MATERI 2 Masa Kanak-Kanak

Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas perkembangan individu pada masa kanak-kanak yang secara luas terbagi menjadi tiga, seperti yang sudah dijelaskan pada materi 1. Yaitu masa bayi (infancy), masa kanak-kanak awal, dan masa kanak-kanak tengah hingga akhir.

2.1 Perkembangan dan Pertumbuhan Secara Fisik
Infancy
• Pola pertumbuhan : sefalokaudal dan proksimodistal.
Pola sefalokaudal adalah urutan pertumbuhan dari tubuh bagian atas ke bawah.
Pola proximodistal adalah urutan pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian pusat dan bergerak menuju bagian-bagian ujung tubuh seperti ujung jari kaki dan tangan.
• Pertumbuhan tinggi badan : tinggi badan rata-rata bayi Indonesia berdasarkan data yaitu berkisar antara 45-53 cm.
• Perkembangan otak : salah satu perubahan paling drastis pada otak manusia terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, dimana terbentuknya koneksi antar neuron/saraf. Koneksi saraf terbentuk pada awal kehidupan bayi, contohnya adalah kegiatan-kegiatan yang menstimulasi aktivitas panca indera juga sangat membantu membentuk koneksi saraf otak.
• Kemampuan motorik : terbagi menjadi 2, yaitu motorik kasar dan halus. Motorik kasar berfungsi untuk menyokong aktivitas yang membutuhkan kekuatan otot, sedangkan motorik halus melibatkan penggunaan otot-otot kecil di tangan seperti menggenggam pensil, makan menggunakan sendok, hingga mengancing baju.

Kanak-Kanak Awal
• Pertumbuhan tinggi badan : rata-rata anak mengalami pertumbuhan setinggi 6 cm dan bertambah berat badan 2 hingga 3 kg setiap tahunnya selama periode awal ini.
• Kemampuan motorik : pada fase ini, terjadi peningkatan drastis pada kemampuan motorik kasar anak hal ini juga menyebabkan meningkatnya rasa ingin tahu anak terhadap dunia sekitarnya. Kemampuan motorik halus juga meningkat pada fase ini.
• Pola tidur : para ahli merekomendasikan agar anak-anak tidur selama 11 hingga 13 jam setiap malam. Anak dengan gangguan tidur memiliki tendensi kesulitan untuk beradaptasi pada lingkungan sosial di luar rumah.

Kanak-Kanak Tengah dan Akhir
• Pertumbuhan dan perubahan tubuh : pada fase ini terjadi pertumbuhan yang lambat namun konsisten. Anak-anak tumbuh tinggi dengan rata-rata 5 hingga 7 cm pertahun, selain itu massa dan kekuatan otot pun meningkat secara bertahap.
• Perkembangan otak : pada fase ini terjadi peningkatan pada perhatian, kemampuan nalar dan fungsi kognitif akibat meningkatnya fungsi prefrontal korteks.
• Kemampuan motorik : pada fase ini, kemampuan motorik anak menjadi lebih halus dan terkoordinasi karena seiring berjalannya waktu anak juga membentuk kontrol terhadap tubuhnya.

2.2 Perkembangan pada Aspek Kognitif
Infancy
• Atensi/Perhatian : aktivitas pemusatan proses mental terhadap informasi tertentu.
• Ingatan/Memori : proses penyimpanan informasi. Bayi berumur 2 hingga 6 bulan mampu menyimpan informasi mengenai motorik perseptual, dimana bayi menyerap dan menata informasi yang diperoleh kemudian tercipta reaksi berupa pola gerakan. Kemudian pada akhir tahun kedua, memori jangka panjang mulai terbentuk.
• Perilaku imitasi : Menurut penelitian, bayi yang baru lahir sudah mampu mengimitasi perilaku yang secara spesifik ditunjukkan kepada mereka.

Kanak-Kanak Awal
• Konstruk sosial : mengacu pada teori Vygotsky, anak-anak membangun pengetahuan melalui interaksi sosial. Mereka tidak hanya Bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga untuk merencanakan dan memantau perilaku mereka sendiri, selain itu Bahasa juga membantu mereka untuk memecahkan masalah.
• Atensi/Perhatian : kemampuan anak untuk memusatkan perhatian meningkat secara drastis.
• Memori : pada fase ini terjadi peningkatan yang signifikan terhadap ingatan jangka pendek.
• Kemampuan Literasi : guru dan orangtua perlu menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan literasi anak. Anak harus berpartisipasi aktif dan terpapar aktif pada beragam pengalaman mendengar, berbicara, menulis dan membaca.

