Materi 2: Psikologi Konseling Kelompok

Konseling Kelompok

1. Definisi Konseling Kelompok
Menurut Latipun (2006) konseling kelompok merupakan salah satu bentuk bentuk konseling yang menggunakan kelompok sebagai media untuk membantu, memberi umpan balik (feedback), dan pengalaman belajar dengan menggunakan prinsip-prinsip dinamika kelompok.
Winkel (2007) mengungkapkan bahwa konseling kelompok merupakan konseling dalam bentuk khusus berupa kelompok kecil yang dipimpin oleh konselor yang profesional. Aspek proses dan aspek tatap muka menjadi dua hal penting dalam konseling kelompok karena dalam prosesnya, konseling kelompok dilakukan lebih dari dua orang. Juga dengan aspek tatap muka memberi peranan penting karena dalam konseling kelompok terdapat beberapa orang yang saling berinteraksi dan memberikan bantuan psikologis satu sama lain.
Sedangkan menurut George M. Gazda dalam bukunya Group Counseling: A Developmental Approach mengatakan bahwa konseling kelompok adalah hubungan konselor dengan beberapa konseli yang fokus pada pemikiran dan tingkah laku yang disadari. Konseli atau klien umumnya tergolong orang normal yang bila menghadapi berbagai masalah yang tidak memerlukan perubahan dalam struktur kepribadian. Sehingga dalam konseling kelompok, konseli dapat memanfaatkan komunikasi antar individu untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai kehidupan, pandangan terhadap hidup, tujuan hidup, dan/atau menghilangkan perilaku tertentu.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat ditarik suatu simpulan bahwa konseling kelompok merupakan salah satu bentuk konseling yang menggunakan interaksi antar pribadi/individu sebagai cara untuk meningkatkan pemahaman, pandangan terhadap hidup, penerimaan dengan cara saling memberikan umpan balik (feedback) dan berpegang pada prinsip dinamika kelompok.

2. Ciri-Ciri Konseling Kelompok
Adapun ciri-ciri konseling kelompok seperti berikut ini:
a. Ada hubungan antara konselor (bisa lebih dari satu) dengan beberapa konseli.
b. Bersifat terapiutik, yaitu dilaksanakan untuk memberikan dorongan, pemahaman, dan membantu konseli mengatasi masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
c. Berfokus pada pemikiran dan tingkah laku yang disadari;konseli dalam keadaan normal;tidak sedang mengalami gangguan fungsi kepribadian.
d. Berjangka pendek atau menengah.
e. Befrungsi sebagai remedial/pencapaian fungsi secara optimal.

3. Tujuan Konseling Kelompok
Sukardi (2002) mengungkapkan tujuan dari konseling kelompok sebagai berikut:
a. Menyelesaikan permasalahan-permasalahan pribadi.
b. Belajar untuk membangun kepercayaan terdahap orang lain.
c. Menciptakan dinamika kelompok yang dapat berkembang secara intensif.
d. Meningkatkan kepekaan sosial.
e. Belajar untuk menemukan alternatif pemecahan masalah.
f. Meningkatkan pengaturan diri, otonomi/kemandirian, dan tanggung jawab pribadi.
g. Meningkatkan pemahaman terhadap diri sendiri secara lebih sadar serta memahami keunikan
masing-masing pribadi.
h. Membantu mengklarifikasi nilai-nilai dan mengetahui cara memodifikasinya.

