Memeluk Lara Hati

Tik tik tik

Suara itu mendominasi ruangan berlantai keramik dengan dipenuhi meja kantor tipe meja gabung dengan masing-masing satu kursi putar. Benar, itu bukan suara rintik hujan seperti halnya pada lagu masa kecil yang sering kunyanyikan, melainkan itu suara keyboard yang ditekan hampir bersamaan oleh banyak orang.

Aku menghembuskan napas lega karena tugas mencatat pengeluaran dan pemasukan kantor yang sudah kukerjakan dua hari lalu akhirnya selesai lebih cepat dari yang kukira. Kedua tanganku kudorong ke depan agar otot-ototnya terasa lebih rileks setelah sebelumnya kepalaku kupatah-patahkan ke kanan dan kiri.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahu kiriku, aku tahu betul siapa orang yang menepuk bahuku. Dia Gilsha teman satu SMK-ku dan sahabat di dunia kerjaku. Aku menoleh dan mendapatinya dengan sebelah alis yang sengaja dinaik-turunkan serta sebelah sudut bibir yang terangkat, aku tahu apa yang dikatakan dari rautnya sekarang-yang menurutku terlihat menyebalkan.

“Gue pikir-pikir dulu,” jawabku tanpa melihat ke arahnya dan mulai membangun niat untuk mengerjakan berkas yang masih bertumpuk rapi di mejaku dengan cara mengambil sebuah snelhecter paling atas.

“Ya ampun Fen, cowok seganteng dan setulus Rian lo bilang masih lo pikir-pikir dulu?!” ucapnya dengan suara yang terbilang nyaring membuatku refleks mencubit lengannya.

“Aduh!” rintihnya sembari menarik tangannya cepat.

“Lo kalau ngomong jangan keras-keras bisa nggak sih?”

“Tau tempat dong, ini lagi di kantor,” peringatku dengan mata yang bergerak kesana kemari mengecek teman sepekerjaku, berharap mereka tak menatap kami dengan tatapan bertanya-tanya atau semacamnya. Beruntung mereka masih sibuk dengan komputer di depannya.

Sorry,” ujarnya dengan tangan yang setia mengusap lengan yang baru saja kucubit, sebagai jawabannya aku hanya mendengus kesal dan aku mulai membuka lembaran pertama berkas yang ada di tanganku.

“Lo jangan kebanyakan mikir, Fen! Jelas-jelas dia suka sama lo, lo harusnya kasih kesempatan buat dia dengan cara buka hati lo sedikit-sedikit. Jangan paksa hati lo buat jadi batu deh,” jelasnya-dengan suara yang lebih pelan dari pada sebelumnya-bak gadis yang paling mengetahui perasaan semua orang di dunia ini.

“Tau dari mana kalau dia suka sama gue?” tanyaku sembari menekan-nekan satu per satu jari guna merenggangkan otot jari setelah satu jam lamanya mengetik.

Dia mencebikkan bibirnya. “Lo bego apa gimana sih? Lo nggak lihat cara dia natap lo?” aku menggeleng santai.

“Binar matanya, Fen!” jawabnya mantap dan aku mulai mengingat-ingat pertemuan pertamaku dengan Rian karena paksaan dari Gilsha. Nihil, aku tak mengingat apapun. Ah, mungkin yang benar saat itu aku selalu menghindari tatapannya, sengaja, aku ingin membuatnya tak nyaman kepadaku.

“Ayolah Fen, gue nggak minta lo buat balas perasaan Rian, yang gue minta itu buka hati lo walaupun perlahan, belajar buat menerima dan belajar buat mencintai, Fen,” pungkasnya, raut memohonnya terlihat jelas. Aku tak bisa menolak permintaannya karena aku jelas tahu yang diinginkan Gilsha sekarang juga demi kebaikanku.

Aku mengangguk pelan, “oke” dia menyunggingkan bibirnya.

