© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Kompetensi soft skill apa saja yang dibutuhkan saat ini ?

Kompetensi soft skill apa saja yang dibutuhkan saat ini ?

4 Likes

Dunia yang terus berubah, memaksa kita untuk memiliki kompetensi yang berbeda untuk mencapai sukses pada masa lalu, saat ini dan masa depan. Sebab itu kita harus mengetahui hal apa yang harus kita lakukan untuk menjadi warga negara abad ke-21?.

Menurut Harry K Nugraha, Country Manager Intel Indonesia, untuk menyambut ekonomi berbasis informasi yang akan datang, ada 5 keahlian yang harus dikuasai untuk membawa kita lebih jauh ke depan.

Kelima keahlian tersebut yaitu, melek digital (digital literacy), berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis (critical thinking), berkolaborasi (collaborating), dan kepemimpinan (leadership).

Menurut dia, dengan melek digital, tidak hanya mendapatkan keahlian fungsional untuk mengarahkan hidup sehari-hari, tetapi juga memungkinkan untuk mengejar pendidikan lama setelah meninggalkannya.

“Penting bagi kita untuk menjadi akrab dengan teknologi, jika kita ingin mendapatkan yang terbaik dari yang ditawarkan oleh internet,” kata dia dalam keterangannya, Senin (4/5/2015).

Dia mencontohkan, keberadaan Intel Easy Steps yang mengajarkan melek digital untuk yang memiliki akses komputer terbatas di Filipina.

Kemudian berpikir kreatif dengan mengenalkan cara baru untuk memecahkan masalah dengan cara yang tidak biasa. Terus berusaha, menguji dan mencoba berbagai cara akan sering kali berhasil juga, tapi hal ini tidak memungkinkan kita untuk memiliki banyak ruang kososng untuk tumbuh dan mengambil risiko.

“Intel Teach menghargai signifikansi dari pencampuran berpikir kreatif dengan metode pengajaran tradisional, dan ini bertujuan untuk mengembangkannya melalui ‘Creativity in the Mobile Classroom,” tutur dia.

Sedangkan berpikir kritis berarti memiliki kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional, maupun mampu untuk berefleksi dan berpikir secara mandiri.

Adapula bekerja dan berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di dunia digital hari ini, sebuah dunia global.

Koneksi internet yang lebih cepat dan perkembangan komputasi awan memungkinkan kolaborasi yang melampaui jarak fisik dan batas geopolitik, yang membuat ‘Collaboration in the Digital Classroom’ dari Intel Teach menjadi begitu relevan.

“Nutpraveen Tatsuwan, seorang guru dari provinsi Pichit Thailand, telah mengikuti program ‘Collaboration in the Digital Classroom’ pada tahun 2014 dan segera menerapkan apa yang dia pelajari kepada muridnya di kelas 5 dan 6 dengan hasil yang luar biasa. Kelasnya yang dulu melakukan program berfokus pada konten dan menggunakan teknologi hanya sebagai alat untuk mentransfer pengetahuan, sekarang dia mendesain pelajaran dengan melibatkan teknologi untuk memecahkan masalah dalam kelompok,” tandas dia.

Kemudian dia menyinggung soal apakah seorang pemimpin itu dibuat atau dilahirkan?. Penelitian telah menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah campuran dari kemampuan yang alami maupun yang didapatkan.

Meskipun ada ciri-ciri pemimpin tertentu yang dilahirkan dengannya, dikatakan kita juga dapat memperoleh kemampuan kepemimpinan melalui pelatihan, pengalaman dan praktek.

“Sebagai sumber kehidupan timnya dan orang-orang yang dipimpinnya, seorang pemimpin tahu bagaimana dan kapan untuk mengeluarkan tembakan dan mengarahkan timnya untuk tingkat yang lebih tinggi,” pungkas Harry.

4 Likes

Kalau ditanya kenapa kamu sekolah tinggi-tinggi, pasti mayoritas jawaban kamu adalah supaya pintar sehingga bisa mendapatkan pekerjaan idaman dengan mudah. Tapi sekedar punya otak encer aja nggak cukup, lho. Jangan cuma mengembangkan hard skill, sob, karena mengembangkan soft skill pun nggak kalah penting.

Di era persaingan yang ketat seperti sekarang ini, menyeimbangkan hard skill dan soft skill, penting sekali. Maka dari itu, tujuh soft skill yang sangat universal berikut ini perlu kamu kuasai, supaya kamu nggak cuma jadi anak muda yang berpendidikan tinggi, tapi juga berkarakter kuat.

1. Percaya diri

Menjadi percaya diri bukan cuma berarti jago public speaking, gaes. Menjadi percaya diri juga berarti berani menyuarakan pendapat kamu. Percuma banget ‘kan kalau kamu punya ide brilian tapi nggak berani menyampaikannya?

Pupuk terus kepercayaan diri kamu dengan memperbaiki bahasa tubuh dan kemampuan bersosialisasi kamu. Dan jangan lupa, don’t be afraid of hate comments. Semua orang pasti punya opini, dan opini-opini tersebut nggak ada yang benar ataupun salah. Jadi kamu sama sekali nggak perlu mengkhawatirkan pendapat orang mengenai kamu atau isi kepala kamu.

2. Emotional Intelligence

Salah satu penyakit anak muda zaman sekarang, sering baper. Supaya tidak ikut baperan, kamu harus jago mengontrol emosi supaya nggak nyusahin diri kamu sendiri maupun lingkungan kamu. Males banget ‘kan, kalau lagi asyik hang out bareng teman, tiba-tiba kamu nangis tanpa sebab? Suasana hang out-nya pun pasti jadi nggak nyaman.

Selain mengontrol diri sendiri, kamu juga harus bisa memahami perasaan orang lain alias berempati. You are not the only living thing with feelings! Selalu pertimbangkan perasaan orang lain dulu setiap kali kamu mau melakukan atau mengatakan sesuatu.

3. Komunikasi dan negosiasi

Kemampuan yang satu ini wajib banget untuk kuasai, tanpa terkecuali! Soalnya, masalah sering terjadi cuma gara-gara miskomunikasi. So be a good communicator!

Selain kemampuan berkomunikasi, kuasai juga kemampuan negosiasi (FYI, negosiasi, berbeda dengan manipulasi ya). Kemampuan negosiasi bisa membantu hidup kamu dalam banyak hal, baik dalam bersosialisasi maupun ekonomi. Buktinya, ibu-ibu yang jago negosiasi pasti sering dapat harga miring saat belanja di pasar. Simpel tapi sangat berguna, bukan?

