© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Memberi hukuman yang keterlaluan (kekerasan) kepada anak anak

Hukuman diberikan kepada anak anak gunanya untuk memberikan efek jera agar tidak mengulangi kesalahan yang telah dilakukannya.


Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa, dan dengan adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.
(Amin Danien Indrakusuma, 1973)

Jenis atau bentuk hukuman yang dijatuhkan berbagai macam. J.J. Hasibuan (1988) mengungkapkan tentang bentuk dari hukuman tersebut, yaitu:

  1. Bentuk Hukuman
    Bentuk-bentuk hukuman lebih kurang dapat dikelompokan menjadi empat kelompok, yaitu:
  • hukuman fisik,misalnya dengan mencubit, menampar, memukul dan lain sebagainya;
  • hukuman dengan kata-kata atau kalimat yang tidak menyenangkan, seperti omelan, ancaman, kritikan, sindiran, cemoohan dan lain sejenisnya;
  • hukuman dengan stimulus fisik yang tidak menyenangkan, misalnya menuding, memelototi, mencemberuti dan lain sebagainya;
  • hukuman dalam bentuk kegiatan yang tidak menyenangkan, misalnya disuruh berdiri di depan kelas, dikeluarkan dari dalam kelas, didudukan di samping guru, disuruh menulis suatu kalimat sebanyak puluhan atau ratusan kali, dan lain sebagainya.

Seni memberi hukuman terhadap anak didik sebagaimana diungkapkan oleh JVS. Tondowidjojo CM. (1991: 42-44) bahwa hukuman-hukuman itu seharusnya jarang diberikan, dan harus diseleksi terlebih dahulu serta harus dipertanggungjawabkan. Ini berarti kita tidak boleh menetapkan atas dasar kebencian atau rasa balas dendam. Supaya hukuman-hukuman itu bisa dipertanggung jawabkan, kita harus menjatuhkannya sedemikian rupa sehingga betul-betul mengakibatkan perbaikan atas kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya.

Beberapa sikap pendidik yang tidak dipertanggungjawabkan ialah dengan memuji anak didik yang sombong, menegur anak didik yang rakus, yang menyalin bacaan dengan tulisan yang tidak terang, selama istirahat melarang anak didiknya untuk berbuat sesuatu dan lain sebagainya. Umpamanya lagi ada seorang ibu yang merusak permainan anaknya sebagai hukuman terhadap anaknya yang telah merusak permainan anak yang lain.

Hukuman-hukuman tersebut tidak hanya berupa siksaan jasmaniah saja, yang penting harus mampu memberi semangat dan menimbulkan sikap untuk memperbaiki diri. Inilah suatu hal yang harus dipikirkan dalam memberikan suatu obat yang mujarab atau suatu suntikan yang konstruktif kepada anak didik. Apabila tindakan kita tidak mampu menyembuhkan berarti jasa atau pengabdian kita menjadi hilang dan sia-sia. Oleh karena itu, hukuman-hukuman yang kita berikan harus merupakan suatu perbaikan yang menyeluruh, serta harus menjajikan suatu kesempatan untuk bangun kembali dan untuk merehabilitasi diri.

Hukuman-hukuman yang dijatuhkan harus juga bersifat psikologis. Kita sebaiknya memperhatikan dengan seksama bahwa sebenarnya apa yang bagi kita merupakan satu siksaan atau ganjaran, tidak selalu demikian bagi anak didik. Oleh karena itu, kita harus benar-benar mengenal pribadi anak didik supaya hukuman yang akan diterapkan dapat tepat dan konstruktif. Banyak sanksi-sanksi yang antipsikologis dan tidak menguntungkan. Tindakan yang demikian harus kita ubah, seperti:

  • Menyuruh anak didik yang pemalu untuk memberikan selamat di muka umum, ini menghadapkan anak didik pada siksaan batin;

  • Menyuruh seseorang untuk meminta penjelasan pada orang yang besar bicaranya sambil mengatakan bahwa kita tidak pernah bertemu dengan orang semacam itu. Ini berarti memberikan kesempatan pada seseorang itu untuk menjadi lebih sombong dari orang lain;

