Kondisi apa saja yang harus diperhatikan terkait dengan ruang kerja?

Kondisi ruang kerja yang nyaman akan membuat orang-orang yang bekerja didalamnya menjadi nyaman sehingga membuat mereka bekerja dengan lebih produktif. Oleh karena itu, kondisi ruangan tempat bekerja menjadi hal yang tidak bisa dianggap remeh.

Hal yang paling utama untuk mendapatkan ruang kerja atau kantor yang nyaman adalah kondisi udaranya, selain desain ruangan itu sendiri tentunya.

Udara dalam ruang atau indoor air adalah udara yang berada dalam suatu ruang gedung yang ditempati oleh sekelompok orang yang memiliki tingkat kesehatan yang berbeda-beda selama minimal satu jam. Ruang gedung yang dimaksud dalam pengertian ini meliputi rumah, sekolah, restoran, gedung untuk umum, hotel, rumah sakit, dan perkantoran

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :

  1. Suhu/ Temperatur

    Panas dalam ruangan diproduksi oleh tubuh sebagai proses biokimia yang berhubungan pembentukan jaringan, konversi energi dan kerja otot. Panas yang dihasilkan oleh proses metabolisme dapat dibagi menjadi dua, yaitu metabolisme basal misalnya proses-proses otomatis seperti denyut dan metabolisme maskular seperti mengontrol kerja otot. Namun dari semua energi yang dihasilkan tubuh hanya 20% saja yang dipergunakan dan sisanya akan dibuang ke lingkungan.

    Suhu udara sangat berperan dalam kenyamanan bekerja. Menurut Heryuni (1993) untuk lingkungan kerja disarankan mempunyai suhu kering 22o- 26oC dan suhu basah 21o-24oC. Sedangkan menurut Mukono (1993), temperatur yang dianggap nyaman untuk suasana bekerja adalah 23o-25oC. Menurut KepMen Kesehatan No. 261/MenKes/SK/II/1998 suhu ruangan adalah 22o-26oC.

    Perubahan suhu lebih dari 7oC secara tiba-tiba dapat menyebabkan pengerutan saluran darah, sehingga perbedaan suhu dalam dan luar ruangan sebaiknya kurang dari 7oC.

    Tingkat panas didominasi oleh temperatur sekitarnya. Namun demikian, standard udara kering atau pengukuran temperatur ambient udara kering sering tidak cukup sebagai indikator untuk kriteria tingkat kenyamanan. Temperatur diukur dengan menggunakan termometer untuk mewakili keadaan penghuni.

  2. Kalor Radiasi

    Beban kalor radiasi rata-rata diperhitungkan dengan perancangan sistem vebtilasi. Hal ini berkaitan dengan besarnya kalor diterima udara dalam ruangan. Semakin tinggi kalor yang diterima maka beban AC semakin besar sehingga pengelolaan gedung kurang efisien.

    Sumber penghasil kalor radiasi antara lain reaksi eksotermik dari bahan-bahan kimia, kalor yang dilepas lampu, sistem pemanasan ruang dan alat-alat, sinar matahari yang masuk, serta tungku/ kompor untuk memasak. Selain itu terdapat pula sumber yang dapat menyerap kalor radiasi, yaitu jendela yang terbuka, dinding yang tidak dilapisi dengan baik, serta lantai tanpa pelapis.

  3. Kelembaban Udara

    Air bukan merupakan polutan, namun uap air merupakan pelarut untuk berbagai polutan dan dapat mempengaruhi konsentrasi polutan di udara. Uap air dapat menumbuhkan dan mempertahankan mikroorganisme di udara dan juga dapat melepaskan senyawa-senyawa volatil yang berasal dari bahan bangunan seperti formaldehid, amonia, dan senyawa lain yang mudah menguap, sehingga kelembaban yang tinggi melarutkan senyawa kimia lain lalu menjadi uap dan akan terpapar pada pekerja.

    Pada lingkungan yang ada dalam ruangan, sekitar 25% dari panas tubuh diemisikan oleh transpirasi. Sebagai temperatur ambient dan meningkatnya aktivitas metabolisme, transpirasi yang hilang meningkat 50%-80% dari total emisi tubuh. Kehilangan panas karena transpirasi ditandai dengan tingginya kelembaban relatif.

    Kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang dari 20% dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir membran. Sedangkan kelembaban yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan pelepasan formaldehid dari material bangunan.

    Menurut Heryuni (1993) berdasarkan surat edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi No. SE-01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) yang berlaku untuk lingkungan kerja di industri adalah kelembaban 65%- 95% dengan kisaran suhu 26o-30oC. Sedangkan menurut KepMen Kesehatan No. 261/ MenKes/ SK/ II/ 1998 untuk kelembaban adalah 40%-60%.

