Lekas sembuh bumiku kami membutuhkanmu

Pukul sebelas siang aku bersama temanku hendak pergi kesuatu perkampungan yang terletak dipinggiran perkotaan dan tidak jauh dari tempat tinggalku. Dari awal tujuan kami memang ingin pergi ke area persawahan sebelum berangkat kesana kami menjemput seorang anak kecil ia bernama “Lili” merupakan salah satu cucu dari seorang petani disana. Hari itu udara kota panasnya bisa membuat kulit terasa terbakar,tetapi sesampai disana hal ini terbayarkan betapa cantiknya warna hijau kekuningan persawahan tersebut ditambah lagi indahnya langit biru serta burung burung beterbangan yang menghiasi pemandangan ini. Kulihat layar ponsel terik matahari siang itu sekitar 33 derajat celcius, meski panas tidak membuat para petani patah semangat dalam menanam padi.

Ditengah terik matahari, terlihat seorang nenek tua bersama suaminya sedang istirahat sejenak lalu lili berkata pada temanku “ Kak itu nenek ayo kesana,” ucap lili.
Kami pun menghampiri nenek tersebut dan nenek tersebut tampak kaget melihat cucu kecilnya menghampiri ia sendirian tanpa didampingi ibunya.

“Lili sama siapa kesini” ujar sang nenek.

“Sama kakak itu nek” jawab lili sambil menunjuk aku dan temanku.

“Oh kalian, ada apa perlu kemari? “ ucap sang nenek.

“Kami hanya ingin melihat sawah dan ingin mengobrol sedikit tentang sawah ini nek” balasku sambil tersenyum.

“ Oh baiklah nak,” balasnya santai

Nenek Amra ia berumur enam puluh dua tahun merupakan warga setempat yang berprofesi sebagai petani, ia menjadi seorang petani telah dua puluh tahun lamanya bersama sang suami dan ia mengelolah lahan sawahnya tanpa bantuan orang lain.
Sang nenek berangkat dari rumah mulai pukul setengah tujuh pagi, pada pukul dua belas siang hingga pukul satu ialah jam istirahat.

“ Nek, disini sampe jam berapa?”, Tanyaku pada nenek

“ Ya sampai jam enam sore, dari pagi sampai petang disini” ujar nenek.

“ Apa, untuk tahun ini sudah ada panen? , ujarku

“ Untuk tahun ini sekitar lima bulan lalu telah panen , dan sekarang aktivitas para petani disini mulai menanam padi yang baru ” jawab nenek

“ Lahan yang nenek kelola apa milik sendiri atau orang lain?”, tanyaku lagi

“ Lahan ini milik keluarga kami sendiri” balas nenek

“ Apa setiap hari nenek kesawah mulai dari pagi?”Tanyaku sekali lagi.

“ Iya, namun semenjak adanya larangan bekerja diluar rumah semuanya dihentikan sementara waktu dan aktivitas berjalan kembali setelah beberapa minggu yang lalu baru diperbolehkan lagi” ungkap sang nenek.

Covid- 19 atau dikenal virus Corona ditemukan pertama kali dikota Wuhan, China pada akhir Desember 2019 dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan dan dapat menular ke semua orang, maka dari itu untuk mencegah penularan Covid-19 semua aktivitas diberhentikan sementara mulai dari sekolah, pekerjaan dialihkan ke sistem online bahkan banyaknya para pekerja yang di PHK dari tempat kerjanya, sehingga menimbulkan semakin banyaknya masyarakat menganggur.

“ Pemasukan keluarga nenek sekali panen bisa berapa?” kataku

“ Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, tetapi saat pandemi ini semuanya menjadi terhambat” jawabnya.

Ditengah ancaman meningkatnya penyebaran virus corona membuat berbagai sektor mengalami kesulitan dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk para petani. Nenek menceritakan bahwa pendapatan yang dihasilkan pada sebelum pandemi tidakla banyak, tetapi masih bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan namun ketika pandemi Covid- 19 melanda pemasukan yang diterima hanya sedikit dan simpanan mereka semakin hari menipis.

