Masa (Kehilangan Cinta)

covermasa

“Abangggg!” suara seorang ibu menggelegar diseluruh penjuru rumah.

Padahal ini malam hari. Walau baru pukul tujuh, tapi tetap saja membuat kebisingan.

“Apa sih bun, teriak-teriak” sahut seorang laki-laki merasa terpanggil. Kira-kira berumur tujuh belas tahun.

Laki-laki itu mendekat ke arah seseorang yang dipanggil nya bunda.

“Ayo makan malam, katanya keburu mau packing” balas bunda nya, menarik kursi untuk sang anak duduk.

“Gapapa besok aku pergi bunda dirumah sendiri?” tanya laki-laki itu lantas duduk di kursi.

“Gapapa lah. Emang bunda anak kecil ga berani di rumah sendiri. Nikmati aja travelling nya, mumpung libur panjang kan” bunda nya menyendokkan nasi lalu menaruh ke piring anak nya. Tak lupa lauk pauk dan sayurnya.

Sang bunda beralih menyendokkan nasi ke piring nya sendiri. Lalu lauk pauk dan sayurnya.

“Cuma 4 hari kok bun”

“Iya iya, udah cepet dimakan” mendengar itu sang anak tersenyum. Lantas beringsut menuju piringnya, mulai makan. Begitu pula sang bunda.

Pagi hari yang cerah, di sambut suara kokokan ayam membuat para penghuni bumi mulai bangun.

Tak terkecuali seorang laki-laki yang sudah siap dengan jaket,celana,sepatu dan juga topi nya. Membuat tubuhnya hangat di pagi yang dingin ini.

Seorang ibu yang sedari subuh tadi sudah bangun, bergegas menuju sang anak.

“Hati-hati ya bang. Jangan lupa sholat, makan, tepat waktu. Jangan neko-neko. Harus baca doa kalau ketempat tempat baru.” ucap sang bunda, menepuk bahu anak nya.

“Iya bun. Bawel ih” jawab laki-laki itu, terkekeh.

“Ini jemput Tania dulu?” tanya bundanya

“Iya. Kan emang tujuan utama nya muncak bareng dia hehe”

“Yaudah, dijaga pacarnya. Anak orang itu”

“Siap, komandan” jawab laki-laki itu dengan senyum lebar. Sang bunda ikut tersenyum.

“Kalau gitu Ikhsan pamit dulu ya bun. Bunda baik-baik dirumah” lanjut nya mengulurkan tangan, salim.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”


Sebelum berangkat menuju tempat janjian nya dengan teman-teman nya, Ikhsan lebih dulu menghampiri Tania, pacarnya, untuk berangkat bersama.

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit dengan motor sportnya, sampailah dia di depan rumah Tania.

Baru saja turun dari motornya, pujaan hati nya sudah keluar dari rumah menyandang ransel dipunggung nya. Dibelakang nya ada ayah dan ibu nya, mungkin hendak melepas kepergian anak nya.

“Titip Tania ya Ikhsan. Kalau rewel tinggal aja disana” ucap ayah Tania, tersenyum ramah.

“Ihh, ayah” balas Tania sok kesal.

“Iya om siap” balas Ikhsan dengan senyum lebar, khasnya.

“Tania sama Ikhsan berangkat dulu ya yah, bu” pamit Tania, menyalami ayah ibu nya. Ikhsan juga.

“Iya hati-hati” balas ibu nya. Ayahnya tersenyum.

“Assalamualaikum” kali ini suara Ikhsan.

“Waalaikumsalam” balas ayah dan ibu Tania bersamaan. Sedangkan Ikhsan mulai melajukan motornya, meninggalkan rumah Tania.


“Nah, akhirnya dateng” ucap Rully, salah satu dari dua belas orang yang ada di situ, melihat kedatangan Ikhsan dan Tania.

Mereka ber-empat belas, termasuk Ikhsan dan Tania hendak melakukan travelling, mendaki Gunung Prau selama empat hari termasuk perjalanan pulang-pergi. Hal ini sebenarnya hanya direncanakan Ikhsan dan Rully plus pasangan masing-masing, di liburan semester ini. Untuk melepas penat katanya. Tapi malah teman-teman nya ikut nimbrung, jadilah total empat belas orang yang melakukan pendakian.