  4. Kecepatan Aliran Udara

    Kecepatan alir udara mempengaruhi gerakan udara dan pergantian udara dalam ruang. Besarnya berkisar antara 0,15 sampai dengan 1,5 meter/ detik, dapat dikatakan nyaman. Kecepatan udara kurang dari 0,1 meter/ detik atau lebih rendah menjadikan ruangan tidak nyaman karena tidak ada pergerakan udara. Sebaliknya bila kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan kebisingan di dalam ruangan.

    Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 261/ MenKes/ SK/ II/ 1998, kecepatan alir udara yang normal adalah 0,15- 0,25 m/dtk. Tingkat kenyamanan panas dipengaruhi oleh kecepatan udara. Ketika pendinginan diperluan, dapat dilakukan peningkatan kecepatan udara.

  5. Pencahayaan

    Cahaya merupakan pancaran gelombang elektromagnetik yang melayang melewati udara. Illuminasi merupakan jumlah atau kuantitas cahaya yang jatuh ke suatu permukaan. Apabila suatu gedung tingkat illuminasinya tidak memenuhi syarat maka dapat menyebabkan kelelahan mata, sehingga dapat menimbulkan terjadinya kesalahan dalam melakukan pekerjaan serta kelelahan pada indra mata yang terus menerus dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada mata. NAB Surat Edaran Permenaker No. SE-01/MEN/1978 tentang besarnya illuminasi yaitu 300-900 lux.

  6. Kebersihan Udara

    Kebersihan udara berkaitan dengan keberadaan kontaminan udara baik kimia maupun mikrobiologi. Sistem ventilasi AC umumnya dilengkapi dengan saringan udara untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkinan masuknya zat-zat berbahaya ke dalam ruangan. Untuk ruangan pertemuan atau gedung- gedung dimana banyak orang berkumpul, dan ada kemungkinan merokok, dinuat suatu perangkat hisap udara pada langit-langit ruangan. Sedangkan lubang hisap jamur dibuat di lantai dan cenderung menghisap debu.

  7. Bau

    Bau merupakan faktor kualitas udara yang penting. Bau dapat menjadi penunjuk keberadaan suatu zat kimia berbahaya seperti Hidrogen sulfida, Ammonia, dan lain-lain. Selain itu bau juga dihasilkan oleh berbagai proses biologi oleh mikroorganisme. Kondisi ruangan yang lembab dengan suhu tinggi dan aliran udara yang tenang biasanya menebarkan bau kurang sedap karena proses pembusukan oleh mikroorganisme.

  8. Ventilasi

    Ventilasi dalam lingkungan kerja ditujukan untuk:

    • mengatur kondisi kenyamanan ruangan;
    • memperbaharui udara dengan pengenceran udara ruangan pada batas normal;
    • menjaga kebersihan udara dari kontaminan berbahaya.

    Ventilasi ruangan secara alami didapatkan dengan jendela terbuka yang mengalirkan udara luar ke dalam ruangan, namun selama beberapa tahun terakhir AC (Air Conditioner) menjadi salah satu pilihan.

    Mekanisme kerja AC, udara di luar gedung dihisap, didinginkan, kemudian udara yang dingin itu dihembuskan ke dalam ruangan. Terdapat dua jenis AC, yaitu AC sentral dan AC non-sentral. Perbedaan jenis AC non-sentral dan sentral terletak pada volume udara segar yang dipergunakan. Biasanya AC non-sentral hanya memiliki gerakan udara masuk (inlet), sedangkan outlet melalui lubang atau pintu yang sedang dibuka. Sistem ventilasi AC non-sentral memungkinkan masuknya pencemar dari udara luar ke dalam ruangan.

    Pada sistem AC sentral, udara luar dihisap masuk ke dalam chiller, mengalami proses pendinginan, kemudian dihembuskan ke ruangan. Selanjutnya udara di ruangan yang masih agak dingin dihisap kembali untuk didinginkan kemudian dihembuskan lagi. Aliran udara demikian disebut udara sirkulasi, dimana 85%-100% berupa udara campuran. Bangunan atau gedung yang menggunakan sistem sirkulasi artifisial umumnya dibuat relatif tertutup untuk mengurangi penggunaan kalor (efisiensi energi), artinya kurang memiliki sistem pertukaran udara segar dan bersih yang baik.

    Jenis AC peruntukkan rumah, gudang, dan gedung yang tidak memerlukan pengaturan suhu dan kelembaban secara tepat, umumnya menggunakan sistem penyegaran udara tunggal atau sentral.

  9. Kebisingan

    Menurut Purdom P.W. (1980) secara fisik suara adalah energi berbentuk getaran yang bergerak dari satu titik dan merambat pada media udara. Suara-suara yang tidak atau kurang dikehendaki dan menimbulkan gangguan disebut kebisingan; hal ini berarti subjektifitas seseorang terhadap suara tertentu atau sensitifitas orang terhadap kebisingan berbeda satu sama lain. Namun secara umum batasan kebisingan ditentukan sesuai dengan peruntukan bangunan.

