[Materi 4] Gerakan Kesehatan Mental

Gerakan Kesehatan Mental

4.1 Sejarah Gerakan Kesehatan Mental
Gerakan kesehatan mental berkembang seiring dengan revolusi pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental yang sehat dan cara-cara penanganannya, terutama pada masyarakat barat. Adapun masa-masa gerakan kesehatan mental sebagai berikut:

  1. Jaman purba / pra sejarah
    Pada masa ini penyakit mental dianggap dan diperlakukan seperti penyakit fisik. Masyarakat pun mempercayai bahwa penyakit mental merupakan pengaruh roh jahat, guna-guna, kutukan tuhan dan lainnya. Pengobatan yang diberikan pun melalui kekuatan supra natural. Jika terdapat pasien yang tidak bisa sembuh dan merugikan orang lain maka akan dibunuh atau dibiarkan meninggal.

  2. Peradaban awal 5000 SM-500M
    Pada masa ini gangguan mental dikaitkan dengan kekuatan gaib, spiritual, setan dan makhluk halus. Dipercaya bahwa gangguan mental terjadi akibat dari kegiatan yang menentang kekuatan gaib tersebut. Gangguan mental kemudian diatasi dengan pendekatan supra natural oleh tukang sihir, upacara agama dan persembahan para dewa. Tak hanya itu pada masa ini ilmu kedokteran mulai berkembang di beberapa negara. Filsuf-filsuf Yunani mulai mengemukakan pandangan baru tentang gangguan jiwa, beberapa diantaranya adalah:
    • Hipokrates (460-377 SM): Perilaku abnormal disebabkan oleh hal yang natural dimana otak berperan sangat penting. Hipokrates juga menyatakan bahwa perlu adanya perawatan fisik seperti mandi, diet dan lainnya untuk terhindar dari gangguan mental.
    • Galenus (130-200M): Galenus meneruskan gagasan hipokrates dan mengembangkan teori 4 tipe manusia berdasarkan cairan tubuh.
    • Cicero (106-43SM): Cicero mengemukakan bahwa emosi lah yang dapat menyebabkan penyakit fisik.

  3. Abad pertengahan / abad gelap
    Pada masa ini terjadi kemunduran dalam peradaban Yunani-Romawi. Hal tersebut berdampak pada kemunduran ilmu pengetahuan di eropa. Pengobatan yang diberikan kepada pasien gangguan mental kembali pada penyembuhan mistis dengan mantra dan jimat. Demonologi pun hidup kembali, diperkuat oleh pendekatan teoogis yakni bahwa orang dengan gangguan mental merupakan orang-orang yang mendapatkan hukuman dari tuhan. Masyarakat menganggap bahwa orang yang sakit secara mental sudah menjual jiwanya untuk mendapatkan kekuatan gaib atau sihir. Pasien yang dinilai membahayakan kemudian dihukum, disiksa, dijual atau diusir.

Pada abad ke 8 mulai berkembangnya teori psikiatri dan juga tritmen untuk penderita gangguan mental yang berkembang di bidang psikologi muslim dan kedokteran islam. Pada abad yang sama pula RS psikiatri pertama di bangun oleh psikiater asal Persia, Rhazes dan Baghdad. Ilmu ini berlawanan dengan maraknya paham demonology dimana etika dalam islam mengajarkan sikap simpatik bagi orang yang belum memiliki kematangan jiwa dan harus dilindungi dan di bantu.

  1. Abad XVII-XX
    Pada abad ini terjadi perubahan dalam gerakan mental dari paham demonologis menjadi pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah menganggab gangguan jiwa sebagai suatu penyakit. Mulai terjadi perlawanan terhadap pemasungan pasien jiwa di Inggris, Italia, Perancis dan Amerika. Beberapa tokoh penggerak perubahan ini antara lain:

• Philippe Pinel (1745-1826): Philippe pinel merupakan salah satu penggerak perubahan paham kesehatan mental asal perancis. Beliau merupakan pelopor perlakuan dan pemahaman manusiawi terhadap orang dengan penyakit mental. Ia kemudian dijuluki sebagai bapak psikiatri.
• William Tuke: Merupakan penggerak perubahan paham kesehatan mental asal Inggris. William mendirikan York retreat yakni rumah sakit jiwa pertama di Inggris.
• Dorothea Dix: Merupakan penggerak perubahan paham kesehatan mental asal Amerika. Dorothea mendirikan RS mental modern dan mendesak kongres untuk perlakuan yang lebih manusiawi kepada pasien gangguan jiwa.

Pada tahun 1908 mulai muncul riset di bidang psikiatri yang kemudian meningkatkan pendidikan psikiatri untuk upaya prefensi gangguan mental. Kemudian pada tahun 1948 Kongres USA mengesahkan UU kesehatan mental nasional. World Federation for Mental Health (WFMH) berdiri dua tahun setelah itu, dimana masalah kesehatan mental menjadi perhatian luas dunia.

