Kita Harus Mengejar Cita-Cita Tinggi atau Bersikap Realistis Saja?

cita-cita

Perlukah kita mengejar cita - cita yang kita idamkan dari dulu? ataukah kita perlu lebih bersikap realistis saja sesuai dengann keadaan saat ini?

1 Like

Kita diajarkan untuk menanam cita-cita didalam diri sejak kecil, tujuannya tidak lain adalah agar selalu termotifasi untuk melakukan hal-hal baik dalam hidup. (tentunya cita-cita yang baik)

Menurut saya hidup perlu tantangan dan perjuangan karena jika dua hal itu tidak dimiliki maka kehidupan akan terasa hambar dan tanpa motivasi untuk maju menjadi lebih baik. dan cita-cita adalah mesin untuk selalu berbuat yang terbaik. termasuk menggapai cita-cita.

Kembali ke pertanyaan Haruskan kita mengejar cita-cita? atau menjadi realistis? saya pribadi lebih memilih mengejar cita-cita. Tujuannya adalah agar selalu termotivasi dalam menjalani hidup dan membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita tidak hanya “omong doang” tetapi berani ber angan-angan berarti berani mewujudkannya.

3 Likes

Setuju dengan apa yang dituliskan. Semua akan tersa hambar jika tidak ada tantangan dan perjuangan. Disinii saya akan menambahkan sedikti ide dari saya.

Hidup itu sangat singkat, jangan pernah menyianyiakan hidup kita. Hiduplah dengan impian kita dengan cita - cita yang kita miliki, maka setiap hari kita bisa merasakan semangat untuk meraih hal - hal tersebut. Tapi, menurut saya, kita juga perlu mempertimbangkan relitas yang ada disekitar kita. Maksudnya adalah untuk bisa meraih cita - cita kita juga perlu dukungan dari realitas di sekitar kita. Contoh : “anda memiliki cita - cita untuk memiliki kolam renang, realitanya anda tidak memiliki uang yang cukup dan anda juga tidak memiliki lahan untuk membangun kolam renang”.

Ini yang saya rasa perlu kita sadari, realita disini bukan bermaksud untuk menghambat mimpi anda, melainkan realita disini memberikan bumbu sedap dalam hidup anda. Jadi anda perlu berjuang melewati realita tersebut demi menggapai mimpi anda. Lakukan hal yang dapat membuat anda dekat dengan impian anda, dalam hal ini mengumpulkan uang misalnya, agar anda dapat memiliki lahan dan membangun kolam renang pribadi.

Semua hal di kehidupan tidak akan pernah luput dari mimpi dan juga realita. Kita hanya perlu menjalankannya. Jangan pernah menganggap semua hal adalah beban, karena sebenarnya beban bukan berasal dari mimpi atau reaita hidup, melainkan beban adalah sesuatu yang diri kita ciptakan sendiri.

1 Like

HARUS

Oxford University telah melakukan penelitian tentang hubungan antara visi / cita-cita dan tingkat kesejahteraan hidup pada 300 mahasiswa. Berikut adalah hasilnya,

Data mahasiswa ketika ditanya visinya:

  • 60 % tidak tahu
  • 30 % tahu samar-samar
  • 10 % tahu (7% tahu dengan jelas; 3 % tahu dengan detail/ rinci)

Data kesejahteraan hidupnya setelah 10 tahun kemudian:

  • 60 % < rata-rata
  • 30 % rata-rata
  • 10 % di atas rata-rata (dengan 3 % nya jauh di atas rata-rata)

Kesimpulannya, visi pribadi atau cita-cita sangat identik dengan capaian seseorang di masa depan.

image

Membuat visi itu gratis !

Membuat visi hanya perlu membuat harapan tentang masa depan yang realistis, bisa dicapai, menarik, dan menumbuhkan komitmen untuk mencapainya. Dalam membuat visi yang baik haruslah cocok dengan diri kita. Tidak bertentangan dengan nilai-nilai kita maupun kepribadian kita. Sebisa mungkin unik dan khas, murni dari diri kita. Mudah dimengerti dan diingat. Jangan sampai justru membingungkan diri sendiri.

Visi yang baik harus benar-benar realistis dan terukur. Jangan sampai terjebak pada angan-angan kosong! Perilaku ini hanya dilakukan oleh mereka yang suka melamun, lari dari kenyataan dan tidak mau bekerja untuk mencapainya. Mereka tidak mau bekerja karena memang tidak mungkin untuk mencapainya dan pasti bingung harus memulai dari mana.

Visi yang baik juga harus fokus dan jelas, bahkan kalau bisa sedetail mungkin. Contohnya, profesi apa yang diinginkan? Pengusaha. Pengusaha apa? Pengusaha Roti. Roti apa? Roti selai wortel, selai coklat putih, dan selai bayam

Berapakah pendapatan per tahun ? Kapan? Saat usia 30 tahun. Dan seterusnya.

Lakukan dengan membuat pertanyaan menggunakan rumus 5W 1H (what, where, when, who, why, how) seperti sedang membuat berita.

Kemudian, Tulislah semua itu dengan rapi dan jelas! Katakan pada orang lain untuk menguatkannya! Jika ada yang mengejek, berarti itu berita bagus untuk kita. Hal tersebut justru menambah semangat agar kita bisa membuktikan dan mewujudkan visi kita. Kalau perlu, visi itu dipasang di tempat yang paling sering kita lihat, misalkan di depan cermin.

“I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.” [Konfusius]