“Fen, lo kan pernah bilang lo punya alasan kenapa lo selalu menghindar sama laki-laki, apa sih alasan lo?” tanyanya penasaran, aku tak menanggapinya dan mulai mengetik tugas kantorku. Kami sahabat, tetapi kami pernah bilang bukan berarti semuanya harus diungkap, kami juga membutuhkan privasi dalam beberapa hal. Dan itulah privasiku, sedangkan privasinya dia sudah berpacaran selama 6 bulan tapi tak mau mengenalkannya padaku.


“Hai Fen,” sapa seorang laki-laki dengan tinggi kira-kira 175 cm dengan kemeja panjang yang digulung hingga siku berwarna merah hati dan tas kamera yang menggantung di pundaknya yang baru saja memasuki kafe dekat kantor kerjaku

Aku tersenyum, “hai,” dan dia menduduki salah satu kursi kosong yang letaknya tepat berada di depanku.

“Lo udah lama nunggu?” tanyanya sembari meletakkan tas kamera di atas meja.

“Nggak kok, gue baru aja datang,” jawabku apa adanya kemudian hening.

Aku tak tahu harus membahas hal apa sebab ini pertama kalinya aku berhadapan dengan laki-laki setelah ayahku dan Sean-mantan waktu di SMK setelah beberapa tahun lamanya tak ingin dekat-dekat dengan laki-laki mana pun. Dan sekarang, setelah Gilsha memaksaku untuk bertemu lagi dengan Rian. Ya laki-laki di depanku ini adalah Rian.

Aku mengedarkan pandangan sembari mengaduk-aduk gelas berisi jus mangga, menunggunya untuk memulai percakapan kembali. Ada yang aneh, mataku melihat seorang gadis yang jelas-jelas tadi sudah berpamitan untuk pulang, ya siapa lagi jika bukan Gilsha yang sangat sengaja meninggalkanku berdua dengan Rian, tak mau menungguku walau aku sudah mengancamnya dengan ancaman klise dalam persahabatan.

Mataku memicing, dugaanku benar itu Gilsha. Dia melotot ke arahku dengan gerakan satu tangan yang dibuka tutup, awalnya aku tak paham. Namun, setelah Gilsha memberi kode yang lebih jelas, aku tahu apa yang dimaksud.

“Rian,” panggilku dan ekor mataku sedikit melihat dibelakang punggung Rian yang terdapat Gilsha disana, Gilsha tengah mengacungkan jari jempolnya.

“Lo kerja jadi fotografer udah berapa tahun?” tanyaku memulai percakapan. Ya, ini yang diinginkan Gilsha setelah memberi kode-kode lewat gerakan tangan.

“Oh, udah lama dong,”

“Ya gitulah,”

“Lo berarti udah ahli dong buat cari eagle terbaik, buat menghasilkan foto yang bagus,” ucapku sekaligus memuji.

“Mau gue foto nggak buat buktiin kalau omongan lo benar?” tawarnya kepadaku.

Aku mengingat-ingat permintaan Gilsha kala itu, berpikir tidak ada salahnya jika dia memotretku meskipun aku tahu keinginannya pasti juga ingin mendapat fotoku.

“Mmm, boleh,” Rian mengeluarkan kamera dari dalam tasnya dan menyuruhku untuk tersenyum. Dia menekan tombol shutternya beberapa kali padahal aku tak mengganti poseku sama sekali. Aish, apakah duduk biasa dengan sedikit tersenyum bisa disebut pose?

Rian mengulurkan kameranya dan aku mulai melihatnya sesekali decak kagum keluar dari mulutku, “bagus,”

“Kirim ya nanti,” pintaku, dia mengangguk sambil mengulas senyumnya.


Keadaan kafe di malam hari terlihat lebih indah dari pada saat aku melewatinya. Ini pertama kalinya aku memasuki kafe ini, ternyata bagian luarnya hanya menjadi pengecoh bahwa kafe ini kecil padahal saat kita memasukinya kafe ini tak seperti yang dibayangkan.

