[Materi 3] Gangguan Kesehatan Mental & Klasifikasinya

Gangguan Kesehatan Mental & Klasifikasinya

3.1 Pengertian Gangguan Mental
Gangguan kesehatan mental merupakan suatu kondisi dimana individu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya (Putri dkk, 2015). Ketidakmampuan tersebut kemudian memunculkan stress yang berlebih dan menjadikan kesehatan mental individu menjadi lebih rentan.

Gangguan mental dalam beberapa kasus disebut dengan perilaku abnormal yang mana sama halnya dengan sakit secara mental, sakit jiwa dan beberapa istilah lain seperti distress, disadvantage, disability, discontrol, inflexsibility, irrationally, disturbance, dromal patten, dan lainnya.

Pada dasarnya terdapat berbagai unsur penyebab seseorang terkena gangguan mental. Santrock (1999) menyatakan bahwa penyebab gangguan mental pada umumnya dikategorikan menjadi aspek jasmaniah atau biologi (keturunan, kegemukan yang kemudian memunculkan depresi, tempramen karena orang yang terlalu sensitif, penyakit dan cedera tubuh. Santrock juga menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat disebabkan oleh faktor psikologi. Pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami manusia akan membentuk perilaku, kebiasaan dan sifat yang berbeda di masa yang akan datang.

Dalam hal tersebut kemudian penyebab seseorang mengalami gangguan mental dibagi menjadi 3 kategori penyebab, yakni:

  1. Faktor somatogenik: Terdiri dari neroanatomi, nerofisiologi, nerokimia, tingkat kematangan & perkembangan organic dan faktor-faktor pre dan perinatal.
  2. Faktor psikogenil: Meliputi interaksi ibu-anak yang tidak normal seperti tidak adanya rasa percaya, lalu peranan ayah, sibling rivalry, intelegensi, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat, kehilangan yang menyebabkan kecemasan dan lain sebagainya.
  3. Faktor sosiogenik: Meliputi kestabilan keluarga, pola mengasuh anak, keluarga dengan ekspresi emosi tinggi atau rendah, tempat tinggal, serta kesejahteraan yang tidak memadai.
    Berdasarkan ketiga faktor tersebut kemudian dapat disimpulkan bahwa penyebab gangguan mental tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, karena sistem dalam diri manusia merupakan kesatuan biopsikososial.

3.2 Kriteria Gangguan Kesehatan Mental
Gejala dan tanda gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami individu. Penderita bisa mengalami gangguan pada emosi seperti perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, pola pikir seperti waham dan halusinasi serta perilaku. Pada umumnya terdapat 2 tipe perilaku yang dapat dikatakan sebuah gangguan kesehatan mental, yakni:

  1. Neurotic Behavior
    • Individu kurang mampu menyesuaikan diri.
    • Cenderung mengekspresikan perilaku secara tidak sadar.
    • Memiliki orientasi yang cukup terhadap ruang, waktu, tempat dan orang lain namun tidak memiliki kesadaran akan perilakunya dan tidak dapat merubahnya.
    • Sebagian besar ucapannya adalah tentang mimpi-mimpi yang sangat berarti.
  2. Psychotic Behavior
    • Tingkah laku yang mengacau atau menganggu orang lain.
    • Pikiran dan perkataan yang meloncat-loncat.
    • Disorientasi ruang, waktu dan tempat yang kemudian berakibat ketidakmampuan dalam membedakan antara mimpi dan realita, serta tidak mempunyai kesadaran dalam perilakunya.
    • Orang psikotik tidak bisa sembuh secara total namun bisa sembuh secara sosial.

3.3 Klasifikasi Gangguan Kesehatan Mental
Untuk saat ini terdapat 2 sistem klasifikasi gangguan mental yang ada, yaitu International Classificarion of Diseases (ICD) yang dibuat oleh ahli kedokteran jiwa WHO dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang dibuat langsung oleh ahli-ahli kedokteran jiwa Amerika.

Saat ini penentuan gejala gangguan mental, ahli-ahli menyepakati menggunakan sistem klasifikasi DSM V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders revisi ke 5) yang dikeluarkan pada tahun 2013. Menurut sistem DSM V, terdapat jenis-jenis gangguan mental yang dikelompokan sebagai berikut:
• Gangguan Perkembangan Neurologis: Kegagalan individu untuk memiliki kemampuan fungsi neurologis yang seharusnya dimiliki. Hal ini disebabkan oleh adanya lesi (defek) dari otak pada tahap awal perkembangan otak. Penyebab gangguan kemudian dapat terjadi pada masa pranatal, perinatal atau pascanatal.

• Sprektrum Skizofrenia dan Gangguan Psikotik Lain: Pada umumnya terdapat 5 domain fitur kunci dalam sprektrum skizofrenia dan gangguan psiktik yaitu delusi, halusinasi, kemampuan berpikir dan berbicara yang tidak terorganisir, perilaku kacau dan gejala negatif.