Tak lama setelah mengecek empat belas orang lengkap, mereka mulai melakukan perjalanan dengan menggunakan motor para pria yang ikut. Bak konvoi, anak-anak remaja itu dari Semarang melintasi beberapa kota dengan jalan menanjak, berliku, dan berbelok, sampailah mereka di Gunung Prau.

Setelah memarkirkan motor-motor, mereka lalu berkumpul untuk memanjatkan doa agar diberi kelancaran kemudian memulai pendakian.

Setengah perjalanan, mereka tampak lelah tapi tidak ada yang mengeluh. Mereka resmi mempercayai mitos-mitos yang didengar dari para pendaki berpengalaman. Sehingga enggan untuk mengeluh, barang satu kata saja.

Sepanjang perjalanan mereka yang punya pasangan sibuk memperhatikan pasangan masing-masing tak terkecuali Ikhsan. Sudah puluhan kali dia menawarkan minuman atau makanan ringan kepada Tania, menanyakan apa perlu digendong, apa perlu ke kamar mandi dan semacamnya. Tapi, Tania lebih banyak menggeleng. Melihat sang pacar sebenarnya lelah tapi tidak mau merepotkan, Ikhsan lebih memilih mengajak Tania bercanda, membahas apa saja yang bisa dibahas, supaya Tania tidak terlalu fokus pada lelahnya.

Akhirnya, sampai lah mereka ber-empat belas di puncak Gunung Prau. Sembari para wanita terduduk lelah sambil menikmati pemandangan yang memukau, para pria membangun tenda untuk tempat peristirahatan masing-masing. Setelah selesai membangun tenda, melihat para pria terduduk lelah, para wanita berinisiatif memasak mie untuk mereka semua. Pasti nya mereka lapar.

“Mau kemana?” Ikhsan menahan lengan Tania ketika Tania beranjak berdiri.

“Bantu masak. Gantian cewek yang tugas” balas Tania sambil tersenyum.

“Ga usah. Disini aja nemenin aku” ucap Ikhsan sedikit memelas.

“Nanti ya sayang. Masak dulu sama yang lain” balas Tania masih tersenyum sambil mengusap pipi kekasih nya lalu menuju teman-teman perempuan nya. Ikhsan hanya bisa diam, menerima

Setelah kemarin makan dan menikmati sunset, lalu tertidur dengan sendirinya, subuh hari ini satu per satu dari mereka bangun hendak menikmati sunrise. Tapi ternyata cuaca mendung, sehingga matahari tidak ingin menampakkan wujudnya. Sayang sekali.

“Yah mendung, ga bisa lihat sunrise deh” ucap Rully

“Kalau tiba-tiba huj-”

“Husss, ga usah ngomong yang aneh-aneh” ucap Afif memotong cepat perkataan Doni.

“Tenang aja, tendanya kan anti air. Jadi aman” sahut Ikhsan menenangkan.

“Tapi kalau hujan nya der-”

“Udah, diem” lagi-lagi ucapan Doni terpotong. Toni yang memotong.

Doni mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal. Apa salahnya mengungkapkan kemungkinan.

Selang beberapa menit, hujan benar-benar turun. Cukup lebat.

“Doni sih, pakai ngomong gitu segala” kali ini Sinta, pacar Rully yang protes.

“Eh kok gue” balas Doni tak terima

“Udah-udah ga usah ribut. Ayo cepet masuk tenda” perintah Putra di ikuti semua teman nya, masuk ke tenda.

Jam menunjukan pukul 09.00.

Hujan belum berniat reda, malah semakin membabi buta. Di iringi petir yang menyambar nyambar, perasaan para pendaki dipuncak itu tak karuan. Begitu juga Ikhsan dan teman-teman nya yang ada di tenda pria.

“Kalau hujan nya ga reda-reda, air nya bisa masuk ke tenda. Deres banget” monolog Dava

“Gimana dong ini” tambah Akbar

Semua nya terdiam, sedang berfikir.

“Salah satu mending ke tenda cewe, ngecek keadaan disana” Putra memerintah.

“Gue aja” sahut Ikhsan beranjak ke tenda perempuan.

Tidak seperti tenda laki-laki, tenda perempuan sudah hampir tergenang air seluruhnya. Para perempuan pun memasang wajah khawatir sekaligus bingung.

“Udah tenang, ga usah cemas. Ransel kalian angkat aja, jangan sampai basah” setelah menginterupsi para wanita, Ikhsan keluar, kembali ke tenda pria. Ikhsan pun melapor apa yang terjadi di tenda wanita.

