Materi 3 Perkembangan dan Perubahan Masa Remaja

Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada fase ini, remaja akan menghadapi banyak perubahan pada perkembangan fisik, perilaku, kognitif, dan sosioemosional. Hurlock (2003), membagi masa remaja menjadi tiga fase, remaja awal (12-15 tahun), remaja tengah (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun).

3.1 Perkembangan dan Perubahan Secara Fisik

• Fase pubertas : Pubertas adalah periode dimana seseorang mengalami perubahan hormon dan bentuk fisik secara signifikan yang terjadi selama masa remaja awal. Umumnya, jangkauan usia pubertas pada laki-laki dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada kisaran usia 17. Sedangkan pada perempuan, jangkauan usia normal untuk mengalami menstruasi pertama adalah antara usia 9 hingga 15 tahun. Ciri-ciri perubahan akibat pubertas yang sangat kasat mata adalah tanda-tanda kematangan seksual dan meningkatnya tinggi serta berat badan. Tanda-tanda kematangan seksual pada remaja laki-laki diantaranya adalah bertambahnya ukuran penis dan testis, dan terjadinya ejakulasi pertama kali atau yang dikenal dengan mimpi basah. Sedangkan pada remaja perempuan, tumbuhnya payudara dan terjadinya menstruasi untuk pertama kali.

• Perkembangan otak : Berdasarkan penelitian, otak remaja mengalami perubahan struktural yang signifikan (Bava dkk., 2010), perubahan ini terjadi utamanya pada 3 bagian otak, yaitu korpus kalosum, korteks prefrontal dan amigdala. Korpus kalosum adalah serat yang menghubungkan bagian otak kiri dan kanan dan pada masa remaja terjadi penebalan, hal ini berdampak pada meningkatnya kemampuan individu untuk memproses informasi (Giedd, 2008). Sedangkan korteks prefrontal terlibat pada fungsi penalaran, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri. Terakhir, amigdala adalah komponen pada sistem limbik yang berfungsi sebagai pusat terjadinya proses emosi (Santrock, 2010).
cc precor amygdala
Sumber : J.W Santrock. Life-Span Development, 13th Edition.

3.2 Perkembangan dan Perubahan pada Aspek Kognitif

Pada pembahasan ini, kita akan secara umum membahas perkembangan remaja pada aspek kognitif berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget. Remaja menginjak tahap operasional formal dimana individu mulai memiliki kemampuan untuk berpikir lebih logis dan memahami situasi yang lebih abstrak, tidak konkrit dan faktual. Kemampuan berpikir seorang remaja berubah dari yang tadinya cenderung menyelesaikan masalah melalui proses coba-coba atau trial-and-error menjadi lebih terstruktur dan sistematis. Cara bagaimana seorang remaja memecahkan masalah membutuhkan penalaran deduktif-hipotetis, sederhananya pada proses ini remaja akan mengembangkan hipotesis tentang cara-cara untuk memecahkan masalah kemudian menyimpulkan jalan terbaik untuk eksekusi pemecahan masalah tersebut.

Mendukung teori di atas, Kuhn (2009), menyatakan perubahan kognitif yang paling penting pada masa remaja adalah peningkatan fungsi eksekutif yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi seperti penalaran, pengambilan keputusan, dan berpikir kritis. Peningkatan dalam fungsi eksekutif memungkinkan proses belajar yang lebih efektif, peningkatan kemampuan untuk memfokuskan perhatian, serta membuat keputusan dan berpikir secara kritis.

Selanjutnya terkait decision making atau pembuatan keputusan, menurut Sunstein (2008), masa remaja adalah masa dimana individu berhadapan dengan banyak hal baru untuk dieksplorasi, sehingga kebutuhan untuk membuat keputusan juga meningkat. Pada prosesnya, Klacyznski (2001), menuturkan bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh dua sistem kognitif, yaitu dasar analitis dan dasar pengalaman. Proses ini menekankan bahwa sistem dasar pengalaman lebih berfungsi daripada sistem dasar analitis. Hal tersebut dikarenakan terlibat dalam analisis kognitif yang reflektif dan mendetail tidak bermanfaat bagi remaja terutama pada konteks dunia nyata dengan berbagai macam risikonya. Mereka hanya perlu tahu bahwa ada beberapa keadaan yang sangat berbahaya dan perlu dihindari.