4. Kemampuan mengatur waktu

Misalnya, karena reputasi kinerja kamu oke banget, kamu jadi sering dimintai tolong anu-itu oleh dosen, orang tua, teman, atau organisasi kampus. Terus, karena nggak enak, kamu meng-iya-kan semuanya, sampai ujung-ujungnya kamu kewalahan sendiri.

Nggak salah, kalau kamu ingin membuktikan bahwa kamu sanggup melakukan semua pekerjaan yang dipercayakan ke kamu. Tapi lebih baik kalau kamu tidak memaksakan diri. Kalau memang harus banget mengerjakan banyak hal, buat timetable yang jelas untuk mengatur waktu kamu dalam menyelesaikan segala tugas.

5. Kepemimpinan

Are leaders born or made? That was debatable, sampai berbagai studi mengatakan sifat kepemimpinan lebih cenderung terbentuk, bukan bawaan lahir. Meskipun pasti ada perbedaan antara para natural-born leaders dan trained leaders, sifat kepemimpinan tetap bisa (dan harus) diasah, gaes!

Cara mengasahnya gimana? Pastikan dulu kamu bisa mengatur diri kamu sendiri, sebelum mulai mengatur orang lain. Selain itu, kamu juga wajib punya rasa tanggung jawab yang sangat besar atas segala hal yang kamu lakukan.
Oya, FYI, kepemimpinan tidak selalu berkaitan dengan jabatan, lho. Seorang bos atau CEO belum tentu seorang pemimpin yang baik.

6. Berpikir kritis

Berpikir kritis, Bagaimana maksudnya? Maksudnya, kamu harus bisa mencerna dan memecahkan masalah dengan kreatif dan efektif. Kamu juga harus bisa menganalisa masalah dengan cepat dan tepat.

Kalau kamu membiasakan diri berpikir kritis dalam menghadapi sesuatu, kamu jadi nggak gampang panik saat menghadapi situasi genting. Kamu juga jadi mampu memahami pola berbagai kejadian yang terjadi di sekitar kamu sehingga ujung-ujungnya, kamu jadi lebih proaktif.

7. Kemampuan bekerja sama dalam tim

Di dunia ini, nggak ada pekerjaan yang bisa dikerjain sendirian! Makanya, pertanyaan “apakah kamu bisa bekerja dalam tim?” selalu ditanyakan ke kamu ketika kamu wawancara, baik wawancara kerja maupun wawancara masuk kepanitiaan atau organisasi.

Pokoknya, mulai dari mengerjakan tugas kecil sampai proyek besar, kamu harus bisa menjaga keharmonisan dan kekolektifan tim kamu.

Dalam teamwork, yang paling penting kamu tidak boleh egois dan merasa paling benar. Hargai pendapat dan kerja keras orang lain. Usahakan jangan ada anggota tim yang lelet dalam bekerja, karena pasti bakal membuat kerja seluruh tim kamu terhambat (sebaliknya, jangan sampai kamu yang bersikap egois sendirian trus malah nyusahin tim kamu!). Last but not least, jangan pernah merasa sungkan untuk memberi atau meminta bantuan.

FYI, we are all born with sets of soft skills. Jadi, tidak seperti hard skill yang bisa dipelajari dari nol, soft skill hanya bisa “dikeluarkan” dari diri kamu lalu “dipoles” dengan cara pengembangan diri. Kamu bisa mengasah soft skill lewat lingkungan sosial, atau lewat berbagai kepanitiaan dan organisasi sekolah/kampus. Makanya, jadwal belajar dan jadwal bersosialisasi kamu harus seimbang, ya (dan jangan lupa istirahat yang cukup!).

5 Likes

Dalam dunia kerja, organisasi, berjejaring, atau apapun, soft skill sangat dibutuhkan selain hard skill. Sayangnya dunia pendidikan kita lebih banyak menekankan pada pengembangan hard skill. Menurut penelitian yang dikutip dari Lena Salita dan Santoso pada Rakerwil pimpinan PTS (Perguruan Tinggi Swasta) tahun 2006, kebanyakan model pendidikan akan memberikan 90% hard skill dan 10% soft skill. Sementara, yang terjadi di dunia kerja justru sebaliknya. Data Harvard School of Business menyebutkan bahwa hard skill yang akan terpakai hanya sekitar 20% saja dan sisanya yang dibutuhkan adalah soft skill.

Menurut Tim Litbang CEO Stars terdapat sepuluh softskill yang diperlukan dalam berbagai situasi. Sepuluh skill ini terangkum sebagai berikut:

1. Etika kerja

Hard skill saja tidak cukup dalam bekerja. Dibutuhkan etika kerja yang mumpuni agar Stars people dapat mengerjakan segala hal dengan baik dan benar. Dengan etika kerja yang baik Stars people akan punya keinginan untuk menapaki jenjang karir dan menyiapkan masa depan. Jauh dari keinginan bermalas-malasan dan mangkir dari pekerjaan, serta menyibukkan diri untuk menorehkan prestasi.

2. Berorientasi tujuan dan kerjasama tim

Menonjolkan kemampuan diri secara berlebihan dengan berusaha mengerjakan segala sesuatu sendiri bukanlah sebuah keputusan yang baik, karena setiap orang punya keterbatasan. Bagaimanapun kerjasama tim dengan berorientasi pada tujuan jauh lebih baik. Terlebih jika dalam suatu perusahaan terdiri dari beberapa divisi yang saling terkait. Jika Stars people tidak kooperatif bukan tidak mungkin akan menjadi masalah internal yang serius dan berdampak pada kinerja seluruh tim serta penurunan hasil produksi perusahaan.

3. Komunikasi prima

Kemampuan berkomunikasi yang baik sangat dibutuhkan dalam segala jenis hubungan. Baik komunikasi verbal maupun non verbal. Kemampuan komunikasi yang prima akan membuat Stars people tampil percaya diri dan lebih mudah mengomunikasikan apapun dalam segala suasana.

4. Fleksibel dan mudah beradaptasi

Berhadapan dengan banyak orang dalam situasi yang berbeda dituntut untuk bisa bersikap fleksibel dan beradaptasi segera. Stars people harus membangun rasa percaya diri agar lebih mudah beradaptasi dan tidak kaku menyikapi kondisi apapun.

5. Berpikir positif

Jika tidak bisa berpikir positif dan selalu curiga terhadap orang-orang di sekitar menunjukkan bahwa Stars people belum selesai dengan masalah pribadi yang ada. Membangun pikiran positif akan menentukan cara Stars people bersikap dan menyikapi orang lain atau kondisi yang berbeda.

6. Percaya diri

Rasa percaya diri yang tinggi dimiliki oleh mereka yang selalu berpikiran positif. Dengan rasa percaya diri Stars people akan lebih mudah untuk beradaptasi, bekerjasama, dan melakukan banyak hal positif dan bermanfaat yang lainnya.

7. Bekerja baik di bawah tekanan

Dalam perusahaan atau organisasi apapun akan ada saat yang tidak menyenangkan seperti bekerja di bawah tekanan. Tuntutan untuk menampilkan sesuatu sebaik mungkin, deadline ketat, pimpinan yang cerewet, anggota tim yang tidak menyenangkan, dan masih banyak lainnya merupakan kondisi yang menekan mental. Dibutuhkan soft skill yang tinggi untuk bisa bekerja di bawah tekanan sedemikian rupa. Kesabaran, ketulusan, dan kemampuan mengomunikasikan semuanya menjadi kompetensi yang harus dimiliki Stars people untuk bisa bekerja dengan baik di bawah tekanan.

8. Motivasi diri

Motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu, Motivasi terbaik adalah yang muncul dari dalam diri Stars people. Dengan motivasi diri yang kuat akan mendorong Stars people untuk melakukan yang terbaik untuk mencapai tujuan sebagai upaya meraih karir terbaik.

9. Leadership

Kemampuan leadership tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki jabatan tertentu. Ada banyak perusahaan yang lebih memilih pegawai yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Sejauh mana keberhasilan yang bisa diraih dalam organisasi apapun tergantung pada leadership skill yang Stars people punya. Leadership skill diantaranya ditandai dengan kemampuan Stars people dalam mengemban tugas dan tanggung jawab yang diberikan, termasuk menyelesaikannya dengan baik.

10. Dapat diandalkan

Kemampuan Stars people dalam mengenal dan mengelola emosi dengan baik menjadi dasar untuk mengenal emosi orang lain. Dengan mengenal emosi orang lain, Stars people dapat bekerja dengan baik dengan segala motivasi diri dan kemampuan soft skill lainnya sehingga bisa diandalkan untuk menyelesaikan dan mengatasi banyak masalah dalam berbagai kondisi. (CEO Stars-TS)

4 Likes

Mempelajari soft skill memang butuh waktu yang panjang, karena soft skill relatif lebih sulit dipelajari dibandingkan hard skill. Tetapi soft skill bisa jadi investasi berharga untuk masa depanmu. Berikut berdasarkan dari Youthmanual kategorikan enam soft skills yang perlu kamu latih dari sekarang, supaya lama-kelamaan bisa jadi good habit serta “senjata” penting untuk masa depan kamu nanti.

  1. Minta Tolong
    Mungkin untuk sebagian dari anda, minta tolong itu gampang. Apalagi kalau anda memang hobi ngerepotin. Tetapi bagi sebagian orang lainnya, minta tolong dianggap sebagai tanda kelemahan. Itulah kenapa banyak orang yang nggak mau minta tolong, soalnya mereka merasa dirinya mampu serta nggak mau dianggap lemah.
    Padahal meminta tolong bukan berarti tanda bahwa anda nggak mampu. Meminta tolong berarti anda menyadari bahwa anda nggak sempurna, sama seperti orang lain, jadi anda perlu bantuan. Nggak gampang untuk punya kerendahan hati seperti ini.
    Lagipula, ketika anda minta tolong ke seseorang, sebenarnya anda membuat orang tersebut jadi lebih berharga karena anda membuatnya bisa menunjukkan bakat dan kemampuannya.

  2. Mendengarkan


    Setiap hubungan rata-rata punya masalah dalam hal komunikasi. Padahal sebenarnya miskomunikasi dapat diminimalisir, kalau kedua belah pihak mau saling mendengarkan dengan baik. Namun memang, mendengarkan dengan seksama itu nggak selamanya mudah. Telinga boleh saja berfungsi dengan baik, tetapi kalau kamu nggak fokus mendengarkan orang yang sedang ngajak diajak bicara, anda nggak akan menangkap maksud omongannya.

  3. Tidak Mencampuri Urusan Orang
    Rasanya ini soft skill yang cukup susah dibandingkan yang soft skill lainnya. Kalau ada teman yang lagi curhat sama teman lain, trus anda tidak diberi tahu, rasanya ingin ikut tahu masalahnya.
    Mulai sekarang, belajarlah untuk nggak sedikit-sedikit ikut campur masalah orang lain. Kalau anda memang dicurhatin atau diminta saran, berikanlah saran. Selain nggak etis, terlalu sering ikut campur masalah orang lain juga bisa membuat anda stress. Masalah orang lain dipikirin mulu, padahal jangan-jangan masalah hidup anda sendiri masih banyak.

  4. Menjauh Dari Bergosip
    Kami paham kalau kumpul atau nongkrong bareng teman terasa kurang lengkap tanpa ngegosip, apalagi menggosipkan teman sendiri. Tapi, belajarlah untuk meminimalisir bergosip.
    Hal ini hanya akan membuatmu semakin nggak dipercaya orang. Bisa-bisa anda dianggap penjilat. Memang susah menahan diri dari gosip, karena semua orang pasti nggak ada yang mau ketinggalan gosip tongkrongan sehingga jadi kudet.
    Kalau teman anda sudah mulai bergosip, coba alihkan pembicaraan ke topik lain.

  5. Positif Melihat Masa Depan
    Pada dasarnya, kita adalah produk dari masa lalu kita. Kita yang sekarang terbentuk dari masalah serta pilihan-pilihan hidup yang pernah kita alami di masa lalu. Tapi bukan berarti masa lalu mencerminkan masa depan kita. Masa lalu sudah tertinggal jauh, sob, dan tidak akan mungkin kembali.
    Mulailah hari dengan optimis. Setiap hari berlalu, yakinlah kamu sedang tumbuh ke arah yang lebih baik. Yang sudah berlalu biarkan. Toh hidup harus terus berjalan ‘kan?

  6. Empati


    Simpati itu perasaan sedih yang timbul kalau anda mendengar musibah atau kejadian buruk menimpa orang lain. Sementara empati artinya anda memahami dan saling berbagi perasaan dengan orang lain.
    Untuk punya sifat empati, anda bisa belajar untuk bertanya dengan tipe pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup. Alih-alih bertanya, “Kamu lagi ada masalah ya?”, lebih baik anda gunakan kalimat, “Kamu lagi ada masalah apa?”. Dari situ, cerita dan emosi dari orang yang ditanya akan mengalir dengan sendirinya.
    Intinya, kunci berempati adalah bisa memahami dan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.
    Empati tidak hanya berkaitan dengan cerita yang sedih-sedih. Kalau ada teman mendapatkan rejeki, anda pun bisa berempati merasakan kebahagiannya.
    Kalau anda punya sifat empati, anda bisa menunjukkan diri sebagai teman yang baik, rekan tim yang suportif, dan partner kerja yang peduli.

Sumber

4 Likes

Skill yang mumpuni akan meningkatkan kualitas diri. menguasai kemampuan yang dibutuhkan dan strategis diterapkan di masa sekarang dan masa depan akan menjadi nilai lebih bahkan penyelamat. Berikut NakNusaBlog akan menjabarkan mengenai beberapa skills yang strategis dan berguna untuk menujang kualitas diri.

1.) Kemampuan berpikir kreatif dan inovatif

Kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan inovatif tidak hanya bermanfaat ketika hendak menciptakan karya-karya, namun juga berguna ketika kita ingin menyelesaikan suatu masalah. Sadar atau tidak, Semakin hari kehidupan semakin rumit, masalah dan tantangan-tantangan baru yang sulit diprediksi, baik itu dalam hal sosial, keluarga, keuangan, lingkungan, dan dari besar sampai kecil. Jawaban dan solusi dari tantangan dan masalah tersebut jarang atau bahkan tidak ada di buku-buku sekolah yang sudah pernah kita pelajari karena tidak ada pelajaran yang benar-benar menawarkan cara berpikir untuk memecahakan suatu masalah.

Dengan berpikir kreatif, kita akan diarahkan untuk melihat suatu masalah dari banyak sudut pandang dan cara pemecahan yang bervariasi. Seperti pepatah “Banyak jalan menuju roma”, terdapat banyak cara untuk memecahkan suatu masalah. Kalimat “siapa kuat dia yang menang” bisa kita ganti menjadi “siapa yang kreatif dia yang bertahan”. Atau kalimat ini “hemat pangkal kaya” bisa kita tingkatkan dengan “kreatif pangkal kaya”.

Bagaimana cara menjadi kreatif dan inovatif? Berikut NakNusaBlog akan menggambarkan secara singkat tentang bagaimana cara menjadi kreatif.

  • Temukan hal yang dapat memotivasimu untuk menjadi kreatif, mulai dari buku, kalimat, ataupun kata kemudian ciptakan niatmu untuk menjadi kreatif.
  • Ubahlah pandanganmu tentang yang kreatif itu hanya milik seniman.
  • Baliklah cara pandangmu terhadap sesuatu dan berpikir berbagai arah
  • Jangan pernah menjadi monoton
  • Lakukan hal-hal secara spontan
  • Stop menjadi diam, mulailah menjadi agresif bertanya. Kalau orang bilang “ diam itu emas” maka “bertanya dan bicara itu berlian”
  • Jangan pernah menjadi orang yang monoton. Latihlah kreatifmu mulai dari menekuni hobimu dan temukan cara-cara baru.
  • Waktu luang adalah saat yang tepat untuk bermain kombinasi untuk melatih pola pikir.

2.) Kemampuan berbisnis dan menjual sesuatu

jejakwitjak.com

Bisa berbisnis dan menjual produk ke masyarakat itu adalah hal yang lebih keren daripada menjadi seorang PNS dan membebani anggaran Negara. Kenapa kemampuan berbisnis dan menjadi wirausahawan itu penting? Jawaban simpelnya adalah

  • karena akan selalu ada kebutuhan akan sesuatu seperti barang ataupun jasa.
  • karena lapangan kerja yang tersedia sekarang dan di masa depan tidak akan sebanding dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan bahkan akan terjadi ledakan penduduk.
  • karena dengan berbisnis, kamu akan bisa menjadi bos untuk dirimu sendiri dan bisa memperkerjakan orang yang bahkan lebih pintar darimu.

Walaupun ada anggapan bahwa menjadi wirausahawan itu tidak mudah dan banyak ruginya. Anggapan itu hanyalah kalimat yang datang dari orang yang tidak mau mencoba dan takut gagal. Jika sudah seperti ini, skill kreatif dan inovatifpun tidak akan bisa bertahan lama dalam dirimu.

Berbisnis dan menjadi wirausahawan atau wirausahawati akan menggiurkan bagimu jika kamu mengetahui bahwa:

  • Menjadi wirausahawan atau pengusaha itu tidak terlalu sulit bahkan mudah. Caranya bisa kamu cari dan pelajari di internet.
  • Modal yang dibutuhkan tidak selamanya besar. Kamu bisa mulai dengan modal kecil dan memanfaatkan media internet.
  • Keuntungan yang didapat lebih banyak daripada kerugiannya.
  • Bisa mewujudkan mimpi, menjadi orang berpengaruh dan penting, membuat perubahan, dan berkontribusi untuk masyarakat.

3.) Kemampuan menulis

NakNusaBlog pernah membahas mengenai 7 Manfaat luar biasa dari menulis yang mungkin kamu belum sadari dan 5 langkah menulis berikut ini bisa menjadi referensimu. Ada banyak alasan kenapa menulis merupakan skill yang harus kamu kuasai.

  • Pertama dari segi kesehatan, menulis dapat memperlambat penuaan dengan mengurangi stress karena menulis adalah media ekspresi.
  • Kedua dari segi pendidikan, menulis dapat membuat pintar dengan cara memperluas wawasan karena untuk membuat tulisan, penulis minimal membaca sumber-sumber referensi yang lain sebagai pendukung tulisannya dan melibatkan proses berpikir yang baik.
  • Ketiga dari segi sosial, kemampuan menulis akan menjadikanmu seseorang yang sosialis karena menulis adalah salah satu media komunikasi yang baik.
  • Keempat dari segi ekonomi, mendapatkan uang dari tulisan yang bersaing itu sangat mudah. Kamu bisa bergabung pada group Sribulancer.com atau jobstreet.com yang akan mengirimimu notifikasi konsumen yang menginginkan tulisanmu.

Harga tulisan adalah bervariasi mulai dari Rp.50.000 – Rp.2000.000, tergantung jenis, kualitas dan banyaknya tulisan yang dibutuhkan oleh konsumen.

4.) Kemampuan berinvestasi dan mengelola uang

intisari-online.com

Banyak orang yang mempunyai penghasilan besar namun tidak tahu cara mengelolanya. Banyak orang memiliki banyak uang di awal bulan, tetapi diakhir bulan hilang tidak berbekas. Disinilah kemampuan mengelola uang dapat diterapkan. Kamu tidak perlu harus kuliah akuntansi dan management keuangan. Kamu hanya perlu mulai dengan cara yang simpel.

