Kisah Semangkuk Mie Dari Orang Asing Dan Sedalamnya Kasih Ibu

Noodle

Suatu malam, Liza, seorang remaja berusia 16 tahun, berdebat panjang dengan sang ibu. Kesal karena sang ibu terus-terusan menyalahkannya, Liza pun keluar rumah dan membanting pintu. Ia tak tahu harus pergi ke mana, yang ia tahu hanyalah ia harus segera keluar dari rumah yang ‘menyebalkan’ itu.

Setelah berjalan lebih dari 5 km, malam mulai larut. Liza yang keluar rumah tanpa mengenakan baju hangat sehelai pun, merasa mulai lapar. Ia merogoh kantong celananya.

Nihil. Yang ada hanya selembar kertas tissue.

Dengan perut yang kosong, Liza melangkah gontai ke sudut jalan. Ia berhenti di depan sebuah kedai mie yang masih buka. Aroma harum mie berkuah membangkitkan air liurnya. Ia berharap semangkuk mie berkuah hangat dengan bawang goreng lezat… “Ah, berhenti berkhayal, aku toh tak punya uang!” gumam Liza sambil beranjak pergi.

Tetapi langkahnya terhenti, kala seorang wanita tua memanggil dirinya. “Halo, Nak, kamu mau semangkuk mie panas?”. Wanita tersebut adalah sang pemilik kedai. “Kami mau tutup dan tersisa satu porsi. Kalau kamu mau, ambillah.”

“Ta… tapi, saya tidak punya uang sepeserpun, Bu.”

“Tidak apa-apa. Ini gratis, kok,” ujar wanita itu sambil mengulurkan semangkuk mie yang masih panas kepada Liza.

Liza duduk dan tergugu. Tak lama kemudian, banjirlah matanya dengan air mata kesedihan.

“Mengapa kamu menangis, Nak?”

“Tidak, tidak apa-apa, saya hanya tersentuh akan kebaikan Anda, Bu. Sedangkan Ibu saya saja barangkali sekarang tak peduli saya berada di mana.”

“Apakah kamu bertengkar dengan ibumu, Nak?”

Liza tak menjawab, hanya menatapi mangkuk mie panasnya.

Wanita itu tersenyum. “Nak, mengapa kamu berpikir ibumu tak sayang padamu? Pikirkan lagi. Aku hanya memberimu semangkuk mie dan kamu merasa aku adalah orang paling baik sedunia. Sedangkan ibumu? Ibumu membesarkanmu sejak kamu lahir, bahkan selama sembilan bulan ia membawamu kemana pun. Mengapa kamu tak merasa bersyukur dan malah berlari meninggalkan ibumu?”

Liza termangu. Saat menyendokkan kuah mie ke dalam mulutnya, ia melihat cincin di jari manisnya, pemberian sang Ibu di hari ulangtahun ke-15 tahun lalu. “Ibu, bekerja siang malam semenjak Ayah meninggalkan kami. Hanya karena Ibu melihatku terkagum-kagum di depan toko perhiasan yang memajang cincin ini, Ibu rela menunda membeli kacamatanya yang rusak demi cincin ini di ulangtahunku.”

Sepanjang perjalanan Liza menangis. Kali ini ia tak lagi menangis karena marah, tetapi menyesal karena telah berteriak kasar pada ibunya tadi.

Di depan pagar rumah, Liza melihat sang ibu yang khawatir. Ia berlari membukakan pagar untuk Liza. Tak terkira bagaimana wajah ibu yang sungguh lega, putri sulungnya telah kembali ke rumah. “Liza, masuklah, Nak. Kamu pasti sangat lapar ya? Ini, Ibu sudah masak nasi dan ada macam-macam lauk di dalam. Ayo segera dimakan, mumpung masih panas…”

Tidak dapat menahan rasa harunya, Liza menangis di pundak sang ibu…


Di dalam hidup seringkali kita menghargai hal-hal kecil yang diperbuat orang lain, tetapi kita terkadang lupa melihat bagaimana pengorbanan orang tua kita. Cinta dan kasih orang tua adalah harta berharga yang diberikan pada kita sejak kita lahir. Ayah dan ibu tak pernah berharap kita membayar mereka kembali… tetapi sudahkah kita menghargai pengorbanan tanpa syarat yang diberikan mereka pada kita?

Sumber

https://www.fimela.com/parenting/read/3733741/kisah-semangkuk-mie-dari-orang-asing-dan-sedalamnya-kasih-ibu

Percayalah, marahnya ibu karena semata - mata perduli dengan buah hatinya. Kecewanya ibu adalah ibu menginginkan anaknya berbuat lebih baik lagi dari sekarang dan bahagianya kita adalah bahagianya ibu. Sungguh kita sebagai anak sampai kapanpun tak bisa membalas jasa seorang ibu walau dengan materi dan harta yang berlimpah, namun setidaknya kita bisa sedikit berbalas dengan menyenangkannya dan merawatnya di masa tuanya