Secara konseptual, istilah perilaku pengambilan risiko digunakan untuk menghubungkan sejumlah perilaku yang berpotensi merusak kesehatan, perilaku-perilaku tersebut diantara lain gangguan makan, penggunaan narkoba, perilaku seksual yang berisiko, berkendara tidak sesuai aturan, perilaku anarkis, dan bentuk kenakalan remaja lainnya (Mills, Reyna, & Estrada, 2008).

Salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan remaja yaitu memberikan lebih banyak kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam permainan peran dan pemecahan masalah bersama teman-teman sebaya untuk mengasah dan memberikan lebih banyak pandangan serta pengalaman terkait pengambilan keputusan yang baik.

3.3 Perkembangan dan Perubahan pada Aspek Emosional

Gambaran perkembangan emosional pada masa remaja melibatkan pembangunan identitas yang realistis dan serasi dalam konteks berhubungan dengan orang lain, serta belajar mengatasi dan mengelola emosi. Identitas tidak hanya mengacu pada bagaimana seorang remaja melihat diri mereka saat ini, tetapi juga bagaimana mereka mengharapkan sosok ideal diri mereka di kemudian hari (APA, 2002).

• Membangun identitas diri : terdapat dua konsep dalam membangun identitas, pertama adalah self-concept/konsep diri, yang kedua adalah self-esteem/harga diri. Konsep diri adalah bagaimana seorang remaja memandang dirinya sendiri baik terkait atribut (tinggi, cerdas) , ketertarikan, mimpi dan tujuan, serta nilai dan kepercayaan yang dianut. Sedangkan harga diri lebih kepada bagaimana seorang remaja mengevaluasi perasaannya terhadap konsep diri yang ia miliki. Dalam mencapai identitas diri yang realistis, remaja akan melalui proses yang melibatkan percobaan dengan berbagai cara tampil dan berperilaku. Setiap remaja melakukan proses ini dengan caranya masing-masing. Masa remaja adalah saat yang pantas bagi individu untuk bereksperimen dan mengeksplor berbagai macam kemungkinan dan kesempatan, tentunya pada batas normal dan tidak membahayakan kesehatan atau hidup remaja tersebut (APA, 2002).

• Kecerdasan Emosional : selain membangun identitas diri, remaja juga harus mulai menguasai keterampilan emosional yang dibutuhkan untuk mengelola emosi dan peka terhadap lingkungan sekitar (Goleman, 1994). Dalam membangun kecerdasan emosional, remaja perlu menumbuhkan keterampilan-keterampilan seperti mengenali dan mengelola emosi, membangun empati, belajar menyelesaikan konflik dengan baik, dan membangun semangat kooperatif dalam menghadapi perbedaan atau perselisihan.

3.4 Perkembangan dan Perubahan pada Aspek Sosial

• Hubungan dengan teman sebaya : Menurut teori yang dikemukakan oleh Harry Stack Sullivan (1953), di masa remaja peran teman-teman menjadi semakin penting dalam memenuhi kebutuhan sosial. Meningkatkanya kebutuhan akan kedekatan selama awal masa remaja memotivasi mereka untuk mencari teman dekat. Pada fase ini, remaja akan lebih bergantung pada teman daripada orang tua untuk memuaskan kebutuhan persahabatan (companionship), keakraban (intimacy), dan validasi harga diri. Dinamika dalam pertemanan ini membentuk kesejahteraan/well-being pada diri remaja (Bukowski, Motzoi, & Meyer, 2009).

Di samping itu, hubungan kedekatan dengan sahabat membuat remaja cenderung menyesuaikan diri dengan standar/tuntutan di lingkungan persahabatannya (konformitas). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Prinstein & Dodge (2008), individu yang cenderung melakukan konformitas adalah mereka yang kurang memiliki keyakinan terhadap identitas sosialnya atau ketika mereka berhadapan dengan seseorang yang mereka anggap berstatus lebih tinggi daripada mereka.

• Hubungan anak dan orang tua : Pola pengasuhan orang tua terhadap anak remajanya sangatlah penting, salah satu usaha yang umum dilakukan orang tua ialah memantau perkembangan anak (Gauvain & Parke, 2010). Pemantauan ini termasuk mengawasi lingkungan sosial dimana anak terlibat, aktivitas dan teman bermain sehari-hari, serta perilaku dalam bidang akademik. Seiring berkembangnya zaman, cara orang tua memantau anak remajanya bergeser dari penekanan eksklusif pada peran orang tua dalam memantau keberadaan dan kegiatan anak, menjadi melibatkan anak untuk lebih terbuka terhadap berbagai macam informasi terkait dirinya maupun lingkungan, kepada orangtua (Keijsers & Laird, 2010). Penelitian menemukan bahwa remaja yang secara terbuka memberitahu keberadaan, aktivitas dan pertemanannya kepada orang tua memiliki penyesuaian diri yang positif pada masa remajanya (Laird & Marrero, 2010).

