[Materi 1] Konsep Dasar Sehat dan Sakit

1.1 Definisi Sehat dan Sakit
1.1.1 Definisi sehat
Bagi masyarakat umum konsep sehat diartikan sebagai kondisi tidak sakit. Kesehatan adalah sesuatu yang biasanya hanya dipikirkan bila sakit atau gangguan kesehatan kemudian menganggu kehidupan sehari seseorang (Elwes & Simnet, 1994). Konsep ‘sehat’ menurut WHO mencangkup hal yang lebih luas. WHO (1947) mendefinisikan sehat sebagai sebuah keadaan dimana individu mampu berfungsi dengan baik secara fisik, mental dan sosial tak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan. Lebih lanjut menurut Undang – Undang kesehatan no 23, 1992 keadaan sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan individu untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Secara umum keadaan sehat, yakni:

  1. Pemahaman yang berbeda subjektif dalam masyarakat.
  2. Bersifat Kualitatif
  3. Keadaan yang bersifat kontinum

1.1.2 Definisi sakit
Sakit di definisikan sebagai gangguan fungsi normal individu sebagai totalitas, termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis dan penyesuaian sosialnya (Parson, 1972). Syahrun (2008) menyatakan bahwa sakit adalah keadaan dimana individu terganggu dalam aspek pikiran maupun fisiknya sehingga menghambat individu tersebut untuk bekerja atau melaksanakan kegiatan dengan baik. Sakit juga memiliki arti adanya kehilangan fungsi dan dapat merupakan keadaan yang berada dalam rentangan ketidaksenangan hingga ketidakcakapan atau ketidakmampuan dan mati (Lyttle, 1986). Calhoun (1994) menyatakan bahwa sakit terdiri dari 3 bentuk, yakni:

  1. Disease: Penyimpangan yang simptomnya diketahui melalui diagnosis. Berdimensi biologis dan objektif.
  2. Ilness: Berdimensi psikologis dan subjektif
  3. Sickness: Bedimensi sosiologis dan bersifat subjektif dan kulturalistik

Berdasarkan penjelasan diatas maka sehat dan sakit merupakan kondisi biopsikososial yang menyatu dalam kehidupan manusia (Kartika, 2012). Pengenalan konsep sehat dan sakit baik secara fisik maupun psikis merupakan bagian dari pengenalan manusia terhadap konsep dirinya serta penyesuaiannya dengan lingkungan sekitar.

1.2 Perilaku Kesehatan Fisik, Mental & Sosial
Keadaan sehat dan sakit pada prinsipnya mempengaruhi perilaku individu. Individu dituntut untuk melakukan peran-peran tertentu disesuaikan dengan keadaannya. Hal ini dapat dikatakan sebagai ‘Health and sick roles.’
WHO (1947) mendefinisikan kesehatan fisik, mental dan sosial sebagai berikut:
a) Kesehatan fisik merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan kondisi tubuh yang bugar dan berfungsi secara normal sehingga mampu melakukan aktifitas sehari-hari. Dengan sehat secara fisik maka individu dapat tetap beraktifitas dengan normal dalam pekerjaan, melakukan hobi, berwisata, berolahraga, serta menghasilkan karya dan menyelesaikan tanggung jawab kita.
b) Kesehatan mental adalah gabungan antara tiga hal, yakni pikiran, emosi dan spiritual. Seseorang yang sehaat pikiran dan emosionalnya maka, ia akan dapat mengendalikan dan menyalurkan pikiran serta perasaannya dengan baik. Sebagai contoh ketika seseorang sedang dalam keadaan sedih atau kecewa, ia akan cenderung mengekspresikan emosi tersebut dengan baik dan sesuai porsinya. Sedangkan sehat secara spiritual berarti memiliki hubungan yang baik antara individu dengan Tuhannya. Hal tersebut terlihat dari bagaimana ia menyalurkan rasa syukur dan memandang hubungannya dengan Tuhan.
c) Kesehatan sosial ditandai dengan keadaan dimana individu dapat dengan sempurna membentuk hubungan intrapersonal dengan orang lain. Seseorang yang sehat secara sosial juga dapat beradaptasi dan bersikap dengan baik pada berbagai situasi sosial.

1.3 Hubungan Kesehatan Fisik, Mental dan Sosial
Berdasarkan berbagai penjelasan diatas maka terlihat bahwa kesehatan fisik, mental dan sosial merupakan aspek-aspek kesehatan yang saling berhubungan. Hal ini dikarenakan fisik dan mental merupakan kesatuan manusia. Kondisi fisik dan kualitas kesejahteraan sosial seseorang dapat mempengaruhi kondisi mental orang tersebut. Sebagai contoh ketika seseorang sedang sakit secara fisik (pusing atau mual) sering kali menjadi lebih sensitif dari biasanya sehingga cepat marah atau sedih. Keadaan tersebut kemudian berdampak pada bagaimana kita berhubungan dengan orang lain. Contoh lain adalah ketika kesejahteraan sosial kita tidak dapat terpenuhi maka akan cenderung memunculkan perasaan khawatir atau cemas. Dengan begitu maka individu akan kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari-harinya sehingga menurunkan produktivitasnya. Hal tersebut semata-mata terjadi karena satu aspek kesehatan menurun yang kemudian mempengaruhi aspek kesehatan lainnya.

1.4 Gangguan Kesehatan Mental
Pemahaman akan mental yang sehat tentu tak dapat lepas dari pemahaman mengenai sehat secara fisik maupun sosial. Gangguan kesehatan mental dapat dipengaruhi dari kondisi secara fisik nya yakni cedera di kepala, faktor genetik maupun kelainan senyawa kimia otak atau gangguan pada otak yang kemudian memunculkan gangguan kesehatan mental. Pemicu lain yang dapat mempengaruhi adalah kerugian sosial seperti contoh kehilangan pekerjaan atau mengalami kebangkrutan. Teriosolasi secara sosial sehingga mengalami kesepian juga dapat menjadi pemicu munculnya gangguan kesehatan mental.

Referensi:

• Dewi. S.K. (2012). Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press.
• Ewles dan Simnet (1994). Promosi Kesehatan Petunjuk Praktis,Terjemahan oleh Emilia, Yogyakarta :Gadjah Mada University Press.
• Notosoedirdjo, M. & Latipun (2001). Kesehatan Mental Konsep dan Penerapannya, Malang: UMM Press.
• Syahrun (2008). Pengobatan Tradisional Orang Buton ( Studi tentang Pandangan Masyarakat terhadap Penyakit di Kecamatan Betoambari Kota Bau –Bau Sulawesi Tenggara) (0nline) ( http:// www. Jurnal unhalu.go.id).
• World Health Organization. Definisi Sehat WHO: WHO; 1947 [cited 2020 14 June]. Available from: www.who.int.
• World Health Organization (2004). Promoting Mental Health: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data

1 Like