Mengapa 7-Eleven gulung tikar di Indonesia, tetapi dapat berkembang pesat di Jepang?

7-Eleven merupakan sebuah jaringan toko kelontong atau dapat disebut _convenience store_yang beroperasi 24 jam. 7-Eleven sendiri berasal dari Amerika Serikat. Hingga saat ini telah tersebar di 18 negara dengan pasar terbesar Amerika dan Jepang. Pada tahun 2009 7-Eleven yang dikelolah oleh anak perusahaan PT Modern Internasional , PT Modern Sevel Indonesia masuk ke Indonesia. Setelah beberapa tahun beroperasi di Indonesia, pada tanggal 30 Juni 2017 PT Modern Sevel Indonesia menghentikan operasi dan menutup 7-Eleven (Sevel) yang beroperasi Indonesia. Meskipun 7-Eleven gulung tikar di Indonesia, hal tersebut tidak mempengaruhi kejayaan 7-Eleven di beberapa negara seperti Jepang. 7-Eleven di Jepang tetang dapat mempertahankan eksistensinya.

Lalu, mengapa 7-Eleven gulung tikar di Indonesia tetapi tetap dapat eksis dan berkembang pesat di Jepang?

7-Eleven yang merupakan toko kelontong atau warabala 24 jam, tidak mampu mempertahankan eksistensinya di Indonesia. 7-Eleven harus menutup seluruh 7-Eleven yang beroperasi di Indonesia saat menginjak tahun ke-9 beroperasi. Kejadian ini menimbulkan beberapa pendapat dan analisis mengenai penyebab 7-Eleven yang mampu mempertahankan usahanya di berbagai negara tetapi harus menelan kepahitan gulung tikar di Indonesia. Sebuah media barat menjelaskan bahwa “nongkrong culture” orang Indonesia menjadi salah satu faktor sulitnya 7-Eleven bertahan di Indonesia. Sudah menjadi pemandangan biasa 7-Eleven selalu dipenuhi oleh pelanggan tetapi hanya membeli sedikit barang. Mereka hanya membeli satu item kemudian menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati fasilitas ruangan ber-AC dengan WiFi gratis. 7-Eleven menawarkan lokasi strategis, makanan, nuansa nyaman, AC dan WiFi gratis yang kemudian menjadi daya tarik pelanggan. Mengusun konsep memberikan fasilitas yang nyaman untuk berkumpul dan bersosialisasi bersama temen atau keluarga berhasil mencapai puncak kejayaan pada tahun 2014.

Seiring berjalannya waktu 7-Eleven mulai menghadapi permasalahan income yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya operasional. Menurut Rosan Roelani ketua Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin), 7-Eleven menerapkan model bisnis yang salah dengan margin minimal dan persewaan tinggi. Pada tahun 2015 pendapatan 7-Eleven mulai mengalami penurunan. Beberapa pendapat baik dari dalam maupun luar negeri mengenai penurunan pendapatan 7-Eleven yang disebabkan oleh masalah regulasi dan birokrasi. Sebelumnya pada tahun 2012 7-Eleven sempat memperoleh surat peringatan dari Departemen Perdagangan mengenai penjualan barang ritel tanpa izin usaha yang sesuai. Kemudian masalah regulasi bergulir kembali dengan dikeluarkanya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang perubahan kedua atas Permendag Nomor 20/M-DAG/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Minuman berakohol yang menjadi salah satu competitive advantage 7-Eleven tidak dapat beredar bebas dan dijual di Indonesia, sedangkan PT Modern Sevel Indonesia belum siap menghadapi kondisi ini. Kendati demikian Mentri Menteri Perindustrian Airliangga Hartarto mengatakan masalah internal sebenarnya berada di balik kebangkrutan Sevel. Dia menyangkal bahwa larangan menjual minuman beralkohol di balik kematian perusahaan.

Ditengah masalah regulasi dan berbagai isu internal, Indomart dan Alfamart yang sejak awal 7-Eleven beroperasi di Indonesia sudah menjadi kompetitor semakin mengembangkan usahanya dan meningkatkan pendapatan mereka. Tidak hanya melakukan penjualan makanan, minuman dan barang kebutuhan sehari-hari lain, Indomart dan Alfamart yang telah lebih lama beroperasi di Indonesia serta memiliki jaringan yang luas mulai mengembangkan usaha di bidang pelayanan termasuk bill payment dan traveling booking. Indomart dan Alfamart yang tidak terpengaruh dengan kebijakan pengenai peredaran alkohol mampu merebut pasar dan mengembangkan jaringan lebih luas disaat 7-Eleven tidak memiliki perencanaan yang mumpuni untuk menghadapi permasalahan regulasi tersebut.