Seperti rencana Gilsha kemarin, dia menyarankanku untuk mengajak Rian berkencan. Ya, setelah pertemuanku dengan Rian kedua kalinya, kami menjadi akrab. Dan tibalah Rian mengungkapkan perasaanya, saat itu aku bingung harus mengatakan apa, beruntung Rian adalah laki-laki yang baik dia tak menuntutku untuk segera menjawab. Namun, setelah berdebat dengan Gilsha, akhirnya aku menerimanya untuk menjadi pacarku.

Terhitung 2 minggu setelah aku resmi berpacaran, Gilsha menyarankanku, ralat dia memaksaku untuk berkencan dengan Rian. Dasar Gilsha ini, bukankah terlalu aneh jika si gadis mengajak laki-laki berkencan? Tapi Gilsha selalu menjawab ‘Apa yang aneh, gue aja sering ngajak pacar gue kencan’. Pengecualian, hanya Gilsha yang tak tahu malu yang tak menganggap aneh untuk mengajak kencan si laki-laki.

Sudah 10 menit aku duduk bersama dengan Rian hanya berdua. Entah ke mana si Gilsha orang yang kutunggu-tunggu, awas saja jika dia mengerjaiku, alih-alih akan datang bersama pacarnya tetapi justru meninggalkanku selama mungkin untuk bisa berdua dengan Rian.

“Gilsha mana sih, kok nggak datang-datang?”

“Mungkin kena macet, Fen.” Aku mendesis sesekali melirik ponsel yang ada di atas mejaku, barang kali terdapat pesan dari Gilsha.

“Nah itu Gilsha sama Revan,” ujar Rian sembari menunjuk ke arah belakang.

Aku menoleh sejenak dan melihat Gilsha berada di depan dan terdapat seorang laki-laki 7 cm lebih tinggi darinya yang kuyakini pacarnya. Aku kembali menghadap Rian dengan raut bertanya-tanya.

“Lo udah kenal pacarnya Gilsha, Yan?” dia mengangguk singkat.

“Gila sih Gilsha, jahat banget jadi sahabat,”

“Jahat gimana?” tanya Rian.

“Masa lo aja udah dikenalin gue belum,” cibirku.

“Mungkin dia nggak mau kalau lo berpaling dari gue,” guraunya.

“Eh,” refleksku tak berani menatap matanya lagi.

“Hai Fenny,” sapa Gilsha dengan diikuti seorang laki-laki.

“Hai,”

“Hei bro,” sapa Rian kemudian dibalas oleh Revan.

Gilsha menempati kursi di sampingku sedangkan pacarnya di samping Rian. Kedua mataku menatap Revan, tunggu! Aku baru saja merasakan de javu, mengapa aku merasa sudah pernah melihatnya? Apakah dalam mimpi atau kenyataan?

“Van, kenalin ini Fenny. Sahabat gue,” dia hanya mengangguk dan tersenyun tipis, begitu pula aku.

Pikiranku masih bertanya-tanya, mencoba mengingat-ingat wajahnya yang tampak familiar. Aduh siapa sih ini?, batinku.
Astaga, apa itu benar dia? Aku baru saja mengingatnya, setelah dia tersenyum walaupun tipis itu membuatku semakin ingat bahwa dia adalah laki-laki yang 5 tahun lalu menemaniku saat aku di rumah sakit.

Aku tak bisa lupa kejadian itu. Di umurku yang 18 tahun, Ibuku pergi meninggalkanku untuk selamanya karena penyakit kanker menggerogotinya. Saat aku kehilangan semangatku, dia datang entah dari mana dan bertanya mengapa aku menangis malam-malam di rumah sakit hingga dia menghiburku.

Aku masih ingat betul kalimatnya ‘Jangan sedih, ada saatnya orang yang kamu sayangi akan diambil tak peduli seberapa butuhnya dan sayangnya dirimu. Yang bisa kita lakuin hanya sabar dan merelakan, karena sejatinya takdir itu sudah digariskan sama Tuhan’. Kenapa kalimatnya seakan terjadi kepadaku lagi? Ya kuakui, aku sayang padanya dan dia juga alasanku untuk tak membuka hati pada siapa pun. Selama ini aku mencintai seseorang yang tak ada jaminannya untukku bisa bertemu lagi.

