[Materi 5] Program Kesehatan Mental

Program kesehatan mental

5.1 Kebutuhan program kesehatan mental

Merawat kesehatan baik secara fisik, mental maupun sosial merupakan sebuah keharusan bagi setiap manusia. Perawatan tak hanya dilakukan oleh diri individu saja tapi juga harus didukung dengan lingkungan sosial yang sehat, sehingga berdampak positif pada kesehatan individu. Faktanya, masih banyak orang yang menganggap gangguan mental sebagai hal mistis atau tabu. Dukungan negatif dari lingkungan dapat memperburuk kondisi kesehatan individu baik secara fisik, psikis maupun sosial.

Hal-hal ini kemudian mengacu pada berbagai pengertian kesehatan mental yang efektif dan komprehensif adalah suatu keharusan. Kita semua membutuhkan suatu kesehatan mental yang juga mencangkup kesehatan mental masyarakat. Harus ada aksi perubahan dengan edukasi bagaimana cara memberikan pelayanan yang bukan hanya pencegahan, perawatan pengobatan dan rehabilitasi saja, melainkan juga dapat memberikan pelayanan edukasi kepada masyarakat yang disebut juga sebagai program kesehatan mental.

Tujuan dari program kesehatan mental adalah untuk memperkuat faktor pelindung psikososial dan menurunkan stressor psikososial pada berbagai tingkatan perawatan. Proses perawatan dalam ranah kesehatan mental seringkali membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar pasien.

5.2 Elemen program

Terdapat beberapa komponen yang harus dipertimbangkan dalam program kesehatan mental, yakni:
• Keinginan-keinginan masyarakat
• Karakteristik masyarakat saat ini
• Arah yang akan dicapai atau dikehendaki pada tahun yang akan datang
• Permasalahan yang telah tampak di masyarakat dan masalah yang mungkin muncul di masyarakat kemudian dilihat berdasarkan sudut kesejahteraan psikologis dan sosial secara keseluruhan, pada saat ini dan yang akan datang
• Formulasi perencanaan progam dilakukan untuk merespon kebutuhan seluruh penduduk masyarakat

Lebih lanjut Fellix (1961) mengemukakan 6 hal pokok sebagai pelayanan kesehatan mental yang dimasukkan sebagai program, yakni:

  1. Pelayanan yang menaruh perhatian pada diaknosis awal dan pengobatan yang secara tepat terhadap gangguan mental dan emosional.
  2. Usaha tindak lanjut dan rehabilitasi untuk seseorang yang tidak lagi menjadi pasien psikiatrik rawat inap.
  3. Persediaan konsultan untuk pelayanan ke sekolah.
  4. Pendidikan publik.
  5. Riset aksi sosial, untuk menemukan jawaban permasalahan-permasalahan yang mendasar dan berkaitan dengan gangguan-gangguan mental dan emosional, serta digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program-program kesehatan mental yang baru atau unik.
  6. Berusaha untuk mencegah timbulnya gangguan mental. Pencegahan berupa mengurangi faktor-faktor yang cenderung menghasilkan gangguan mental dan emosional dan menciptakan iklim yang dapat memberi kesempatan secara optimal kepada warga masyarakat.

5.3 Pendekatan yang dilakukan

Terdapat 3 pendekatan yang dapat dilakukan, yakni:

  1. Pendekatan resiko
    Strategi ini fleksibel dengan menggunakan sarana-sarana yang tersedia untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat resiko serta prioritas dalam masyarakat. Pengukuran individu atau masyarakat dalam resiko diperlukan agar dapat digunakan dalam membuat formulasi obyektif dan untuk alokasi dana dan penyebarannya.
    Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penyusunan program, yaitu :
  1. Menyeleksi indikator-indikator untuk mengidentifikasi individu dan masyarakat yang ada dalam resiko yang khusus antara lain usia lanjut, pengangguran, dan isolasi sosial.
    
  2. Mengembangkan sistem pembuatan skor dengan pembobotan untuk indikator-indikator yang sangat penting.
    
  3. Meneliti sumber-sumber yang dapat digunakan untuk usaha pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi.
    
  4. Mengembangkan daya muat serta strategi pelayanan sesuai dengan tingkat resiko.
    
  5. Mengembangkan sistem pemantauan, dan sistem evaluasi.
    
  1. Pendekatan Multisektoral
    Pendekatan ini dilakukan dengan koordinasi pada semua tingkat pelayanan yang mempunyai tujuan untuk mencapai kerjasama dan koordinasi antara petugas kesehatan, guru, pemuka-pemuka agama, masyarakat, dan orang tua dengan pemilihan cara-cara yang tepat, sederhana, efektif, dan tidak mahal dengan memberi tekanan pada pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi.

