Mengapa banyak orang tidak suka memperbincangkan hal yang berbobot?

Berkumpul dan mengobrol dengan keluarga, teman atau orang lain adalah salah satu aktivitas yang digemari oleh banyak orang, ketika ingin berkumpul kebanyakan orang bisa langsung meluangkan waktu nya. Dan seperti yang kita ketahui kebanyakan orang jika sedang berkumpul sering membicarakan hal yang kurang berbobot, seperti membicarakan orang lain, mengomentari suatu hal dan mungkin hanya memiliki sedikit waktu untuk membicarakan hal yang berbobot. Dan ternyata ada alasan mengapa banyak orang ketika berkumpul suka membicarakan orang lain (membicarakan hal yang tidak berbobot), dalam sebuah studi yang di publikasikan di jurnal Social Psychological and Personality Science menjelaskan tentang kebisaan ini. Peneliti menemukan bahwa setiap orang setidaknya menghabiskan waktu 52 menit per hari untuk membicarakan orang lain. Banyak orang berbagi informasi tentang orang-orang yang tinggal di sekitar mereka. Dan dalam penelitian lain dari University of Amsterdam mengungkapkan bahwa 90 persen dari total obrolan kantor cenderung mengarah pada gosip.

Jadi bagaimana tanggapan teman-teman? Benarkah kebanyakan orang ketika berkumpul tidak suka membincangkan hal yang berbobot? jika iya, Mengapa?

menurutku, karena sudah lelah dengan aktivitas serius yang telah dilewati seharian. maka ketika berkumpul dan bersantai lebih memilih obrolan ringan yang bisa mengembalikan mood dan energi karena ketawa maupun penasaran akan hal itu. ada kalanya memiliki obrolan yang berbobot, yaitu ketika rapat, berdiskusi ataupun ketika jam lainnya. tapi kegiatan ini membutuhkan konsentrasi penuh, perhatian penuh, penelitian dan hal-hal serius lainnya yang sangat-sangat menyita tenaga dan pikiran.

hal ini menjadi seru karena kita penasaran akan orang itu. apasih yang membuat dia menjadi seperti itu? kenapa dia? ataupun hal lainnya dan ini bisa menjadi suatu hal untuk kita mengeroksi diri juga. ketika suatu obrolan dimulai dengan “eh tau ga” disitulah orang yang mengantuk menjadi tidak mengantuk karena penasaran akan hal yang terjadi. memperbincangkan hal yang tidak berbobot seperti gosip ataupun lelucon dan yang lainnya bisa menjadi suatu hal yang meningkatkan mood kita dari kejenuhan yang telah dilewati seharian.

Pendapat ini memang ada benarnya, yaitu kebanyakan orang lebih memilih obrolan santai daripada obrolan “berat” ketika lelah bekerja. Tapi, konteks dari pertanyaan masalah ini bukan hanya insidental. Tetapi setiap saat. Jadi, menurutku lelah bekerja, balikin mood atau energi bukan menjadi alasan mengapa orang enggan membicarakan sesuatu yang berbobot ketika mengobrol. Kalau ingin balikin mood dan energi, ya mending tidur saja tidak perlu ngobrol sama siapapun. Udah capek kerja, malah dilanjut gibah. Apa malah ngga habis energinya?

Orang-orang enggan atau bahkan tidak suka memperbincangkan hal yang berbobot bukan karena udah ngga ada energi, tapi karena telah difasilitasi oleh kebiasaannya, yaitu ghibah atau gosip. Hal itu sebuah kebiasaan. Dan dalam bergosip orang cenderung ceplas ceplos, tanpa mikir kauslitas sebab akibatnya, sehinga hal ini menimbulkan persepsi bahwa gosip itu lebih enak, pembahasannya lebih ringan sehingga hal ini yang menyebabkan kebiasaan gosip atau gibah berkembang di masyarakat. Dan mendiskreditkan “diskusi berbobot” merupakan kegiatan yang identik dengan hal-hal yang melelahkan, membosankan dan menguras pikiran, sehingga banyak orang yang menghindarinya atau enggan melakukannya.

Kalau menurut saya, agak sulit rasanya untuknya menggeneralisir setiap obrolan setelah sepanjang aktivitas yang serius dan melelahkan sebagai obrolan yang berbobot atau tidak berbobot, karena memang sifat manusia yang suka membicarakan hal - hal santai seperti apa yang baru saja terjadi di tempat kerja/kuliah, atau membicarakan seseorang di kala santai menurut saya adalah sebuah spontanitas. Saya cukup setuju dengan statement diatas mengenai temuan penelitian yang menemukan jika membicarkan orang lain menghabiskan waktu kira - kira 52 menit per hari yang artinya memang lebih tepat untuk menggambarkan perbincangan - perbincangan seperti masuk ke ranah budaya gossip. budaya gossip sendiri juga tidak terbatas kepada kaum wanita saja, tetapi kaum pria pun juga melakukannya. Hanya saja yang membedakannya adalalah kecenderungan topik yang dipilih antara pria dan wanita.