• Bipolar dan Gangguan Terkait: Sebelumnya bipolar dan gangguan terkait masuk kedalam klasifikasi gangguan depresi yang kemudian dipisahkan dalam dsm 5. Gangguan ini dikenal dengan gangguan terhadap mood individu. Penderita yang mengalami bipolar memiliki suasana hati yang dapat berubah-ubah secara ekstrim yang kemudian memunculkan mania (rasa senang yang berlebihan) atau depresi (rasa sedih, tidak bersemangat berlebihan). Klasifikasi ini meliputi gangguan bipolar I, gangguan bipolar II, gangguan siklotimik, substansi atau obat lainnya yang memunculkan gangguan bipolar.

• Gangguan Depresi: Gangguan depresi merupakan gangguan mood dimana individu dapat merasakan sedih atau tidak bersemangat secara ekstrim dan perasaan tersebut bertahan hingga menghambat kegiatan individu tersebut sehari-hari.

• Gangguan Kecemasan: Suatu kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus.

• Gangguan Obsesif Kompulsif dan Gangguan Terkait: Gangguan obsesif kompulsif merupakan suatu gangguan yang menyebabkan penderitanya memiliki obsesi atau suatu pemikiran, gambar-gambaran mental dan dorongan yang menganggu, tidak diinginkan, muncul secara terus menerus menimbulkan kecemasan pada penderita. Untuk menurunkan kecemasan dari obsesi yang muncul maka individu akan melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang (kompulsif).

• Trauma, Stress dan Gangguan Terkait: Suatu kondisi dimana seseorang mengalami stress berlebih hingga berhari-hari lamanya.

• Gangguan Identitas Disosiatif: Biasa disebut juga dengan gangguan kepribadian ganda, merupakan salah satu gangguan mental yang menunjukan adanya disosiasi dan ketidaksesuaian hubungan antara pikiran, ingatan, lingkungan serta identitas diri. Hal ini menjadi cara seseorang melarikan diri dari trauma yang dialami dengan cara yang tidak sehat. Individu yang mengalami gangguan ini dapat merasakan ketidakpastian mengenai identitas dirinya serta merasakan kehadiran dari identitas-identitas lain dalam dirinya yang memiliki tingkah laku, nama, latar hidup yang berbeda-beda.

• Gejala Somatik dan Gangguan Terkait: Merupakan gangguan mental yang bermanifestasi sebagai gejala fisik yang menunjukkan penyakit atau cedera, tetapi tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum atau secara langsung.

• Gangguan Makan: Merupakan gangguan makan yang menyebabkan seseorang mengalami penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan. Gangguan ini juga menyebabkan distress pada individu penderitanya.

• Gangguan Eliminasi: Gangguan eliminasi merupakan masalah ketidakmampuan dalam kontrol buang air kecil atau besar yang persisten dan tidak berhubungan dengan penyebab organik.

• Gangguan Tidur & Bangun: Gangguan tidur merupakan gangguan ketika individu tertidur menjadi lebih cepat atau lebih larut dari seharusnya dan pemicunya merupakan pemikiran individu dan tidak berhubungan dengan masalah biologis.

• Disfungsi Seksual: Merupakan sebuah kondisi dimana baik laki-laki maupun perempuan tidak terpuaskan secara seksual.

• Disforia Gender: Merupakan gangguan yang dirasakan oleh seseorang sebagai akibat dari seks dan gender yang diberikan kepada mereka saat lahir. Dalam kasus ini, gender dan seks yang diberikan pada orang tersebut tidak sesuai dengan identitas gender mereka. Dapat dikatakan sebagai gangguan jika individu mengalami distress.

• Gangguan Perilaku dan Kontrol Impuls: Merupakan klasifikasi gangguan yang dapat menyebabkan individu berperilaku agresif ataupun tidak dapat mengontrol emosi kepada orang lain maupun properti.

• Gangguan terkait Obat-obatan dan Adiksi: Merupakan gangguan penggunaan obat-obatan secara terus menerus (termasuk alkohol) dan dapat menjadi adiksi.

• Gangguan Kognitif: Gangguan kognitif adalah gangguan yang berkaitan dengan peningkatan usia. Gangguan ini menyebabkan penurunan fungsi otak yang berhubungan dengan kemampuan atensi, konsentrasi, kalkulasi, mengambil keputusan, reasoning dan lainnya.

• Gangguan Kepribadian: Merupakan suatu kondisi yang menyebabkan penderita memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak sehat.

• Gangguan Seksual Parafilia: Merupakan gangguan seksual menyimpang secara berulang kali hasrat dan perilaku umumnya melibatkan suatu bentuk aktivitas, objek, baik orang atau benda maupun situasi yang pada kondisi normal tidak merangsang secara seksual.

Referensi:

  • American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of
    Mental Disorder Edition (DSM-V). Washington : American Psychiatric
    Publishing.

  • Notosoedirdjo, M. & Latipun (2001). Kesehatan Mental Konsep dan Penerapannya, Malang: UMM Press.

  • World Health Organization (2004). Promoting Mental Health: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data