© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Keutamaan Surah al Faatihah

Surah al-Faatihah mempunyai beberapa keutamaan. Di antara keutamaannya adalah sebagai berikut.

####I. Surah yang Paling Agung di Dalam Al-Ouran

Al-Bukhari, Abu Dawud, dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Sa’id ibnul-Mu’alla, dia berkata,

Pada suatu hari.saya sedang shaJat di masjid, lalu Rasulullah memanggil saya dan saya tidak menjawab panggilan beliau. Setelah selesai shalat, saya berkata kepada beliau,

‘Wahai Rasulullah, tadi saya shalat.’

Rasulullah bersabda,

'Bukankah Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. (al-Anfaal: 24)

Kemudian beliau bersabda,

"Saya akan mengajarkan kepadamu sebuah surah yang teragung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid.’

Kemudian beliau menggandeng tangan saya. Ketika beliau ingin keluar dari masjid, saya katakan kepada beliau,

"Wahai Rasulullah, bukankah engkau katakan bahwa engkau akan mengajarkan kepadaku surah teragung di dalam Al-Qur’an?’

Maka beliau menjawab,

“(Ia adalah surah), ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’ Ia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang (dalam setiap rakaat) dan Al-Qur’an yang agung yang diberikan kepada saya.”

####II. Surah yang Paling Utama di Dalam Al-Our’an
An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, lbnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata,

"Pada suatu hari Rasulullah dalam perjalanan. Kemudian beliau berhenti dan turun dari tunggangan beliau. Lalu seseorang turun dari tunggangannya juga untuk mendampingi beliau. Kemudian beliau bersabda,

“Maukah engkau saya beritahu surah yang paling utama di dalam AI- Qur’an?”

Lalu beliau membaca,

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” 5

####III. Surah al Faatihah adalah munajat antara hamha dan Rahbnya
Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan lbnu Majah me- riwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda,

Barangsiapa melakukan shalat tanpa membaca al-Faatihah, maka shalatnya tidak sempurna."

Beliau mengulangi sabda tersebut sebanyak tiga kali.

Lalu Abu Hurairah ditanya, “Ketika itu kita ikut imam?” Abu Hurairah menjawab,

“Jika begitu, bacalah al-Faatihah dengan tidak terdengar oleh orang lain.”

Karena saya mendengar Rasulullah bersabda,

"Allah ta’ala berfirman, ‘Aku membagi shalat menjadi dua; untuk-Ku dan untuk hamba.-Ku, dan Aku berikan kepada hamba-Ku apa yang dia minta.’

Jika sang hamba membaca, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’

Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku …’

Jika sang hamba membaca, ‘Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang,’

Allah berftrman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’

Jika sang hamba membaca, ‘Pemilik hari pembalasan,’

Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’

Jika sang hamba membaca,"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,’

Allah berfirman, ‘lni adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.’

Jika sang hamba membaca,"Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,’

Allah berfirman, 'Ini Aku berikan kepada hamba-Ku, dan untuknya apa yang dia minta."

(HR Muslim dalam Kitabush Shalah, No. 395, Abu Dawud dalam Kitabush Shalat, No. 821, at-Tirmidzi dalam Kitabut Tafsir, No. 2953, an-Nasa’i dalam Kitabu.J Iftitaah, No. 2953 dan Ibnu Majah dalam Kitabul Adab, No. 3784)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini (menunjukkan) kewajiban membaca Al-Fatihah dan itu merupakan keharusan. Shalat tidak sah kecuali dengan membacanya. Lain halnya, jika orang tersebut tidak mampu. Ini adalah mazhab Malik, Syafii dan mayoritas para ulama dari kalangan para shahabat, tabiin dan (generasi) setelahnya."

  • Al-fatihah merupakan surat paling mulia dalam Al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Tirmizi, no. 2875 dan dishahihkannya. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Ubay bin Ka’b.

“Apakah engkau suka aku ajarkan kepadamu surat yang belum diturunkan di Taurat, Injil, Zabur tidak juga dalam AlFurqan sepertinya?" Dia menjawab, “Ya. Wahai Rasulullah." Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana anda membaca dalam shalat?" Beliau menjawab, “Membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah).” Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya. Tidak diturunkan dalam Taurat, Injil, Zabur tidak juga dalam AlFurqan (surat) semisalnya.” (Dishahihkan Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

  • Al-fatihah adalah Assab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (QS. Al-hijr: 87)

Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 4474 dari Abu Said bin AlMualla, "Sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya

“Aku akan ajarkan kepadamu suatu surat yang paling utama dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid." Kemudian beliau memegang tanganku. Ketika ingin keluar (masjid) saya katakan kepada beliau, “Tidakkah engkau mengatakan kepada saya akan mengajarkan kepadaku surat yang paling agung dalam Al-Qur’an?" Beliau menjawab, “Al-Hamdulillahi rabbil’alamin (Al-Fatihah), dia adalah As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al-Qur’anul Azim yang diberikannya.”