Beberapa penelitian yang telak dilakukan telah menunjukan jika, pria cenderung lebih suka membicarakan diri mereka sendiri (entah itu hobi, dsb) ketimbang wanita (yang cenderung suka membicarakan orang lain). tidak hanya itu, bahkan penelitian yang ditujukan dilakukan oleh SIRC juga menunjukan kecenderungan pria untuk membahas soal ’ isu - isu penting ’ seperti politik dan seni ketika wanita berada di ruangan yang sama dengan mereka dengan tujuan untuk melakukan impression. penelitian lain juga menunjukan jika, ternyata wanita lebh cenderung ’ netral ’ daripada pria dalam hal bergosip tetapi studi juga menemukan jika pria dan wanita terlibat gossip postitif dan negatif dalam tingkat yang sama. Selain itu, topik celebrity gossip juga menjadi hal nomor satu yang dilakukan oleh orang zaman sekarang dengan presentase mencapai 59 persen menurut Turner (2017).

Gossip sendiri menurut Gattuso (2016), juga merupakan ’ bentuk perlawanan ’ oleh kaum perempuan. hal ini bisa dilihat sebagai berikut dalam kutipan berikut ini :

To understand gossip, then, we need to reject easy, sexist stereotypes — women are petty; women are shallow — and listen, instead, to the subtext. When women talk about what we are wearing, we are also navigating the tenuous, ever-receding line between prude and slut. When we talk about our dating lives, we are collaboratively navigating minefields of risk and violence. When we talk about sex, we are talking about how to ask for pleasure, how to understand and avoid rape. When queers gossip about others’ sexualities and political attitudes, we are navigating around whom we can be out without danger (Gattuso, 2016).

Dari pernyataan diatas, dapatr disimpulkan jika, sebenarnya, kita tidak bisa selalu menggenerasilir penuh jika obrolan - obrolan santai setelah penat beraktivitas seharian sebagai obrolan yang tidak bermutu. bahkan faktanya, obrolan - obrolan santai justru menjadi pembuka yang baik dalam sebuah percakapan sebelum percakapan itu menjadi lebih serius semakin lama kita berbicara dan juga itu bisa menaikan mood kita secara drastis dari yang tadinya lelah menjadi bersemangat. kita juga bisa mengambil contoh seperti diskusi bapak - bapak di pos ronda yang kesannya ngalor ngidul tapi lama - lama ketika diikuti topiknya malah akan menjadi serius. this whole phenomenon is part of gossip culture.

Referensi :

  1. Turner, M., F. (2017, November 5). Women vs Men : Who’s Gossiping More ?. Everyday Health. Retrieved from Women vs. Men: Who Gossips More? | Everyday Health
  2. Gattuso, R. (2016). Gossip as an act of Resistance. Feministing. Retrieved from http://feministing.com/2016/08/23/gossip-as-an-act-of-resistance/

Menurut saya ada tiga point penting alasan orang lebih membahas mengenai hal-hal yang tidak berbobot seperti bergosip, membahas produk kecantikan misalnya, atau seputar curhat kisah asmara. Alasan pertama adalah CIRCLE Karena adanya lingkaran pertemanan. Lingkaran pertemanan membuat kita terbiasa membahas mengenai topik yang sekiranya bisa nyambung dan menyenangkan, tidak ada perdebatan dan dapat tertawa menghilangkan penat. Kebiasaan tersebutlah yang membuat kita terbiasa hidup di lingkungan yang tidak terbiasa untuk membahas hal-hal berat.

Yang kedua yaitu LITERASI, literasi di negara kita sendiri masih belum dijadikan hal yang umum, contoh kecilnya saja kita melihat salah satu anak berkaca mata di sekolah, kemana-kemana membawa buku, istirahat pergi ke perpus, jadilah dia dikatakan si orang pintar, kutu buku, orang yang membosankan. Saya rasa dia adalah orang yang juga menginginkan ada lingkaran pertemanan yang sama dengannya, diangkap biasa saja, tidak diagungkan karena perihal buku. Bagi saya semua orang harus terbiasa dengan ilmu pengetahuan, simbol buku tidak hanya kepunyaan si berkacamata atau si kutu buku yang hobi baca.

