Ketika Asmaraloka Bercerita

AKSARA CINTA

20200724_105634
Tampak dari kaca jendela seorang pemuda yang aku ingat persis gaya berjalan dan semua tentangnya, iya benar memang dia yang selama ini ada dihatiku sejak bertahun-tahun lamanya. Satu ucapan yang selalu aku ingat darinya, “Tunggu aku lulus kuliah dulu ya!” setelah lulus SMA tak pernah terdengar kabar lagi darinya bahkan Ia sempat dulu mengirim pesan, “Jangan ingat kata-kataku yang dulu ya, sebab aku takut tidak bisa menepati janjiku.” Lamunan ku hilang saat terdengar ketukan pintu dengan wajah bahagia ku berlari. Ku amati, Dia sedang merogoh-rogoh sakunya seraya mencari sesuatu, ternyata itu surat kecil.
“Assalamualaikum.” ucapnya sembari memberikan surat.
“Waalaikumsalam.” Bibirku keluh bergetar, seraya tangan menerima surat.
“Aku pergi dulu ya.” Ucapnya.
Entah kenapa aku selalu seperti itu jika berhadapan dengannya hanya tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa begitupun dengan dirinya yang selalu menunduk jika bertemu denganku. Semua kata-kata yang dituliskannya tetap sama sederhana dan serius. Jika memang kita berjodoh Tuhan akan menyatukan.
Hp ku berdering terdapat pesan dari Fahri. “Nanti malam jadikan, kutraktir makan mie 3 mangkok.” Konyol kata yang tepat untuk temanku yang satu ini. Teman satu kuliah namun beda jurusan, perbedaannya pun sangat tampak. Jelas saja, dia ekonomi dan aku kimia. Tapi jika sudah berada di dekatnya air mataku tak bisa berhenti menetes bukan karena sedih tapi karena aku tidak bisa berhenti tertawa. Tak disangka hampir 5 tahun kita berteman. Aku ingat betul pernah curhat tentang Zidny padanya.
Malam tiba, kita makan bersama, mengobrol, bergurau dan aku menceritakan tentang Zidny yang memberikanku surat.
“Rih, lihat ini surat dari Zidny.” Ucapku senyum sambil mengibas-ngibaskan surat di depan matanya.
“Zidny yang dulu kamu ceritain?” Sahutnya sambil memegang bulpoin.
“Iya dia datang, dia menepati janjinya.” Aku tersenyum menunjukkan gigiku di depan mukanya.
“Ini surat tisu dariku, lebih istimewah bukan.” Sambil tertawa konyol.
Aku tak menjawab ucapannya hanya diam dan membaca suratnya terdapat kata “Si tukang makan”
Entah kenapa malam itu tatapan Fahri kepadaku terlihat berbeda mata lebarnya seakan menjelaskan sesuatu yang aku sendiri tak bisa megerti penjelasan matanya. Hembusan angin malam yang dingin menepis kulit hingga Fahri memutuskan untuk mengajak pulang. Di perjalan ia memberiku tebakan “Kenapa kucing sering gagal menerkam tikus?” Aku tertawa keras “pikir saja sendiri dasar.” Sambil mengusek-ngusek rambutnya. “Eh-eh aku fokus nyetir nih.” Ucapnya kesal. Sesampai di rumah aku melihat layar hpku terdapat pesan dari Fahri “tebakan tadi jawabnya, karena kucing tidak bisa memberi kenyamanan jadi tikusnya kabur terus.”
Hari ini semua bagai khayalan yang berubah jadi nyata bertemu lagi dengan Zidny adalah hal yang membahagiakan. Mataku perlahan terlelap.

                                                            ***

Di perjalanan ke tempat kerjaku aku bertemu zidny.
“De aku kemarin malam ke kosanmu aku melihat kamu pergi dengan seseorang dan kamu tampak senang.” Tanya zidny
“Iya itu Fahri teman kuliahku.” Jawabku
“Oh, kamu ada rasa sama dia?” tatapan tajamnya membuatku bingung menjawab
“Tidak, dia hanya temanku.”
Zidny tersenyum dan berkata “De, tatapan mata kalian berdua terlihat ada rasa diantara kalian.”
“Tapi zid, rasaku tetap untukmu dan kamu yang membuatku jatuh hati jadi tanggung jawabmu untuk membangunkan hatiku bukan dia.” Jawabku tegas
Aku langsung bergegas kerja, pikiran ku kacau, karena terus memikirkan ucapan Zidny “apa mungkin aku ada rasa sama Fahri, ah itu tidak mungkin.” Gumanku. Tak terasa sudah jam makan siang saja. Siang ini udara terasa panas aku memutuskan untuk duduk di tepi kantin saja. Dari atas sini semua kelihatan, ku mengerutkan keningku “sepertinya aku mengenal mereka.” Ucapku dalam hati. Ku pakai kacamata minus, ku amati mereka. Wajahku semakin bingung tak karuan. Aku melahap makananku baru kuhampiri mereka. Terlihat mereka tengah asyik mengobrol. “Hai, kalian sudah saling kenal, terus lagi apa di sini?” Tanya ku kaget, bingung, ah rasanya tidak terdefinisi. dua laki-laki yang menurutku sangat berbanding terbalik ternyata bisa akrab satunya konyol satunya lagi serius wajar saja Zidny pintar sekali, ia kuliah jurusan teknik sipil.
“Sedang ngobrolin sesuatu.” Jawab Fahri.
“Ngobrolin aku ya?” Sembari ku tunjuk wajah mereka.
Aku mengamati Zidny ia hanya tersenyum, ah ini membuatku pusing sikap mereka seakan-akan memiliki maksud tersembunyi.
“Kamu pulang jam berapa, kita bertiga nanti pulang bareng ya?” Tanya Fahri
“Seperti biasa, iya.” Rasanya ingin menjawab tidak tapi mau bagaimana lagi daripada membuat mereka kecewa.
Waktu pulang tiba kita jalan bertiga dan rasanya asing sekali, setiap pulang sama Fahri biasanya kita bercanda. Ini tidak ada satu katapun, bibirku cuman manyun-manyun sambil memutar otak mencari bahan obrolan.Hingga sampai di depan kosku.
“Aku pulang dulu ya.” Ucapku bergegas masuk.

