[Materi 1] Definisi Semiotika (Bahasa dan Sastra)

1. Definisi Semiotika

Istilah semiotika berasal dari kata Yunani semeion , yang berarti tanda atau dari kata semeiotikos yang berarti teori tanda. Menurut Faul Colbey, kata dasar semiotik dapat pula diambil dari kata seme (Yunani) yang berarti “penafsir tanda”. Sebagai satu cabang keilmuan, semiotik baru berkembang sekitar tahun 1900-an. Istilah semiotik digunakan pada abad XVIII oleh Lambert, seorang filsuf Jerman. Selain Lambert, beberapa ahli yang mempersoalkan tanda ini, yaitu Wilhelm von Humbolt dan Schliercher.

Dalam konteks Eropa dan Amerika modern, ada dua istilah populer yang digunakan untuk menyebut “ilmu” tentang tanda, yaitu semiologi dan semiotik. Bagi para penutur dan lingkungan bangsa Eropa, terutama dalam bahasa dan kebudayaan Prancis, nama semiologi menjadi istilah yang populer, terutama oleh Ferdinand de Saussure. Para penutur bahasa Inggris dan dunia Anglo Saxon, nama semiotik telah menjadi istilah umum. Istilah ini pertama kali terlahir dari buah pemikiran sang filsuf Amerika, Charles Sanders Peirce.

Menurut Ferdinand de Saussure Semiologi adalah ilmu yang mengkaji tanda-tanda dalam masyarakat. Semiologi menjadi bagian dari psikologi sosial dan dengan begitu, psikologi general; saya menamakannya semiologi [dari bahasa latin semeion “tanda”]. Semiologi akan menunjukkan hal-hal yang membangun tanda-tanda, hukum-hukum yang mengaturnya. Ferdinand de Saussure sebagai penggagas semiotika signifikasi mendefinisikan semiotika sebagai ilmu baru yang beranjak dari persoalan tanda, yang mampu menggantikan filsafat dan memayungi berbagai disiplin ilmu yang ada, termasuk kajian bahasa dan budaya. Sementara itu, Charles Sanders Peirce memaknai semiotik sebagai studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya (sintaksis semiotik), hubungan dengan tanda-tanda lain (semantik semiotik), serta pengirim dan penerimanya oleh mereka yang menggunakannya (pragmatik semiotik).