Contoh kecil tersebut mungkin tidak asing selama pengalaman kita bersekolah. Belum lagi dunia perkuliahan, dunia pekerjaan. Ada yang sudah sibuk bekerja menjadi lupa untuk belajar. Itulah kenapa sekalipun banyak orang berpendidikan tetapi masih ada kok yang tidak berempati. Menurut saya itu menjadi faktor mengapa banyak komentar negatif di berbagai sosial media, literasi pemahaman menghargai dan beropini mereka kurang. Balik lagi dari literasi, karena kurangnya literasi membuat orang tidak membahas mengenai hal-hal berat karena siapa yang akan menyahut?

Misal saja, baru kemarin saya mengobrol dengan teman saya, karena saya merasa ingin berdiskusi, cobalah saya bertanya, “Kamu tau parenting?” karena kebetulan saya habis membaca satu konten tentang parenting, dijawab lah “Ga tau tuh” selain saya sudah terbiasa menduga orang masih awam, ternyata dia juga tidak tertarik. Hal ini cukup membuktikan bahwa saat mengobrol hanya orang-orang tertentu saja yang dapat membahas mengenai hal-hal berbobot meskipun dalam keadaan santai.

Alasan ketiga, yaitu BUDAYA KRITIS

Sudah sangat wajar, bila mana kita tidak terbiasa kritis selain dari kita sendiri yang dapat memilih kebiasaa positif untuk menjadi kritis. Karena sudah sejak kecill menjadi orang yang biasa-biasa saja dan tidak diarahkan pada hal-hal untuk terjun pada topik obrolan bera maka muncul lah kebiasaan hanya membahas hal-hal ringan saja. Lebih menarik dan tidak membuat otak pusing.

Namun, berdasarkan ketiga alasan tersebut, tidak semua orang tertarik membahas seputar gosip, mungkin kita akan bertemu dengan circle pertemananya yang sudah terbiasa memunculkan obrolan berbobot. Jadi, bagaimanapun keadaannya baik santai mereka akan tetap membahas mengenai hal-hal penting agar waktu yang mereka habiskan bermanfaat.

Balik lagi dari kita, apakah mau menjadi bagian dari orang yang acuh terhadap ilmu pengetahuan atau orang yang akan membuka peluang circle yang dapat menggerakkan orang lain untuk ikut mempelajari lalu membahas mengenai hal-hal yang berbobot.

Sesuai namanya memperbicangkan hal berbobot, yaitu memberi bobot pada otak kita untuk berpikir keras dan itu memang melelahkan. Jika dilihat dari rutinitas orang-orang, saat pagi sampai sore mereka berkumpul di sekolah, kuliah, atau kerja untuk membicarakan hal yang berbobot, ada waktu istirahat digunakan untuk menyendiri atau berkumpul dengan orang lain untuk mengistirahatkan otak sebelum selanjutnya berkumpul kembali untuk membicarakan hal yang berbobot, saat malam adalah seperti istirahat yaitu bisa menyendiri atau berkumpul dengan teman/keluarga untuk mengistirahatkan otak dengan tidak membicarakan hal-hal yang berbobot.

Jadi menurutku benar, tapi bukan karena tidak suka, tetapi kita telah dipaksa untuk berpikir dalam perbincangan hal yang berbobot hampir setiap hari pada waktu-waktu tertentu, jika pada waktu berkumpul saat istirahat tetap membicarakan hal berbobot dan waktu malam juga, bisa jadi dia stress karena memaksa otak berkerja setiap saat dan hasilnya juga tidak maksimal.

Menurut saya, satu hal yang menjadi dasar dari munculnya hal tersebut ialah ‘Budaya’, ada budaya yang akhirnya melahirkan kebiasaan seperti ini, mulai dari zaman dahulu (saat media informasi) belum berkembang, sampai dengan saat ini. Mengapa budaya zaman dulu, Karena dahulu, orang tua kita atau nenek moyang kita tidak memiliki akses yang cukup untuk berkomunikasi atau memperoleh suatu informasi seperti kita saat ini, untuk mengetahui informasi (mulai dari kabar sampai hal yang sedang ia jalani) atau sekedar berkomunikai dengan masyarakat lainnya yang memiliki tempat tinggal yang berbeda dan jauh, entah itu, kerabat, sanak saudaranya atau bahkan kabar dari seorang public figure, maka selain menggunakan media cetak berupa surat kabar, hal yang mungkin untuk mereka lakukan saat itu adalah, melemparkan informasi personal dari orang ke orang, yang akhirnya hal tersebut seakan biasa untuk dilakukan dan pada saat itu memang digunakan dengan baik dan sesuai fungsinya (bertukar kabar atau informasi).

