Materi 1 Keterampilan Motorik Anak Usia Dini (Psikologi Anak Usia Dini)

PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA DINI (MOTOR DEVELOPMENT)

  1. Definisi Perkembangan Motorik

Apa yang dimaksud perkembangan motorik?
Perkembangan motorik sangat erat kaitannya dengan perkembanga tulang, otot-otot dan kemampuan untuk bergerak dan memanipulasi objek di lingkungan. Bergerak sendiri pada anak usia dini merupakan sebuah langkah-langkah dan pencapaian yang harus dipenuhi oleh anak itu sendiri. Sebagai contoh ialah dimana anak usia dini mulai bisa menendang, lalu mulai bisa duduk, mampu merangkak, sampai sudah bisa berjalan dan seterusnya. Memanipulasi objek bagi anak usia dini ialah anak mampu meraih objek atau barang, menggenggam, maupun memindahkannya.

Menurut Arthur Gesell (1934), perkembangan motorik terjadi secara teratur karena faktor blueprint genetik (maturation). Faktor yang dimaksud ialah, perkembangan motorik akan berkembang sesuai dengan semakin bertumbuhnya anak tersebut (maturation)

Esther Thelen dalam teori sistem dinamis, untuk mampu mengembangkan keterampilan motorik, bayi harus memiliki kemampuan persepsi terlebih dahulu. Keterampilan motoric sendiri menjadi solusi untuk bereaksi terhadap persepsi yang ditangkap oleh anak tersebut. Perilaku motorik terbentuk dipengaruhi oleh perkembangan sistem syaraf (biologis), tujuan yang memotivasi, dukungan lingkungan atas keterampilan terkait.

Sering disebutkan bahwa manusia memiliki gerakan reflexes. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan reflexes itu?
Gerakan reflexes itu sendiri telah dimiliki oleh manusia sejak dia masih bayi. Gerakan reflexes merupakan sebuah survival mechanism manusia, dalam artian gerakan ini awalnya merupakan gerakan sebagai mekanisme untuk bertahan hidup. Gerakan reflexes terbentuk sebagai reaksi terhadap stimulus yang dirasakan oleh manusia. Gerakan reflexes pada bayi diperuntukkan untuk mengatur gerakan bayi, yang sifatnya otomatis dan diluar kontrol bayi (newborn). Contohnya ialah gerakan menghisap pada saat ibu menyusui anaknya.

  1. Motorik Kasar pada Anak Usia Dini (Gross Motoric Skill)

Motorik kasar atau gross motor ialah keterampilan dalam bergerak yang meliputi aktivitas otot besar, seperti menggerakkan lengan untuk merangkak, melangkahkan kaki untuk berjalan, dan lain sebagainya.

Bagaimana motorik kasar pada anak berkembang?
Pertama ialah the development of posture, keterampilan ini membutuhkan kontrol terhadap postur tubuh, sebagai contohnya ialah, sebelum bayi bisa berjalan, maka seorang bayi tersebut haruslah bisa menyeimbang tubuhnya walau dengan tumpuan satu kaki, langkah selanjutnya ialah memindahkan kaki lainnya untuk dapat berjalan. Hal ini membutuhkan kontrol terhadap postur tubuh, postur tubuh itu sendiri adalah proses dinamis yang berkaitan dengan informasi sensori yang terdapat di kulit, sendi, tulang, dan otot.

Learning to walk pada bayi harus mampu menguasai beberapa keterampilan kunci sebelum bisa berjalan sendiri. Keterampilan kunci tersebut ialah menyeimbangkan tubuh dengan satu kaki dalam waktu tertentu sebelum melangkah dengan kaki yang lain.

Perkembangan motorik kasar pada anak usia dini sesuai dengan usianya.
• Usia 3 bulan, bayi belajar untuk menopang kepala nya sendiri, menahan dengan lengan nya pada saat bayi tersebut tengkurap.
• Usia 6 bulan, bayi sudah mampu berguling, menendang-nendang pada saat diangkat untuk berdiri.
• Usia 9 bulan, bayi sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan dan mungkin sudah bisa merangkak, mampu berpindah posisi dari posisi duduk ke posisi tidur.
• Usia 12 bulan, sudah mampu berdiri dan mungkin sudah bisa berjalan, mampu memanjat pada sesuatu, dan mampu berdiri secara mandiri.
• Usia 18 bulan, anak sudah bisa berjalan bahkan berlari tanpa dibantu, anak belajar untuk menangkap objek, bahkan anak sudah mampu berlari dengan ujung kakinya.
• Usia 2 sampai 3 tahun, anak sudah semakin baik dalam hal menendang, melempar dan menangkap bola, selain itu anak sudah bisa menaiki dan menuruni anak tangga, dan berpegangan pada pagar.
• Usia 3 sampai 4 tahun, anak mampu menangkap objek, berayun, memanjat, melompat, dan bahkan melompat dengan satu kaki.
• Usia 4 sampai 5 tahun, anak usia dini mampu menyeimbangkan dan mengontrol sepeda roda tiga, sudah bisa berpakaian kecuali memasang kancing, dan membenarkan resleting.
Bagaimana peran orang tua dalam membantu perkembang motorik kasar anak usia dini?
• Membantu bayi berjalan dengan cara memegang tangannya, saat sudah bisa duduk ajak bermain dalam posisi tersebut untuk memperkuat perut dan tulang belakang.
• Bermain bola bersama untuk melatih kecakapan dalam menangkap objek.
• Berenang, berdiri dengan satu kaki, bersepeda, menyusun balok.
• Miller (2005) menekankan pentingnya memberikan kesempatan bagi anak untuk berlari, memanjat, dan bermain perosotan di luar rumah, dan menyusun balok berukuran besar untuk pembentukan otot
• Outdoor play juga penting bagi perkembangan motorik anak, untuk mengembangkan kemampuan spatial anak.