“ Semenjak virus Corona pendapatan kami semakin kecil, ditambah lagi tidak boleh bekerja jadi tidak ada penghasilan” Ucap sang nenek sambil menghela napas.

“Selain dari petani, nenek ada pekerjaan lain?” tanyaku

“ Tidak, pekerjaan kami hanya sebagai petani saja tapi kami mencoba aktivitas lain agar tidak terpuruk dalam keadaan ini, dalam keadaan pandemi kami ” jawab nenek

Selama pandemi melanda membuat nenek Amra dan suaminya hanya bisa berdiam diri dirumah, walaupun dianjurkan oleh pemerintah untuk berdiam diri dirumah keluarga nenek amra mencari pekerjaan lain yang bisa dilakukan dari rumah, seperti berjualan bahan pangan didepan rumahnya meskipun tidak banyak tetapi bisa mencukupi keluarga. Nenek amra tidak ingin bergantung kepada anaknya karena ia berpikir disaat pandemi tidak bisa bergantung hidup kepada anaknya.

Dampak dari virus corona tersebut menyebabkan terjadinya kendala para petani yang seharusnya bisa panen lebih banyak namun tertunda. Demi memenuhi kebutuhan bahan pangan mereka harus berjuang demi melawan sengsara sembari berusaha menjaga otonomi pangan ditengah pademi Covid-19. Hasil jual petani berkurang, dikarenakan minat masyarakat daya belinya menurun membuat para petani turun langsung menjual hasil panen ke warga secara eceran.

“ Karena daya beli menurun mau tidak mau kami menjualnya dengan harga eceran kepada warga” kata sang nenek

“ Apa untuk pemanenan sendiri masih menggunakan cara tradisional atau menggunakan alat pertanian” tanyaku

“Untuk pemanenan padi diderah ini dilakukan dengan menggunakan alat pertanian namun tidak semuanya menggunakan alat teknologi itu terkadang juga memakai cara tradisional” ucap sang nenek

Aku salut dengan para petani betapa gigihnya usaha mereka yang telah rela berpanasan demi untuk mencukupi kebutuhan agar kehidupan mereka membaik serta usaha mereka lakukan juga untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat lainnya. Dan aku mengamati para petani yang sedang membersikan rumput rumput liar yang menyerang padinya terlintas dipikiranku apakah pihak pemerintah memberi subsidi kepada mereka secara rata lalu aku bertanya kepada nenek amra.

“ Subsidi dari pemerintah memang ada tetapi tidak semua petani yang mendapatkan benih baru” ucap nenek

Nenek berkata ia telah mengajukan bantuan lagi kepada pemerintah agar mereka mendapatkan benih baru, tapi sampai saat ini belum ada kabar dari pemerintah walaupun ada belum tentu ia dapat bantuan itu. Nenek amra juga mengatakan bahwa untuk menyelamatkan bahan pangan tidak harus mengadalkan bantuan pemerintah, bahkan dana bantuan hanya diberikan berkisar 20%.

“ Nenek beserta para petani lainnya berharap corona cepat berlalu sehingga semuanya bisa kembali normal, agar para petani bisa menghasilkan panen lebih banyak lalu perekonomian negara dengan seiring berjalannya waktu bisa membaik meski membutuhkan waktu lama” ucap nenek.

Petani padi saat ini dihadapkan pada turunnya hasil panen akibat serangan dan penyakit. Permasalahan utama yang dihadapi oleh para petani sekarang ialah susahnya menjual dengan harga yang wajar. Beban petani semakin berat dikarenakan adanya kenaikan harga pupuk dan lainnya. Hal terpenting ialah jaminan kesejahteraan petani pemerintah agar suplai pangan tak terganggu ditengah pandemi. Karena ditangan gigih merekalah kebutuhan kita terpenuhi.
Maka dari itu kita semua umat manusia tetap berdoa dan menjalankan ibadah yang dimana kita memohon agar pandemi virus Covid-19 berlalu sehingga keadaan bisa kembali seperti biasanya

“ Lekas sembuh bumiku kami sangat membutuhkan mu “. Dan tetap menjaga kesehatan sesuai prosedur ditetapkan.

10 Likes