  • Menghukum dengan cara mengambil hak seseorang, seperti tidak boleh ikut jalan-jalan selama beberapa waktu, dan sebagai gantinya diberi tugas yang lain

Syarat-Syarat Pemberian Hukuman


Beberapa persyaratan pemberian hukuman yang terpenting (Amin Danien Indrakusuma, 1973:155), ialah:

  • Pemberian hukuman harus tetap dalam jalinan cinta kasih sayang. Kita memberikan hukuman kepada anak, bukan karena ingin menyakiti hati anak, bukan karena ingin melampiaskan rasa dendam dan sebagainya. Kita menghukum anak demi untuk kebaikan, demi kepentingan anak, demi masa depan dari anak. Oleh karena itu, sehabis hukuman itu dilaksanakan, maka tidak boleh berakibat putusnya hubungan cinta kasih sayang tersebut;

  • Pemberian hukuman harus didasarkan kepada alasan “keharusan”. Artinya, sudah tidak ada alat pendidikan yang lain yang bisa dipergunakan. Dalam hal ini kiranya patut diperingatkan, bahwa kita jangan terlalu terbiasa dengan hukuman. Kita tidak boleh terlalu murah dengan hukuman. Hukuman, kita berikan kalau memang hal itu betul-betul diperlukan, dan harus kita berikan secara bijaksana;

  • Pemberian hukuman harus menimbulkan kesan pada hati anak. Dengan adanya kesan itu, anak akan selalu mengingat pada peristiwa tersebut dan kesan itu akan selalu mendorong anak kepada kesadaran dan keinsyafan, tetapi sebaliknya hukuman tersebut tidak boleh menimbulkan kesan negatif pada anak. Misalnya saja menyebabkan rasa putus asa pada anak, rasa rendah diri dan sebagainya;

  • Pemberian hukuman harus menimbulkan keinsyafan dan penyesalan pada anak. Inilah yang merupakan hakikat dari tujuan pemberian hukuman. Dengan adanya hukuman, anak harus merasa insyaf dan menyesali perbuatan-perbuatannya yang salah itu, dan dengan keinsyafan ini anak bejanji di dalam hatinya untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi;

  • Pada akhirnya, pemberian hukuman harus diikuti dengan pemberian ampun dan disertai dengan harapan serta kepercayaan. Setelah anak selesai menjalani hukumannya, maka guru sudah tidak lagi menaruh atau mempunyai rasa ini dan itu terhadap anak tersebut. Guru harus membebaskan diri dari rasa ini dan itu dari anak tersebut. Di samping itu, kepada anak harus diberikan kepercayaan kembali serta harapan, bahwa anak itu pun akan sanggup berbuat baik seperti kawan-kawannya yang lain;

Suwarno (1992:116) tentang syarat-syarat pemberian hukuman hendaknya:

  • hukuman harus selaras dengan kesalahannya;
  • hukuman harus seadil-adilnya;
  • hukuman harus lekas dijalankan agar anak mengerti benar apa sebabnya ia dihukum dan apa maksud hukuman itu;
  • memberikan hukuman harus dalam keadaan tenang, jangan dalam keadaan emosional (marah);
  • hukuman harus sesuai dengan umur anak;
  • hukuman harus diikuti dengan penjelasan, sebab bertujuan untuk membentuk kata hati, tidak hanya sekedar menghukum saja;
  • hukuman harus diakhiri dengan pemberian ampun;
  • hukuman kita gunakan jika kita terpaksa, atau hukuman merupakan alat pendidikan yang terakhir karena penggunaan alat-alat pendidikan yang lain sudah tidak dapat lagi;
  • yang berhak memberikan hukuman hanyalah mereka yang cinta pada anak saja, sebab jika tidak berdasarkan cinta, maka hukuman akan bersifat balas dendam;
  • hukuman harus menimbulkan penderitaan pada yang dihukum dan yang menghukum (sebab yang menghukum itu terpaksa).

Kekekerasan Terhadap Anak

Secara bahasa kekerasan berasal dari kata “keras” yang mengandung arti padat, kuat dan tidak mudah berubah bentuknya, dengan imbuhan ke- an maka memiliki makna perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cidera dan matinya orang lain dan juga dapat menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Dalam istilah lain dikenal dengn Abuse adalah kata yang biasa diterjemahkan menjadi kekerasan, penganiayaan, penyiksaan atau perlakuan salah. Sedangkan untuk menyebut kekerasan terhadap anak biasanya dikenal dengan sebutan child abuse.