“Kalau gini terus, mending kita turun ke pos, lebih aman” kata Dava

“Iya aman. Perjalanan ke sana nya yang ga aman” sahut Doni setengah jengkel.

“Ya mau gimana lagi. Kalau tendanya banjir, percuma kita ada di tenda” balas Dava

“Kalian juga mikir dong ini gimana. Jangan diem aja” Dava sewot.

“Kita diem juga sambil mikir kali. Jangan nyolot lo” balas Rully ikut sewot.

“Udah-udah, kenapa malah pada ngegas sih” ucap Putra menengahi.

“Gue setuju sama Dava. Pos dibawah adalah pilihan terbaik untuk situasi ini. Perjalan kesana emang ga aman, tapi kita bisa hati-hati sambil jagain cewe-cewe. Banyak yang udah pengalaman ndaki kan disini” ucap Toni. Yang lain terdiam.

Mereka pun memutuskan untuk turun ke pos bawah puncak. Dengan berpegangan tangan dan hati-hati yang ekstra, mereka mulai meninggalkan puncak.

Dibawah hujan lebat serta petir yang menyambar, Tuhan melaksanakan salah satu takdir umatnya.

Jalur pendakian menjadi ekstra licin dan sulit di lalui daripada biasa nya. Para remaja itu sangat berhati-hati untuk turun dari puncak sambil menjaga satu sama lain.

Tiba-tiba,

Srettt

“Aww” Tania terpeleset, berada di tepi tebing.

“Tania, yaampun” Ikhsan hendak menolong Tania untuk berdiri. Tapi, batu ditebing yang dipijak Tania itu malah hancur, tidak kuat menahan.

“Pegangan Tan” Ikhsan berusaha menahan tangan kanan Tania. Tubuhnya saat ini tergelantung di tebing dengan tangan kirinya memegang apa saja yang masih bisa di pegang.

Yang lain bingung harus bagaimana. Disisi lain jalur itu hanya cukup untuk dua orang. Jadi yang lain hanya bisa mendoakan dan melihat Tania dan Ikhsan.

“Tarik yang kenceng San” teriak Putra yang ada di bawahnya.

Ikhsan semakin gugup. Tangan nya bergetar hebat.

“San, aku udah ga kuat, tolong” ucap Tania lirih tapi masih dapat di dengar Ikhsan.

“Bertahan Tan” kali ini air mata Ikhsan menetes. Untung saja sedang hujan sehingga air mata nya tersamarkan. Di samping itu dia sekuat tenaga menarik Tania.

“Aku ga kuat San” Tania melepaskan pegangan nya dari tangan Ikhsan. Tania jatuh kejurang.

“Taniaa”

“Yaampun Tania”

“Tania astaga. Cepet ada yang ke bawah minta pertolongan” ucap Rani, pacar Putra. Sedangkan yang lain terkejut lalu mereka segera mendekati Ikhsan. Putra dan Dava turun kebawah untuk meminta pertolongan.

Ikhsan yang melihat itu tak kuat menahan tubuhnya. Dia jatuh terduduk. Tubuhnya bergetar hebat.

“Tania” ucapnya lirih. Air mata menetes deras di pipinya.

“Udah San tenang dulu. Kita turun ke pos bawah dulu. Hujan nya masih deres” kata Afif hendak membantu Ikhsan berdiri. Ikhsan hanya menurut. Afif dapat merasakan tubuh Ikhsan masih bergetar hebat. Malangnya pria ini.


Hujan sudah reda. Hanya gerimis yang menyelimuti isi semesta.

Karena kejadian Tania tadi, Ikhsan dan teman-teman nya memutuskan pulang lebih cepat dari rencana. Mereka sudah meminta pertolongan untuk Tania, tapi kata nya Tania tidak bisa langsung di temukan mengingat curam nya tebing di gunung itu. Butuh dua sampai tiga hari mungkin.

Setelah menuntaskan urusan disana, mereka kembali ke semarang dengan perasaan berduka, apalagi Ikhsan. Sepanjang perjalanan Ikhsan hanya diam, masih dengan air mata yang menetes. Kali ini Ikhsan dibonceng Afif karena tidak mungkin Ikhsan membawa motor sendiri dalam keadaan seperti itu. Ikhsan pasrah.


Jam 15.00

Tok tok tok

Bunda Ikhsan yang sedang menonton sinetron bergegas membuka pintu. Di lihatnya anak semata wayang nya dengan keadaan kacau.

