Mengapa Bule menjadi Sosok yang Istimewa di Indonesia?

4.-Perbedaan-Gaya-Liburan-Turis-Bule-dengan-Turis-Indonesia-636x325

Jika kita pergi wisata ke salah satu daerah di Indoensia, terutama daerah yang terkenal dengan wisata alam nya daerah yang diakui dunia akan keindahan alamnya maka tak jarang pula kita jumpai turis disana, terutama turis dari barat. seperti di Bali sangat banyak bule disana yang bisa dibilang tempat tinggal kedua bule karena mayoritas bule berada disana untuk liburan. bahkan tak jarang kita temui bule yang sudah melokal.

Dengan adanya bule ini, kebanyakan masyarakat kita menganggap “wah ada bule, keren nih, ajak foto ah” juga ada yang mengajak komunikasi dengan alasan untuk memperlancar bahasa inggris dan ini baik. tapi, jika kita selalu mengajak foto bule yang bahkan tidak terkenal dinegaranya sendiri bukankah akan membuat mereka tidak nyaman?

Menurut teman-teman, kenapa kalau ada bule kebanyak dari kita selalu mengajak foto? mengapa bule dianggap begitu spesial walaupun dia bukan orang terkenal?

Sebenarnya, efek bule ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Sebagian besar orang Asia juga berperilaku demikian kepada orang Barat. Hanya saja, masyarakat negara maju seperti Jepang dan Korea tidak seheboh orang Indonesia. Bahkan, orang Korea hanya menganggap orang asing yang keren itu adalah orang Barat yang notabene berkulit putih. Selain dari itu, mereka menganggap orang asing itu biasa saja atau malah menganggap rendah. Silakan lihat bukti videonya di youtube.com/watch?v=9H6YidRjoUI

Mengenai fenomena orang Indonesia yang memperlakukan bule istimewa, tak terlepas dari kesempatan yang belum pernah ketemu ras yang berbeda dan budaya ramah yang terkadang melebihi batas. Kita terlalu overproud dengan kedatangan orang asing, yang padahal di luar sana itu hal biasa. Menurut saya, cukup berperilaku normal saja kepada orang asing, berperilaku sopan santun asalkan tidak menurunkan harga diri sendiri.

Karena mereka ‘tampak’ berbeda.

Menurut pemahaman saya, hal ini dipengaruhi oleh alam bawah sadar kita. Dalam sehari-harinya, kita selalu melihat, mengamati, memandang karakter orang yang sama, baik dari segi wajah, postur, penampilan, gaya bicara. Kita semua ‘terpapar’ dan melewati kebiasaan itu setiap hari, hingga bisa membedakan “Oh ini orang Indonesia” atau “Ini pasti orang Sunda”. Hal ini jadi biasa saja, ya karena tiap hari kita lihat.

Beda kasusnya dengan oang luar. Orang kita heboh, kenapa? ya kejadian itu dianggap langka oleh masyarakat kita. Apalagi yang memang hanya tau bule-bule itu dari kaca televisi saja. Alam bawah sadar akan mendeteksi ada hal ‘asing’ di luar kebiasaan, dan bereaksi dengan mengajak foto lah atau sekedar menyapa.

Namun, yang saya heran justru kebanyakan para bule tidak bersikap demikian saat orang-orang kita berlibur ke negara mereka. Dari sini, seharusnya dapat dijadikan refleksi bagi kita untuk lebih menjaga sikap di depan orang asing. Selain karena faktor kenyamanan, bukankah kita ingin terlihat ‘lebih tinggi’ dari mereka?

Menurut saya hal ini memang disebabkan masyarakat Indonesia yang sangat jarang melihat turis asing di tempat tinggalnya. Karena jika di daerah yang sudah sangat biasa di datangi oleh turis, seperti di Bali ataupun Lombok, maka bule hanya dianggap layaknya masyarakat biasa.

Mindset menganggap bule layaknya orang yang sangat spesial ini sudah seharusnya dihapuskan, karena terkadang ada beberapa bule yang merasa risih dan terganggu. Hal-hal overproud semacam ini juga pada akhirnya dimanfaatkan oleh para bule dengan baik, dengan cara membuat konten-konten di sosial media yang berkaitan dengan masyarakat dan kebudayaan di Indonesia, hal ini berdampak kepada viewers mereka yang biasanya naik secara signifikan.