Kegagalan menjual 7-Eleven Indonesia kepada Charoen Pokphand Group yang merupakan pengelolah 7-Eleven Thailand juga disebut menjadi faktor semakin menurunnya kemampuan bertahan 7-Elevendi Indonesia. Nilai saham 7-Eleven juga semakin turun.

Baik disebut karena ketidakseimbangan biaya operasional dengan pendapatan, masalah birokrasi dan regulasi Indonesia yang tidak sesuai dengan 7-Eleven, maupun gempuran dari kompetitor seperti Indomart dan Alfamart, 7-Eleven pada dasarnya kurang melakukan perencanaan masa depan dan penyesuaian dengan culture di Indonesia sendiri yang merupakan negara dengan mayoritas muslim sehingga minuman beralkohol dapat menimbulkan pro dan kontra.

Walaupun mengalami kebangkrutan di Indonesia, 7-Eleven memiliki pasar terbesar di salah satu negara timur pula yaitu Jepang. 7-Eleven di Jepang melakukan manajemen baik dalam hal operasional, pelanggan, maupun perencanaan masa depan. 7-Eleven di Jepang menerapkan cara tetap membawa formula besar dari Amerika tetapi tetap memperhatikan selera lokal. Sean Thompson, senior director of private brands for Dallas-based 7-Eleven menuturkan bahwa salah satu strategi 7-Eleven yang menjual rice ball menjadi strategi yang tepat. Rice ball sendiri merupakan makanan rumahan Jepang yang tidak dijual di toko maupun restaurant. Rice ball menjadi item sukses di Jepang. Tidak berhenti di keberhasilan menjual rice ball , 7-Eleven Jepang terus mengupayakan menjual produk dengan memperhatikan konsumen, salah satunya dengan menciptakan kemasan rice ball yang mudah dibuka sehingga tidak memakan banyak waktu. Hal tersebut jelas sesuai dengan culture masyarakat Jepang yang menghargai waktu dan cenderung bergerak cepat. Memahami kebutuhan konsumen, menyediakan apa yang dibutuhkan konsumen, menyesuaikan dengan regulasi dan budaya masyarakat Jepang, memberikan produk berkualitas, dan mempertimbangkan jumlah item karena di Jepang real estat mahal merupakan beberapa strategi 7-Eleven di Jepang.

Selain itu 7-Eleven di Jepang menjual banyak hal yang merupakan kebutuhan pelaggan mulai dari makanan, majalah, suus, gurita yang diiris, bahkan pemesan jam tangan. Shop Amerika merupakan inovasi 7-Eleven Jepang yang menawarkan barang-barang mewah impor. 7-Eleven Jepang juga mempertimbangkan dalam melakukan pengadaan barang sebagai persediaan. Adanya analisis pola penjualan untuk melakukan perencanaan masa depan dan sebagai informasi berharga perusahaan pusat menjadi bantuan efektif untuk pengambilan keputusan.

Mike Allen seorang Analisis di Barclays de Zoette Wedd menganggap Toshifumi Suzuki yang merupakan presiden 7-Eleven Jepang berhasil menciptakan kesuksesan dengan menerapkan visi tentang ritel sebagai bisnis informasi. Toshifumi Suzuki juga menuturkan bahwa penting untuk melakukan inovasi manajemen dan memperbaiki metode.

Pada akhirnya alasan 7-Eleven tetap bisa menjadi pasar terbesar 7-Eleven sedangkan 7-Eleven di Indonesia bangkrut adalah karena kemampuan 7-Eleven Jepang menyesuaikan budaya dan selera masyarakat, memanfaatkan teknologi dengan baik dalam bidang manajemen dan pengambilan keputusan, manajemen biaya, serta tidak kalah pentingnya memperhatikan regulasi dan norma yang ada di negara Jepang.

Referensi

https://www.minimeinsights.com/2017/06/27/why-7-eleven-failed-in-indonesia/

http://gres.news/news/economy/114389-expert-opinions-on-7-elevenacutes-bankruptcy/0/

https://asia.nikkei.com/Business/Companies/Why-7-Eleven-is-closing-in-Indonesia?page=2

http://www.nytimes.com/1991/05/09/business/new-japanese-lesson-running-a-7-11.html?pagewanted=all

https://csnews.com/listening-key-7-elevens-store-brand-success-0

7-Eleven mulai bermunculan di Indonesia sejak tahun 2009. Salah satu toko retail yang menawarkan beberapa fasilitas menarik sehingga banyak pengujung yang mendatanginya. Mulai dari tempat yang nyaman, Wi-Fi, hingga non-stop buka selama 24 jam. Pada tahun 2014 kemungkinan jumlah gerai 7-Eleven di Indonesia sebanyak 190 gerai. Namun hal itu tidak bertahan lama hingga pada tanggal 30 Juni 2017 lalu seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia resmi ditutup. Menurut beberapa sumber, terdapat berbagai hal yang menyebabkan lenyapnya 7-Eleven di Indonesia.