4. Komponen Konseling Kelompok
Komponen dalam konseling kelompok meliputi:
a. Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok adalah konselor yang memiliki wewenang untuk melaksanakan konseling secara profesional. Tugas dari konselor sebagai pemimpin kelompok yaitu:
• Konselor mendengarkan secara aktif apa saja yang dikatakan oleh masing-masing anggota
• Konselor mempertanyakan lebih lanjut terkait permasalahan yang diceritakan, baik itu permasalahan individu dalam kelompok tersebut atau permasalahan kelompok secara keseluruhan.
• Konselor melakukan interpretasi yang bertujuan untuk cross check terkait dengan permasalahan yang dihadapi.
• Konselor bertugas secara wajib untuk menjaga dinamika kelompok yang berlangsung selama sesi konseling berjalan agar tujuan dari dilaksanakannya konseling tersebut dapat dicapai.
• Konselor wajib menjaga kerahasiaan dari kelompok tersebut dan segala kejadian yang timbul di dalamnya.
b. Anggota Kelompok
Anggota kelompok merupakan unsur pokok dalam konseling kelompok. Sebagian besar kegiatan dalam konseling kelompok didasarkan atas peranan masing-masing anggotanya. Setiap anggota dalam kelompok dapat menumbuhkan dinamika kelompok yang diwujudkan dalam saling memahami, kepatuhan terhadap aturan kelompok, pembinaan keakraban, memberikan kesempatan pada anggota lain untuk menjalankan perannya juga, dan memiliki kesadaran tentang pentingnya kegiatan kelompok tersebut.
c. Waktu Pelaksanaan
Durasi pelaksanaan konseling kelompok bergantung pada keseriusan atau kompleksitas permasalahan yang dihadapi kelompok. Latipun (2003) mengatakan bahwa konseling dengan jangka pendek memerlukan 8-20 kali tatap muka dengan frekuensi pertemuan satu sampai dengan tiga kali dalam seminggu. Durasinya adalah 60 menit sampai dengan 90 menit.

5. Struktur Konseling Kelompok
Struktur dalam konseling kelompok yaitu:
a. Jumlah Anggota Kelompok
Berapa banyak anggota dalam kelompok sangat berpengaruh terhadap efektifitas konseling kelompok tersebut. Apabila terlalu sedikit (2-3 orang) maka konseling kelompok tidak akan berjalan efektif. Demikian pula jika anggota terlalu banyak (lebih dari 10 orang) maka juga tidak akan berjalan secara efektif. Idealnya, konseling kelompok dapat berjalan secara efektif dengan jumlah anggota 4-10 orang (Corey, 2005).
b. Homogenitas Kelompok
Homogenitas dalam kelompok juga menentukan efektif tidaknya konseling kelompok berjalan. Anggota kelompok yang terlalu homogen juga tidak berdampak baik terhadap jalannya konseling kelompok karena cara pandang terhadap suatu hal akan cenderung terbatas. Sedangkan anggota kelompok yang bervariasi atau heterogen akan menghasilkan output konseling kelompok yang lebih baik. Homogenitas dalam kelompok ditentukan berdasarkan jenis kelamin, jenis permasalahan, dan kelompok usia.
c. Sifat Kelompok
Sifat kelompok terbagi menjadi dua, terbuka dan tertutup. Kelompok yang terbuka memungkinkan untuk menambah anggota baru. Sedangkan kelompok tertutup tidak akan menambah anggota baru. Masing-masing sifat kelompok memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelompok tertutup dapat secara baik menjaga kebersamaannya dibanding kelompok terbuka. Sedangkan kelompok terbuka cenderung mendapat wawasan atau cara pandang yang lebih luas karena adanya penambahan anggota dengan permasalahan yang berbeda atau kelompok usia dengan pengalaman yang berbeda.

