Lukisan "Giring Angin" karya Bagong Kussudiardja

Lukisan “Giring Angin” karya Bagong Kussudiardja

image

Lukisan Giring Angin merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Bagong Kussudiardja. Dibuat pada tahun 1986 dengan menggunakan media Acrylic On Canvas serta berukuran 74 cm x 74 cm.

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, impressionisme dan realisme. Dengan teknik melukis menggunakan bahan cat akrilik di atas kanvas.

Imajinasi yang total merupakan pegangan kreasi dalam lukisan ini, yang kemudian terjelma dalam susunan warna yang jernih. Dengan aksentuasi bentuk dan garis yang kuat. Dalam bahasa visual, semua bentuk yang dihadirkan pelukis dapat dibaca dengan berbagai tingkatan penafsiran.

Makna Lukisan Secara Global

Almarhum Bagong Kussudiardja tidak hanya dikenal dan terkenal sebagai seniman tari, namun ia adalah seniman yang memiliki banyak talenta, selain menari ia juga melukis. Di samping multi talenta, ia juga memiliki energi yang besar yang dapat meledak kapan saja dan ledakan itu mewujud dalam karya-karyanya.

Bagong merupakan pelukis yang produktif dengan karakter yang kuat. ia lebih dikenal dengan lukisan batik cat minyak dan cat airnya. Semua lukisannya mencitrakan aspek mitos dan mistik dari kultur Jawa, pemandangan dan tentu saja tari Bali dalam guratannya yang penuh warna.

Karyanya penuh spirit dan sarat dinamika gerak. Pameran telah dilakukannya ratusan kali baik di Indonesia maupun di luar negeri. Ia juga telah banyak menerima penghargaan, salah satunya berupa Medali Emas dari Paus Paulus II untuk lukisannya yang menggambarkan Yesus dalam cita rasa Indonesia dan Medali Emas dari Pemerintah Bangladesh untuk karya lukis abstaraknya yang dipamerkan dalam pameran seniman Asia-Pasifik di Kota Dakka.

Tanpa kecerdasan sosial, tidak terbayangkan seorang Bagong Kussudiardja memiliki kiprah yang begitu luas, menembus batas sekat: agama, birokrasi dan kekuasaan. Sepanjang 76 tahun kehadirannya di dunia, lebih dari separuh usia Bagong didedikasikan untuk dunia seni dengan seluruh virtousitasnya, dengan kesadaran ulang-alik antara yang profan dan yang religius, yang berujung pada sikap sumeleh sebagai penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.

Sumber: