Mengapa banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah?

Pendidikan formal dari TK sampai Perguruan Tinggi menjadi jalur terpenting yang biasa dipilih orang demi membentuk kemampuan terbaik dan mewujudkan masa depan impiannya. Jenjang Perguruan Tinggi kemudian seolah menjadi masa penentu akan menjadi apa seseorang di masa depan nantinya.

Sangat wajar kalau kita berharap ingin memiliki pekerjaan yang sejalan dengan bidang ilmu yang ditekuni selama kuliah. Tapi bagaimana ketika kenyataan tidak sesuai harapan? Yaitu ketika sudah menjalani perkuliahan kurang lebih empat tahun untuk mendapat gelar sarjana, tapi pekerjaan yang dijalani setelah lulus tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajari.

Idealnya seseorang bekerja sesuai latar belakang pendidikan yang mencerminkan kemampuannya. Tapi faktanya di dunia kerja tidak selalu begitu. Saat ada yang mengeluh karena bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan ilmu akademiknya, di saat yang sama ada yang berjuang untuk lepas dari status pengangguran. Atau bisa jadi saat bekerja dan berkarya sesuai bidang ilmu dinilai menjadi kondisi ideal. Hal itu ternyata merupakan tantangan tersendiri buat kita atau siapapun yang berpikir anti-mainstream , pembelajar otodidak atau yang suka mencoba hal-hal baru.

Nah, menurut kalian gimana nih?

Kalau menurutku pribadi, ada beberapa alasan seseorang yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah, seperti ketersediaan lapangan kerja yang sesuai jurusannya masih terlalu sedikit; atau malah tidak ada sama sekali. Kedua, jumlah lulusan dari fakultas tertentu terlalu banyak dan tidak sebanding dengan jumlah lowongan yang tersedia untuk jurusan itu (akhirnya lulusannya bekerja di bidang apa saja, asal tidak nganggur). Ketiga, banyak juga perusahaan yang membuka lowongan tanpa melihat latar jurusan (maksudnya semua jurusan bisa melamar posisi yang disediakan meski tidak begitu sesuai dengan jurusan asal kuliah). Selain tiga poin di atas, sejauh pengamatan dan pengalaman saya, banyak juga kampus-kampus yang hanya mencetak lulusan terdidik, tapi tidak siap kerja. Artinya para fresh graduate ini cuma punya ilmu, tapi tidak diberi bekal yang cukup berupa cara mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dipelajari semasa kuliah.

Menurut saya pribadi memilih untuk bekerja tidak sesuai pendidikan tidaklah rugi. Sebab semua orang diawal bekerja perlu belajar tentang seluk-beluk pekerjaannya, meski memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai. Hanya saja, pekerja yang tak memiliki pendidikan sama akan merasa terseok-seok di masa awal bekerja. Maka dari itiu akan lebih baik jika memilih pekerjaan sesuai bidah pendidikan atau sesuai dengan passion kita. Jika kita bekerja tidak memiliki bekal sedikit pun, kita akan kesulitan bahkan bisa mendapat protes dari atasan.

Menurut saya hal ini terjadi karena setalah lulus kuliah para fresh graduate lebih realistis sehingga mereka memutuskan untuk bekerja apa saja asalkan menghasilkan uang untuk biaya hidup dan memunuhi kebutuhan sehari-hari.

Saya pernah mendengar ucapan seseorang bahwa hakikatnya kita kuliah adalah didominasi dengan tujuan untuk membangun relasi dan bertukar pikiran. Segala teori yang dipelajari saat perkuliahan disadari akan sangat berbeda dengan praktiknya. Oleh karena itu, kebanyakan mahasiswa akan berlomba-lomba sana-sini untuk ikut organisasi sebagai salah satu langkah mewujudkan relasi itu. Meskipun tidak semuanya demikian.

Dari hal tersebut, kemudian saya tersadar bahwa pekerjaan yang tidak selinear dengan bidang studi kita saat kuliah adalah fenomena yang sangat wajar. Orang-orang harus pintar mencari peluang dan melihat juga memahami situasi untuk menentukan pekerjaan apa yang akan ditekuninya sehingga bisa mengangkat derajat dirinya.