Mengapa Banyak Orang yang Doyan Pamer di Medsos?

Ketika kita melakukan kegiatan berselancar di media sosial seperti di instagram, facebook, atau twitter, kita sering melihat orang - orang yang mengunggah berbagai macam hal, terutama dalam fitur - fitur story dan post yang banyak digunakan di berbagai platform media sosial. Hal - hal yang diunggah mayoritas pengguna media sosial terdiri dari update aktivitas entah itu di tempat kerja atau yang lainnya, update pencapaian entah itu pencapaian pekerjaan, pamer kemesraan bersama pasangan, hingga pamer barang yang dibeli atau yang diberikan oleh orang lain kepada si pengunggah sebagai bentuk terima kasih dan apresiasi atas barang yang sudah diberikan tersebut.

Salah satu alasan yang saya ketahui mengenai alasan di balik banyaknya orang yang gemar pamer dan show off adalah karena faktor public figure dan influencer yang memiliki banyak endorse-san di medsos yang mengharuskan mereka untuk " memamerkan " hal yang di endores tersbut ke media sosial. Hal ini membuat sebagai orang menjadi malas untuk buka sosmed karena memang isinya yang dipenuhi dengan show-off dan budaya pamer dari orang - orang yang katanya bisa bikin insecure dan segala macam.

Menurut youdics sekalian, kenapa sih banyak orang yang doyan pamer di medsos ?

1 Like

menurut saya ada beberapa alasan seperti ingin cari perhatian, mencari pengakuan sosial, dan yang paling sering terjadi yaitu agar orang lain merasa iri terhadap hal-hal yang kita punya atau pencapaian yang berhasil kita lakukan.

Menurut Saya ada beberapa alasan mengapa banyak orang yang suka pamer di media sosial. Media sosial saat ini oleh kebanyakan orang sudah dianggap sebagai identitas diri sendiri di dunia maya. Jadi, apabila ada orang yang memamerkan harta, pada dasarnya mereka memiliki keinginan mendapat pengakuan sosial untuk dianggap sebagai orang yang kaya, mampu, dan berada. Ada juga orang yang melakukan pamer untuk mendapatkan relasi baru, entah berupa teman, pengikut, atau malah seorang fans.

Tapi, ada banyak juga orang yang melakukan pamer ini untuk kepuasan diri sendiri agar orang lain merasa iri dengan pencapaian yang dimilikinya. Pamer juga merupakan salah satu sarana agar seseorang bisa dihargai dalam masyarakat saat ini. Jadi, jangan heran apabila ada orang yang memamerkan pencapaian, harta, atau apapun itu di media sosial

Menurut saya pribadi trend pamer dan “Flexing” di media sosial ini memang disebabkan oleh mereka sosmed celebrity ingin menunjukkan bahwa mereka “sukses” dan ingin merasa mereka adalah bagian dari sesuatu yang besar.

Trend-trend seperti ini pasti ada jejaknya dan asal-muasalnya, contohnya trend menggunakan pakaian branded dsb itu sudah pasti dimulai dari artis maupun sosok public figure terkenal, kemudian diikuti oleh figure-figure lainnya, sehingga trend ini masuk ke masyarakat sedikit demi sedikit. Brand fashion itu pun akhirnya mendapat promosi marketing secara gratis. Belum lagi ditambah stigma sesuatu yang mahal sudah pasti kualitas terbaik.

Berbagai hal non-pokok yang dimiliki oleh manusia sejak zaman prasejarah seperti pakaian, perhiasan, rumah besar, pelayan/budak, kendaraan, dan hal-hal mewah lainnya merupakan simbol status dan strata di dudukan sosial masyarakat.

“Pamer” merupakan bagian dari mekanika sosial yang sudah ada sejak zaman dulu oleh manusia, yang penting untuk status, otoritas, dan kekuasaan; dan status di zaman itu merupakan masalah hidup dan mati, antara petani yang hidup mati di sawah atau pegawai negara yang memiliki akses dan kesempatan yang jauh lebih baik dalam hidup. Pamer hal-hal yang menyimbolkan status membantu manusia menegaskan status mereka demi keselamatan diri sendiri.

Kembali lagi ke masa depan, kepentingan status soal hidup mati seseorang mungkin tidak se-ekstrim zaman dulu namun tetap penting karena status membuka peluang untuk kesempatan hidup yang lebih baik.