  • Surat Al-fatihah mengandung obat hati dan obat badan.
    Ibnu Qoyyim rahimahulah berkata, “Adapun terkait obat bagi hati, maka sungguh surat ini memiliki kandungan tersebut. Karena penyakit hati berkisar pada dua sumber. Rusaknya ilmu dan rusaknya niat yang berdampak pada dua penyakit mematikan yaitu kesesatan dan kemarahan. Kesesatan adalah dampak dari rusaknya ilmu. Sementara kemarahan adalah dampak dari rusaknya niat. Keduanya termasuk unsur pokok semua penyakit hati. Petunjuk ke jalan yang lurus mengandung obat dari penyakit kesesatan.

    Oleh karena itu, permohonan petunjuk termasuk doa wajib bagi setiap hamba dan harus dilakukan setiap hari pada setiap shalat. Karena kebutuhan terhadap hidayah yang diinginkan sangat urgen sekali dan tidak dapat digantikan posisinya oleh permintaan yang lain. Sehingga realisasi dari ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan’ termasuk ilmu, pengetahuan, amal dan berbagai keadaan yang mengandung obat dari penyakit kerusakan hati dan niat.

  • Surat Al-Fatihah mengandung bantahan untuk orang sesat dan kelompok sesat.
    Penjelasannya adalah bahwa jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim) mengandung kebenaran dan mendahulukan (kebenaran) dibandingkan yang lainnya. Serta mencintai, merealisasikan, mendakwakan kepadanya dan melawan musuh semampu mungkin. Kebenaran adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya, serta apa yang beliau ajarkan, baik secara teori maupun praktek dalam masalah nama dan sifat Allah.

    Juga dalam masalah tauhid, perintah, larangan, janji dan ancaman-Nya. Juga dalam hakikat keimanan yang termasuk tempat bagi orang yang menuju kepada Allah Ta’ala. Kesemuanya itu diserahkan sepenuhnya bersumber dari ajaran Rasululah sallallahu alaihi wa sallam, bukan pada pendapat orang lain, atau kondisi tertentu maupun pemikiran serta istilah dari orang lain.” (Madarijus salikin, 1/58)

  • Dalam surat Al-Fatihah terkandung doa yang paling bermanfaat.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Saya renungkan doa yang paling bermanfaat adalah permintaan bantuan untuk menggapai keridhaan-Nya. Kemudian saya lihat ada pada surat Al-Fatihah pada ayat “Iyyakana’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)” (Madarijus Salikin, 1/78)

Di antara keutamaan surat al-Fatihah adalah apa yang disebutkan dalam hadits qudsi, bahwa Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Aku membagi shalat antara diriKu dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”. Yang dimaksud dengan ‘shalat’ di sini adalah surat al-Fatihah, karena surat alFatihah merupakaan bacaan shalat, sedangkan secara bahasa shalat artinya doa, dan surat al-Fatihah penuh dengan doa. Maksud dari membagi surat al-Fatihah menjadi dua ialah karena surat alFatihah terdiri dari tujuh ayat, sehingga tiga setengah ayat bagi Allah Subhaanahu wata’ala dan tiga setengah ayat sisanya untuk Si hamba.

Lanjutan hadits qudsi tadi mengatakan : Jika Si hamba membaca, (يْالعامل رب هلل لمدْا" (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam" Allah Subhaanahu wata’ala menjawab, (عبدي نِحد" (ْHamba-Ku memujiku". Jika Si hamba membaca, (الرحيم حنْالر" (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".
Allah Subhaanahu wata’ala menjawab, (عبدي علي أثىن" (Hamba-Ku menyanjung-Ku". Jika Si hamba membaca, (الدين يوم مالك" (Yang menguasai di hari Pembalasan" Allah Subhaanahu wata’ala berfirman: (عبدي نِجمهد" (Hamba-Ku mengagungkan-Ku". Jika berkata, (يْنستع وإياك نعبد إياك" (Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan" terbagi yang Inilah) “هذا بيِن وبْي عبدي، ولعبدي ما سأل) ,berfirman ala’wata Subhaanahu Allah
antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”.

Bagian pertama ayat ini " ٿ ٿ) "Hanya kepada-Mu kami beribadah) adalah bagian Allah Subhaanahu wata’ala, sedangkan kelanjutannya " ٿ ٿ) "Dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan) adalah bagian Si hamba. Mulai dari bagian terakhir ayat ini sampai akhir surat adalah bagian Si hamba yang berupa doa dan permintaan. Adapun dari awal surat sampai bagian pertama ayat ini adalah milik Allah Subhaanahu wata’ala yang berupa puji-pujian. Ini dengan jelas menunjukkan keagungan surat ini.

Kelanjutan haditsnya : Jika seorang hamba berkata, “Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orangorang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; dan bukan (jalan) mereka yang dimurkai serta bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta”.