  • Pertama, Gunakan uang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan.
  • Kedua, jangan hanya menabung uangmu di bank yang akan mengikis uangmu sedikit demi sedikit, tetapi proseslah uangmu agar uang itu yang bekerja dan menghasilkan uang yang lebih banyak. Caranya bermainlah di bidang investasi seperti investasi reksadana, deposito, membangun bisnis dan usaha kecil.
  • Ketiga, selalu berpikir bahwa kamu dalam keadaan kekurangan dan kritis keuangan supaya kamu lebih berhati-hati dalam memakai uang. Tidak memamerkan uang dan tidak bergaya hidup mewah seperti di sinetron TV Indonesia.
2 Likes

Menurut Nielsen Group, sebuah perusahan konsultan manajemen di Amerika, masyarakat modern saat ini dituntut untuk memiliki kompetensi soft skill yang kompleks. Berikut beberapa kemampuan soft skill yang dibutuhkan :

Personal Skill


Akuntabilitas Pada Anggota (Accountability for Others) - bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan mereka yang Anda kelola.

Mendengarkan Secara Akurat (Accurate Listening) – keterbukaan kepada orang lain dan kesediaan untuk mendengar apa yang dikatakan orang lain, bukan apa yang anda pikir mereka harus katakan, atau yang akan dikatakan.

Memperhatikan Detail (Attention to Detail) – kemampuan melihat dan memperhatikan hal terperinci; kemampuan untuk mengenali bagian komponen dari sebuah prosedur atau objek, dan untuk memverifikasi kebenaran atau kesalahan pada individu atau prosedur.

Sikap Terhadap Kejujuran (Attitude toward honesty) – Pandangan seseorang terhadap kejujuran, dan dari struktur dan aturan di masyarakat; tingkat harga diri dari untuk menerima konsekuensi dari tindakan mereka sendiri, dan terhadap laporan dari ketidakjujuran orang lain.

Sikap Terhadap Orang Lain (Attitude toward others) – menjaga sikap positif, terbuka, dan objektif terhadap orang lain.

Pengambilan Keputusan Yang Seimbang (Balanced Decision Making ) - kemampuan untuk bersikap objektif dan adil mengevaluasi aspek yang berbeda dari sebuah situasi, dan untuk membuat keputusan etis yang memperhitungkan semua aspek dan komponen; kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri, orang lain, dan perusahaan pada waktu yang sama.

Komitmen Pada Pekerjaan (Commitment to the Job) – motivasi dari dalam diri sendiri untuk tetap fokus dan berkomitmen kepada tugas.

Berpikir Secara Konseptual (Conceptual thinking) – kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi sumber daya dan rencana dari pemanfaatannya terhadap pelaksanaan menyeluruh, rencana jangka panjang.

Organisasi Yang Konkrit (concrete organization) – kebutuhan untuk memahami langsung kebutuhan konkrit dari sebuah situasi dan membangun perencanaan tindakan yang efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut.

Konsistensi dan Keandalan (Consistency and Reliability) - kapasitas untuk merasakan motivasi internal untuk lebih teliti dalam upaya pribadi atau profesional; kebutuhan untuk konsisten dan dapat diandalkan dalam peran kehidupan.

Penyampaian Nilai Peran (Conveying role value) - kemampuan untuk memanfaatkan berbagai kapasitas (empati, interpersonal, dan kepemimpinan) untuk menanamkan kepada karyawan nilai dari tugas yang diberikan.

Mengoreksi Orang Lain (Correcting Others) – kemampuan untuk menghadapi isu-isu kontroversial atau sulit secara obyektif; kemampuan untuk mengesampingkan emosi pada diskusi tentang masalah kedisiplinan.

Kreatifitas (Creativity) – kemampuan untuk mengadaptasi metode tradisional, konsep, model, desain, teknologi, atau system kepada aplikasi baru; atau kemampuan untuk merancang pendekatan baru untuk membuat perbaikan atau menyelesaikan masalah.

Mengembangkan Orang Lain (Developing Others) – kemampuan untuk memahami kebutuhan, minat, kekuatan dan kelemahan dari orang lain, dan memanfaatkan informasi ini untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan orang lain.

Mengendalikan Emosi (Emotional Control) – kemampuan untuk menjaga dan mempertahankan sikap rasional dan objektif ketika menghadapi situasi stres atau emosional; ketenangan dalam situasi yang sulit dan kemampuan untuk bertindak secara objektif, bukan impulsif atau emosional.

Pandangan Empati (Empathetic Outlook) – kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan dan sikap orang lain; kemampuan untuk menempatkan diri “pada diri mereka” lain dan melihat situasi dari sudut pandang mereka.

Rasa Senang Dalam Bekerja (Enjoyment of the Job) – perasaan bahwa sebuah pekerjaan adalah memuaskan dan bermanfaat dan memiliki manfaat positif dan berguna.

Mengevaluasi Orang Lain (Evaluating Others) – kemampuan untuk membuat penilaian yang realistis dan akurat terhadap orang lain, untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan mereka, dan memahami cara berfikir, bersikap dan berperilaku.

Mengevaluasi Apa Yang Diucapkan (Evaluating what is said) – keterbukaan seseorang kepada orang banyak dan kemauan untuk mendengarkan apa yang dikatakan dan bukan apa yang mereka pikir seharusnya diucapkan atau apa yang akan dikatakan.

Fleksibilitas (Flexibility) – kemampuan untuk memodifikasi, merespon dan berintegrasi terhadap perubahan dengan perlawanan yang minimal.

Mengikuti Arah (Following Directions) – kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan mengikuti arah atau instruksi dengan baik; kemauan untuk menunda keputusan pribadi, atau mengambil tindakan, hingga sudah terbuka untuk mengerti apa yang diperintahkan.

Kebebasan dari Prasangka (Freedom from Prejudice) - kemampuan untuk tidak mengizinkan implikasi yang tidak adil dari informasi praduga untuk masuk ke dalam dan efek hubungan interpersonal; tidak mengizinkan kelas, ras, jenis kelamin, etnis, atau filosofi pribadi seseorang menjadi penyebab Anda berprasangka dalam tindakan, potensi, niat, atau sikap orang lain.

Memperoleh Komitmen (Gaining Commitment) – kemampuan untuk mengembangkan dan bersikap dimulai dari diri sendiri pada karyawan dalam mengejar tujuan; kemampuan untuk memotivasi karyawan untuk melakukan yang terbaik dan untuk menyediakan mereka dengan ide-ide konkret yang praktis dan metode yang membantu mereka dalam meraih tujuan.

Fokus Pada Tujuan (Goal Directedness) – kemampuan untuk tetap pada target dalam keadaan apapun; kemampuan untuk tetap fokus pada tugas yang diberikan.

Menangani Penolakan (Handling Rejection) – kemampuan untuk menangani penolakan pada tingkat pribadi, hanya didasarkan pada harga diri anda; kemampuan untuk melihat diri Anda sebagai berharga, terpisah, dan terlepas dari peran atau posisi dalam hidup.