Selain pola pengasuhan, perubahan signifikan yang terjadi pada hubungan anak dan orang tua pada masa remaja adalah meningkatnya konflik. Konflik orang tua dan remaja cenderung memuncak saat anak masih pada fase remaja awal. Dua jenis konflik yang biasanya terjadi adalah konflik spontan terkait urusan sehari-hari, seperti pakaian seperti apa yang orang tua perbolehkan untuk anak remajanya beli atau gunakan dan apakah pekerjaan rumah telah selesai, serta konflik mengenai masalah yang lebih penting seperti prestasi akademik. (APA, 2002)

• Relasi Romantis : Connolly & McIsaac (2009), mengkategorikan tiga tahapan perkembangan hubungan romantis pada remaja sebagai berikut:

  1. Ketertarikan secara romantis dan mulai membangun hubungan pada usia sekitar 11 hingga 13 tahun. Tahap awal ini dipicu oleh pubertas, pada periode usia ini remaja menjadi sangat tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan percintaan. Contoh perilaku tersebut diantaranya individu mulai ‘naksir’ teman di lingkungannya dan sering membicarakan orang tersebut dengan teman-teman sebayanya.

  2. Menjelajahi hubungan romantis pada usia sekitar 14 hingga 16 tahun. Pada fase ini, dua individu saling tertarik antara satu sama lain. Pengalaman kencan ini sering kali tidak bertahan lama, paling lama beberapa bulan dan biasanya hanya bertahan beberapa minggu.

  3. Menjalani hubungan romantis pada usia sekitar 17 hingga 19 tahun. Pada penghujung masa sekolah, remaja mulai mampu menjalani hubungan romantis yang lebih serius. Hal ini ditandai dengan ikatan emosional yang lebih mirip dengan hubungan romantis orang dewasa. Hubungan pada tahap ini cenderung lebih stabil dan bertahan lebih lama dibandingkan pada tahap sebelum-sebelumnya.

3.5 Masa Transisional
Tahun pertama memasuki sekolah menengah pertama bukan perkara mudah bagi para remaja. Hal ini dikarenakan transisi perubahan dari pendidikan sekolah dasar ke sekolah menengah pertama terjadi bersamaan dengan perubahan-perubahan pada diri individu, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah. Fenomena yang biasa tejadi pada transisi ini disebut top-dog phenomenon, dimana posisi individu yang sebelumnya merupakan siswa tertua, terbesar, dan paling kuat di sekolah dasar menjadi siswa termuda, terkecil, dan paling tidak kuat di sekolah menengah pertama. Masa transisional ini terus berlanjut hingga individu memasuki sekolah menengah atas (Santrock, 2010).

3.6 Gangguan dan Permasalahan pada Remaja

Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan manusia untuk membentuk perilaku dan kebiasaan pola hidup yang sehat (Ozer & Irwin, 2009). Banyak perilaku dan kebiasaan kesehatan yang buruk pada orang dewasa dimulai dari masa remaja. Maka dari itu, dibutuhkan pembentukan pola hidup sehat sedini mungkin seperti olahraga teratur dan memperhatikan asupan nutrisi yang cukup dengan memilah jenis-jenis makanan untuk dikonsumsi seperti makanan rendah lemak dan rendah kolesterol (Schiff, 2009).

Olahraga dikaitkan dengan sejumlah dampak positif. Menurut penelitian yang dilakukan oleh VanDerHei (2010), olahraga teratur memiliki efek positif pada status berat badan remaja. Dampak positif lainnya dari olahraga rutin pada masa remaja adalah penurunan kadar trigliserida/zat lemak tubuh yang menyebabkan risiko penyakit apabila berada pada kadar yang tinggi, tekanan darah rendah, dan risiko mengidap diabetes tipe II yang lebih rendah (Butcher dkk., 2008). Sedangkan, sebuah penelitan mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat olahraga pada remaja berkaitan dengan gejala depresi (Sund, Larsson, & Wichstrom, 2010).