Sosial Media secara harfiah merupakan alat terbaik yang diciptakan manusia untuk memamerkan statusnya, membangun ego dan autoritas yang ia miliki, dan semakin mudah juga untuk memalsukan status yang memiliki efek tidak langsung tapi nyata dalam memudahkan hidupnya sehari-hari.

Karena media sosial, sesuai namanya adalah media yang digunakan untuk menjalin hubungan sosial dengan banyak orang tanpa hambatan, alasan yang mungkin malandasi seseorang untuk pamer di media sosial bisa jadi karena butuh pengakuan selain itu juga karena media sosial adalah tempat berkumpul banyak orang, yang memungkinkan individu ini bisa mendapatkan kepuasan dari followersnya seperti berupa like, positive comment, dan sebagainya terhadap postingam yang dia buat di media sosialnya.

Media sosial dapat dijadikan sebagai tempat untuk menunjukan identitas dirinya kepada orang lain, bagaimana ia ingin terlihat, seperti apa cara pandangnya, dll. Seperti contoh, jika ada seorang influencer yang ingin membranding dirinya sebagai orang kalangan atas maka setiap postingan yang ada akan menampilkan sesuai dengan ciri khasnya yaitu barang-barang mewah, tempat-tempat eksklusif, dll. Bagi orang seperti itu, memungkinkan perilaku pamer sebagai sebuah kewajiban, karena selalu memberitahukan kegiatannya kepada para followersnya.

Media sosial di gunakan untuk bersenang-senang, jadi menurut ku kenapa orang suka pemer segala sesuatu dimedsos kemungkinan karena itu merupakan cara mereka menunjukkan kebahagiaan mereka. Setiap orang mempunyai cara nya masing-masing dalam memperlihatkan kebagaiaan mereka, dan salah satunya adalah menunjukkannya ke media sosial. Menurut mereka media sosial adalah wadah yang pas untuk menunjukkan kebahagiaan yang mereka rasakan.

Menurut saya karena mereka ingin diakui dan menampilkan identitas mereka. Namun sebagian orang mungkin bukan bertujuan untuk pamer melainkan berbagi cerita dan keseharian mereka.

Contohnya seperti saat teman mengupload video unboxing suatu barang untuk orang yang tak mengenal dia mungkin akan bilang bahwa dia sedang pamer padahal hanya membagikan video keseharian mereka.

Kalau menurut saya, salah satu penyebabnya adalah karena kita ditanamkan sebuah pemikiran ataupun stigma berupa “Kalian harus bisa sukses suatu hari nanti” oleh orangtua. Salah satu indikator untuk mengukur kesuksesan adalah harta dan inilah yang menyebabkan banyaknya fenomena pamer kekayaan banyak dijumpai di media sosial. Melalui pamer inilah, dalam hal ini kekayaan, mereka seakan menunjukkan jika dirinya sudah sukses.

Di sisi lain, ada juga yang melakukan pamer ini untuk mempertahankan status sosial mereka seperti para artis maupun “Public Figure” dan “Influencer”.

Pertanyaan yang menarik, saya jadi teringat series Netflix yang saya sukai yaitu Black Mirror. Yup, series ini benar-benar membuat mindblowing, tepatnya di Episode 1 pada Season 3. Episode tersebut berjudul Nosedive, apa yang unik di dalam episode ini ialah terdapat suatu masyarakat yang di dalamnya terdapat social credit system. Apa itu social credit system? yaitu merupakan suatu sistem strata sosial yang memanfaatkan teknologi untuk menyimpan data-data setiap manusia, salah satunya dengan media sosial, di media sosial tersebut setiap orang dianggap “berada” dan “populer” berdasarkan angka followers dan jumlah like yang setiap orang dapatkan.

Jika dikaitkan dengan realita di masyarakat kita, kita sebenarnya sudah “hidup” dengan sistem tersebut, kita hidup dimana sosial media yang kita gunakan berperan dalam men-judge diri kita agar diterima oleh orang lain. Adanya sosial media juga membuat kita men-judge seseorang berdasarkan angka followers dan fisik semata yang tentunya berbeda dengan kehidupan kita sebelum media sosial digunakan secara masif.