6. Faktor yang Mempengaruhi Konseling Kelompok
Dalam mencapai keberhasilan konseling kelompok, konselor sebagai pemimpin kelompok harus memperhatikan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberhasilan konseling kelompok tersebut. Yolam (dalam Latipun, 2001) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling kelompok antara lain:
a. Membina Harapan
Harapan bagi konseli akan memunculkan perasaan optimis yang dapat membantu konseli menyelesaikan permasalahannya. Adanya keterlibatan anggota dalam kelompok juga dapat memunculkan rasa optimis yang berujung pada meningkatnya harapan yang berguna untuk mengembangkan potensi yang dimiliki setiap anggota.
b. Universalitas
Universalitas dapat mengurangi tingkat kecemasan konseli dengan memberikan pemahaman bahwa tidak hanya dirinya yang memiliki permasalahan.
c. Pemberian Informasi
Informasi bisa didapatkan dari pemimpin kelompok (konselor) dan juga dari anggota kelompok lainnya. Informasi meliputi pengalaman dan nilai-nilai yang bermakna bagi konseli atau klien.
d. Altruisme
Berfokus pada pemberian dan penerimaan. Anggota yang merasa meneirma banyak masukan atau saran dari kelompoknya, secara otomatis ia akan memberikan masukan/saran pada anggota kelompok lain yang mana ini akan menimbulkan dinamika kelompok pada proses konseling.
e. Korektif Keluarga Primer
Dimaksudkan untuk membina kedekatan secara emosional antar anggota dan konselor yang berguna dalam pemberian dukungan antar anggota. Sehingga konseli akan menganggap bahwa kelompok merupakan bagian yang penting yang harus terus dibina dan dijaga layaknya keluarga.
f. Teknik Sosialisasi
Teknik sosialisasi berkaitan dengan bagaimana anggota kelompok menjalin hubungan antar pribadi. Setiap anggota dapat mengekspresikan perasaannya, memahami orang lain, dan memberikan umpan balik pada anggota kelompok lainnya.
g. Modelling
Modelling diperoleh dari pengalaman atau hasil identifikasi anggota kelompok lain yang dirasa layak. Modelling sangat menguntungkan bagi konseli karena mendapat suatu nilai positif yang dapat meningkatkan atau mengubah cara pandang terhadap hidup atau penerimaan terhadap diri sendiri.
h. Interpersonal
Menjalin hubungan dengan anggota kelompok lainnya akan memberikan dampak positif bagi konseli atau klien tersebut. Dengan menjalin hubungan interpersonal, maka konseli dapat meningkatkan kepercayaan dirinya, berani mengekspresikan dirinya, meningkatkan keaktifan di dalam kelompok, dan meningkatkan sensitivitas terhadap anggota kelompok lainnya.
i. Kohesivitas
Adanya penerimaan dari masing-masing anggota kelompok dan adanya keinginan untuk menjalin hubungan interpersonal akan memicu terbentuknya kohesivitas kelompok. Kohesivitas membuat setiap orang dalam kelompok dapat berinteraksi secara optimal tanpa adanya keraguan demi mencapai tujuan bersama.
j. Katarsis
Katarsis merupakan bentuk ungkapan rasa marah, sedih, bahagia, bahkan kesulitan yang tidak dapat diungkapkan. Katarsis disebabkan oleh pengalaman masa lalu atau masa kini yang dialami oleh anggota kelompok tersebut. Dengan katarsis, anggota kelompok dapat menyadari emosinya dan memindahkannya ke alam sadar agar tidak menimbulkan represi yang berakibat fatal bagi anggota tersebut.
k. Eksistensi
Pemberian pemahaman pada anggota kelompok bahwasannya banyak hal yang harus dimengerti dan dicapai dalam hidup serta pentingnya tanggung jawab dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan menanamkan hal tersebut pada anggota, maka anggota akan termotivasi untuk mengatasi permasalahannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