1 Like

Perilaku seperti ini biasanya memang dimiliki oleh masyarakat pada negara berkembang seperti Indonesia, India dan beberapa negar di Asia Tenggara. Perilaku ini timbul karena bule tersebut memiliki paras yang berbeda dengan masyarakat pada daerah tersebut.
Selain itu, kedatangan bule akan disambut dengan sangat baik karena beranggapan bahwa “Kok mau orang jauh datang ke sini”. Ditambah lagi jika bule tersebut menggunakan bahasa setempat untuk berkomunikasi, maka orang pada daerah tersebut sangat bangga dan sangat tersanjung hingga terjadinya overproud yang konotasinya kurang baik.

Standart cantikan negara asia prioritas “ORANG EROPA” bule dimata sebagian orang Asia adalah orang kulit putih,rambut pirang, mata berwarna cerah yang tidak dimiliki oleh orang-orang asia.Serta bahasa asing terutama bahasa inggris yang terdengar keren, sehingga membuat sebagianbesar orang asia kagum terutama didaerah yang jarang dijumpai turis asing.

2021-09-09T03:14:00Z
KK Sosmed Podcast - Elisabeth Maranatha

Bule, yang ada di pikiran kita adalah orang luar negeri tinggi, rambut pirang, berkulit putih dan tampan atau cantik. Ya, salah satu kebiasaan orang Indonesia yang unik dan sering ditemukan adalah ‘heboh saat melihat bule’. Bule itu istimewa. Kita bisa melihat sendiri saat sedang berada di tempat wisata, mall, atau tempat umum lain yang ada bule-nya, orang Indonesia akan berbisik, melirik, dan pastinya tak ketinggalan meminta foto bersama. Begitupun saat ada bule yang bisa berbahasa Indonesia -meski hanya satu kata, mereka akan disanjung dan dianggap hebat. Bule bule yang sedang berkunjung atau bahkan menetap di Indonesia selalu menjadi daya tarik. Alasannya, cewek cewek Indonesia “mengistimewakan” bule karena mereka menganggap apabila mereka bisa menikah dengan bule, mereka bisa memperbaiki keturunan, hahaha. Kemudian, mereka dianggap kerena karena sudah pasti jago bahasa inggris yang merupakan bahasa yang sering dianggap susah oleh masyarakat Indonesia sendiri. Kemudian, warga +62 selalu mengistimewakan para bule karena mereka menganggap bule bule punya banyak uang, hahaha. Itu sih opiniku tentang mengapa bule sering diistemewakan di Indonesia, hahaha.

Dikutip dari Colonialism and Psychology of Culture (2006), Kebiasaan warga negara Asia yang masih mengistimewakan sosok bule karena efek kolonialisme masih bisa dirasakan jejaknya di dalam alam bawah sadar kita.

Belanda yang merupakan bangsa dari Eropa yang berkulit putih telah menjajah Indonesia selama 350 tahun, dibandingkan dengan Indonesia yang baru merdeka selama 76 tahun. Selama masa yang lebih panjang secara signifikan dari total masa Indonesia merdeka itu, bangsa kulit putih memiliki strata yang lebih tinggi dari bangsa pribumi, warga lokal subjek jajahannya.

Orang Belanda berkulit putih memiliki akses ke pendidikan, kemewahan, dan keistimewaan lebih di Indonesia, bahkan melebihi di negaranya sendiri. Hal ini menyebabkan warga pribumi melihat ke atas kearah penjajah mereka yang hidupnya jauh lebih enak dari mereka, yang dimana secara perlahan membuat apapun yang mewah, keren, dan ada uangnya sinonim dengan status seorang kulit putih.

Balik lagi ke masa depan, kini status masyarakat Indonesia setara dengan orang kulit putih yang kini adalah turis bukan penjajah, namun pandangan mewah iorang kulit putih hasil penjahahan itu belum hilang sepenuhnya di alam bawah sadar masyarakat Indonesia.

Hal ini semakin diperkuat dengan film-film luar negeri yang membanjiri Indonesia, memperkuat budaya barat yang keren dan status superior rupawan orang kulit putih yang dianggap lebih ganteng dan lebih cantik karena penonton Indonesia hanya terekspos pada artis orang kulit putih dalam film-film tersebut.

Refrensi : https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1751-9004.2007.00046.x