Secara teoretis, child abuse dapat didefinisikan sebagai peristiwa pelukaan fisik, mental maupun seksual yang umumnya dilakukan oleh orangorang yang memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, yang semuanya itu diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak. Kekerasan oleh Johan Galtung didefiniskan sebagai penyebab terjadinya perbedaan antara yang potensial dengan yang aktual, dengan yang mungkin ada dengan yang semestinya ada.

Hal ini berarti bahwa apa sajayang memperbesar jarak antara yang potensial dengan yang aktual, atau yang menjadi penghalang berkurangnya jarak disebut telah menjadi kekerasan. Organisai kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan kekerasan terhadap anak ( child abuse ) atau perlakuan salah merupakan segala bentuk perlakuan buruk secara fisik dan/atau mental, kekerasan seksual, pengabaian atau penelantaran atau eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya yang mengakibatkan bahaya nyata atau potensi bahaya yang mengancam kesehatan, kelangsungan hidup, tumbuh kembang atau martabat anak dalam konteks hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan Anak adalah kelompok manusia muda yang batas umurnya tidak selalu sama di berbagai Negara.

Di Indonesia sering dipakai batasan usia anak yaitu dari usia 0-21 tahun, dengan demikian dalam kelompok anak akan termasuk bayi, anak balita dan usia sekolah, pada umumnya bahwa masa anak adalah masa yang dilalui oleh setiap orang untuk mencapai usia dewasa. Sedangkan di dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2002 seorang anak didefinisikan sebagai seseorang yang berusia di bawah 18 tahun, walaupun mereka dalam status menikah.

Tentang pengertian anak, selain menurut batasan umur, anak digolongkan berdasarkan hubungan orang tua yaitu:

  1. Anak kandung, adalah anak yang lahir dalam atau sebagai akibat ikatan perkawinan yang sah.

  2. Anak tiri, adalah anak dari orang tua yang berbeda diantara kedua orang tuanya, misalnya seorang janda memiliki anak dan kemudian janda itu menikah dengan seorang laki-laki, maka anak janda itu adalah anak tiri buat laki-laki tersebut.

  3. Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan orang tuanya atau wali yang sah atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.

  4. Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga untuk
    diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak ada yang menjamin tumbuh kembangnya secara wajar.

Dari pengertian anak di atas maka dapat diketahui bahwa bagaimanapun anak tetap memiliki hak untuk mendapat perlindungan, bimbingan dan pendidikan dari orang tuanya, baik orang tua kandung maupun orang tua angkat, karena apabila orang tua tidak menghiraukan tentang hak dan kebutuhan anak maka hal itu akan menimbulkan kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak adalah istilah yang mengerikan untuk didengar, dan mungkin saja hal inilah yang menjadikan sebagian orang lebih memilih untuk menutup mata untuk menghindarinya, namun fakta menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak ada begitu dekat dengan kehidupan kita, di zaman modern ini, kekerasan anak di Indonesia terbukti tidak semakin berkurang melainkan semakin meningkat per tahunnya.

Dalam perspektif psikologis tindakan kekerasan disebut dengan istilah agresi, yaitu segala tindakan yang berbahaya yang dapat mengakibatkan kerugian atau kerusakan pada benda-benda tidak hidup, tanaman, manusia dan binatang, atau tindakan yang mempunyai unsur destruktif yang berorientasi pada pembinasaan korban, penghapusan atau pembinasaan hidup. Orang tua, keluarga, pemerintah dan masyarakat berkewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap anak.

Dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak, Negara dan pemerintah bertanggungjawab menyediakan fasilitas dan aksebilitas bagi anak terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dan terarah. Upaya perlindungan terhadap anak perlu dilakukan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 tahun. Dalam upayanya untuk melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan pada anak perlu peran masyarakat baik melalui Lembaga Perlindungan Anak, Lembaga Keagamaan, Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Sosial, Media Massa dan juga Lembaga Pendidikan.

