Legenda Rare Angon

Dikisahkan ada seorang anak lelaki bernama I Rare Angon. Diberi nama I Rare Angon, yang mana dalam bahasa Bali, Rare berarti anak dan Angon berarti penggembala karena setiap pulang dari sekolah ia selalu menggembalakan hewan peliharaannya, seperti sapi, kerbau, kuda, dan kambing yang sudah bersamanya sejak ia sangat kecil. Agar tidak bosan selama menggembalakan hewan ternaknya yang tengah asyik memakan rumput, I Rare Angon mengisi waktu luang dengan menggambar di tanah ketika ia lupa membawa buku gambar kesayangannya.

Sepulang dari sekolah, I Rare Angon tidak pernah lupa dengan pekerjaan yang telah ditugaskan orang tuanya. Begitu pula ia tidak pernah lupa kewajibannya sebagai seorang siswa, yang tak pernah berhenti belajar. Tas yang penuh dengan buku pelajaran pun mengisi hari-harinya saat menggembalakan hewan ternaknya. Saat telah merasa bosan membaca, agar mengusir rasa kantuknya, Rare Angon melanjutkan aktivitasnya dengan menggambar. Kemampuannya amat lihat, dari menggambar wayang, pemandangan, wujud 3 dimensi, dan masih banyak lagi gambaran yang membuat teman-temannya takjub.

Kala senja kian merayap langit, sembari menemani sapinya yang tengah bermain ria, Rare Angon terbawa akan keinginannya menggambar sesosok perempuan di tanah. Dengan segenggam kapur, perempuan cantik itu telah usai digambarnya. Ia pandangi lagi gambar yang ia buat. “Ya Tuhan cantik sekali gambar perempuan ini, jadi enggan aku mengusapnya,” pikir Rare Angon. Gambar wanita cantik itupun ia beri nama Ni Lubang Kuri.

Ia pun berlalu, meninggalkan gambaran itu dan membawa sapinya kembali ke kandang dekat rumahnya. Hari berganti hari, diceritakan Sang Raja tengah berburu burung kecil di sawah. Raja itu pun amat riang menikmati indahnya sawah dan keasrian alam lainnya. Perjalanannya pun terbawa pada tempat biasa Rare Angon menggembalakan sapi sembari menggambar. Alangkah takjubnya Sang Raja tatkala melihat gambar perempuan cantik di tanah yang berasal dari goresan tangan Rare Angon. Dengan cekatan Sang Raja menghampiri gerombolan anak kecil yang tengah bermain dan bertanya, “Anak-anak, tahukah kalian siapa yang membuat gambaran ini? Salah satu anak pun menjawab, “Rare Angon yang mulia, yang sering menggembalakan sapinya di sekitar sini.”

Belum lama anak itu menyebut nama Rare Angon, tiba-tiba muncul Rare Angon bersama hewan gembalanya. “Nah ini dia Rare Angon,” seru anak kecil itu. Lantas tanpa basa-basi Raja kembali bertanya. “Rare Angon, apakah benar kamu yang menggambar perempuan cantik?” Rare Angon pun menjawab mantap, “Iya yang mulia.”

Raja yang penasaran kembali bertanya. “Dimana kamu menemui perempuan ini? Ayo katakanlah padaku!,” desak Raja. Rare Angon pun menjawab mantap bahwa dirinya sama sekali tak pernah menemui perempuan yang ia gambar. “Maaf tuanku, hamba tidak pernah menemui perempuan yang saya gambar,” jelasnya.

Raut wajah masam pun menghiasi semu Sang Raja. Ia masih tak percaya penuturan Rare Angon, semburat goresan nama ‘Ni Lubang Kuri’ adalah nama karangan Rare Angon saja, dan Raja masih tak percaya. Raja yang tak sabaran itu pun mengancam Rare Angon untuk mencari Ni Lubang Kuri, jika bocah penggembala tak bisa menemukan Ni Lubang Kuri, nyawa Rare Angon adalah taruhannya.