Selain olahraga dan asupan nutrisi, pola tidur juga merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam menciptakan pola hidup remaja yang sehat. Remaja yang tidur kurang dari delapan jam pada malam sekolah lebih cenderung merasa lelah, mengantuk, mengalami suasana hati yang tidak baik, mudah tersinggung dan tertidur di sekolah, dan minum minuman berkafein daripada remaja lain dengan waktu tidur yang optimal. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mary Carskadon dkk., (2004), remaja yang berusia lebih tua cenderung lebih mengantuk daripada remaja yang berusia lebih muda dan rasa kantuk ini tidak disebabkan oleh tuntutan akademis ataupun tekanan sosial melainkan seiring bertambahnya usia seorang remaja, jam biologis mereka juga mengalami pergeseran yang menyebabkan periode kantuk mereka tertunda sekitar satu jam setelah terjadinya proses sekresi melatonin di tubuh setiap malamnya.

• Gangguan makan meningkat pada fase remaja. Dua jenis gangguan makan yang umum terdapat pada remaja adalah anorexia dan bulimia nervosa. Menurut Santrock (2010), individu dengan anorexia nervosa cenderung melakukan percobaan diet atau sengaja tidak mengkonsumsi apapun dengan tujuan agar bentuk tubuhnya tetap langsing- biasanya sampai melampaui batas normal. Sedangkan pada individu dengan bulimia nervosa, pola gangguannya cenderung mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak, lalu akan dimuntahkan kembali. Seseorang dianggap memiliki gangguan bulimia yang serius apabila episode pola gangguannya terjadi setidaknya dua kali seminggu dan bertahan selama tiga bulan (Napierski-Prancl, 2009). Tidak seperti pengidap anorexia, orang dengan gangguan bulimia biasanya berada dalam kisaran berat badan normal sehingga gangguan ini lebih sulit dideteksi.

• Gangguan depresi : Secara umum, 15-20% remaja mengalami depresi (Graber & Sontag, 2009). Remaja perempuan memiliki resiko mengalami depresi dua kali lipat dari remaja laki-laki (Nolen-Hoeksema, 2010). Faktor-faktor diantaranya adalah :

  1. Perempuan cenderung merenung dan tenggelam dalam suasana hati yang tidak menyenangkan

  2. Citra diri dan citra tubuh remaja perempuan lebih negatif dari remaja laki-laki

  3. Perempuan menghadapi lebih banyak diskriminasi daripada laki-laki

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, faktor keluarga dan hubungan pertemanan yang buruk juga meningkatkan faktor risiko depresi pada remaja (Waller & Rose, 2010). Bentuk faktor risiko di lingkungkan keluarga diantaranya, remaja yang memiliki orang tua depresi, tidak tersedia secara emosional, atau permasalahan perkawinan dan finansial. Hubungan pertemanan dengan teman sebaya yang buruk juga memiliki kaitan dengan kondisi depresi pada remaja (Kistner dkk., 2006). Tidak memiliki hubungan akrab dengan sahabat, rendahnya komunikasi dan kedekatan dengan teman dan penolakan sosial dapat meningkatkan kecenderungan depresi pada remaja (Santrock, 2010).

• Kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak diterima secara sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. Berdasarkan hukum, pelanggaran ini dibagi menjadi dua kategori yaitu pelanggaran indeks dan pelanggaran status. Pelanggaran indeks adalah tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa, seperti perampokan, tindak penyerangan, pemerkosaan, hingga pembunuhan. Sedangkan pelanggaran status adalah tindakan yang tingkat fatalitasnya lebih rendah dari pelanggaran indeks, seperti melarikan diri, membolos, konsumsi minuman keras dibawah usia legal atau seks bebas (Unayah & Sabarisman, 2016). Selain itu, Sunarwiyati (dalam Masngudin, 2003) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit
  2. Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai tanpa SIM, mengambil barang orang tua atau orang lain tanpa ijin
  3. Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks bebas dan pencurian.

Sumber Referensi :
American Psychological Association. (2002). Developing Adolescents: A Reference For Professionals. 1st ed. [ebook] Washington DC: AMERICAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION.

Bava, S., Thayer, R., Jacobus, J., Ward, M., Jernigan, T. L., & Tapert, S. F. (2010). Longitudinal characterization of white matter maturation during adolescence. Brain Research, 1327, 38–46. doi:10.1016/j.brainres.2010.02.066 .

Bukowski, W. M., Motzoi, C., & Meyer, F. (2009). Friendship as process, function, and outcome. In K. H. Rubin, W. M. Bukowski, & B. Laursen (Eds.), Handbook of peer interactions, relationships, and groups. New York: Guilford.

