Kunci Menyiapkan Akhlak Generasi Gadget

images

Setiap generasi selalu berhadapan dengan tantangan tersendiri. Zaman orang tua pasti berbeda dengan anak-anaknya. Variasinya terletak pada perkembangan teknologi yang pesat. Gadget merupakan bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan terapan. Dimana di dalamnya terdiri dari smartphone , laptop, tablet dan sebagainya. Mudahnya akses informasi, sarana komunikasi tanpa permasalahan jarak dan menjadi media pembelajaran secara online. Merupakan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari teknologi. Hal tersebut akan membawa dampak yang besar dalam kehidupan. Pola perilaku manusia pun turut serta berpengaruh.

Sudah tidak asing lagi jika saat ini terdengar sebutan tentang generasi gadget. Generasi ini sendiri merupakan angkatan yang sejak lahir sudah berakrab ria dengan teknologi. Teknologi sudah menjadi bagian tersendiri dari mereka. Sejak dalam kandungan bahkan ketika lahir, sudah disuguhi oleh ibunya dengan aktif di sosial media hingga browsing belanja online. Sehingga bukan hal yang aneh lagi, ketika terlihat headset yang terselip di telinga anak-anak dan remaja. Tatapan mata pun terfokus pada layar yang berada dalam genggaman. Seolah-olah tiada hari tanpa gadget. Apalagi saat berada di tengah pandemi Covid-19 ini. Intensitas anak dengan gadget akan semakian meningkat akibat dari pembelajaran daring.

Tugas bapak dan ibu tidak hanya terletak pada pemberian nafkah saja. Tetapi lebih dari itu. Menyiapkan ananda tercinta tumbuh dengan akhlak terbaik di tengah kepungan teknologi. Tanggung jawab ini merupakan ujian tersendiri bagi orang tua. Apa artinya anak melek teknologi tanpa akhlak yang baik. Akhlak merupakan pijakan dalam pembentukan karakter, kepribadian dan kemampuan kognitif. Semua orang tua pasti menginginkan keturunan yang berakhlak dan paham teknologi. Kata lainnya generasi gadget dengan sebaik-baiknya akhlak. Sebagaimana sabda Rasulullah :

                           إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr).

Anak dibekali dengan pendorong alamiah ketika diciptakan oleh Allah. Hal ini dapat mengarahkan pada perbuatan baik atau buruk. Di sinilah peranan orang tua dibutuhkan untuk memberikan pengarahan. Agar senantiasa berjalan ke arah kebaikan. Dimulai dengan melakukan pendidikan yang sesuai tuntunan agama. Selain itu lakukan pembiasaan diri untuk berbuat kebaikan.

Al Quran surat Luqman ayat 17 :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Gadget ibarat pisau bermata dua. Memberikan manfaat sekaligus berdampak negatif jika tidak bijak menggunakannya. Sudah sering terjadi bahwa faktor utama seorang anak kecanduan gadget adalah keluarga. Orang tua mengira pemberian gadget hanya untuk permainan dan hiburan semata. Anak dapat ditinggal tanpa rewel ketika memegang gadget. Tidak bermain kotor-kotoran dan terpenting bisa diawasi. Pada akhirnya, perlahan tapi pasti gadget menjadi teman setia. Tugas orang tua pun digantikan dan digerus olehnya. Membebaskan anak memegang gadget membuatnya menjadi kecanduan. Anak akan menangis dan melakukan perlawanan ketika tidak diperbolehkan bermain gadget.

Jika anak tidak diberikan gadget besar kemungkinan mendapat hinaan dari teman-temannya. Dianggap sebagai anak cupu yang tidak tahu teknologi. Hal ini dapat membuat anak menjadi minder bahkan stres. Padahal jika pemberian akses tersebut tanpa kontrol akan membahayakan. Bapak dan ibu sama saja mengantarkan anak menuju pintu gerbang kehancuran. Bahkan ada potensi yang bisa mengancam dekadensi akhlak.