Seketika itu juga rasa takut menyelimuti Rare Angon, air mata pun menetes membasahi wajahnya yang manis. Perjalanan pulang ke rumah pun tak seindah hari-hari kemarin, kelabu menyelimuti sepanjang perjalanan. Tak terasa, langkah kakinya telah sampai pada gubuk kecil nan sederhana, yang tak lain adalah rumah Rare Angon. “Kenapa kau menangis anakku?” tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunda Rare Angon. Rare Angon semakin terisak, ia bergegas memeluk erat ibunya. Ia pun menjelaskan segala biduk perkara yang ia alami bersama Sang Raja, bahwa dirinya harus mendapatkan Ni Lubang Kuri yang hanya sebuah gambaran saja. Ibu Rare Angon pun tak kuasa menahan tangis, anaknya yang teramat rajin dan disayanginya, Rare Angon nyawanya terancam hanya karena keegoisan Sang Raja. Kala itu, senja di gubuk tua hanya dipenuhi tangis kelabu.

Malam pun datang, tangis terhenti namun bayang ketakutan masih menyelimuti Rare Angon. Kedua matanya pun terasa lelah, tak terasa Ia pun terlelap dan mulai memasuki bunga tidur. Dalam mimpinya, Rare Angon berjumpa dengan Ida Bhatara dan bersabda. “Rare Angon anakku, janganlah kau bersedih, ikutilah arah timur laut dari jalanan rumahmu, disanalah kamu akan menemukan Lubang Kuri!” Hanya itu saja pesan yang ia dapatkan dan Rare Angon pun terbangun dari mimpinya.

Pagi pagi sekali, Ibunda Rare Angon telah terbangun menyiapkan bekal makanan untuk Rare Angon. Rare Angon pun sudah siap dengan tas anyaman kecil yang berisi perlengkapan secukupnya dan bekal dari ibu tercinta. Pelukan pun melepas kepergian Rare Angon untuk berjumpa dengan perempuan itu, iya Ni Lubang Kuri. Perjalanan terasa berat dan melelahkan. Rimbunnya hutan, derasnya aliran sungai, terjalnya bukit, dan tak terasa malam pun tiba. Rare Angon berjumpa dengan seorang pendeta sakti bernama Jero Dukuh yang tinggal bersama anak perempuannya. Jero Dukuh pun memberikan kabar mengejutkan bahwa benar adanya keberadaan Ni Lubang Kuri di arah timur laut dekat pegunungan. Berbagai jimat sakti dibekali Jero Dukuh untuk menemani perjalanan Rare Angon.

Tak mudah menemukan Ni Lubang Kuri, pertempuran sengit pun dilakukan untuk mengalahkan para raksasa dan hewan buas yang menjaga Ni Lubang Kuri. Ia pun sampai dan membawa perempuan cantik itu ke istana Sang Raja. Seketika itu juga Sang Raja amat riang, namun ketamakannya membuat ia ingin melenyapkan Rare Angon dan kembali menyuruh penggembala muda itu untuk pergi ke hutan membawakan macan, naga, dan lebah raja. Rare Angon tak bergeming, namun ancaman pembunuhan membuatnya tergesa-gesa pergi ke hutan untuk memenuhi permintaan Sang Raja.

Rare Angon berhasil memenuhi segala permintaan Sang Raja, setibanya di istana macan, naga, dan lebah itu pun mengamuk dan menghabisi Sang Raja yang egois dan tamak itu. Hingga pada akhirnya, seluruh rakyat meminta Rare Angon untuk memimpin kerajaan. Sejak Rare Angon memerintah, tak pernah ada kekacauan yang terdengar dan semuanya hidup dengan damai dan tenang. Ditemani Ni Lubang Kuri sebagai permaisurinya, kebahagiaan Rare Angon dan keluarga pun lengkap.
melayangan

Saat ini, masyarakat di Bali percaya bahwa Rare Angon merupakan sosok yang akrab dalam tradisi di Bali utamanya dalam Tradisi Melayangan (Bermain Layang-layang) yang khusus dilaksanakan setiap bulan Juni hingga Agustus. Semangat Rare Angon dan kebaikannya tertuang dalam Lontar Rare Angon yang dilukiskan sebagai Dewa Anak-anak.

1 Like