Referensi :

Nosedive Analysis | Joyce Kim

Social Credit System - Wikipedia

Sosial media merupakan bagian yang lekat kaitannya dengan masyarakat di era sekarang. Hal ini diperkuat dari survei yang dilakukan oleh Hootsuite tahun 2021, menyatakan bahwa pengguna sosial media aktif di Indonesia sebanyak 170 juta pengguna atau sekitar 61,8%. Banyaknya pengguna sosial media mulai dari kalangan anak hingga orang dewasa. Sosial media digunakan sebagai tempat untuk berdagang, komunikasi, promosi, edukasi, dan masih banyak lainnya.

Namun memang benar terkadang sosial media digunakan untuk ajang pamer oleh beberapa orang. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Menurut saya, alasan seseorang pamer di sosial media salah satunya adalah untuk “eksis”. Eksis yang dimaksud adalah bahwa orang tersebut ingin diperhatikan bahwa mereka “ada”.

Salah satu cara agar mereka menjadi pusat perhatian adalah dengan perilaku pamer. Pamer terkait dengan aktivitas liburan atau pekerjaan bahkan pamer berupa harta benda yang dimiliki. Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja, karena akun tersebut adalah akun mereka pribadi dan mereka juga punya hak. Namun, beberapa orang akan beranggapan negatif (pamer) jika konten (pamer) tersebut setiap saat harus diunggah di sosial media.

Di sisi orang yang pamer, mereka tentu akan memiliki rasa kepuasaan setelah mengunggah konten "pamer"nya. Apalagi jika konten mereka dipuja-puja oleh followers-nya. Hal ini yang membuat mereka akan terus mengulang-ulang perilakunya.

Sebagai pengguna sosial media yang bijak, hendaknya jika kita merasa risih lebih baik kita diam (tidak menghujat) dan bisa tidak mengikuti (unfollow) orang tersebut. Sebagai pengguna media sosial memang hal-hal tersebut pasti terjadi. Sehingga tergantung bagaimana kita bijak menanggapinya.

Menurut KBBI, arti kata pamer adalah menampilkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud menunjukkan keunggulan atau menyombongkan diri. Pertanyaannya, kenapa banyak orang yang doyan pamer di media sosial? Menurut saya pribadi, semua orang suka pamer dengan cara mereka masing-masing. Ada yang secara terang-terangan menunjukkan harta, status, atau sesuatu yang dianggap berharga di media sosial. Ada pula yang menunjukkan hanya ke beberapa orang tertentu. Saya percaya bahwa semua itu memiliki maksud yang beragam.

Manusia merupakan makhluk sosial yang mana memerlukan pengakuan dari lingkungan di sekitarnya. Mungkin saja pamer menjadi salah satu bentuk untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang yang mampu. Selain karena butuh pengakuan, saya rasa setiap orang memiliki cara mereka masing-masing untuk merasa bahagia dan menikmati hidupnya. Bisa saja setelah melewati 1001 rintangan dan tantangan hidup, lalu akhirnya dia berhasil mencapai titik kehidupan yang ia inginkan. Atau bisa jadi pamer itu merupakan bentuk apresiasi diri atas apa yang sudah ia perjuangkan.

Jadi, saya rasa selain mendapatkan kepuasan dengan mengunggah keunggulan diri hingga mendapat pengakuan, pamer juga merupakan cara orang untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Dilansir dari urbanasia.com, setidaknya terdapat 5 alasan yang membuat orang doyan pamer di media sosial, yaitu:

  1. Mendeklarasikan Hubungan dengan Sang Kekasih
    Orang yang gemar memamerkan hubungan asmaranya di media sosial, bisa jadi karena ia ingin memberitahu orang-orang bahwa kekasihnya sudah menjadi miliknya sehingga dapat memperkecil kemungkinan orang lain untuk mendekati kekasihnya tersebut.
  2. Mencari Pengakuan Sosial
    Orang yang sering mengunggah pencapaiannya, hartanya, bisa jadi ingin menunjukkan bahwa ia mampu meraih hal-hal tersebut dan ingin diakui atau diberi pujian oleh orang lain berupa like atau comment pada unggahannya.
  3. Ingin Merasa Diterima
    Tak jarang, orang yang aktif di media sosial sebenarnya adalah orang yang kesepian di dunia nyata. Mereka menggunakan unggahan-unggahan mereka untuk mendapatkan like atau comment dari orang lain sehingga dirinya merasa diterima oleh masyarakat meskipun hanya di media sosial.
  4. Mencari Perhatian
    Bagi orang yang menyukai perhatian, pamer di media sosial adalah suatu keharusan. Tak peduli unggahannya mendapat respon positif atau negatif, yang penting ia berhasil mendapatkan perhatian dari orang-orang melalui komentar. Bisa dibilang, dari situlah kebahagiaannya berasal.
  5. Ingin Membuat Orang Lain Iri
    Orang ini tidak segan-segan memamerkan semua yang ia miliki di media sosial, ia tidak peduli meskipun kehidupan pribadinya berpotensi menjadi konsumsi publik. Tujuannya tentu saja agar orang yang melihatnya merasa iri sehingga ia akan merasa lebih baik dari orang lain.

Apapun motivasi dan tujuan seseorang untuk pamer di media sosial, tetap aja hal itu bukanlah perilaku yang baik karena dapat menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki sifat yang sombong. Selain itu, pamer juga dapat membuat kehidupan kita bebas dikonsumsi oleh publik, sekalipun hal-hal yang bersifat privasi. Tentu tidak enak bukan, bila privasi kita diketahui banyak orang? Oleh karena itu, bijaklah dalam bermedia sosial. Pikirkan baik-baik hal yang ingin kita unggah agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari

Referensi:

5 Alasan Orang Suka Pamer di Media Sosial | urbanasia.com

Menurut saya pribadi, ajang “pamer” atau “flexing” ini sendiri ada yang bertujuan memang untuk mencari perhatian, validasi dari orang lain, ada pula yang memang hanya bertujuan untuk membagikan kehidupan sehari-harinya.

Sosial media memang dijadikan sebuah tempat untuk menunjukan identitas terbaik diri sendiri kepada orang lain, menampilkan versi terbaik dari sendiri dan hal tersebut tidak ada batasannya.

Menurut saya, yang pertama bahwa media sosial merupakan wadah seseorang untuk berekspresi sebebas-bebasnya, namun tetap dalam batas yang wajar. Yang kedua, pamer itu tergantung perspektif tiap orang. Ada orang yang menganggap bahwa hal tersebut pamer, namun ada pula yang menganggap bahwa hal tersebut hanya untuk diunggah saja.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang pamer di media sosial:

  • Ia tidak memiliki tempat untuk mengekspresikan perasaannya selain di media sosial.
  • Ia ingin diakui oleh orang lain.
  • Ia kurang dapat menikmati hidupnya sendiri

bukan pamer, apresiasi.
Cara mereka mengapresiasi dirinya berbeda-beda, dan bisa juga sebagai sumber rejeki mereka. Apresiasi ketika hasil kerja mereka bisa untuk membeli hal yang mereka suka, bisa membeli barang yang limited edition itu bentuk penghargaan terhadap kerja kerasnya dia dalam memperoleh barang itu. Sumber rejeki, jika kalian suka dengan suatu barang dan kalian notice owner barang itu, mungkin bisa saja dia diberikan barang lainnya dengan brand yang sama atas bentuk terima kasih sudah membantu proses branding dan marketing.

Menurutku, kalau sudah berhubungan dengan media sosial, kata “pamer” ini sedikit bikin bingung. Aku selalu percaya bahwa terkadang ada orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja dan ada yang tidak (ya iyalah). Sama halnya dengan “pamer”. Dan kembali lagi itu tergantung niat awal—tapi karena dilihat dari media sosial, otomatis audiens juga tidak tahu dan kemungkinan tidak peduli dengan “niat awal”.

Orang yang hobi membagikan momen dengan orang yang membuat plan (rencana) untuk membagikan momen adalah dua hal yang berbeda, menurutku.

Yang hobi ya berarti sekadar hobi. Mereka memang suka membagikan momen karena itu memang fungsi media sosial, kan?

Yang “membuat plan dulu” baru dibagikan momennya pun ada, dan “biasanya” ini bisa disebut “pamer”. Kenapa? Karena mereka sudah punya niat, sudah punya rencana. Pamer spontan pun tetap pamer namanya karena secara spontan punya pikiran, “Wah, kebetulan lagi pake tas mahal, nih. Foto, ah.”