Seperti yang dikutip dari Tina Novita, Corporate Secretary PT Modern Putra Indonesia, menyatakan bahwa awal penurunan 7-Eleven berlangsung sejak tahun 2015 dimana pada saat itu perekonomian Indonesia sedang labil. Pada tahun 2015 terjadi persaingan perekonomian yang tinggi di Indonesia, tetapi tidak diimbangi dengan daya beli para konsumen. Konsumen lebih cenderung memiliki daya beli rendah, sehingga terjadi ketidakseimbangan. Pada tahun tersebut juga pertumbuhan industri retail hanya berkisar pada 8%-9%, padahal dua tahun sebelumnya mencapai 15%-16%.

Kemudian pada tahun 2012 7-Eleven telah mendapatkan surat peringatan dari Kementerian Perdagangan mengenai perizinan, dimana izin yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan kepada 7-Eleven yaitu izin sebagai restoran, bukan retail. Tetapi pada kenyataannya 7-Eleven merangkap antara restoran dan retail. Menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Gunaryo, hal tersebut menyalahi aturan. Kemudian pada tahun 2015 muncul Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang perubahan kedua atas Permendag Nomor 20/M-DAG/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Padahal, alkohol merupakan satu dari keunggulan kompetitif 7-Eleven dan penjualan alkohol merupakan penunjang penjualan di 7-Eleven hingga 10%. Hal ini tentu saja membuat pendapatan 7-Eleven menurun drastis.

Selain itu, pengujung juga menjadi faktor tutupnya 7-Eleven di Indonesia. Berdasarkan cerita dari teman saya, Radian, yang juga sering mengunjungi 7-Eleven di daerah Jakarta, menceritakan bahwa kebanyakan para pengunjung yang datang ke 7-Eleven hanya membeli satu hingga 2 minuman, lalu dilanjutkan dengan nongkrong bersama teman-temannya yang lain hingga 3 jam lebih. Hal ini tentu saja berpengaruh pada biaya yang dikeluarkan 7-Eleven untuk membayar seluruh tanggungan fasilitas yang disediakan seperti Wi-Fi, listrik, hingga AC tidak sebanding dengan pendapatan yang masuk. Hal ini didukung oleh fakta bahwa pendapatan penjualan bersih 7-Eleven menurun pada tahun 2016 sebesar 24% menjadi Rp 675,3 Miliar rupiah.

Namun hingga saat ini toko retail seperti Indomaret dan Alfamart masih tetap eksis. Hal ini dikarenakan beberapa faktor. Pada saat itu, konsep 7-Eleven dengan Indomaret dan Alfamart tidak jauh berbeda, hanya saja fasilitas yang ditawarkan lebih banyak 7-Eleven. Tetapi banyak pengunjung yang memanfaatkan fasilitas tersebut tanpa membeli atau melakukan transaksi di 7-Eleven sehingga pengeluaran 7-Eleven tetap atau bahkan semakin banyak, sedangkan pemasukan tidak sesuai dengan pengeluaran. Pada saat Indomaret dan Alfamart sudah semakin meluas, 7-Eleven yang memiliki konsep yang sama tidak merespon saat konsepnya ditiru oleh Indomaret dan Alfamart. Selain itu, 7-Eleven hanya membuka gerai-gerainya di daerah Jabodetabek ketika Indomaret dan Alfamart sudah masuk hingga ke daerah-derah kecil di seluruh Indonesia.

Berbeda dengan di Jepang. Di Jepang, gerai 7-Eleven ada hampir di setiap sudut komplek. 7-Eleven di Jepang memiliki slogan “近くて便利” yang artinya cepat dan mudah. Seringkali diadakan undian dengan potongan harga hingga setengahnya untuk makanan sehari-hari. 7-Eleven di Jepang juga menyediakan makanan-makanan lokal seperti bento, ramen, dan pocky. Pengunjung juga bisa menyiapkan makanannya sendiri di dalam 7-Eleven atau memesan makanan saat itu juga dan bahkan bisa melakukan pemesanan makanan melalui website. Tidak hanya itu, orang-orang juga bisa melakukan transaksi pembayaran tagihan hingga pembelian tiket olahraga atau hiburan. Yang utama adalah 7-Eleven di Jepang sangat memperhatikan orang-orang yang sudah tua. Mereka membuat ruangan untuk makan dan duduk-duduk sehingga bisa bersosialisasi dengan orang tua lainnya sambil berkaraoke.

