Mamut menteng ureh mameh

Dayak

Slogan ini adalah slogan zaman dahulu orang dayak ngaju, arti harfiahnya ialah:
mamut menteng bisa diterjemahkan pemberani / gagah perkasa, kalau ureh artinya cekatan dan nekat sedangkan mameh arti harfiahnya ialah bodoh yang berarti kadang kurang perhitungan tidak mikir kedepan.

Dahulu memang orang dayak dikenal beberapa kali menenggelamkan kapal-kapal pedagang cina dan menjarahnya(ada sejarahnya memang pernah ada ketidak sukaan orang-orang dayak dengan orang china pada zaman dahulu – nanti kita akan bahas pada tulisan lain), beberapa juga menjadi perompak misal dayak laut/dayak iban beberapa dikenal sebagai perompak kenamaan. Dari semua sub suku dayak ada satu yang menjadi benang merah adalah yang paling utama “Keberanian dan Gagah Perkasanya” ini dapat dilihat dari beberap budaya kayau – memenggal kepala musuh sebagi bentuk kesaktian dan kehebatan orang tersebut (walau ada beberapa tujuan lain missal ritual – kita akan bahas lain kali juga).

Dalam catatan kapten David Beeckman – pedagang inggris pada abad ke-17 ia menuliskan deskripsi tentang orang biaju – dayak ngaju sebagai orang yang memiliki postur tubuh tinggi, kekar, garang dan pemalas. Tapi patut diingat bahwa kapten beeckman hanya bertemu dalam waktu yang singkat dengan orang-orang dayak – pada masa itu perdagangan dikalimantan Tengah/Selatan dimonopoli orang orang-orang banjar. Orang-orang dayak tidak dapat berdagang secara langsung dengan pedagang eropa/china – para pedagang banjar akan membeli barang-barang dari orang dayak dengan harga murah, kemudian menjualkannya dengan harga tinggi kepada pedagang-pedagang eropa. Disamping itu orang-orang banjar pada abad itu sering menceritakan kebarbaran suku dayak sehingga tidak ada penjelajah luar yang berani masuk kepedalaman Kalimantan Tengah. Ini juga mengapa pada masa itu orang-orang ngaju umumnya hanya mampu menggunakan “upak nyamu” kulit kayu sebagai baju karena terisolirnya daerah-daerah dipedalaman Kalimantan dan dimonopolinya perdagangan dengan dunia luar. Ini pada akhirnya memicu peperangan antara Dayak Ngaju dan Banjar pada abad ke -17 setelah sultan banjar mengenakan pajak kepada orang-orang dayak.