Untuk itulah diperlukan pendidikan akhlak dari kecil tanpa mengesampingkan teknologi. Setidaknya dampak negatif dari gadget dapat dihindari. Sudah saatnya orang tua peduli terhadap akhlak anaknya berkaitan dengan gadget. Pendidikan akhlak generasi gadget dimulai dengan penanaman nilai-nilai agama. Agama akan menjadi filter anak dalam melakukan suatu perbuatan. Pendidikan agama diperlukan anak untuk menghadapi kemajuan zaman tanpa terdampak hal yang negatif. Nilai agama yang tertanam pada anak dapat membentuk generasi yang berkepribadian dan berbudi luhur. Orang tua sebagai pendidik pertama harus mengajari, mendidik dan membimbing akhlak yang baik sejak dini. Awasi tumbuh kembang anak dengan cara yang bijaksana. Inilah merupakan sebuah tanggung jawab moral utama orang tua pada anak.

Karakter akhlak anak dapat dibentuk dengan menggunakan tiga prinsip dasar yaitu :

  • Berikan penjelasan dan contoh yang nyata kepada anak mengenai nilai-nilai adab baik terhadap orang tua, guru, teman dan sebagainya.

  • Ajarkan berprilaku jujur. Berikan penjelasan secara jujur tentang batasan dalam menggunakan gadget. Ajarkan pemahanan untuk selalu memberitahukan aktivitas yang dilakukan dengan gadgetnya.

  • Tanamkan perilaku amanah kepada anak.

Selanjutnya, jadilah orang tua sebagai teman yang asyik untuk anak. Hal ini dilakukan agar interaksi anak dan orang tua tidak canggung. Hubungan tersebut akan membuat anak tidak selalu merasa digurui oleh orang tua. Sehingga orang tua dapat dengan mudah menyarankan hal positif yang bisa dilakukan dengan gadget. Aplikasi apa saja yang terbaik dan sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Selain menjadi pendamping sebagai teman, Orang tua juga dapat melakukan filter aplikasi. Sehingga aktivitas anak dapat terpantau pada gadget orang tua. Anak juga tidak dapat membuka konten yang tidak sesuai umur.

Setelah di rumah, lingkungan selanjutnya yang dihadapi anak adalah sekolah. Di sekolah guru yang memegang tanggung jawab. Tidak ada salahnya jika orang tua menjalin komunikasi dengan para guru di sekolah. Tidak hanya membicarakan mengenai pelajaran di sekolah. Orang tua dan guru juga dapat saling bertukar pikiran mengenai budi pekerti anak. Saling membersamai dalam mengembangkan minat yang disukai. Arahkan minatnya sesuai dengan kesukaannya. Sehingga ketika minatnya tersalurkan anak akan bertanggung jawab akan pilihannya. Merupakan salah satu contoh pengajaran akhlak terhadap anak.

Jangan lupa untuk memberikan siraman rohani pada anak. Hancurnya akhlak generasi gadget disebabkan kekurangan asupan materi agama. Ajaklah anak-anak ke majelis taklim. Orang tua juga dapat mengundang ustadz datang ke rumah. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang tua yang kurang paham dalam agama. Sehingga memerlukan orang yang lebih menegerti. Dengan demikian, anak tidak akan kekurangan pelajaran agama terkait dengan akhlak.

Pada akhirnya, orang tua yang memiliki peran besar dalam perkembangan akhlak anaknya. Madrasah pertama anak tertuju pada orang tua. Anak akan mengikuti apa yang dicontohkan oleh orang tua. Jika panutan sibuk dengan gadget begitupun dengan pencontoh. Semuanya dapat dicegah sejak dini. Gadget dan akhlak dapat saling berjalan bersama. Ambil manfaatnya dan buang keburukannya. Jadilah orang tua dengan pengajaran dan pendidikan yang terbaik. Mengajarkan akhlak tanpa pernah tertinggal dengan kemajuan teknologi.

Sumber Pustaka

Sumber foto : viral.laughingcolours.com

2 Likes