  2. Pendekatan Sistem
    Dilakukan dengan cara mempelajari dan mengkonseptualisasi masalah-masalah yang berkaitan satu sama lain maupun yang berdiri sendiri. Hal utama yang harus diperhatikan dalam konsep ini, yaitu mempelajari :

  1. Tujuan dari sistem dan ukuran (indikator) pencapaian sistem keseluruhan.
    
  2. Ruang lingkup sistem dan kendalanya.
    
  3. Sumber penunjang sistem.
    
  4. Komponen-komponen sistem atau sub sistem.
    
  5. Manajeman sistem yang diperlukan.
    

Sebuah rumah sakit mental misalnya, mempunyai banyak tujuan dan ini dapat diterapkan dalam tujuan sistem keseluruhan sebagai berukut :

  1. Membebaskan penderita dari gejala-gejala mental dan mengembalikan penderita ke masyarakat.
    
  2. Merehabilitasi penderita dengan meningkatkan kemampuan, penyesuaian penderita dalam masyarakat dan produktif.
    
  3. Menyelenggarakan suatu fasilitas yang menyediakan pekerjaan bagi individu
    
  4. Melaksanakan pendidikan latihan yang profesional untuk kesehatan mental
    
  5. Menjalankan penelitan dan evaluasi pengobatan penderita mental serta penilaian keberhasilan petugas dan program latihan.
    

Untuk mencapai tujuan sistem itu perlu dilakukan penelitian terhadap berbagai variabel yang berhubungan , dalam hal ini hubungan dengan rumah sakit dengan keadaan sosial-ekonomi secara keseluruhan.

Selain itu masih perlu diperhatikan macam-macam komponen sistem yang perlu dipilih atau diteliti karena sistem dalam input bervariasi dan ini berpengaruh besar terhadap out put, maka ada variasi pula pada proses pengobatan, atau pada program rehabilitasi. Out put dari sistem adalah kembalinya penderita ke dalam masyarakat, petugas yang terlatih, profesi yang terdidik, dan lain sebagainya.

5.4 Langkah perencanaan

  1. Pengukuran dan analisa situasi
    Langkah ini mencakup pengumpulan pelayanan yang ada dan mengukur sejauh mana kepuasan dapat dipenuhi. Pengukuran didasarkan pada data morbiditas, mortalitas, indikator-indikator sosial, dan data operasional pelayanan kesehatan maupun riset yang epidemiologi maupun riset sosial mengenai sikap terhadap pelayanan kesehatan mental dan keperluan pelayanan kesehatan mental yang diingini dan yang diperlukan oleh masyarakat.

  2. Perkiraan mengenai waktu yang akan datang.
    Mencakup demografi, perkembangan sosial-ekomi, kemajuan kedokteran, dan perkembangan teknik kedokteran dan kesehatan.

  3. Merumuskan tujuan.
    Tujuan harus dapat dinyatakan secara jelas. Untuk itu semua data yang diperoleh dari upaya yang sebelumnya telah dilakukan, harus dipertimbangkan dalam pembuatan rencana berikutnya.

  4. Mengoperasionalkan program.
    Suatu rencana harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannaya, dan siapa yang melakukan.

5.5 Evaluasi

Evaluasi dilakukan sejalan dengan pilihan jenis evaluasi yang akan dilakukan. Apabila penilaian dilakukan sewaktu program sedang berjalan, keuntungan yang dapat diperoleh adalah pembetulan apabila terdapat kesalahan, sehingga perencanaan untuk program yang akan datang dapat lebih mudah.

Evaluasi untuk pelayanan kesehatan mental masyarakat dilakukan dengan menggunakan multistage model yang dibagi lima tahap yang dilalui, yaitu:

  1. Deskripsi, konseptualisasi, dan definisi
    Suatu pusat pelayanan kesehatan harus diperjelas terlebih dahulu sarana-sarana yang dimiliki dan kegiatan-kegiatan bagi masyarakat yang akan dilayani.
    Suatu analisa ekologis dari wilayah yang dilayani dengan menggunakan indikator sosial akan sangat membantu dalam menilai tujuan kegiatan.

  2. Mengukur keperluan dan menggunakan pelayanan
    Tahap ini melibatkan prosedur epidemiologis, penelitian lapangan dan respon yang ada dalam masyarakat untuk menentukan keperluan dan pemakaian fasilitas yang tersedia.

  3. Studi perbandingan
    Membandingkan keperluan terhadap penggunaan pelayanan sehubungan dengan tujuan yang dinyatakan oleh pusat pelayanan dapat memberikan masukan bagi evaluasi dasar. Hasil-hasil yang diperoleh harus dibandingkan dengan data dari analisa ekologi dari wilayah yang sama.

  4. Hasil penelitian
    Penelitian hasil harus mencakup penelitian prospektif yang sistematis misalnya menggunakan goal attainment scalling.

  5. Studi dampak
    Penelitian epidemiologis, khususnya survey tindak lanjut dan analisa indikator sosial dapat digunakan untuk mengukur kualitas hidup dalam wilayah pelayanan

Referensi:
• Notosoedirdjo, M. & Latipun (2001). Kesehatan Mental Konsep dan Penerapannya, Malang: UMM Press.
• World Health Organization (2004). Promoting Mental Health: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data

1 Like