Penanganan Stres (Handling Stress) - kemampuan untuk menyeimbangkan dan meredakan ketegangan batin dan tekanan; kemampuan untuk secara tepat memisahkan diri dari situasi stres dan menjaga kedamaian batin.

Kesadaran manusia (Human Awareness) - kemampuan untuk sadar akan perasaan dan pendapat orang lain; menghargai orang lain sebagai orang bukan hanya nilai atau peran organisasi mereka.

Inisiatif (Initiative) - kemampuan untuk mengarahkan energi seseorang ke arah penyelesaian tujuan, tanpa gangguan eksternal; kemampuan untuk melakukan tindakan berdasarkan interpretasi sendiri atau pemahaman dari sebuah situasi.

Kemampuan Integratif (Integrative Ability) – kemampuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur dari situasi masalah dan memahami komponen yang paling penting; kemampuan untuk melihat berbagai jenis struktur situasi dan berbagai jenis solusi.

Pengendalian Diri Internal (Internal Self Control) - kemampuan untuk mempertahankan tindakan rasional dan obyektif ketika menghadapi situasi stres dan emosional.

Intuisi Pengambilan Keputusan (Intuitive Decision Making) - kemampuan untuk secara akurat mengkompilasi persepsi intuitif tentang sebuah situasi menjadi keputusan atau tindakan; kemampuan untuk menjadi ‘intuitif’ sebagai lawan intelektual dalam membuat keputusan, dan efektif dalam melakukan hal tersebut.

Etos Kerja (Job Ethic) - komitmen personal yang dibuat secara pribadi melaksanakan tugas tertentu.

Memimpin Orang Lain (Leading Others) - kemampuan untuk mengatur dan memotivasi orang untuk menyelesaikan target dalam cara bahwa setiap orang merasa teratur dan terarah.

Perencanaan Jangka Panjang (Long Range Planning) - kemampuan untuk mengidentifikasi tujuan jangka panjang dan mendesain rencana yang realistis untuk mencapainya; kemampuan untuk melihat gambaran besar dan kemudian menentukan arah yang harus diambil dan bagaimana menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan masa depan.

Memenuhi Standar (Meeting Standards) - kemampuan untuk melihat dan memahami persyaratan yang dinyatakan dalam pekerjaan, dan komitmen seseorang untuk mencapainya.

Pemantauan Orang Lain (Monitoring Others) - kemampuan untuk fokus pada tindakan dan keputusan orang lain dengan cara yang praktis untuk mengidentifikasi keberhasilan dan kesalahan; kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab keberhasilan dan kegagalan dan melakukannya secara obyektif dan akurat.

Mendengarkan Secara Objektif (Objective Listening) - kemampuan untuk mendengarkan berbagai sudut pandang tanpa prasangka.

Membaca Orang Lain (People Reading) - kemampuan untuk “membaca hal tersirat” dalam hal-hal seperti bahasa tubuh, keengganan, stres, dan emosi orang lain.

Kegigihan (Persistence) - kemampuan untuk tetap pada jalur pada waktu sulit; kemampuan untuk tetap termotivasi untuk mencapai tujuan dalam menghadapi kesulitan atau hambatan.

Akuntabilitas pribadi (Personal Accountability) - kemampuan untuk bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan atau keputusan diri sendiri; mengambil tanggung jawab atas keputusan ini dan tidak menyalahkan atau kinerja yang buruk di tempat lain atau pada orang lain.

Komitmen pribadi (Personal Commitment) - kemampuan untuk fokus dan tetap berkomitmen untuk tugas; ukuran dari komitmen pribadi internal yang seseorang tanpa pengaruh eksternal atau tekanan.

Dorongan Pribadi (Personal Drive) - sebuah pengukuran seberapa kuat seseorang merasa perlu untuk meraih, mencapai, atau menyelesaikan sesuatu.

Hubungan pribadi (Personal Relationship) - motivasi yang dihasilkan oleh rasa pentingnya membentuk hubungan pribadi dengan lingkungan kerja.

Meyakinkan Orang Lain (Persuading Others) - kemampuan untuk meyakinkan orang lain, untuk menyajikan sudut pandang seseorang dengan sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh orang lain.

Berpikir Praktis (Practical Thinking) - kemampuan untuk membuat keputusan yang praktis dan masuk akal; untuk melihat dan memahami apa yang terjadi dengan akal sehat.

Berfikir proaktif (Proaktive Thinking) - kemampuan untuk memilah sebab akibat dari pilihan dan tindakan yang diperbuat; kem ampuan untuk membuat skenario situasi yang dihasilkan dari keputusan atau rencana yang akan dijalankan di dalam pikiran.

Mengelola masalah (Problem Management) – kemampuan untuk menjaga masalah kritis secara kontekstual sehingga bisa mengerti apa yang sedang terjadi dan memanfaatkan kecerdasan yang dipunyai untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Analisa Masalah/Situasi (Problem/Situation Analysis) - kemampuan untuk mengenal elemen elemen situasi dalam permasalahan dan memahami komponen mana saja yang kritis; kemampuan untuk mengenal aktivitas kritis yang dilakukan – agar dapat mengurutkan (breakdown) proses proses aktivitas tersebut dalam beberapa komponen aktivitas.

Kemampuan mengatasi masalah (Problem Solving Ability) – keampuan untuk mencari solusi solusi alternative untuk mengatasi suatu masalah dan memilih opsi terbaik; kemampuan untuk mencari komponen sistem yang menyebabkan masalah, termasuk opsi yang tersedia untuk mengatasi masalah tersebut dan menyelesaikan tugas.

Fokus Pekerjaan dan Tujuan (Project and Goal Focus) – kemampuan untuk mengatur arah meski ditengah terjangan dan halangan; kemampuan untuk tetap memenuhi target, apapun yang terjadi.

Pen-Jadwal-an Pekerjaan (Project Scheduling) – kemampuan untuk memahami alokasi sumber daya yang tersedia untuk dimanfaatkan demi menyelesaikan tugas dalam waktu yang sudah ditentukan.

Orientasi Kualitas (Quality Orientation) – bakat alami seseorang untuk melihat detil, menilai detil tersebut mengikuti standard an mencari cacat dalam produk.

Ekspektasi realistis (Realistic Expectations) – kemampuan utnuk memiliki ekspektasi yang orang lain bisa raih secara nyata, baik dalam kualitas produksi atau kualitas kerja.

Merencanakan Tujuan Realistis untuk Orang Lain (Realistic Goal Setting for Others) – kemampuan untuk mengatur tujuan agar orang lain dapat menyelesaikan tugas dengan memanfaatkan suumer daya yang ada dalam jadwal yang sudah ditentukan; kemampuan untuk untuk memperbaiki performa kerja sebelumnya dalam meraih tujuan atau memenuhi kuota.