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu (Siagian, 2006) :

  1. Bangunan tempat kerja
  2. Ruang kerja yang lega
  3. Ventilasi pertukaran udara
  4. Tersedianya tempat-tempat ibadah keagamaan
  5. Tersedianya sarana angkutan khusus maupun umum untuk karyawan nyaman dan mudah

Menurut (Sedarmayanti dalam Wulan, 2011) Menyatakan bahwa secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor lingkungan kerja fisik dan faktor lingkungan kerja non fisik.

  1. Faktor Lingkungan Kerja Fisik
    • Pewarnaan
    • Penerangan
    • Udara
    • Suara bising
    • Ruang gerak
    • Keamanan
    • Kebersihan
  2. Faktor Lingkungan Kerja Non Fisik
    • Struktur kerja
    • Tanggung jawab kerja
    • Perhatian dan dukungan pemimpin
    • Kerja sama antar kelompok
    • Kelancaran komunikasi

Menurut (Suwatno dan Priansa, 2011)secara umum lingkunga kerja terdiri dari lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja psikis.

  1. Faktor Lingkungan Fisik
    Faktor lingkungan fisik adalah lingkungan yang berada disekitar pekerja itu sndiri. Kondisi di lingkungan kerja dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan yang meliputi:

    • Rencana Ruang Kerja
      Meliputi kesesuaian pengaturan dan tata letak peralatan kerja, hal ini berpengaruh besar terhadap kenyamanan dan tampilan kerja karyawan.
    • Rancangan Pekerjaan
      Meliputi peralatan kerja dan prosedur kerja atau metode kerja, peralatan kerja yang tidak sesuai dengan pekerjaannya akan mempengaruhi kesehatan hasil kerja karywan.
    • Kondisi Lingkungan Kerja
      Penerangan dan kebisingan sangat berhubungan dengan kenyamanan para pekerja dalam bekerja. Sirkulasi udara, suhu ruangan dan penerangan yang sesuai sangat mempengaruhi kondisi seseorang dalam menjalankan tugasnya.
    • Tingkat Visual Pripacy dan Acoustical Privacy
      Dalam tingkat pekerjaan tertentu membutuhkan tempat kerja yang dapat mdemberi privasi bagi karyawannya. Yang dimaksud privasi disini adalah sebagai “ keleluasan pribadi “ terhadap hal-hal yang menyangkut dirinya dan kelompoknya. Sedangkan acoustical
      privasi berhubungan dengan pendengaran.
  2. Faktor Lingkungan Psikis
    Faktor lingkungan psikis adalah hal-hal yang menyangkut dengan hubungan sosial dan keorganisasian. Kondisi psikis yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah:

    • Pekerjaan Yang Berlebihan
      Pekerjaan yang berlebihan dengan waktu yang terbatas atau mendesak dalam penyelesaian suatu pekerjaan akan menimbulkan penekanan dan ketegangan terhadap karyawan, sehingga hasil yang didapat kurang maksimal.
    • Sistem Pengawasan Yang Buruk
      Sistem pengawasan yang buruk dan tidak efisien dapat menimbulkan ketidak puasaan lainnya, seperti ketidak stabilan suasana politik dan kurangnya umpan balik prestasi kerja.
    • Frustasi
      Frustasi dapatberdampak pada terhambatnya usaha pencapaian tujuan, misalnya harapan perusahaan tidak sesuai dengan harapan karyawan, apanbila hal ini berlangsung terus menerus akan menimbulkan frustasi bagi karyawan.
    • Perubahan-Perubahan Dalam Segala Bentuk
      Perubahan yang terjadi dalam pekerjaaan akan mempengaruhi cara orang-orang dalam bekerja, misalnya perubahan lingkungan kerja seperti perubahan jenis pekerjaan, perubahan organisasi, dan pergantian pemimpin perusahaan.
    • Perselisihan Antara Pribadi Dan Kelompok
      Hal ini terjadi apabila kedua belah pihak mempunyai tujuan yang sama dan bersaing untuk mencapai tujuan tersebut. Perselisihan inin dapat berdampak negatif yaitu terjadinya peselisihan dalam berkomunikasi, kurangnya kekompakan dan kerjasama. Sedangkan dampak positifnya adalah adanya usaha positif untuk mengatasiperselisihan ditempat kerja, diantaranya: persaingan, masalah status dan perbedaan antara individu.

    Lingkunga kerja fisik maupun psikis keduanya sama pentingnya dalam sebuah organisasi, kedua lingkungan kerja ini tidak bisa dipisahkan. Apabila sebuah perusahaan hanya mengutamakan satu jenis lingkungan kerja saja, tidak akan tercipta lingkungan kerja yang baik, dan lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien dan akan menyebabkan perusahaan tersebut mengalami penurunan produktivitas kerja.