Materi 1: Pengantar Psikologi Konseling

A. Pengantar Konseling

1. Definisi Konseling
Konseling merupakan aplikasi kesehatan mental, perkembangan, dan prinsip psikologis yang dilakukan dengan cara intervensi kognitif, afektif, perilaku, atau sistemik yang bertujuan untuk menuju kesejahteraan, pertumbuhan pribadi, perkembangan karir, dan kelainan. (American Counseling Association, 1997).
Menurut Gibson dan Mitchel (2003) konseling adalah hubungan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi, penyesuaian diri, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Selain itu, Rogers (dalam Rosjidan, 1994:4) juga mengungkapkan bahwa konseling merupakan proses dimana struktur diri (pribadi) dibuat sesantai mungkin demi menjaga hubungan dengan ahli terapi, dan pengalaman sebelumnya yang tertolak dirasakan dan selanjutkan diintegrasikan kedalam suatu diri (self) yang telah diubah.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat kita tarik suatu simpulan bahwa konseling merupakan hubungan sistematis antara konselor dan klien yang bertujuan untuk membantu klien dalam menyelesaikan permasalahannya, beradaptasi dengan perubahan, dan menuju pribadi yang sejahtera.

2. Sejarah Konseling
Istilah konseling pertama kali dikenal pada abad ke-19 di Boston, Amerika Serikat. Mulanya konseling bertujuan untuk membantu pemuda dalam memilih karir yang sesuai dengan diri mereka. Seiring dengan waktu, di tahun 1920-an sampai dengan tahun 1930-an konseling mulai merambah ke dunia pendidikan yang dipelopori oleh Jesse B. Davis dengan nama biro National Association for College Admission Counseling di tahun 1937.
Di awal abad ke 20 kemudian mulai lahir upaya konseling secara profesional di Amerika Serikat. Wujud dari dilaksanakannya konseling secara profesional tersebut adalah sertifikasi yang wajib dimiliki oleh konselor, adanya alat ukur yang bertujuan untuk membantu identifikasi masalah, pendekatan dalam konseling yang semakin beragam, dan cakupan konseling yang semakin meluas.

3. Ciri-Ciri Konseling
Adapun ciri-ciri konseling, yaitu:
a. Dilakukan oleh seorang konselor yang memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk menjalankan konseling psikologi yang akan dilaksanakan secara mandiri dan/atau masih dalam supervise.
b. Melibatkan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dengan jalan komunikasi secara langsung atau tidak langsung.
c. Bertujuan untuk membantu mengatasi masalah baik sosial personal, pendidikan atau pekerjaan yang berfokus pada pengembangan potensi positif yang dimiliki klien.
d. Konseling berjalan secara dinamis sesuai dengan kondisi lingkungan dilaksanakannya konseling, dan keadaan klien itu sendiri.

4. Komponen dalam Konseling
4.1. Konselor (Counselor)
Konselor merupakan seseorang yang memiliki keahlian dalam melaksanakan konseling secara profesional di berbagai bidang seperti pendidikan, karir, industri & organisasi, dan penanganan korban bencana.
4.1.1. Syarat Menjadi Konselor
a. Memiliki latar pendidikan yang berkaitan dengan konseling dan memiliki kualifikasi untuk menjalankan konseling.
b. Memberikan bantuan kepada semua pihak yang membutuhkan.
c. Menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian serta menyedari konsekuensi dari tindakannya.
d. Mampu bertanggung jawab untuk menghindari dampak buruk akibat dari proses konseling.
4.1.2. Peran Konselor
a. Sebagai pendengar yang baik ketika klien sedang mengungkapkan apa yang menjadi beban dirinya.
b. Konselor berperan mengarahkan dan mendampingi klien dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami.
4.2. Konseli (Counselee)
Konseli merupakan individu yang diberi bantuan profesional oleh konselor atas permintaan pribadi atau orang lain.
4.3. Masalah (Problem)
Masalah disini adalah penyebab individua atau kelompok datang meminta bantuan konseling pada tenaga profesional karena dirasa sudah menghambat atau merugikan dari segala aspek.