Merencanakan Tujuan Realistis untuk Diri Sendiri (Realistic Personal Goal Setting) – kemampuan untuk mengatur tujuan untuk diri sendiri yang dapat diraih melalui sumber daya yang ada dan kurun waktu yang sudah ditentukan.

Mengerti Orang Lain (Relating to Others) – kemampuan untuk mengimbangkan sudut pandang personal dan pengetahuan orang lain untuk memilih tindakan terbaik; kemampuan untuk memanfaatkan skill interpersonal untuk berinteraksi dengan orang lain secara akurat.

Menghormati Peraturan (Respect for Policies) – kemampuan untuk melihat dan mengapreasiasi nlai dari membuat perkara bisnis berdasarkan tujuan dari peraturan dan standar perusahaan

Menghormati Properti (Respect for Property) – kemampuan untuk melihat dan mengapresiasi nilai dari melindung dan menggunakan harta benda perusahaan

Orientasi Hasil (Results Orientation) – kemampuan umtuk mengidentifikasi tindakan yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan mendapatkan hasil; kemampuan untuk untuk memenuhi jadwal, tenggat waktu, kuota dan standar performa

Mengerti Peran (Role Awareness) – kemampuan untuk mengerti peran dalam dunia ini atau dalam lingkungan yang ada; kemampuan untuk menempatkan posisi dan paham betul akan bagaimana ekspektasi tersebut dipenuhi.

Percaya Diri akan Peran (Role Confidence) – kemampuan untuk mengembangkan dan mengatur kekuatan dalam berdasarkan kepercayaan diri bahwa akan berhasil.

Melihat Masalah yang mungkin terjadi (Seeing Potential Problem) – kemampuan untuk menyusun situasi dalam skenario yang sedang terjadi dan mengidentifikasi perkembangan yang mungkin akan menimbulkan masalah nantinya.

Menilai Diri Sendiri (Self Assesment) – kemampuan utnuk mengidentifikasi manajemen kekuatan dan kelemahan personal secara praktikal ataupun objektif; kemampuan untuk mengatur skill dan teknik yang dikuasai untuk mengevaluasi situasi eksternal dan menggunakannya dalam menilai performa dan kemampuan diri sendiri.

Percaya Diri (Self Confidence) – kemampuan untuk mengembangkan dan mengatur kekuatan diri sendiri berdasarkan hasrat untuk sukses; kepercayaan seseorang bahwa dirinya memiliki kecakapan untuk meraih sukses.

Mengarahkan diri sendiri (Self Direction) – Dorongan dalam diri sendniri untuk bisa menjadi yang paling hebat dalam bidang yang dipilih; hasrat untuk menjadi “lebih baik” daripada sekarang, tak peduli seberapa hebat jadinya.

Disiplin Diri dan Kesadaran Kerja (Self Discipline and Sense of Duty) – ukuran dari kekuatan kepercayaan dalam seberapa besar kendali diri sendiri; sebuah paksaan diri yang harus dipatuhi sejalan dengan idealisme dalam diri.

Perbaikan Diri (Self Improvement) – sebuah motivasi seseorang yang berdasar pada seberapa penting untuk memperbaiki diri sendiri; motivasi untuk memperoleh kesempatan latihan dan perkembangan edukasi.

Mengelola Diri (Self Management) – kemampuan untuk memprioritaskan dan menyelesaikan tugas demi tercapainya hasil yang diinginkan dalam waktu yang sudah ditentukan.

Kemampuan Awal Diri (Self Starting Ability) – kemampuan mencari motivasi diri untuk menyelesaikan tugas, dan mengukur bagaimana mempertahankan kemampuan kerja ditengah kesulitan.

Kesadaran Kepemilikan (Sense of Belonging) – seberapa termotivasi seseorang dengan perasaan bahwa ia adalah bagian dari tim.

Kesadaran Ketepatan Waktu (Sense of Timing) – kemampuan untuk mengevaluasi secara akurat tentang hal yang sedang terjadi sehingga statement, keputusan dan tindakan yang dihasilkan sangat efektif, akurat dan tepat.

Peka terhadap Orang Lain (Sensitivity to Others) – kemampuan kepekaan dan sadar akan perasaan orang lain, akan tetapi tidak membuat kepekaan ini menjadi halangan untuk membuat keputusan yang objektif.

Menyerahkan Kontrol (Surrending Control) – kemampuan untuk menyerahkan kendali dari sebuah situasi; kemampuan untuk tetap nyaman dalam situasi dimana porsi signitifkan dari tanggung jawab untuk meraih tujuan berada di tangan orang lain.

Penyelesaian Masalah melalui Teori (Theoretical Problem Solving) – kemampuan untuk mengaplikasikan penyelesaian masalah dalam scenario mental atau abstrak; kemampuan untuk membuat, mengoperasikan dan mengidentifikasi masalah dalam situasi hipotesa lalu merancang respon yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kepekaan (Understanding Attitude) – kemampuan untuk melihat hal yang “tersirat” dalam mengerti hal hal seperti bahasa tubuh, sikap diam, penekanan dan emosi.

Mengerti Kebutuhan Motivasi (Understanding Motivational Needs) – kemampuan untuk memahami kebutuhan dan keinginan dari pegawai agar memotivasi mereka untuk sukses bersama; kemampuan untuk mengajak self-starting, usaha yang aktif dalam meraih tujuan.

Mengerti Motivasi Prospek (Understanding Prospects Motivation) – kemampuan untuk memahami prospek kebutuhan dan keinginan klien dan menggunakan pemahaman tersebut untuk membantu klien dalam mengatur koneksi emosional dan memotivasi mereka untuk mengambil tindakan.

Penggunaan Akal Sehat (Using Common Sense) – kemampuan untuk focus dalam pemikiran praktikal; kemampuan untuk melihat dunia secara jelas.

Kompetensi Perilaku


Analisa Data (Analysis of Data) – Bekerja dalam bidang yang menyangkut detil besar membutuhkan analisa data, detil dan fakta dan menantang pengambilan keputusan dan pengambilan keputusan tersebut membuat data teratur secara akurat untuk sidak yang berapa kalipun.

Kompetitif (Competitiveness) – Bekerja artinya berada dalam lingkungan yang menuntut dimana kemenangan konsisten benar benar penting. Pekerjaan menuntut adanya keuletan, keberanian, ketegasan dan hasrat untuk menang dalam situasi bersaing.

