Legenda Kebo Iwa: Asal Usul Danau dan Gunung Batur

Alkisah, di sebuah desa di Bali hiduplah sepasang suami istri yang rukun dan kaya raya. Walaupun memiliki harta yang melimpah, tak lantas membuat mereka memiliki hidup yang sempurna dan bahagia. Kebahagiaan mereka belum lengkap karena setelah lama menikah, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Bagi masyarakat Bali pada masa itu, siapa yang belum mempunyai keturunan maka termasuk manusia yang hidupnya sia-sia.

Suami istri itu tak mau menyerah pada keadaan. Oleh karena itu, setiap hari mereka pergi ke pura untuk berdoa agar dikaruniai seorang anak kepada Dewa Sang Hyang Widi.

“Dewa Yang Agung, tolong berilah kami seorang anak. Dan akan lebih baiknya jika seorang putra agar bisa meneruskan keluarga ini,” pinta mereka.

Setiap hari, tanpa merasa lelah dan putus asa, mereka terus mengulang-ulang permohononannya kepada Dewa.

Setelah berdoa sekian lama, akhirnya sang istri pun hamil. Betapa bahagianya mereka, ketika permohonannya dikabulkan. Tak lupa mereka pun mengucapkan syukur kepada Dewa. Namun, kebahagiaan mereka tak sampai di situ. Setelah mengandung selama 9 bulan, kebahagiaan mereka bertambah ketika anak yang dilahirkan adalah seorang laki-laki, sesuai dengan harapan mereka.

Namun terdapat keanehan pada bayi laki-laki itu. Si bayi tumbuh dengan sangat pesat dan memiliki nafsu makan yang sangat besar. Meski masih bayi, kebutuhan makannya sudah setara dengan porsi 10 orang dewasa. Ia pun diberi nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau. Seiring bergulirnya waktu, Kebo Iwa beranjak dewasa dan tubuhnya makin bertambah besar. Ukuran tubuhya sangat besar dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Selain itu, nafsu makannya pun semakin kuat. Bahkan, sekarang kebutuhan makannya sudah setara dengan porsi 100 orang dewasa.

kebo iwa
(Sumber: Dongeng Cerita Rakyat, 2015)

Harta yang dimiliki suami istri itu lambat laun habis. Mereka bingung harus bagaimana menghadapi selera makan anaknya yang begitu rakus itu. Karena sudah tak sanggup lagi, mereka akhirnya meminta bantuan pada warga desa. Sejak saat itu, segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung oleh warga desa. Mereka bergotong royong memasak makanan yang begitu banyak untuk Kebo Iwa.

Kebo Iwa terkenal pemarah. Kemarahannya mudah meledak terutama ketika ia tidak mendapatkan makanan yang cukup. Jika ia marah, ia akan menghancurkan apa saja yang ada di sekelilingnya dengan mudah. Rumah milik warga maupun pura bisa dirusaknya tanpa segan-segan. Warga desa sangat ketakutan bila mendapati dia sedang mengamuk. Walau begitu, Kebo Iwa bersedia membantu warga desa yang membutuhkan bantuannya, seperti membuatkan sumur, memindahkan rumah, meratakan tanah berbukit-bukit, membendung sungai, atau mengangkut batu-batu besar. Semua pekerjaan yang memerlukan tenaga banyak orang dan waktu yang lama bisa dengan cepat ia selesaikan dengan tubuh super besar dan tenaganya yang kuat itu. Tentu saja setelah melakukan tugas itu, Kebo Iwa meminta imbalan berupa makanan dalam jumlah yang cukup untuk membuatnya kenyang.

Hal yang tak diharapkan pun tiba. Musim kemarau telah datang. Setelah sekian lama, hujan tak kunjung datang. Semua lumbung padi milik warga mulai kosong, beras dan bahan makanan lain mulai sulit diperoleh. Warga desa mulai cemas. Mereka tidak hanya cemas memikirkan bahan makanan untuk keluarganya sendiri, tetapi mereka juga cemas dengan keadaan Kebo Iwa. Selama ini, mereka harus tetap menyediakan makanan untuk Kebo Iwa, walaupun di saat mereka sedang tidak memerlukan bantuannya. Saat musim panen, mereka masih bisa bergotong royong untuk memberinya makanan. Tetapi di musim kemarau ini, mereka sangat kekurangan bahan makanan dan kesulitan untuk memberinya makan lagi.

Di sisi lain, warga desa juga cemas Kebo Iwa akan mengamuk karena kelaparan. Dia pasti tidak mau mengerti dengan keadaan yang tengah mereka alami. Baginya, ia akan tetap diam bila mendapatkan makanan yang cukup. Namun jika tidak, ia akan mengamuk sejadi-jadinya.

Dan kekhawatiran warga desa akhirnya terjadi. Suatu hari Kebo Iwa merasa kelaparan. Namun karena sedang krisis, warga desa tidak dapat menyediakan makanan seperti biasanya. Kebo Iwa pun marah besar dan ia mulai merusak rumah-rumah warga. Bahkan pura sebagai tempat ibadah pun ia rusak.

“AKU LAPAR!!! MANA MAKANAN UNTUKKU!” teriak Kebo Iwa dengan suara menggelegar.

Kebo Iwa semakin ganas dan terus mengejar para warga sambil terus berteriak-teriak. Warga desa berlarian dan ketakutan akan menjadi terkaman raksasa itu. Tidak hanya menghancurkan bangunan, Kebo Iwa juga memakan hewan-hewan ternak milik warga. Karena kekacauan ini, warga desa pun segera mengungsi ke desa tetangga.

Melihat kehancuran yang ditimbulkan Kebo Iwa, warga desa menjadi sangat kesal dan marah. Mereka pun berkumpul dan merencanakan siasat untuk melenyapkan Kebo Iwa.

“Bagaimana caranya kita bisa melenyapkan Kebo Iwa yang seperti raksasa itu?” tanya seorang warga kebingungan.

“Kita harus menjebaknya. Bagaimana kalau mula-mula kita ajak berdamai. Lalu, kita pura-pura membutuhkan tenaganya. Dan di saat ada kesempatan, langsung kita lenyapkan dia,” usul Kepala Desa.

Mendengar pendapat itu, warga yang lainnya pun serempak menyetujuinya. Memang memerlukan siasat yang cerdik untuk melawan Kebo Iwa, karena jika mengandalkan kekuatan saja, tentunya mereka akan langsung kalah.

Segenap warga bergotong royong untuk mengumpulkan makanan dengan berbagai cara. Sedikit demi sedikit, akhirnya makanan yang terkumpul pun sudah cukup untuk menjadi santapan Kebo Iwa. Setelah itu, mereka langsung menjalankan rencana yang sudah didiskusikan. Kepala Desa dan beberapa warga lantas menemui Kebo Iwa yang tengah bersantai setelah menyantap beberapa ekor hewan ternak milik warga. Mereka pun langsung berpura-pura mengajaknya berdamai.

“Mau apa kalian ke sini? Apa kalian mempunyai makanan yang cukup membuatku kenyang? Aku masih lapar!” kata Kebo Iwa yang sedikit terperanjat karena kedatangan para warga.

Kepala Desa pun menawarkan akan memberikan makanan yang lebih dari cukup untuk Kebo Iwa, dengan syarat jika ia mau membantu mereka membangun kembali rumah-rumah dan pura yang ia hancurkan, serta membuat sumur yang sangat besar untuk mengairi sawah-sawah yang kekeringan. Mendengar ada makanan dalam jumlah yang cukup untuk membuat perutnya kenyang, Kebo Iwa langsung bersemangat. Ia tidak merasa curiga sama sekali dan menyetujui syarat yang ditawarkan.

Kebo Iwa langsung mulai bekerja. Dengan waktu yang terhitung singkat, beberapa rumah sudah dapat ia selesaikan. Sementara itu, para warga sibuk mengumpulkan batu kapur dalam jumlah besar. Kebo Iwa yang melihatnya merasa heran, mengapa para warga desa mengumpulkan batu kapur, padahal kebutuhan batu kapur untuk rumah-rumah dan pura masih cukup.