Referensi

https://omgfacts.com/we-need-to-talk-about-how-amazing-7-elevens-in-japan-are-ed343f21d7a4
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40428697
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3435533/ini-alasan-30-gerai-seven-eleven-tutup-tahun-ini
https://www.reuters.com/article/us-seven-i-hldgs-indonesia/7-eleven-indonesia-where-popularity-wasnt-enough-idUSKBN19L1ZE
http://www.thejakartapost.com/news/2017/06/26/7-eleven-loses-steam-due-to-alcohol-ban-tight-margin-business-group.html

Kondisi Sevel di Indonesia

Terhitung 30 Juni 2017, PT Modern Sevel Indonesia (MSI) secara resmi menutup dan memberhentikan usaha waralabanya yaitu 7-Eleven (Sevel) yang beroprasi di seluruh Indonesia. Sevel di Indonesia hanya mampu bertahan selama 8 tahun sejak pertama kali beroperasi di Indonesia. Sebelum melakukan penutupan, PT Modern Internasional Tbk (MDRN) melakukan pengemuman terbuka di bursa saham pada 23 Juni 2017. Padaha kala itu terdapat 190 gerai sevel di DKI Jakarta.

Awal mula gerai 7-Eleven mendunia pada 2008 yang dilakukan penandatanganan Letter of Intent Master Franchise gerai 7-Eleven di Dallas, Amerika Serikat. Pada 2009, ada penandatanganan Master Franchise Agreement 7-Eleven di Tokyo, Jepang. Sevel masuk ke Indonesia pada 7 November 2009 dan merupakan negara ke 17 sebagai hasil dari ekspansi usaha Sevel. Pada saat itu pula, bisnis ritel di Indonesia merupakan bisnis yang memiliki prospek dan peluang sangat menjanjikan untuk beberapa tahun mendatang. Meski memilki jumlah gerai yang besar dan konsep bisni yang menjanjikan Sevel mengalami persaingan ketat dengan bisnis serupa seperti Lowson, Family Marta, Indomaret Poin dll.

Persaingan yang ketat membuat Sevel mengalami kerugian yang cukup lama. Bahkan, adanya aturan-aturan seperti larangan penjualan minuman beralkohol juga menjadi salah satu Sevel ditinggalkan masyarakat. Ketatnya persaingan bisnis ditambah dengan adanya peraturan dalam pelarangan menjual minuman beralkohol membuat Sevel mengalami penurunan pembeli dan berakibat pada kerugian perusahaan. Hal ini juga ditambah dengan pengelolaan keuangan yang kurang baik dengan adanya biaya operasional perusahaan yang juga sangat besar. Biaya operasional besar ini disebabkan oleh luas lokasi yang relativ luas karena menggabungkan konsep swalayan dan adanya letak untuk duduk pengunjung. Serta ditambah lagi dengan budaya orang Indonesia yang relativ lebih suka untuk membeli seminimal mungkin dan berbincang di area Seveselama mungkin. Sevel sendiri cenderung untuk melakkukan ekspansi di daerah Ibu Kota yang sebenarnya untuk penggunaan lahan tentunya tidak murah.

Menurut laporan keuangan konsolidasian MDRN kuartal I-2017 (tidak diaudit), Modern masih mengalami kerugian Rp 447,9 miliar. Angka tersebut berbanding terbalik dengan kondisi perseroan di kuartal I-2016 yang masih mampu membukukan laba Rp 21,3 miliar.

Penutupan Sevel menurut Fitch Ratings juga lebih disebabkan oleh kurang jelasnya model franchise yang dijalankan. Sevel sendiri harus menghadapi persaingan pada 2 segmen bisnis yaitu segmentasi toko swalayan dan restoran cepat saji. Sevel sendiri juga terhambat pada peraturan pemerintah, dimana Sevel memiliki ambiguitas apakah harus mengikuti aturan sebagai restoran cepat saji atau kah sebagai swalayan.

Lalu bagaimana dengan Sevel yang berada di Jepang?