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dengan kebiasaan tersebut, membuat masyarakat secara terus menerus melakukannya, sayangnya saat ini perbincangan tersebut sudah memiliki konteks yang sedikit berbeda, tidak jarang dijumpai, obrolan atau perbincangan tersebut justru mengarah pada sesuatu yang negatif dan kurang baik. Kemudian saat ini, menurut saya perbincangan dengan bahan yang ‘berbobot’ juga sudah lebih banyak dibawakan dengan suasana yang sama seperti saat gosip, sehingga terkesan tidak membicarakan hal yang ‘berbobot’, lagipula menurut saya, ‘berbobot’ atau tidaknya suatu pemicaraan tergantung bagaimana orang tersebut memaknainya, bagi saya mungkin berbobot, tetapi bisa jadi tidak, bagi yang lain, mengingat setiap orang memiliki persepsi, kapasitas dan kemampuannya masing-masing, yang berbeda beda antara satu dengan yang lain.

Kalau menurut saya, agak sulit rasanya untuknya menggeneralisir setiap obrolan setelah sepanjang aktivitas yang serius dan melelahkan sebagai obrolan yang berbobot atau tidak berbobot.

Saya setuju dengan pendapat @williamaditama, saya rasa kita tidak dapat bahwa suatu obrolan yang ringan itu tidak berbobot. banyak obrolan-obrolan santai yang justru memiliki banyak manfaat untuk diri kita seperti melepaskan penat, mendapatkan insight baru dengan lebih mudah, dan lainnya.

Menurutku benar, sebab sepertinya kita sudah terlalu jenuh dalam bekerja atau kuliah yang mengharuskan kita untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Atau bahkan kita tidak memiliki banyak waktu dan memiliki topik yang berbobot untuk dibicarakan. Untuk itu, sebagian besar orang cukup senang dan merasa terhibur jika selepas melakukan suatu aktivitas dilanjut membicarakan hal-hal yang tidak berbobot untuk melepas pikiran yang penat. Secara umum yang paling sering dibicarakan adalah orang lain atau disebut gossip. Namun, definisi gossip tidak hanya tentang menyebarkan rumor yang buruk terhadap orang lain, melainkan bisa juga sekadar berbagi informasi.

Dilansir dari Kompas.com, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science pada 2014 menemukan, gosip bisa meningkatkan keeratan sebuah kelompok dan membuat para anggota kelompok tidak egois. Selain itu, gossip atau membicarakan hal tidak berbobot juga dapat mengidentifikasi orang-orang yang tidak bisa kita percaya.

Summary

Kompas.com. 2019. Penjelasan Psikologis, Mengapa Orang Doyan Bergosip. Diakses pada tanggal 26 Agustus, pukul 20.50

Menurut saya pribadi ada rasa minder dalam sebuah pembahasannya. Dia takut untuk menguatarakan pendapatnya ketika saling bertukar pikiran, ataupun mereka malas untuk membahasnya karena pikirannya dan pekerjaannya sudah terlalu berat. Kadangkala boleh membahas hal berbobot, namun orang yang sudah jenuh mungkin menginginkan hiburan dengan temannya saja.

Aku pribadi pun, terkadang suka memperbincangkan omongan kosong jika tidak ada topik yang bisa dibicarakan lagi. Menurutku yang pernah, terkadang pembicaraan omong kosong atau tidak berbobot pun malah justru lebih disukai orang untuk didengar atau didiskusikan, walau sebenarnya tindakan tersebut tidak sepenuhnya benar. Aku setuju dengan statement diatas mengenai temuan penelitian yang menemukan jika membicarkan orang lain menghabiskan waktu kira - kira 52 menit per hari yang artinya memang lebih tepat untuk menggambarkan perbincangan - perbincangan seperti masuk ke ranah budaya gossip . budaya gossip sendiri juga tidak terbatas kepada kaum wanita saja, tetapi kaum pria pun juga melakukannya. Hanya saja yang membedakannya adalalah kecenderungan topik yang dipilih antara pria dan wanita. Dengan kebiasaan gossip ini, membuat masyarakat secara terus menerus melakukannya, sayangnya saat ini perbincangan tersebut sudah memiliki konteks yang sedikit berbeda, tidak jarang dijumpai, obrolan atau perbincangan tersebut justru mengarah pada sesuatu yang negatif dan kurang baik. Orang-orang enggan atau bahkan tidak suka memperbincangkan hal yang berbobot bukan karena udah ngga ada energi, tapi karena telah difasilitasi oleh kebiasaannya, yaitu ghibah atau gosip . Hal itu sebuah kebiasaan.