Materi 4 : Situasional Analysis

4.1 Analisis Lingkungan

Analisa lingkungan merupakan alat untuk memprediksi dan mengantisipasi perubahan di dalam lingkungan social marketing sehingga social marketing dapat dilakukan tepat waktu serta dapat dengan mudah beradaptasi dalam siklus hidup program. Dalam hal change agent dituntut untuk menganalisis lingkungan guna mengetahui masalah-masalah sosial apa saja yang ada di lingkungan tersebut. Dalam melakukan analisis lingkungan, sebaiknya tujuan dan fokus social marketing harus sudah ada agar analisis lingkungan lebih terarah. Agent of change dalam social marketing harus menseleksi satu atau dua faktor lingkungan yang paling besar pengaruhnya terhadap pemasaran produk sosial. Penentuan faktor yang paling mempengaruhi dilakukan dengan menganalisa kecepatan perubahan dan besarnya perubahan dari faktor tersebut.

Dalam menganalisis lingkungan social marketing, kita harus mulai melakukan analisa terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah sosial di lingkungan tersebut dengan mengurai masalah tersebut melalui dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal dari lingkungan tersebut. Karena lingkungan social marketing merupakan hal-hal yang berasal dari internal dan eksternal yang berpengaruh pada kampanye perubahan sosial dan berkaitan dengan kemampuan untuk membangun serta memelihara kesuksesan dalam mempengaruhi target adopter.

Berikut adalah bagian dari faktor internal :

  1. Past performance
  2. Resources
  3. Services delivery
  4. Management support
  5. Issue priority
  6. Internal publics
  7. Current alliances and partners

Berikut ini adalah bagian dari faktor eksternal :

  1. Sociocultural/cultural forces
  2. Technological forces
  3. Demographic forces
  4. Natural/physical forces
  5. Economic forces
  6. Political/legal
  7. External publics

Isu utama dalam perubahan lingkungan itu ada 4, yaitu extent of controllability, probability of occurence, locus, magnitude and intersity of impact, dan priority. Extent of controllability adanya beberapa aspek perubahan yang dapat diantisipasi oleh change agent dan ada yang tidak dapat dikontrol. Lalu probability of occurence adalah seberapa besar kemungkinan perubahan yang akan terjadi dan kira-kira kapan perubahan itu dapat terjadi. Kemudian locus, magnitude and intersity of impact adalah apa dan seberapa besar perubahan dapat mempengaruhi lingkungan social marketing. Terakhir adalah priority, yaitu perubahan apa yang harus diprioritaskan dalam social marketing.

4.2 SWOT

Analisis SWOT merupakan penilaian suatu bisnis yang memperhatikan empat aspek yaitu Strengths, Weakness, Opportunities, dan Threats suatu social marketing. Berdasarkan skalanya, semua elemen dalam analisis SWOT dapat digolongkan dalam dua kelompok analisis internal dan eksternal.

Analisis internal yang terdiri dari strengths dan weakness mengacu pada segala aspek dalam seperti budaya, struktur, kapasitas, brand awareness, sumber daya keuangan, dan sebagainya. Sebaliknya, analisis eksternal, yang menyangkut opportunities dan threats bagi suatu rpogram, berfokus pada identifikasi faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangannya.

Ketika analisis internal memungkinkan change agent untuk benar-benar mengenali kemampuan programnya, analisis eksternal memberi tahu mereka untuk membuat penyesuaian di dalam program tersebut agar sesuai dengan pasar di luar. Oleh karena itu, baik unsur internal maupun eksternal memiliki peran yang tidak terpisahkan dalam menyukseskan suatu rencana pemasaran atau suatu perusahaan pada umumnya.

Menggunakan analisis SWOT bermanfaat dalam berbagai keadaan, terutama ketika mereka harus membuat keputusan tentang tujuan baru. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, para change agent dapat dengan mudah mengantisipasi apakah rencana mereka layak atau tidak, apakah mereka melakukan beberapa perubahan, atau menyerah pada rencana ini. Dengan kata lain, menyelesaikan analisis SWOT adalah menentukan langkah yang harus diambil sebelum membenamkan diri dalam strategi pemasaran.