Apabila dijelaskan secara general kondisi Sevel di Indonesia maka kesalaha tersebut dapat dipetakan menjadi 3 masalah yaitu :

  1. Kesalahan manajemen internal
  2. Kesalahan penentuan target pasar
  3. Berbenturan dengan budaya Indonesai beserta aturannya

3 Hal ini yang menjadikan pembeda manajerial Sevel yang ada di Indonesia dengan yang ada di Jepang. Sevel di Jepang lebih menuntut bagaimana pengelolaan manajemen yang cepat dan dapat menyesuaikan dengan pasar yang ada. Awalnya Sevel Jepang mengalami kesulitan membaca kemauan konsumen bahkan dikisahkan di awal-awal buka gerai, stok harian yang ada di gerai 40x lipat dari yang terjual per hari. Stok yang tak bergerak tersebut tentunya akan sangat membebani bila terus menerus terjadi. Oleh karenanya mereka menciptakan improvisasi sistem manual yang bisa mengidentifikasi kebutuhan spesifik konsumen per gerainya dan kebutuhan konsumen ini dikomunikasikan ke seluruh gerai dan pemasok sebagai proses saling tukar informasi sekaligus koordinasi antar gerai, pemasok, dan kantor pusat. Setelah adanya pertukaran informasi secara manual maka selanjutnya Sevel mengembangkan nya menjadi otomatisasi sistem. Tidak hanya manajerial internal yang berjalan dengan baik, Pemerintahan Jepang pun juga mampu untuk mendukung berlangsungnya bisnis dari Seve. Hal yang paling terlihat adalhlegalnya dalam menjual minuman berlakohol yang tentunya pemasukan dari sana sangatlah besar.

Referensi

https://finance.detik.com/bursa-valas/3546031/alasan-7-eleven-tutup-bisnis-rancu-antara-restoran-dan-minimarket

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3545042/perjalanan-7-eleven-di-ri-dari-booming-hingga-tutup

https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-3550655/terungkap-ini-penyebab-7-eleven-tutup

http://bisnis.liputan6.com/read/3005071/penyebab-bisnis-7-eleven-tumbang-di-indonesia

http://bizente.com/index.php?modul=detail-konten&id=132

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/06/26/072814126/kadin.anggap.bisnis.model.7-eleven.tidak.cocok.di.indonesia

http://bisnis.liputan6.com/read/3006969/di-negara-lain-7-eleven-berjaya-tapi-di-ri-tumbang

Banyak spekulasi bermunculan soal penyebab bangkrutnya gerai convenience store ini, Salah satunya soal regulasi yang dinilai menyulitkan sevel dalam menentukan model bisnis mereka di Indonesia.

Hal tersebut bermula ketika Menteri Perdagangan saat itu Gita Wirjawan mulai mempertanyakan perizinan dari Sevel, karena dianggap lebih condong sebagai toko ritel kategori minimarket—yang secara aturan tak boleh dimiliki asing. Persoalan menjadi runyam, kala itu semangat mengedepankan penciptaan lapangan pekerjaan jadi alasan yang logis dengan hadirnya Sevel sebagai bisnis baru di Tanah Air. Di sisi lain, Kemendag begitu kukuh dengan aturan yang sudah ada. Hingga akhirnya dipilih jalan tengah, dengan membuat aturan soal waralaba toko modern dan juga makanan dan minuman. Setelah itu terbitlah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 07/M-DAG/PER/2/2013 tentang pengembangan kemitraan dalam waralaba untuk jenis usaha jasa makanan dan minuman.

Selain itu campur tangan pemerintah lainnya yang sering dianggap menjadi biang keladi kegagalan Sevel untuk bisa berkembang dan meraup untung adalah soal larangan menjual minuman beralkohol khususnya kadar di bawah 5 persen atau bir. Larangan ini berlaku untuk penjualan bir di minimarket dan pengecer tapi tak berlaku untuk supermarket dan hipermarket. Hal ini juga lah man menjadi pembeda dengan negara Jepang dimana di negara tersebut minuman beralkohol bebas dijual disana.

Persoalan regulasi ini pula yang juga menjadi catatan dari lembaga pemeringkat, Fitch Ratings yang belum lama ini menganalisa perkembangan regulasi turut mewarnai tutupnya Sevel di Indonesia. Faktor bisnis yang tak solid juga menentukan keberlangsungan bisnis Sevel, ini karena Sevel berjalan dengan bisnis yang rancu antara minimarket dan kafetaria. Fitch juga menggarisbawahi regulasi larangan penjualan bir yang menyumbang 15 persen penjualan dari Modern Internasional (Sevel), turut punya andil.

Referensi :