5. Manfaat Konseling
a. Konseling membantu klien untuk memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain.
b. Penurunan tingkat stress dan/atau depresi pada diri individu.
c. Konseling dapat membuat diri menjadi lebih baik, tenang, dan bahagia karena timbulnya penerimaan dari dalam diri secara dominan.

konseling
6. Konseling dan Psikoterapi
6.1. Perbedaan Konseling dan Psikoterapi
a. Konseling mengarah pada penyebab atau akar permasalahan. Sedangkan psikoterapi mengarah pada penyembuhan, dan penyesuaian pada diri klien.
b. Dalam konseling, klien (individu, kelompok, keluarga) menjadi fokus utamanya. Dalam psikoterapi, fokus utamanya adalah terapi pada klien.
c. Konseling berusaha mencari solusi alternative dari suatu permasalahan. Psikoterapi tidak hanya mencari solusi alternatif, akan tetapi juga mengubah perilaku maladaptif.
d. Konselor tidak akan memaksakan nilai (value) pada klien dalam sesi konseling. Akan tetapi, terapis akan memaksakan nilai (value) pada klien.
e. Konseling bersifat edukatif, suportif, berorientasi sadar, dan berjangka pendek. Sedangkan psikoterapi bersifat rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.

6.2. Persamaan Konseling dan Psikoterapi
a. Konseling dan psikoterapi merupakan suatu upaya membantu memberikan layanan pada individu mengenai permasalahan psikologis.
b. Hubungan antara konselor/terapis dan klien harus disepakati dan menjadi suatu bagian integral dalam berjalannya sesi konseling maupun psikoterapi.
c. Secara garis besar, konseling dan psikoterapi membantu klien dalam mengubah tingkah laku (behavioral change), kesehatan mental yang positif (positive mental health), pemecahan masalah (provlem solving), keefektifan pribadi (personal effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision making).
d. Konseling dan psikoterapi merupakan bantuan yang dapat menghindarkan individu dari perilaku merusak diri (self-defeating).

7. Pendekatan yang Digunakan dalam Konseling
7.1. Pendekatan Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan model perkembangan kepribadian yang dikembangkan oleh Sigmund Freud pada akhir abad ke-19 sampai dekade awal abad ke-20. Model pendekatan ini berkembang dari hasil penelitian Freud terhadap konflik yang ia alami, interaksi dengan orang tuanya, dan konflik yang dialami klien yang dibantunya.

7.1.1. Struktur Kepribadian
Pada dasarnya manusia ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman awal kehidupannya. Pengalaman awal kehidupan memiliki peranan penting karena masalah-masalah kepribadian pada umumnya berakar pada konflik masa kanak-kanak yang ditekan ke alam tidak sadar (Corey, 2013).
Struktur kepriibadian manusia terdiri atas id, ego, dan superego (Corey, 2013). Id merupakan komponen biologis kepribadian yang menjadi sumber energi psikis dan insting. Ego merupakan komponen psikologis yang berfungsi sebagai eksekutif kepribadian dengan menggunakan prinsip realitas serta tempat intelegensi dan aspek rasionalitas seseorang terletak. Superego merupakan komponen sosial yang mana nilai-nilai moral sosial masyarakat tertanam dan berfungsi sebagai hakim bagi pribadi itu sendiri dan bekerja dalam lapisan ketidaksadaran (unconscious).

7.1.2. Teknik Konseling
Teknik konseling yang digunakan dalam psikoanalisis adalah asosiasi bebas, interpretasi, analisis resistensi, analisis transferensi, dan analisis mimpi (Corey, 2013). Hal ini dilakukan agar konseli atau klien mendapat akses terhadap konflik-konflik yang tidak ia sadari yang dapat menghasilkan materi-materi baru bagi ego.
Asosiasi bebas merupakan teknik yang digunakan untuk mendorong konseli agar melaporkan semua kejadian tanpa penilaian dan sensor. Interpretasi adalah penjelasan sekaligus pembelajaran bagi konseli tentang makna perilaku yang ditampakkan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan transferensi. Analisis resistensi digunakan untuk mengungkap dan menjelaskan alasan-alasan resisten konseli sehingga dapat disadari dan mampu ditangani. Analisis transferensi digunakan untuk membantu konseli menyadari motif, penyebab, dan dinamika hubungan konseling dengan mengunkapkan dan menjelaskan manifestasi interaksi konseli dengan konselor dalam relasi konseling.