Berorientasi Konsumen (Customer Oriented) – Bekerja menuntut adanya pandangan positif dan konstruktif dengan orang lain. Ada presentase tinggi waktu akan habis karena berhasil mendengar, memahami dan bekerja dengan banyak orang dari berbagai latar belakang berbeda untuk mencapai hasil “sama untung”

Acap Berubah (Frequent Change) – Bekerja membutuhkan tingkat kenyamanan saat menyelesaikan banyak tugas sekaligus. Akan seringkali terjadi permintaan untuk meninggalkan pekerjaan tak terselesaikan dan pindah ke pekerjaan baru dengan sedikit pemberitahuan atau tidak sama sekali.

Seringnya Interaksi dengan Orang Lain (Frequent Interaction with Others) – Bekerja membutuhkan “orientasi orang lain” yang kuat daripada orientasi kerja. Bekerja akan berurusan dengan banyak interupsi dalam basis kontinual maka dari itu mengatur tatap muka dengan orang lain sangatlah penting.

Tempat Kerja yang Teratur (Organized Workplace) – Kesuksesan pekerjaan bergantung pada system dan prosedur, kesuksesan akan dapat diraih karena organisasi tugas, proyek dan aktivitas yang hati hati dan membutuhkan akurasi. Penyimpanan laporan dan rencana juga termasuk komponen penting dalam kerja.

Urgensi (Urgency) – Bekerja membutuhkan ketegasan, respon cepat, tindakan cepat. Ketepatan dan kecepatan ini akan teraplikasi dalam situasi kritikal yang menuntut keputusan on the-spot yang dibuat dengan penilaian yang baik. Bekerja akan menghadapi berbagai tenggat waktu penting yang harus dipenuhi tepat waktu.

Kepandaian dalam banyak hal (Versatility) – Bekerja membutuhkan optimisme tinggi dan orientasi “bisa lakukan”. Bekerja juga membutuhkan berbagai macam bakat dan kerelaan untuk beradaptasi dengan perubahan tugas yang dibutuhkan.

Motivator Personal


Estetis (Aesthetic) – Termotivasi oleh keseimbangan, ekspresi diri yang kreatif, kecantikan dan alamiah.

Sosial (Social) – Termotivasi oleh kesempatan bisa membantu orang lain dan berkontribusi dalam progress sosial.

Tradisional (Traditional) – Termotivasi oleh struktur sosial, norma, aturan dan asas

10 Likes

A post was merged into an existing topic: Bagaimana melatih sikap postif terhadap orang lain?

A post was merged into an existing topic: Bagaimana mengembangkan kejujuran dalam pribadi kita?

A post was merged into an existing topic: Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan personal commitment?

A post was merged into an existing topic: Komunikasi yang Baik, Kunci Emas Sebuah Kesuksesan

A post was merged into an existing topic: Bagaimana melatih kemampuan estetika kita?

Dalam dunia kerja yang menuntut Anda untuk menjadi seorang profesional, banyak skill yang sebaiknya Anda ketahui untuk menanjang pengetahuan di dunia kerja. disini saya akan menjelaskan sedikit tentang soft skill apa saja yang perlu dimiliki oleh pekerja profesional.

1. Mampu Bekerja Sama
Sebuah perusahaan adalah sebuah tim yang saling membantu meski secara tidak langsung. Bagian terkecil dari perusahaan seperti office boy sampai yang tertinggi seperti direktur semuanya saling melengkapi untuk membangun sebuah perusahaan yang menguntungkan. Nah begitupun pada saat kamu akan melamar pekerjaan, maka konstribusi apa yang bisa kamu berikan untuk perusahaan adalah pertanyaan yang harus kamu selesaikan.

Selain bekerja sama sebagai bagian dari perusahaan, soft skill juga dibutuhkan dalam bekerja sama secara tim. Sebuah perusahaan biasanya akan membagi karyawannya ke beberapa kelompok sesuai dengan bidang tertentu, dan jika dibutuhkan akan di pecah kembali menjadi tim-tim kecil untuk menunjang efektifitas sebuah pekerjaan. Soft skill dalam kemampuan bekerja sama ini akan banyak mempengaruhi tingkat kesuksesan kamu nantinya.

2. Mampu Memberikan Solusi
Dalam perjalanan karir kedepannya kamu akan menghadapi berbagai masalah, baik itu di tempat kamu bekerja atau masalah pada dirimu sendiri. Kemampuan untuk memecahkan masalah ini akan sangat bermanfaat sehingga perusahaan tempat kamu bekerja akan merasakan kontribusi yang jelas dan nilai dari soft skill yang kamu miliki.

Pun sama halnya dengan masalah pribadi. Dengan mampu memecahkannya sebaik dan secepat mungkin, kamu akan mendaparkan performa bekerja yang lebih baik dan kebih produktif.

3. Mampu Berkomunikasi dengan Baik
Kamu mampu menempatkan diri sebagai pembicara atau pendengar dan baik dengan keduanya. Terutama menjadi pendengar yang baik adalah sebuah kemampuan yang harus di miliki oleh karyawan baik. Dengan menjadi pendengar yang baik, diharapkan kamu bisa memahami dan mudah mengerti dengan segala arahan dan keinginan atasan. Bahkan, di level tertentu kamu bisa memahami apa yang diinginkan oleh atasan tanpa perlu membicarakannya.

Selain itu kamu bisa juga memaksimalkan soft skill dengan kemampuan berbicara dan menyampaikan sesuatu. Hal ini terutama dibutuhkan pada saat kamu diminta pendapat atau solusi yang kamu miliki.

4. Mampu Mengendalikan Rasa Nyaman
Terkadang kondisi yang terjadi di tempat kamu bekerja menjadi tidak menentu. Ada kalanya ketika kamu mendapatkan berbagai masalah atau situasi yang menyulitkan, nah disini kamu membutuhkan kemampuan untuk tetap mempertahankan kenyamanan. Rasa nyaman dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan dengan kondisi yang kondusif, baik untuk dirimu sendiri dan teman-teman sepekerjaan.

5. Kemampuan Beradaptasi
Peralihan dalam dunia kerja sering kali tidak terhindarkan. Terkadang ada saatnya kita menerima tanggung jawab di lingkungan baru, atau ketika kita menerima rekan kerja baru. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk orang-orang yang ada didalamnya akan membantu kamu dalam menghasilkan kinerja yang optimal dan maksimal.

Itulah setidaknya 5 soft skill yang harus ada untuk menjadi pekerja yang sukses. Masih banyak soft skill yang bisa kamu pelajari dan kamu latih, sehingga menjadikan keperibadianmu unggul di dunia penuh kompetisi ini.

2 Likes

A post was merged into an existing topic: Bagaimana agar kita dapat mengarahkan diri sendiri?

A post was merged into an existing topic: Bagaimana caranya mengembangkan kreatifitas?