MATERI 3 Masa Remaja

Pada materi ini, kita akan membahas mengenai perkembangan remaja dilihat dari aspek perubahan fisik, kognitif dan sosioemosionalnya.

3.1 Perkembangan dan Perubahan Secara Fisik
• Fase pubertas : pada fase ini, remaja akan merasakan perubahan secara drastis terutama pada hormon dalam diri dan perubahan bentuk tubuh. Pada rata-rata remaja perempuan, fase ini dimulai saat mereka berusia 9 tahun. Sedangkan pada remaja laki-laki, fase ini dimulai saat mereka berusia 11 tahun. Secara umum, remaja yang mulai menginjak faase pubertas ini akan lebih memperhatikan penampilan dirinya. Menurut penelitian, remaja perempuan akan lebih cenderung memiliki pandangan negatif terhadap tubuhnya dibanding remaja laki-laki. Satu hal yang perlu diingat, walaupun semua remaja akan melewati fase ini, tetapi perubahan yang tampak pada masing-masing individu akan berbeda-beda.
• Perkembangan otak : selama masa remaja, terjadi peningkatan fungsi pada korpus kalosum, amigdala dan prefrontal korteks sehingga terjadi peningkatan fungsi penalaran dan regulasi diri.

3.2 Perkembangan pada Aspek Kognitif
• Egosentrisme : pada fase ini mulai terjadi peningkatan pada kesadaran diri remaja yang terbentuk karena adanya keyakinan bahwa orang lain tertarik pada mereka, keinginan untuk diperhatikan, dilihat dan diakui keberadaannya (imaginary audience) dan sifat unik yang hanya dimiliki oleh dirinya seorang.
• Cara berfikir : fase remaja adalah fase yang penting untuk mengembangkan cara berfikir yang kritis. Menurut penelitian, apabila keterampilan dasar seperti membaca dan menulis tidak dikembangkan selama masa kanak-kanak maka kemungkinan besar keterampilan berpikir kritis pada masa remaja tidak dapat tercapai secara optimal.
• Membuat keputusan : pada fase ini, proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh 2 sistem kognitif yaitu dasar analitis dan pengalaman. Namun, sebagian besar keputusan yang dibuat pada fase ini didasari untuk pengalaman, remaja hanya perlu tahu bahwa ada beberapa keadaan yang sangat berbahaya sehingga kedepannya harus dihindari.

3.3 Perkembangan pada Aspek Sosioemosional
• Pandangan terhadap diri : penelitian menemukan bahwa pada fase ini, self esteem atau harga diri yang dimiliki oleh para remaja ini cenderung rendah. Terutama bagi para remaja perempuan, harga diri cenderung jauh lebih rendah. Self esteem menggambarkan persepsi yang seringkali tidak sesuai dengan realita.
• Konflik anak dan orangtua : pada fase ini, konflik antara anak dan orangtua meningkat. Konflik dengan intensitas sedang dapat berdampak positif pada perkembangan anak.
• Kehidupan sosial : pada fase ini, remaja mulai merasakan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya.

3.4 Masa Transisional
Tahun pertama memasuki SMP bukan perkara mudah bagi para remaja. Hal ini dikarenakan transisi perubahan dari pendidikan sekolah dasar ke sekolah menengah pertama terjadi bersamaan dengan perubahan-perubahan pada diri individu, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah. Fenomena yang biasa tejadi pada transisi ini disebut top-dog phenomenon, dimana posisi individu yang sebelumnya merupakan tertua-terkuat di sekolah dasar menjadi termuda dan terkecil di sekolah menengah pertama.

3.5 Gangguan dan Permasalahan pada Remaja
• Gangguan kesehatan yang umum terdapat pada kalangan remaja diantaranya nutrisi yang buruk, olahraga yang tidak teratur dan berkurangnya kualitas tidur.
• Gangguan makan meningkat pada fase remaja ini, khususnya bagi remaja yang overweight. 2 jenis gangguan makan yang umum terdapat pada remaja adalah anorexia dan bulimia nervosa. Pada individu dengan anorexia nervosa, mereka cenderung melakukan percobaan diet atau sengaja tidak mengkonsumsi apapun dengan tujuan agar bentuk tubuhnya langsing- biasanya sampai melampaui batas normal. Sedangkan pada individu dengan bulimia nervosa, pola gangguannya cenderung mengkonsumsi sebanyak-banyaknya lalu akan dimuntahkan kembali. Perbedaan antara individu yang anorexic dan bulimic, bulimic biasanya adalah orang-orang dengan berat badan pada rentang normal.
• Gangguan depresi : Secara umum, 15-20% remaja mengalami depresi. Faktor keluarga dan hubungan pertemanan yang buruk memberikan dampak besar pada kesehatan mental remaja. Remaja perempuan memiliki resiko mengalami depresi dua kali lipat dari remaja laki-laki. Faktor-faktor diantaranya adalah,

  1. Perempuan cenderung merenung dan tenggelam dalam suasana hati yang tidak menyenangkan
  2. Citra diri dan citra tubuh perempuan lebih negatif dari laki-laki
  3. Perempuan menghadapi lebih banyak diskriminasi daripada laki-laki

• Kenakalan remaja mulai terjadi pada fase ini, dimana kelompok/perseorangan remaja melakukan kegiatan yang melanggar hukum/ perilaku illegal.

1 Like