  1. Strengths
    Strengths mengacu pada semua kontribusi positif untuk kesuksesan program. Elemen-elemen yang berkontribusi ini dapat berwujud atau tidak berwujud. Ada kriteria yang harus diperhatikan seperti sumber daya manusia, sumber daya modal, infrastruktur, pengenalan merek, dll.

  2. Weakness
    Weakness dianggap sebagai faktor dalam program yang mencegahnya mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan kata lain, faktor apapun yang dapat merugikan kesuksesan perusahaan adalah kelemahan. Misalnya, karyawan dapat menjadi aset terbesar perusahaan jika mereka terampil, terlatih, dan termotivasi untuk melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan dan motivasi yang memadai akan menjadi hambatan besar bagi perusahaan untuk mencapai posisi puncak. Mirip dengan kekuatan, ada beberapa elemen yang harus ditinjau ulang untuk mengetahui kelemahannya secepat mungkin. Beberapa di antaranya brand awareness, infrastruktur, sumber modal, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.

  3. Opportunities
    Faktor luar, yang memberikan efek positif atau membayar jalan menuju kesuksesan dipandang sebagai peluang. Misalnya, jika pada seorang pedagang online, merebaknya perangkat seluler adalah nilai tambah bagi perusahaan Anda untuk tumbuh lebih besar dan mendapatkan lebih banyak pengakuan dari konsumen.

  4. Threats
    Threats adalah elemen eksternal yang muncul sebagai kelemahan yang mengharuskan change agent untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya atau menyesuaikan rencana mereka untuk mengatasi tantangan ini. Misalnya, krisis ekonomi yang tiba-tiba terjadi mungkin akan menyulitkan perusahaan karena harus lebih berjuang dalam menarik pelanggan untuk mengkonsumsi barangnya. Beberapa ancaman bahkan membuat para pebisnis melepaskan niatnya untuk mencapai beberapa tujuan.

4.3 Social Marketing Purpose

Penetapan tujuan untuk social marketing ini bertujuan untuk menegaskan apa yang program tersebut inginkan target adopternya lakukan. Kriteria tujuannya adalah harus jelas dipahami dan merupakan konsensus yang dikembangkan oleh semua pihak yang terlibat dan juga dapat diukur sehingga memberikan fokus kegiatan pada proses social marketing. Penetapan tujuan ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu behavioral objectives, knowledge objectives, dan belief objectives.

Behavioral objectives adalah tujuan yang ditetapkan agar target adopters melakukan perilaku baru sesuai dengan keinginan change agent. Karakteristik nya adalah dapat dilakukan meski dilihat sulit dilaksanakan (misalnya berhenti merokok), dapat menggambarkan perilaku target adopters di masa mendatang (misalnya membuang sampah pada tempatnya), dan sasarannya dapat dikuantifikasikan.

Knowledge objectives merupakan tujuan yang ditetapkan agar target adopters mendapatkan pengetahuan baru. Karakteristiknya adalah dapat berupa data statistik, fakta dan informasi lain dimana target adopters akan menemukan motivasi atau informasi penting lainnya. Biasanya informasi tersebut telah tersedia akan tetapi belum diketahui oleh target adopters, dan informasi tersebut dapat berupa statistik tentang resiko perilaku target adopters saat ini atau keuntungan jika melakukan perilaku yang menjadi tujuan social marketing.

Belief objectives adalah tujuan yang ditetapkan agar target adopters mempercayai nilai-nilai baru. Tujuan ini berkaitan dengan sikap, pendapat, perasaan atau nilai-nilai yang dipegang target adopters. Target adopters secara pribadi akan mengalami manfaat dari mengadopsi perilaku yang ditujukan.

Refrensi