Kanak-Kanak Tengah dan Akhir
• Cara berpikir : pada fase ini anak mulai mampu berfikir secara kritis dan kreatif.
• Intelejensi : anak juga mulai mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah dan belajar dari pengalaman sehari-hari. Namun disamping itu, terdapat anak-anak yang tidak mampu mengembangkan aspek intelejensi dalam dirinya sehingga mereka mengalami kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan sehari-hari.
• Kemampuan literasi : pada fase ini anak mulai mampu mengembangkan kemampuan analitis dan logis, hal ini juga mendorong mereka untuk menggunakan tatanan kata yang lebih kompleks dan memproduksi narasi yang dapat dimengerti dan masuk akal.

2.3 Perkembangan pada Aspek Sosioemosional
Infancy
• Perkembangan emosional : emosi adalah Bahasa pertama yang digunakan orangtua dan anak dalam berkomunikasi dan memegang peran penting terhadap hubungan yang mereka miliki. Menangis adalah mekanisme dan bentuk komunikasi yang paling penting bagi bayi terhadap dunia, setidaknya bayi memiliki 3 tipe tangisan yaitu tangisan umum, tangisan amarah dan tangisan akibat rasa sakit. Kemudian dikatakan juga bahwa social smiling (senyuman sosial) mulai muncul pada saat bayi berusia 2 bulan. Seiring berkembangnya seorang bayi, penting bagi mereka untuk memiliki regulasi emosional.
• Orientasi sosial : bayi menunjukkan minat yang kuat terhadap dunia sosial dan termotivasi untuk memahaminya. Salah satu bentuknya adalah bermain tatap muka dengan pengasuh, yang mulai terjadi pada usia 2 hingga 3 bulan.
• Kelekatan : ikatan emosional yang erat antara bayi dan significant other-nya. Pada masa ini, kenyamanan dan kepercayaan merupakan bentuk afeksi yang penting. Teori etologi Bowlby menekankan bahwa bayi dan pengasuhnya cenderung membentuk hubungan yang lekat secara biologis.

Masa Kanak-Kanak Awal
• Pandangan diri : pada usia 4 hingga 5 tahun, anak-anak mulai mampu mampu mendeskripsikan dirinya maupun orang lain.
• Perkembangan emosional : pada fase ini anak-anak sudah mampu mengungkapkan, memahami dan mengatur emosinya. Rentang emosi yang dimiliki anak pada fase ini meluas seiringan dengan meningkatnya kesadaran diri akan emosi yang dimiliki. Bentuk-bentuk emosi tersebut seperti rasa sombong, rasa malu dan rasa bersalah. Pada usia 2 hingga 4 tahun, anak menggunakan lebih banyak lagi istilah untuk menggambarkan emosi yang dirasakan. Selanjutnya pada usia 4 hingga 5 tahun, anak mulai menunjukkan peningkatan kemampuan untuk merefleksikan emosi dan memahami penyebab munculnya emosi yang berbeda pada orang-orang yang berbeda. Pada fase ini, anak juga menunjukkan kesadaran tentang perlunya mengelola emosi dan memenuhi tuntutan standar sosial mengenai bagaimana berperilaku.
• Perkembangan Moral : pada fase ini anak mulai membentuk konstruk moral yang melibatkan pikiran, perasaan dan perilaku yang harus dilakukan seseorang dalam beinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.
• Kehidupan sosial dan bermain : teman sebaya adalah aspek penting pada pembentukan proses sosialisasi anak. Hal ini dikarenakan teman sebaya merupakan sumber informasi dan media perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Pada fase ini, anak-anak membedakan antara seseorang yang merupakan temannya dan bukan dengan menganggap orang-orang yang sering bermain dengannya sebagai teman dan sebaliknya.

Masa Kanak-Kanak Tengah dan Akhir
• Pandangan diri : pada fase ini, anak-anak mulai mampu menbentuk konsep diri melalui karakteristik dan perbandingan sosial. Konsep diri anak pada fase ini mengacu pada evaluasi terhadap karakteristik tertentu yang ada maupun tidak ada dalam diri. Sedangkan harga diri mengacu pada perbandingan diri dengan penilaian lebih luas terhadap karakteristik tertentu.
• Perkembangan emosional : pada fase ini anak memiliki pengertian emosional yang lebih kompleks maka muncul bentuk emosi lain seperti rasa bangga dan malu. Selain itu, anak juga memiliki kemampuan untuk menekan dan menutupi emosi negatif. Seiring bertambahnya usia anak, akan terbentuk strategi coping dan kognitif yang lebih variatif dalam menghadapi berbagai macam situasi dihidupnya.
• Kehidupan keluarga dan sosial : seiring bertambahnya usia anak, terutama pada fase ini, anak menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, orangtua tetap berperan sebagai pendukung pencapaian akademis anak, tetapi regulasi kedisiplinan dan kontrol diri mulai dipercayakan pada anak walau belum seutuhnya.
• Kehidupan sosial : terjadinya peningkatan preferensi untuk membentuk kelompok dengan gender yang sama, peningkatan waktu yang dihabiskan dalam berinteraksi dengan sesama dan mulai berkurangnya pengawasan orangtua terhadap kelompok bermain anak.