Lulus kuliah tepat waktu bisa dipengaruhi beberapa hal, bagaimana jika ada hal eksternal yang menjadikan masa kelulusan harus diundur?

Untuk sebagian orang lulus kuliah tepat waktu adalah impian, entah karena agar segera bisa bekerja bahkan untuk meringankan beban orang tua agar tidak membiayai lagi. Tapi bagaimana jika diri sudah berusaha maksimal untuk bisa lulus secepatnya namun eksternal mempengaruhi keterlambatan kelulusan? Sedih sih pasti karena target tidak sesuai dengan yang direncanakan, tapi mau bagaimana lagi. Menurutmu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara healing agar tidak terlalu terpuruk?
2 Likes

Pasti sih semua orang ingin target yang dibuat tercapai, tapi pasti untuk meraih target tersebut akan ada banyak kendala salah satunya faktor eksternal. Entah mulai dari dosen, lingkungan sekitar, keluarga dll. Tapi percayalah pasti Tuhan memiliki rencana terbaiknya untuk dirimu, yang terpenting saat ini tetap berusaha dan jangan putus asa. Kalau toh capek ya istirahat, jangan paksakan diri. Sesekali beri istirahat dirimu agar tidak berpengaruh pada kesehatan maupun psikismu.

Nah kalau ini sih aku boleh saran mungkin bisa dengan melakukan hal-hal yang kamu sukai dan mungkin menjadi hobbymu. Mungkin jalan-jalan, shooping, bermain game online dan hal-hal lain yang dapat menenagkan diri. Tapi jangan sekali-kali hal tersebut dijadikan alasan untuk bermalas-malasan lagi.

Faktor intenal dan eksternal akan selalu ada ketika kita melakukan sesuatu. Yang harus kita yakini adalah ada hal-hal yang masih bisa kuasai, dan ada hal hal yang tidak bisa kita kuasai. Hal yang bisa kuasai adalah seperti memiliki deadline dan target sendiri, kemudian berusaha untuk bimbingan dengan dosen pembimbing, berusaha untuk mengerjakan skripsi sesuai dengan target. Kita seharusnya fokus dalam pengoptimalan hal-hal yang bisa kita lakukan.

Adapun hal-hal eksternal adalah di luar kuasa kita, kita hanya bisa menyusun strategi untuk mensolusikannya dan menerimanya sebagaimana takdir. Dan selalu tanamkan kata2 ini pada diri kita masing-asing

Sebagai manusia kita harus senantiasa memiliki plan a , plan b, dan plan-plan yang lain, agar terbiasa untuk mensolusikan segala permasalahan yang ada. Tidak perlu paik dan akhirnya menyerah, karena semua itu tidak akan ada gunanya. Istirahat boleh, namun menyerah jangan

Karena ada “faktor eksternal”, terkadang orang-orang sering menisbatkan suatu kesalahan pada “faktor eksternal”. Sehingga usaha yang seharusnya bisa dioptimalkan malah menjadi tidak optimal dengan dalih “karena faktor eksternal”. Faktor eksternal pun sebenarnya bisa kita selesaikan dengan cara kita, dengan kita berusaha untuk meminimalisir hal-hal yang tidak kita inginkan.

Misalnya, belum bisa lulus tepat waktu karena harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Sebenarnya apabila dimanage waktu sehari-hari kita, masih bisa kok dikerjakan skripsinya. Entah itu memang harus mengorbankan jam istirahat atau waktu yang lain. Hal yang seperti ini namanya mengoptimalkan waktu dengan baik. Sayangnya, kita sering beralasan bahwa tidak ada waktu, padahal yang meghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat adalah kita sendiri.

Memang sih pasti akan ada faktor eksternal dan internal, namun bagaimana jika internal sudah semaksimal mungkin tapi ternyata faktor eksternal menjadi penghalang terberat?

Alangkah baiknya kedua faktor tersebut harus sama-sama seimbang berjalan beriringan dan saling mengerti. Ada seseorang yang pernah bilang, terkadang tugas akhir itu tergantung dengan dosen. Hal utama adalah ada ditangan dosen, sekeras apapun usaha kita kalau kurang adanya waktu yang diluangkan oleh dosen pasti juga akan mengecewakan.

Hal ini persis seperti yang saya alami. Saya sudah merencanakan timeline penelitian saya dan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan seperti mengirimkan aplikasi research student ke beberapa perusahaan yang mengakomodasi minat penelitian saya. Awalnya semua tampak berjalan sesuai rencana. Aplikasi saya diterima oleh sebuah perusahaan, saya mendapatkan pembimbing perusahaan dan sudah pergi ke Jakarta untuk memulai. Tapi ternyata baru hari pertama masuk ke kantor, perusahaan mengumumkan research student untuk sementara divakumkan karena adanya pandemi. Saat itu saya berpikir kondisi ini akan berlangsung sementara waktu, tapi ternyata terus berlanjut. Saya menghadapi dilema untuk lanjut atau berhenti dari perusahaan tersebut. Tapi saya tau perusahaan yang lain juga menerapkan protokol yang sama. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menunggu sambil mengerjakan pekerjaan lainnya. Karena hal ini, penelitian saya mundur satu tahun dari rencana.

Pasti ada perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan saat rencana kita terhambat. Tapi perlu disadari, kita harus menerima bahwa ada hal-hal yang berada di luar kontrol kita. Mau perasaan kita buruk atau tidak, hal itu tetap terjadi. Yang ada di bawah kendali kita adalah sikap yang kita pilih untuk menghadapi. Dalam kejadian-kejadian semacam ini saya memutuskan untuk melihat sisi baiknya. Mungkin saya diberi kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain, entah itu di luar atau di dalam diri saya, yang tidak akan saya pelajari dengan cara yang sama kalau rencana saya berjalan sempurna sesuai mau saya. Saya berpikir, saya tidak akan merugikan diri saya dua kali. Kalau sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak, setidaknya saya memanfaatkan pengalaman itu alih-alih sibuk menyesal dan malah melewatkan semuanya.

Menurutku sederhana. Usahakan sebaik mungkin apa yang bisa diusahakan. Tidak ada alasan sedih berlama-lama dan menyalahkan diri kalau kita sudah berusaha semaksimalnya. Selebihnya tinggal berdoa dan menyerahkan pada Tuhan. Kita harus percaya rencanaNya yang paling baik.