“Untuk apa kalian mengumpulkan batu kapur sebanyak itu?” tanya Kebo Iwa terheran-heran.

“Setelah engkau selesai membuat sumur besar, kami akan membangun rumah untukmu. Rumah yang besar dan indah tentunya membutuhkan batu kapur yang sangat banyak bukan?” kata Kepala Desa berbohong.

Mendengar itu, Kebo Iwa sangat gembira dan semakin bersemangat. Hanya dalam beberapa hari, rumah-rumah dan pura telah selesai dibangun dan sekarang pekerjaannya hanya tinggal menggali sumur besar. Pekerjaan ini memakan waktu yang lama, Kebo Iwa terus menggali tanah dengan menggunakan kedua tangannya yang besar dan kuat. Semakin hari, lubang yang dibuatnya semakin dalam. Tumpukan tanah bekas galian yang ada di mulut lubang pun makin menggunung. Air yang memancar keluar juga semakin banyak hingga terciptalah sebuah kolam besar.

Kebo Iwa terus bekerja sepanjang hari hingga suatu waktu ia kelelahan dan berhenti sejenak untuk istirahat dan makan. Ia makan sangat lahap hingga perutnya kekenyangan. Setelah makan, Kebo Iwa mengantuk dan ia pun tertidur pulas di dalam lubang sumur yang digalinya itu. Dengkurannya terdengar keras oleh para warga desa yang sedang berada di atas sumur. Setelah mendapati Kebo Iwa telah tertidur, Kepala Desa memerintahkan segenap warganya untuk melemparkan batu kapur ke dalam lubang galian yang dibuat Kebo Iwa. Beramai-ramai warga melempar batu-batu kapur tersebut. Kebo Iwa tidak menyadari dirinya dalam bahaya, karena ia masih terlelap dalam tidurnya.

Air di dalam sumur yang bercampur batu kapur sudah mulai meluap dan menyumbat hidung Kebo Iwa. Kebo Iwa tersedak dan terbangun. Namun terlambat baginya, air semakin deras memancar dan batu-batu kapur terus dilemparkan ke dalam lubang galian besar yang dibuatnya. Meski mempunyai tenaga yang sangat kuat, Kebo Iwa tidak mampu melarikan diri dari tumpukan kapur dan air sumur yang menguburnya hidup-hidup. Kebo Iwa akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di dalam lubang galian yang ia buat.

Air sumur itu terus memancar hingga meluap dan membanjiri desa tempat tinggal Kebo Iwa serta membentuk danau yang kini disebut Danau Batur. Sedangkan tumpukan tanah di samping sumur yang tertimbun cukup tinggi membentuk sebuah bukit yang kemudian menjadi sebuah gunung yang bernama Gunung Batur.

Danau-Batur
(Sumber: Histori, 2016)

Inilah asal-usulnya terbentuknya Danau dan Gunung Batur yang banyak dikisahkan masyarakat Bali. Pesan moral dari cerita rakyat ini adalah kita diajarkan untuk tidak bersikap egois, tidak bersikap semaunya sendiri, berusaha untuk mengerti dengan keadaan orang lain, dan harus selalu waspada terhadap sesuatu yang bisa mencelakakan diri kita. Dalam membuat suatu rencana harus dipikirkan akibatnya ke depannya, karena kalau tidak, akan membawa musibah bagi diri sendiri.

-SELESAI-

Sumber:

Daerah Kita. 2019. Kebo Iwa dan Danau Batur-Cerita Rakyat Bali . Diakses dari https://www.daerahkita.com/artikel/42/kebo-iwa-dan-danau-batur-cerita-rakyat-bali.

Dongeng Cerita Rakyat. 2015. Cerita Rakyat Bali Kebo Iwa dan Danau Batur . Diakses dari https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-bali-kebo-iwa-dan-danau-batur/.

Histori. 2016. Legenda Kebo Iwa dan Asal Usul Danau Batur . Diakses dari https://histori.id/legenda-kebo-iwa-dan-asal-usul-danau-batur/.