4.2 Isu dalam perkembangan gerakan kesehatan mental

Dilihat dari sejarahnya terdapat beberapa isu yang signifikan terlihat. Pada awalnya penyakit mental masih dianggap tabu. Sering dikaitkan dengan gangguan setan atau hal-hal supra-natural lain. Ilmu-ilmu psikiatri belum muncul sampai pada tahap peradaban awal, namun tetap saja ilmu-ilmu yang muncul tidak banyak dipercayai orang. Salah satu perawatan yang dilakukan pada abad awal sampai pertengahan adalah trefinasi. Trefinasi merupakan salah satu pengobatan yang dipercayai dapat menyembuhkan penyakit jiwa. Cara kerja perawatan ini adalah dengan melubangi tengkorak pasien untuk melepaskan roh jahat keluar dari tubuhnya. Alat yang digunakan untuk melubangi bernama trefin dan operasi pelubangan tersebut kemudian dinamai trefinasi. Kebiasaan akan pengobatan supranatural kemudian semakin berkembang di abat pertengahan.

Abad pertengahan sering digambarkan sebagai masa kemunduran dalam berpikir. Pada masa ini masyarakat terobsesi oleh pemikiran akan kekuatan gaib. Pemikiran tentang teori gaib dan perilaku abnormal belum menominasi hingga abad ke 11 – 15. Banyak pasien yang diduga penyihir kemudian diikat dan dibakar di tiang, salah satunya adalah Joan of Arc yakni pahlawan nasional Perancis dan Sanctus dalam agama Kristen.

Salah satu perawatan terkenal pada abad pertengahan adalah tes tenggelam (400-1500 M). Air dianggap sebagai media pembaptisan. Masyarakat percaya bahwa jika orang tersebut tidak memiliki ilmu sihir maka ia akan tenggelam seperti batu. Namun jika orang tersebut memiliki ilmu sihir maka air akan menolaknya (mengambang). Jika pasien dipercaya memiliki ilmu sihir maka akan dibakar di tiang. Jika pasien tidak dipercaya memiliki ilmu sihir maka ia akan di biarkan tenggelam di sungai.
Pada abad ke-12 mulai banyak kota di Eropa yang menyediakan tempat penampungan bagi orang dengan gangguan jiwa yang biasa disebut dengan asilum. Setelah menampung orang-orang dengan gangguan jiwa, asilum mulai membuat ruangan untuk mempertunjukan perilaku abnormal. Pasien seringkali dipertontonkan untuk bayaran sejumlah uang. Perawatan yang diberikan juga banyak dipaksakan dengan kekerasan. Pemasungan, dirantai dan dikunci di dalam kotak kayu menjadi perawatan yang dilakukan dalam asilum. Perlakuan tersebut berlanjut hingga akhir abad ke 19.
Beberapa perawatan tidak manusiawi yang diberikan antara lain:

  1. Kursi putar: Perputaran yang cepat dianggap akan menimbulkan tidur dan menghilangkan sumbatan dalam otak.
  2. Terapi air: Pengobatan dimana pasien dijadikan seperti mumi dalam handuk basah dengan air dingin. Hal ini dilakukan selama berjam-jam. Jika pasien tetap tidak membaik maka para dokter akan menyarankan semburan air panas. Pasien diikat di sebuah dinding lalu di siram dengan air bertekanan tinggi

Isu-isu dimasa lalu tentu menjadi pelajaran bahwa gerakan kesehatan mental mengalami proses yang cukup panjang untuk sampai ke tahap saat ini. Pada era yang serba modern ini bukan berarti praktik-praktik yang tidak sesuai ilmu kedokteran atau psikologis hilang begitu saja. Masih banyak perawatan yang tidak manusiawi yang dilakukan warga negara kita sendiri kepada orang dengan gangguan mental. Pasung dan penelantaran pasien juga masih sering dilakukan. Masih banyak yang kurang memahami beberapa hal penting dalam isu kesehatan mental. Bahkan sebagian besar daerah di Indonesia masih percaya bahwa penyebab gangguan mental berasal dari roh jahat ataupun hal supra natural lainnya. Hasilnya, penanganan yang dilakukan pun tidak beralih ke bentuk medis. Sulit melihat adanya perubahan dalam penanganan serius terkait isu tersebut. Ini mengapa promosi kesehatan mental merupakan hal yang penting dalam kemajuan gerakan mental. Memberikan pemahaman kepada orang yang membutuhkan dapat membantu perkembangan kesehatan mental kedepannya, sehingga masyarakat lebih sadar dan menanggap gangguan mental sebagai hal yang serius, sama saja seperti penyakit fisik.

Referensi:

  • Notosoedirdjo, M. & Latipun (2001). Kesehatan Mental Konsep dan Penerapannya, Malang: UMM Press.

  • Dewi. S.K. (2012). Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press.