Kisah Kasih Anak Sekolah

c5a09950b4952ec521da3ca4bfcbd4c0

Summary

https://id.pinterest.com/pin/726909196099278534/?nic_v2=1abtUYxob

Ketika aku duduk di bangku SMA, aku memiliki seorang teman dekat. Seseorang itu selalu menemaniku dan sangat perhatian kepadaku. Kami saling mengenal karena ketika kelas 1 SMA kami berada di satu kelas yang sama. Awalnya kami hanya sebatas tahu nama saja. Kami saling berbicara hanya ketika ada tugas kelompok. Beberapa kali aku berada dalam satu kelompok dengannya. Aku pun tak mengira kami bisa menjadi sangat dekat karena aku bukanlah orang yang mudah dekat dengan orang lain, apalagi lawan jenis. Pernah suatu hari ketika ada tugas kelompok, aku bertugas untuk mencetak hasil yang telah kelompokku kerjakan. Kebetulan aku memiliki printer di rumah. Aku pun memutuskan untuk mencetak tugas tersebut di rumah saja. Ketika hendak mencetak, ternyata tinta printerku habis. Aku pun memberi tahu teman dekatku yang kebetulan satu kelompok denganku. Ia menyarankanku untuk meminta tolong kepada salah satu laki-laki di kelompok kami untuk mencetak tugas itu karena kata temanku dia juga memiiliki printer di rumahnya. Aku pun menghubungi laki-laki itu. Dari situlah kedekatan kami dimulai.

Setelah kejadian mencetak tugas kelompok itu, entah mengapa aku dan laki-laki itu menjadi sering berkomunikasi, baik ketika bertemu di sekolah atau pun di media sosial. Kami saling bercerita tentang apa saja. Mulai dari hal yang penting hingga gurauan receh yang tidak penting. Bahkan kami saling memberitahukan rahasia-rahasia dalam hidup kami. Tanpa terduga, aku merasakan ada sesuatu yang aneh di antara aku dan laki-laki itu. Aku mulai mencari kehadirannya ketika dia tidak mengabariku. Aku bingung dengan apa yang kurasakan. Hingga pada suatu hari, laki-laki itu menyatakan perasaannya kepadaku. Ketika itu aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Aku bingung harus bagaimana. Aku begitu kaget dan tidak menyangka ia menyukaiku. Aku merasa bahagia ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Bahkan aku tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan kejadian itu. Dan aku pun sadar bahwa aku juga menyukai laki-laki itu. Ketika kali kedua ia kembali menyatakan perasaannya padaku, aku tidak ragu menerimanya.

Hari-hariku di SMA banyak kuhabiskan bersama laki-laki itu. Sepulang sekolah kami sering bermain dan belajar bersama. Ketika ada waktu luang, kami juga jalan-jalan dan menonton film bersama. Malam hari, kami sering belajar dan mengerjakan tugas bersama melalui video call. Hingga hari kelulusan tiba, hubungan kami masih baik-baik saja. Ketika kuliah, waktu kami untuk bersama menjadi berkurang. Kami berkuliah di universitas yang berbeda. Lokasi universitas kami pun berjarak cukup jauh. Namun, kami tetap berusaha saling meluangkan waktu untuk bertemu. Beberapa kali pertemuan kami gagal karena jadwal kuliah dan kegiatan yang lainnya sering berubah mendadak. Rasanya sedih dan kecewa.

Kesibukan kami yang terus bertambah membuat kami semakin jarang bertemu. Bahkan berkomunikasi melalui chat saja sudah jarang. Aku pun mulai terbiasa tanpa kehadiran laki-laki itu. Hingga suatu hari ketika aku menyadari ada sesuatu yang salah dalam hubungan itu. Aku merasa hubunganku dengan dia tidak sehangat dulu lagi. Kami sudah tidak saling peduli dan tidak saling mencari. Percakapan kami di chat juga hanya seperti formalitas yang sudah menjadi rutinitas. Aku pun memulai percakapan menanyakan tentang hubungan itu. Aku berniat ingin memperbaiki hubungan kami. Namun, tanpa kusangka ia tiba-tiba memutuskanku. Tidak ada penyebab yang jelas. Ia hanya mengatakan bahwa sekarang kami sudah berbeda dan tidak bisa bersama lagi. Ia bilang kami sudah punya kehidupan dan kesibukan masing-masing. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mau memaksakan hubungan yang pada akhirnya hanya aku yang berjuang. Aku hanya bisa mencoba menerima kenyataan. Disitulah akhir dari cerita kami. Cerita indah yang kini hanya tinggal kenangan.