  1. Motorik Halus pada Anak Usia Dini (Fine Motoric Skill)

Motorik halus atau fine motor merupakan kemampuan motorik yang melibatkan gerakan yang diatur secara halus, seperti menggenggam mainan, mengancingkan baju atau melakukan hal apapun yang memerlukan keterampilan tangan.

Perkembangan motorik halus pada anak usia dini sesuai dengan usianya.
• Usia 3 bulan, mencoba meraih dan menggenggam objek, memasukkan tangan nya sendiri ke mulut.
• Usia 6 bulan, meraih sesuatu yang diinginkan bayi tersebut, menyentuh sesuatu sebagai bentuk explore terhadap lingkungan sekitar.
• Usia 9 bulan, anak sudah mampu menggenggam mainan dikedua tangannya, dan juga mampu memindahkan dari tangan satu ke tangan lainnya.
• Usia 12 bulan, anak sudah bisa menahan sesuatu dengan jari ibu dan jari telunjuknya, anak sudah bisa menggunakan sendok.
• Usia 18 bulan, anak usia dini sudah bisa mencoret-coret dengan krayon atau pewarna lainnya, sudah mampu meletakkan barang pada suatu tempat, dan juga anak usia dini sudah bisa melepaskan kaos kaki dan sepatu.
• Usia 2 sampai 3 tahun, anak usia dini sudah bisa memutar kunci ataupun obeng, sudah bisa melempar dan menangkap, dan juga sudah mampu makan dan minum secara mandiri.
• Usia 3 sampai 4 tahun, anak usia dini sudah bisa makan tanpa memberantakkan meja ataupun makanannya, sudah bisa memakai pakaian secara mandiri, sudah bisa mewarnai tanpa harus mencorat-coret.
• Usia 4 sampai 5 tahun, anak usia dini mampu menggambar orang, meniru garis dan bentuk, mampu menuliskan sebuah kalimat, dan sudah bisa mewarnai didalam suatu garis-garis.
Bagaimana peran orang tua dalam membantu perkembang motorik halus anak usia dini?
• Orang tua bermain dengan bayi menggunakan rattles (krincingan) atau mainan serupa untuk belajar kemampuan menggenggam objek.
• Bermain puzzle, construction toys dan snap beads atau melalui mainan-mainan kecil seperti mobil-mobil-an, rumah boneka dan sebagainya.
• Membantu anak usia dini pada saat anak menggambar, mewarnai, menulis, melukis jari, atau bermain clay.
• Membantu anak untuk meremas objek tertentu, memutar gagang pintu, dan mengancingkan baju.
• Melibatkan anak usia dini pada aktivitas yang menggunakan jepit pakaian dan semacamnya.
• Melibatkan anak usia dini pada saat kegiatan memasak seperti mengaduk adonan, memasukkan bahan atau memecahkan telur

  1. Isu-Isu Terkait Perkembangan Motorik Anak
    • Perkembangan motorik halus pada anak usia dini merupakan dasar dari penguasaan menulis dan juga sebagai bentuk school success atau keberhasilan bersekolah.
    • Sebelum anak mampu menggunakan peralatan menulis, mereka harus mampu mengontrol otot-otot kecilnya, seperti pergelangan tangan dan juga jari.
    • Kemampuan menulis tidak hanya melibatkan koordinasi otot-otot kecil, tetapi juga persepsi. Anak harus bisa mempersepsikan persamaan dan perbedaan, bentuk dan ukuran, serta arah yang kemudian akan diintegrasikan dengan kemampuan otot untuk menghasilkan tulisan.
    • Gross motor skills atau kemampuan motoric kasar berperan pada perkembangan kompetensi sosial, keterlibatan dalam belajar dan kegiatan sosial (misal olahraga dan permainan) selama di sekolah.
    • Motorik halus memiliki peran yang lebih besar dalam memprediksi prestasi akademik dibandingkan motorik kasar (Grissmer, et al; 2010)

Referensi:
Claire E. Cameron, Elizabeth A. Cottone, William M. Murrah, and David W. Grissmer. (2016). How Are Motor Skills Linked to Children’s School Performance and Academic Achievement?. Child development perspectives, 10(2), 93-98.

3 Likes