Butcher, K., Sallis, J. F., Mayer, J. A., & Woodruff, S. (2008). Correlates of physical activity guideline compliance for adolescents in 100 U.S. cities. Journal of Adolescent Health, 42, 360–368.

Connolly, J. A., & McIssac, C. (2009). Romantic relationships in adolescence. In R. M. Lerner & L. Steinberg (Eds.), Handbook of adolescent psychology (3rd ed.). New York: Wiley.

Elizabeth B. Hurlock. (2003), Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang. Rentang Kehidupan, Erlangga, Jakarta.

Gauvain, M., & Parke, R. D. (2010). Socialization. In M. H. Bornstein (Ed.), Handbook of cultural developmental science (p. 239–258). Psychology Press.

Giedd, J. N. (2008). The teen brain: Insights from neuroimaging. Journal of Adolescent Health, 42, 335–343.

Goleman, D. (1994). Emotional intelligence. New York: Bantam.

Graber, J. A., & Sontag, L. M. (2009). Internalizing problems during adolescence. In R. M. Lerner & L. Steinberg (Eds.), Handbook of adolescent psychology (3rd ed.). New York: Wiley.

Keijsers, L., & Laird, R. D. (2010). Introduction to special issue. Careful conversations: Adolescents managing their parents’ access to information. Journal of Adolescence, 33(2), 255-259.

Kistner, J., A., David-Ferdon, C. F., Repper, K. K., & Joiner, T. E. (2006). Bias and accuracy of childrens’ perceptions of peer acceptance: Prospective associations with depressive symptoms. Journal of Abnormal Child Psychology, 34, 349–361.

Klacyznski, P. (2001). The influence of analytic and heurstic processing on adolescent reasoning and decision making. Child Development, 72, 844–861.

Kuhn, D. (2009). Adolescent thinking. Handbook of adolescent psychology, 1, 152-186.

Laird, R. D., & Marrero, M. D. (2010). Information management and behavior problems: Is concealing misbehavior necessarily a sign of trouble? Journal of Adolescence, 33(2), 297–308. doi:10.1016/j.adolescence.2009.05.018.

Masngudin., H., M., S. (2003), Kenakalan Remaja Sebagai Perilaku Menyimpang Hubungannya Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga: Studi Kasus di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan Jakarta, Jakarta: Departemen Sosial RI.

Mills, B., Reyna, V. F., & Estrada, S. (2008). Explaining contradictory relations between risk perception and risk taking. Psychological science, 19(5), 429-433.

Napierski-Prancl, M. (2009). Eating disorders. In. D. Carr (Ed.), Encyclopedia of the life course and human development. Boston: Gale Cengage.

Nolen-Hoeksema, S. (2011). Abnormal psychology (5th ed.). New York: McGraw-Hill.

Ohayon, M. M., Carskadon, M. A., Guilleminault, C., & Vitiello, M. V. (2004). Meta-analysis of quantitative sleep parameters from childhood to old age in healthy individuals: developing normative sleep values across the human lifespan. Sleep, 27(7), 1255-1273.

Özer, E. M., & Irwin, C. (2009). Adolescent and Youth Adult Health: From Basic Health Status to Clinical Interventions. Richard M. Lerner and Laurence Steinberg. Handbookof Adolescent Psychology, 3.

Prinstein, M. J., & Dodge, K. A. (2008). Current issues in peer infl uence. In M. J. Prinstein & K. A. Dodge (Eds.), Understanding peer influence in children and adolescents. New York: Guilford.

Santrock, J. W. (2010). Life-Span Development, 13th Edition (13th ed.). McGraw-Hill.

Schiff, W. J. (2009). Nutrition for healthy living. New York: McGraw-Hill.

Sund, A. M., Larsson, B., & Wichstrom, L. (2010). Role of physical and sedentary activities in the development of depressive symptoms in early adolescence. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology.

Sunstein, C. R. (2008). Adolescent risk-taking and social meaning: A commentary. Developmental Review, 28, 145–152.

Unayah, N., & Sabarisman, M. (2016). Fenomena kenakalan remaja dan kriminalitas. Sosio informa, 1(2).

VanDerhei, J. (2010). What will happen to retirement income for 401(k) participants after the market decline? Journal of Aging and Social Policy, 22, 129–151.

Waller, E. M., & Rose, A. J. (2010). Adjustment tradeoffs of co-rumination in motheradolescent relationships. Journal of Adolescence.