antibodi untuk mengidentifikasi berbagai komponen jaringan pada tubuh.

Sebagian besar biopsi adalah sampel kecil dari area tubuh yang diduga menjadi sumber terindikasinya penyakit, seperti misalnya kanker. Proses ini disebut biopsi insisional yang membutuhkan perawatan tambahan setelah diagnosis dilakukan. Sementara itu, biopsi lainnya dapat mencakup seluruh area yang terindikasi, seperti tahi lalat pada kulit. Proses ini disebut dengan biopsi insisi.

Deteksi penyakit melalui patologi anatomi juga mencakup pemeriksaan organ besar yang melalui proses pengangkatan selama operasi, seperti misalnya rahim setelah dilakukan proses histerektomi, usus besar setelah kolektomi, hingga amputasi lengan atau tungkai.

Sitopatologi

Sitopatologi paling banyak digunakan sebagai alat skrining untuk mencari penyakit dan memutuskan apakah perlu dilakukan lebih banyak tes lanjutan. Contoh umum dari skrining ini adalah pap smear, sputum dan gastric washing . Sederhananya, cairan sampel atau jaringan dari pasien dioleskan pada slide dan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jumlah sel, jenisnya, dan bagaimana rinciannya.

Hampir semua penyakit bisa dideteksi dengan tes patologi anatomi. Tak hanya kanker atau tumor, ini juga mencakup kulit, saluran pernapasan, saluran pencernaan, liver , saluran urinasi, ginjal, organ reproduksi pria dan wanita, dan masih banyak lagi. Bahkan, autopsi atau pemeriksaan jenazah yang meninggal karena penyebab yang belum diketahui termasuk ke dalam patologi anatomi.

Ringkasan

http://repository.unair.ac.id/40069/
https://www.halodoc.com/jenis-penyakit-yang-bisa-dicek-melalui-patologi-anatomi