Semoga paham.

Jadi gitu, menurutku. Kenapa orang pamer? Karena sudah niat, dan lihat fungsi media sosial seperti itu, langsung gas saja.

Punya teman di media sosial yang suka memamerkan harta benda, hubungan dengan pacar, isi rumah, hingga tempat-tempat liburan yang dikunjungi, tak jarang bikin enek melihatnya. Apalagi, kalau unggahannya udah oversharing, sehingga timeline kita tiap hari, selalu penuh dengan foto-foto mereka. Di satu sisi, aktif di media sosial dengan selalu memberi kabar terbaru tentang hidupnya, memang bisa menjaga ‘kedekatan’ orang tersebut dengan teman-teman dan pengikutnya di media sosial. Namun, di sisi lain, kebiasaan seperti ini dianggap sebagai sikap pamer. Ada beberapa alasan banyak orang melakukan demikian, yang pertama adalah mencari pengakuan sosial. Orang yang aktif mengunggah dan memamerkan kemewahan, harta, dan kepunyaan, menandakan bahwa ia sedang mencari pengakuan dari orang lain atas kesuksesannya. Unggahan-unggahan ini digunakan untuk menunjukkan siapa dirinya, apa yang telah dicapainya, dan berharap orang lain mengakui kehebatannya atau sekadar memberinya pujian. Kemudian, bisa juga mereka caper alias cari perhatian kepada khalayak umum. Tidak sedikit orang yang suka menjadi pusat perhatian. Tipe orang seperti ini akan memamerkan sesuatu yang bersifat sensasi, mengundang kontroversi, atau bikin orang ‘gatal’ untuk berkomentar. Makin banyak orang yang menunjukkan atensinya, maka makin happy-lah dia. Sayangnya, tipe pamer seperti ini nggak selalu positif. Sebenarnya ia tidak peduli apakah unggahannya mendapat respons positif atau negatif, selama orang memperhatikan dia. Lalu, mereka juga ingin membuat orang lain iri kepada mereka. Motivasi ini sebenarnya nggak baik, sih. Tapi, nyatanya nggak sedikit orang yang menikmati bahwa orang lain merasa iri padanya. Tipe orang yang seperti ini sebenarnya tahu bahwa apa yang diunggah di media sosial akan diketahui dan dikonsumsi banyak orang. Itu sebabnya mereka memamerkan segala sesuatu, agar orang yang melihatnya merasa iri padanya. Rasa iri dari orang lain akan menjadi bukti baginya bahwa ia lebih baik dari orang tersebut.

Singkatnya karena butuh pengakuan.

Sejak adanya peradaban, manusia adalah makhluk yang membentuk masyarakat dan menciptakan kelas sosial di dalamnya. Kelas sosial ini menjadi penyekat antara yang paling berkuasa dengan yang tidak berkuasa, antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang disukai dengan yang tidak disukai.

Mereka yang termasuk dalam golongan atas di kelas sosial tentu saja ingin menunjukkan statusnya sebagai sesuatu yang harus dibanggakan. Misalnya zaman dahulu, orang menunjukkan status sosial dari pakaian, aset, punya banyak kuda, banyak istri, menduduki tempat khusus dalam pertemuan sosial, dll. Praktek “pamer” status sosial ini sudah ada sejak zaman dahulu. Buat apa seorang bangsawan memakai pakaian bagus, kalau bukan untuk membedakan diri dengan rakyat jelata? Mereka harus pamer dan mereka suka akan kehormatan dan pujian.

Zaman sekarang, konteksnya pun turut berubah. Status sosial masih bertahan hingga sekarang. Orang di kelas sosial atas masih suka pamer seperti pada zaman dahulu, hanya bedanya dengan adanya media sosial, memudahkan mereka untuk pamer secara lebih masif, luas dan efektif. Kini yang bisa melihat mereka bukan hanya orang di lingkungannya saja tapi orang dari seluruh dunia.

Jadi, sebenarnya manusia sudah suka pamer sejak dulu kala. Media sosial masa kini hanyalah salah satu dari media untuk pamer. Jadi kurang lebih saya sependapat dengan kak @stylo