7.2. Pendekatan Berpusat Pribadi (Person-Centered Aprroach)
Pendekatan konseling ini dikembangkan oleh Carl Rogers pada tahun 1940-an. Pendekatan ini merupakan cabang dari pendekatan humanistik. Pendekatan ini menekankan pada penciptaan suasana permisif dan nondirektif dalam proses konseling yang berfokus pada dunia fenomenologi konseli.

7.2.1. Karakteristik
a. Memusatkan pada tanggung jawab dan kemampuan konseli untuk menemukan cara yang lebih tepat dalam menghadapi realitas.
b. Berfokus pada pengalaman atau persepsi subjektif konseli.
c. Menekankan pada kekuatan dari dalam diri individu dan dampak ke depan dari kekuatan tersebut.
d. Sikap konselor-genuineness, nonpossessive acceptance, dan accurate empathy- merupakan kondisi mutlak yang diperlukan bagi efektifitas konseling.

7.2.2. Proses Konseling dan Teknik yang Digunakan
Dalam pendekatan ini, sikap dan filosofi konselor menjadi hal yang utama dibandingkan teknik-teknik dalam proses berjalannya konseling. Selama proses konseling, konselor menjadi pendengar aktif bagi konseli. Konselor tidak menggunakan tes diagnostik, interpretasi, dan nasihat dalam pelayanan konseling (Corey, 2013).

7.3. Pendekatan Behavioral
7.3.1. Karakteristik
Corey (2013) mengemukakan karakteristik dasar konseling behavior sebagai berikut:
a. Didasarkan pada penggunaan prinsip dan metode ilmiah.
b. Perilaku tidak terbatas pada tindakan yang dapat diamati tetapi juga mencakup proses internal seperti kognisi, imajinasi, keyakinan, dan emosi.
c. Berfokus pada penanganan masalah yang sedang terjadi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai lawan dari analisis penentu historis.
d. Asesmen merupakan proses observasi yang dilakukan secara terus menerus dan berpusat pada penentu perilaku saat ini, termasuk mengenali masalah dan menilai perubahan konseli.

7.3.2. Struktur Kepribadian
Dalam pendekatan behavioral, tidak dikembangkan teori tentang kepribadian manusia, melainkan tingkah laku manusia itu merupakan hasil belajar dari lingkungan yang kemudian mendapatkan penguatan.

7.3.3. Teknik yang Digunakan
a. Reinforcement Technique
Membantu meningkatkan perilaku yang dikehendaki dengan cara memberikan penguatan terhadap perilaku tersebut.
b. Modeling
Memfasilitasi perubahan perilaku dengan menggunakan model.
c. Self-Management
Membantu mengendalikan dan mengubah perilaku dengan kontrol diri sendiri dan pengawasan yang dilakukan oleh diri sendiri.
d. Assertive Training
Membantu mengekspresikan perasaan dan pikiran yang ditekan terhadap orang lain secara lugas tanpa agresif.


Referensi

Kennedy, E. C. 1977. On Becoming A Counselor . New York: The Seabury Press.

Latipun. 2003. Psikologi Konseling Edisi Ketiga . Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah.

Mappiare, A. 2006. Pengantar Konseling dan Psikoterapi . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Corey, G. 2013. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy . Belmont, California: Brooks/Cole Publishing Company.

Williamson, E. G. & Biggs, D. A. 1979. Trait-Factor Theory and Individual Differences. Dalam Burks, H. M. & Steflre, B. (eds). Theories of Counseling. New York : McGraw-Hill Book Company.