Kisah "The Prayer of a Dying Child"

Saya bangun pada suatu pagi dan saya berumur 17 tahun,
Saya tahu hari itu telah tiba.
Pada hari saya membuktikan kepada semua orang betapa kerennya saya.
Pada hari saya menerima kematian sebagai takdir saya.

Sedikit yang saya tahu saya akan menyesali hari itu.
Dan keluarga saya yang membuat saya tetap hidup selama 17 tahun.
Akan dikutuk oleh saya selama bertahun-tahun karena rasa sakit tiada akhir.

Tanpa pikir panjang saya menyalakan rokok.
Saya tahu itu harus dilakukan sebelum hari berakhir.
Saya terbatuk sedikit tetapi saya baik-baik saja.

Sekarang ketika saya berbaring di tempat tidur, batuk dan tersedak.
Keluarga saya ada di samping saya.
Orang tua saya dan saudara perempuan saya.
Saya berbisik di telinga saudara perempuan saya.
“Tolong jangan lakukan apa yang saya lakukan”
Dia hanya menganggukkan kepalanya dalam diam.

Sekarang ketika malaikat saya memegang saya dalam pelukannya.
Saya tahu ini saatnya bagi saya untuk pergi.
Saya menutup mata dan menciumnya untuk terakhir kalinya.
Sangat lucu bagaimana kita membenci mereka yang mencoba membantu kita ketika kita masih hidup.
Dan bagaimana kita memohon mereka untuk menyelamatkan kita saat kita akan mati.
Semua ini karena satu rokok konyol.
Semua ini karena seseorang cukup bodoh untuk mengatakan bahwa,
Merokok itu keren.

Apa pendapat Anda tentang ini?

Sumber:
http://www.pravsworld.com/the-prayer-of-a-dying-child/

Seringkali kita tidak memperhatikan orang yang menyayangi kita di saat kita sehat, tapi baru sadar ketika kita sakit atau ajal menjemput. Kenapa harus menunggu saat seperti itu? seharusnya sebagai manusia yang berbudi dan berakal kita menghargai dan memperhatikan juga orang-orang yang kita sayangi.

1 Like