Adapun tindakan kekerasan yang biasa disebut dengan child abuse yang terjadi dikalangan keluarga biasanya tidak tampak ke permukaan. Hal ini disebabkan karena kultur di masyarakat masih menganggap hal tersebut sebagai masalah pribadi orang lain yang tidak perlu dicampuri. Seingga meski orang-orang disekitarnya (tetangga) mengetahui namun karena dianggap hal tersebut merupakan masalah intern rumah tangga masing- masing keluarga maka mereka membiarkan kekerasan itu terus menerus terjadi.

Biasanya kasus kekerasan terhadap anak baru akan terungkap dan menarik perhatian masyarakat dan media apabila kekerasan tersebut telah melampaui batas kriminal, dalam arti lain yaitu setelah anak menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya. Banyaknya kekerasan yang dilakukan dalam lingkup keluarga biasanya enggan untuk diungkapkan karena dianggap membuka aib keluarga, sehingga seseorang memilih untuk diam saja ketika melihat putrinya diperkosa oleh ayah tiriny atau bahkan ayah kandungnya sendiri bahkan terkadang sampai melahirkan anak.

Untuk mewujudkan perhatian terhadap keadaan dan kehidupan anak, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 20 November 1959 mendeklarasikan hak anak-anak antara lain:

  1. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus, dan harus memperoleh kesempatan dan fasilitas yang dijamin oleh hukum dan sarana lain sehingga secara jasmani, mental, akhlak, rohani dan sosial mereka dapat berkembang dengan sehat dan wajar dalam keadaan bebas dan bermartabat.
  2. Hak mendapatkan pendidikan wajib secara cuma-cuma sekurang- kurangnya di tingkat sekolah dasar.
  3. Hak mendapat perlindungan dari segala bentuk penganiayaan, kekejaman dan penindasan. Dalam bentuk apapun, mereka tidak boleh menjadi bahan perdagangan. Tidak dibenarkan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Dengan alasan apapun, mereka tidak boleh dilibatkan dalam pekerjaan yang dapat merugikan kesehatan dan pendidikan mereka, maupun yang dapat mempengaruhi perkembangan tubuh, mental atau akal mereka.
  4. Hak dapat perlindungan dari perbuatan yang mengarah ke dalam bentuk diskriminasi rasial, agama maupun bentuk-bentuk diskriminasi lainnya. Mereka harus dibesarkan di dalam semangat yang penuh pengertian toleransi.

Berdasarkan jenisnya, kekerasan bisa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

  • Kekerasan fisik. Yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat dan bahkan sampai menyebabkan kematian seperti menampar, memukul, menendang, membanting, membakar, menyiram dengan sesuatu yang panas dan lain sebagainya.

  • Kekerasan psikis. Yaitu segala bentuk perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang.Misalnya dengan terlalu sering meremehkan, memaki dengan suara yang keras dan kata-kata yang kasar.

  • Kekerasan seksual. Pemaksaan hubungan seksual dengan anak di bawah umur, termasuk juga dengan kepentingan komersial atau untuk tujuan tertentu lainnya misalnya memaksa anak untuk melakukan hubungan seksual dengan orang lain atau melacur, perbuatan cabul dan persetubuhan anak yang dilakukan oleh orang lain dengan tanpa tanggungjawab dan sebagainya.

  • Kekerasan ekonomi. Apabila seseorang yang berikan kewenangan untuk mengasuh dan tidak memenuhi haknya untuk menafkahi anaknya tersebut, mempekerjakan anak di bawah umur juga merupakan tindakan kekerasan secara ekonomi.

  • Kekerasan sosial. Mencakup penelantaran anak dan eksploitasi anak, penelantaran anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya, anak dikucilkan atau tidak diberikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak.

  • Kekerasan Emosional. yaitu serangan terhadap perasaan, martabat dan harga diri anak yang menyebabkan luka psikologis. Kekerasan emosi dapat berupa tindakan mempermalukan, menghina atau menolak anak, dari hal ini maka dapat dikatakan bahwa penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan makna kata-kata seseorang bagi anak, karena ktikikan dari orang tua akan berdampak lebih dalam pada anak dibanding dengan kritikan yang diberikan oleh orang lain.