“Masuk dulu bang” Ikhsan masuk. Bunda nya membantu melepas sepatu dan ransel nya, menaruh di samping sofa kemudian menyuruh Ikhsan duduk.

Ikhsan menunduk, tapi tidak lagi menangis.

“Tania bun” ucap Ikhsan lirih.

Bunda nya diam, nenunggu anak nya melanjutkan kata-katanya.

“Tania jatuh ke jurang bun. Belum ditemukan sampai sekarang” nafas Ikhsan tercekat. Dada nya sesak.

Bunda nya jelas terkejut, ingin menangis tapi di tahan. Bunda nya lantas mengusap punggung Ikhsan.

“Sekarang abang mandi dulu, terus makan. Tenangin diri nya dulu. Tania insyaallah baik-baik aja” Ikhsan menuruti bundanya. Dia masuk ke kamarnya.

Dua hari kemudian.

Sudah dua hari berlalu. Dua hari itu juga, Ikhsan hanya mengurung diri di kamar. Teman-teman nya juga bergantian datang untuk menghiburnya. Tapi hanya reaksi datar yang diberikan Ikhsan. Tersenyum pum tidak. Pikirannya masih kalut memikirkan Tania. Dia tidak akan siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Tania dan Ikhsan berpacaran sejak mereka kelas dua SMA. Terhitung hampir satu tahun mereka pacaran. Mendaki kemarin sebenarnya hadiah dari Ikhsan untuk anniversery mereka yang ke satu tahun. Tapi malah hal yang tidak diinginkan terjadi.

Tok tok tok.

Suara ketukan dari luar kamar Ikhsan. Bundanya masuk.

“Makan dulu bang. Habis ini kerumah Tania” kata bundanya duduk di tepi ranjang sambil membawa nampan berisi makanan.

“Tania?” respon Ikhsan mengubah posisinya yang pada awalnya memunggungi bundanya.

Bundanya mengangguk, tapi sorot mata kesedihan terpancar, mengisyaratkan sesuatu.

Ikhsan kemudian dengan lahap memakan makanan yang di bawa bundanya. Kemudian bergegas mandi dan berganti baju. Dia bersemangat ke Rumah Tania tapi tak menghilangkan raut sedih di wajahnya.

Sampailah Ikhsan dan bunda nya di Rumah Tania. Disana juga ada beberapa teman nya.Bendera hitam terpajang di depan Rumah Tania. Perasaan Ikhsan tidak enak.

Ikhsan bergegas masuk ke dalam Rumah Tania. Setelah menyalami ayah dan ibu Tania, tatapan Ikhsan beralih ke tubuh yang terbujur kaku di hadapan orang-orang yang menangis. Ikhsan menghampiri jasad itu perlahan, seiring air matanya menetes. Lidahnya kelu, dadanya sesak.

“Tania” ucap Ikhsan lirih.

“Kenapa tidur disini Tan”

“Bangun Tan, udah dua hari kita ga ketemu. Aku rindu”

“Kamu nyusul ayahku ya? Seharusnya jangan Tan” bunda nya terisak mendengar itu.

“Kenapa aku harus kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya? Kenapa dunia ini begitu kejam?”

“Jangan pergi Tan, aku mohon”

Ikhsan terduduk tak mampu menahan tangisnya. Di depan nya, pujaan hati yang selama ini mengisi indah hari-hari nya, telah berpulang ke pangkuan Tuhan.

Ikhsan menangis sejadi jadinya, memeluk Tania. Orang tua Tania dan bundanya Ikhsan juga ikut meneteskan air mata melihat betapa rapuhnya remaja di hadapan nya. Begitupun teman- teman nya yang melihat.

Begitulah kehidupan.

Ketika seorang insan bertemu, mereka juga harus siap berpisah. Dan perpisahan paling menyakitkan adalah kematian.

Tuhan maha membolak balik kan hati. Dia dapat dengan cepat membuat orang jatuh hati, dan dapat dengan cepat pula membuat orang patah hati. Mencintai yang sesungguh nya adalah ketika kita bisa merelakan orang itu pergi. Baik itu sementara ataupun selamanya. Merelakan segala perasaan yang pernah singgah di hati dengan hati-hati. Dan yang terpenting, menerima segala takdir yang terjadi dengan sepenuh hati serta tidak berlarut dalam kesedihan yang mendalam.

-End-