“Oh iya, gue ada kabar gembira nih,” aku menoleh pada Gilsha yang tiba-tiba berbicara.

“Apa?” tanya Rian penasaran.

“Gue sama Revan akan tunangan!” lugasnya dengan raut bahagia.

Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menggigit bibir bawah bagian dalam, rasanya seakan ada batu yang menghantam kepalaku. Kudengar Rian mengucapkan selamat pada Gilsha dan Revan.

“Sha, gue pergi dulu,” pamitku hingga aku lupa untuk mengucapkannya pada Rian dan membawa tasku.

Aku benar-benar ingin menjauh sekarang, aku tak sanggup menerima kenyataan itu, aku seakan menjadi gadis paling menyedihkan di dunia. Kudengar Gilsha dan Rian memanggil-manggil namaku. Aku kehilangan arah, aku tak tahu harus ke mana. Yang jelas aku ingin sendiri.

10 menit aku berjalan tanpa tujuan dan entah aku sadar tidak sedang berada di tempat yang tak kukenali. Aku menemukan kursi panjang dan aku mendudukinya. Air mata yang mati-matian kutahan agar tak meluncur justru lolos begitu saja saat aku duduk dan itu membuat air mata yang lain ikut keluar.

Sakit. Itu yang kurasakan sekarang. Laki-laki yang membuatku percaya bahwa cinta sejati itu ada kini sirna. Justru dia telah dimiliki oleh orang lain dan membuatku paling sakit adalah kenyataan bahwa sahabatku yang bisa mendapatkan hatinya.

Suara deru motor terdengar di dekatku, tetapi aku tak mencoba mencari tahu siapa pemiliknya. 2 detik kemudian seorang laki-laki duduk di sampingku.

“Lo kenapa Fen?” tanyanya khawatir, cepat-cepat aku menghapus air mataku meskipun sia-sia dia juga sudah mengetahui bahwa aku sedang menangis.

“Rian, lo kenapa kesini?” tanyaku dengan suara serak, mencoba menghilangkan rasa khawatirnya terhadap aku.

“Gue salah nyamperin pacar sendiri?” aku memejamkan mataku, merasa bersalah atas keputusanku untuk menerima Rian sebagai pacarku yang jelas-jelas aku belum mencintainya. Aku benar-benar merasa bersalah, disaat aku mencoba menghilangkan perasaanku terhadap Revan dan mencoba mencintai Rian, tetapi Revan tiba-tiba muncul dan membuat hatiku remuk sekaligus merasa tak enak.

Tangisku semakin menjadi. Rian yang belum mengetahui penyebab aku menangis menggenggam tanganku dan bertanya, “Fen, lo kenapa nangis?”

“Rian, maafin gue.” ucapku mulai menjelaskan dengan sesenggukan.

“Sebenarnya gue belum cinta sama lo,”

“Ini yang buat lo nangis?” tanyanya dan aku menggeleng pelan, dia membujukku untuk menceritakan semua agar merasa lebih lega. Aku menurut karena bagaimana pun saat ini aku sangat butuh mengeluarkan keluh kesahku pada seseorang. Aku menceritakan awal pertemuanku dengan Revan hingga perasaan yang sebenarnya kusimpan untuk Revan.

Aish, bukannya merasa lega. Justru hatiku semakin sakit saat mengingat Gilsha mengatakan kabar gembira menurut Gilsha. Aku menangis dipelukan Rian, hatiku kini dibaluti perasaan bersalah dan lara hati, semuanya menjadi satu. Aku seakan menjadi satu-satunya orang yang patah hati disini tanpa menyadari sebenarnya ada hati seseorang yang juga terluka.

“Terkadang melihat seseorang yang kita cintai bahagia, walaupun bukan sama kita itu udah cukup buat kita,” ujar Rian yang masih bisa kudengar meskipun aku sesenggukan.

Perkataannya benar, aku harus bisa bahagia walaupun bahagianya bukan karenaku. Aku harus bisa mendukung hubungan sahabatku ke jenjang yang lebih serius. Meksipun aku tak yakin hatiku akan baik-baik saja melihat kebersamaan mereka.