Mengapa aksen seseorang susah hilang?

aksen

Dialek meliputi aksen + kosakata + pola gramatikal. Jadi kalau antara saat orang Indonesia ngomong Inggris dan orang Inggris/Amerika/Australia ngomong Inggris ‘terdengar beda’, itu adalah masalah aksen (sama halnya dengan ketika ada bule ngomong Indonesia yang terasa beda dengan jika orang Indonesia ngomong Indonesia).

Seringkali kita bertemu dengan seseorang dengan aksen daerah yang sangat tebal. Meski seseorang sudah bertahun-tahun merantau, aksen dari daerah asal tetap sulit untuk dihilangkan.

Menghilangkan aksen memang hal yang sulit, bahkan hampir mustahil. Meski otak kita sangat mudah dalam mengenali dan belajar aksen tertentu, hal tersebut sangat sulit ditransfer ke pembicaraan kita. Mengapa? Menurut para ilmuwan, hal tersebut sudah muncul sejak kita masih bayi, dan belum mampu bicara sepatah kata pun.

Dilansir dari Wired, para ilmuwan dari University of Washington mencoba melibatkan bayi-bayi dari berbagai suku. Mereka diperdengarkan suara-suara yang kental dengan nuansa Jepang dan Inggris. Pada bayi berusia 6 bulan, mereka merespon suara-suara tersebut dengan setara. Namun menginjak 10 bulan, bayi mulai tidak mengenal suara yang tidak ada di bahasa ibunya. Seperti bayi Jepang yang tidak menghiraukan huruf “r” dan “l” yang tidak umum di bahasa Jepang, namun umum di bahasa Inggris. Kesulitan untuk mengenali bahasa yang bukan bahasa Ibu memang cepat, namun untuk mempraktikkannya, dari lahir pun sulit.

Studi lain dari grup yang berbeda, menyatakan hal yang sebaliknya. Di mana kemampuan untuk belajar bahasa tak akan tiba-tiba menghilang, justru kemampuan ini akan menajam ketika memasuki masa puber. Setelah meneliti berbagai subjek, sang ilmuwan mendapati bahwa kemampuan seseorang dalam mempelajari bahasa kedua, berhubungan secara langsung dengan usia ketika mempelajarinya.

Kita memulai belajar bahasa dengan melihat sekitar, dan meniru orang tua, dan otak kita seakan-akan membentuk ‘perpustakaan’ yang membuat kita tetap fasih berbahasa. Namun ketika kita mendengar bahasa atau dialek yang baru, otak kita menempuh proses yang sama dalam belajar, namun tetap merujuk pada ‘perpustakaan’ bahasa asli yang kita pelajari.

Oleh karena itu, otak kita tidak menggunakan dialek atau bahasa yang baru, hanya mengambil perkiraan kasar suara yang sudah kita mengerti di otak kita. Itulah mengapa meski seorang bule sangat fasih berbahasa Indonesia, dia tetap menggunakan aksen kebule-bulean mereka.

Hal ini adalah kinerja alamiah otak kita. Jika tidak dilatih untuk membentuk ‘perpustakaan’ baru di otak, seseorang bisa tinggal puluhan tahun di negara yang berbahasa asing, tanpa kehilangan aksen sedikit pun.

References

https://www.kaskus.co.id/thread/58ac900e98e31bde2c8b4568/8-pertanyaan-sederhana-yang-kita-tak-tau-jawabannya-tapi-sains-tau/