7. Tahapan Konseling Kelompok
7.1. Pembentukan Kelompok (Pra-Konseling)
Tahap ini merupakan tahap seleksi anggota kelompok berdasarkan pertimbangan homogenitas. Setelah itu, konselor sebagai pemimpin kelompok akan menawarkan program yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam tahap ini, konselor akan menanamkan harapan pada setiap anggota kelompok agar memiliki rasa optimis dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Penekanan bahwa peran keaktifan anggota kelompok menjadi hal yang sangat penting dan utama dalam mencapai tujuan. Konselor juga harus memperhatikan kesamaan masalah agar dapat difokuskan menjadi permasalahan bersama yang kemudian dapat dicari akar permasalahannya.
7.2. Orientasi dan Eksplorasi
Di tahap ini kelompok sudah terbentuk. Kemudian peraturan kelompok sudah mulai disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang dipimpin oleh konselor selaku pemimpin kelompok.
Dalam tahap ini, setiap anggota kelompok akan diminta untuk memperkenalkan dirinya yang dipimpin oleh konselor. Selain itu, setiap anggota juga diminta untuk menjelaskan apa saja tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling.
Tugas konselor di tahap ini adalah membantu menegaskan Kembali tujuan yang ingin dicapai dan menjelaskan makna kelompok bagi masing-masing pribadi. Konselor juga berperan untuk menggali harapan pada setiap anggota yang mana bertujuan untuk timbulnnya rasa optimis dan keinginan untuk saling membantu satu sama lain.
7.3. Transisi
Tahap transisi merupakan tahap munculnya rasa kecemasan, resistensi, konflik, dan keengganan anggota untuk membuka diri dikarenakan ketidakseimbangan dalam diri masing-masing anggota kelompok. Tugas konselor di tahap ini adalah membuka permasalahan masing-masing anggota yang kemudian dirumuskan menjadi permasalahan bersama sehingga timbul rasa kepedulian antar anggota. Selain itu, tugas konselor juga mengontrol dan mengarahkan anggota kelompok tersebut agar tetap merasa nyaman dan menjadikan anggota kelompok lainnya sebagai bagian dari keluarga.
7.4. Kohesivitas dan Produktivitas
Di tahap ini masing-masing anggota diharapkan telah membuka dirinya lebih jauh. Di tahap ini juga anggota kelompok sudah mulai menerapkan modelling yang didapatkan dari anggota lain dengan cara saling memberi feedback atau identifikasi.
Tugas konselor di tahap ini adalah menjaga kohesivitas atau kebersamaan antar anggota kelompok serta menjaga atau meningkatkan keterlibatan masing-masing anggota secara aktif. Bagaimana tahap ini berlangsung dipengaruhi oleh bagaimana tahapan sebelumnya berlangsung. Apabila tahapan sebelumnya berjalan secara lancer dan efektif, maka tahapan ini dan tahapan selanjutnya akan berjalan secara lancer dan efektif juga.
7.5. Konsolidasi dan Terminasi
Di tahap ini masing-masing anggota kelompok mencoba memahami kesimpulan setiap permasalahan. Di tahap ini juga setiap anggota akan mulai menjalankan perilaku baru yang mereka dapat saat tahapan sebelumnya. Perilaku baru atau nilai-nilai baru yang mereka dapat berasal dari saran atau masukan anggota lainnya. Sehingga tahap ini disebut tahap konsolidasi atau tahap akhir dari sesi konseling kelompok yang bertujuan sebagai tahapan melatih konseli atau klien untuk melakukan perubahan. Tugas konselor di tahap ini adalah memastikan bahwa tujuan masing-masing anggota atau tujuan kelompok sudah tercapai sehingga konselor dapat memutuskan untuk mengakhiri sesi konseling secara tepat.
7.6. Tindak Lanjut (Pasca-Konseling)
Tahap ini merupakan tahap evaluasi yang mana bertujuan untuk melihat perkembangan masing-masing anggota kelompok di lapangan. Dengan adanya evaluasi, konselor dapat melihat apakah perubahan sudah terjadi pada masing-masing anggota dan apakah anggota tersebut sudah menerapkan perilaku atau niai-nilai yang didapat dari sesi konseling. Apabila belum terjadi perubahan yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan, konselor dapat menyusun kembali rencana baru atau melakukan perbaikan pada rencana yang telah dibuat sebelumnya.


Referensi

Winkel, W. S. 2007. Psikologi Pengajaran . Yogyakarta: Media Abadi.

Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil) . Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sukardi, D. K. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah . Jakarta: Rineka Cipta.

Corey, G. 2005. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi . Terjemahan oleh E. Koeswara. Jakarta: ERESCO.

Gazda, G. M. 1989. Group Counseling: A developmental approach . Boston: Allyn and Bacon.

Latipun. 2001. Psikologi Konseling . Malang: UMM Press.