                                                           ***

Sebulan terlewati dengan penuh kesibukan yang mebuatku tak sempat memikirkan tentang perasaan. Hampir setiap hari aku lembur kerja. Semua terlihat mudah untukku jalani. Hingga malam ini perutku terasa sangat sakit yang membuatku tak sadarkan diri. Ketika mataku mulai terbuka ku melihat mereka berdua di depanku Zidny dan Fahri. Mereka tampak cemas dengan keadaanku.
“Akhirnya kamu sudah siuman.” Ucap Zidny lega.
Ku menjawabnya dengan senyuman saja. Aku tak pernah tahu bagaimana perasaan ini bisa memecah menjadi dua. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang aku sendiri harus terjebak di dalamnya.
Dua hari berlalu. Hari ini aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter.
“De, aku sama Zidny keluar sebentar ya.” Ucap Fahri
Aku mengangguk saja. Mereka berdua kemudian masuk lagi menghampiriku yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Aku sangat kaget mereka berdua menyodorkan bunga krisan dan mawar kepadaku. Keningku mengerut yang menandakan aku bertanya pada mereka.
“Kita menyukaimu, bisa kah kamu memilih diantara kita.” Ucap Fahri
“Iya de, apapun keputusanmu kita akan bisa menerimanya.” Sambung Zidny
Aku termangu melihat mereka berdua.Bingung aku sendiri tidak mungkin memilih dan menyakiti satu diantara mereka namun aku juga tidak boleh memilih mereka berdua.
“Maaf aku tidak dapat menjawab untuk saat ini.” Jawabku lirih.
Aku menyuruh mereka pulang karena aku sangat butuh istirahat, besok aku harus mulai bekerja.
Bosku memberikan tawaran untuk bekerja di Bogor. Aku langsung menerima penawaran itu, karena menurutku menjauh adalah keputusan yang terbaik. Aku ingin memberikan sedikit ruang di hatiku, yang dipenuhi oleh mereka berdua. Aku pergi ke Bogor secara diam-diam agar mereka berdua tidak mengetahuinya. Bahkan ibu kos, ku suruh merahasiakannya.

                                        ***

Sudah hampir 3 bulan aku berada ditempat baruku. Pagi ini awan menyelimuti langit. Rintikan air mulai berjatuhan aku sangat menikmati suasana ini.
“Deee.” Sapa dua orang pemuda.
Karena kacamataku mengembun wajah mereka tak tampak jelas, langkah mereka semakin mendekat sampai selesai lah aku mengelap kacamataku.
“Kalian disini.” Ucapku heran.
Mereka berdua menjelaskan darimana mereka tahu keberadaanku saat ini dan tujuan mereka. Aku tetap membisu dalam kebingunganku.
Sore ini ibu menjengukku. Kali ini ibu tidak sediri Ia bersama Yuda, tetangga sekaligus teman TK ku dulu.
“Ibu.” Sapaku sembari kupeluk erat ibu.
Kita mengobrol banyak sampai larut malam. Sebelum mataku terlelap ibu mengatakan bahwa sudah saatnya untukku memiliki seorang pendamping. Karena aku sudah setengah sadar aku tak sempat menyahuti perkataan ibu. Keesokan harinya ibu menjelaskan lagi kali ini ibu bicara bahwa Yuda adalah laki-laki yang tepat untukku. Bibirku diam mataku terpaku pada ibu, jujur saja rasanya tidak mungkin hatiku sudah ada dua nama. Akankah bisa Yuda masuk, Ia memang lelaki yang baik. Usahanya mendapatkan hatiku bisa diberi jempol, mungkin sebagai wanita yang waras tidak lah mungkin menolaknya.
Sebulan sudah, ibu tinggal bersama ku dan selalu membicarakan tetang pasangan begitupun dengan Yuda yang setiap hari menemuiku. Aku memang sudah cukup usia untuk memulai hidup baru. Rasanya aku tak ingin memikirkan soal itu saja hidupku bukan terpaku pada masalah itu. Tapi masalah ini cukup membuatku berfikir. Sampai akhirnya ada keputusan yang harus kuambil.

                                      ***

Sudah setahun lamanya aku pergi dari mereka semua termasuk menjauh dari keluarga sendiri.
Surat untuk ibu ,maafkan anakmu ini yang pergi karena keadaan, saya butuh waktu sejenak bu untuk memikirkan dan merancang kehidupan saya. Saat saya pulang, saya akan memberi jawaban akan pilihan pendamping saya.
Terlihat ibu duduk di depan rumah menunggu kepulanganku, wajar saja ketika hendak pulang aku mengirim pesan singkat untuknya. Aku langsung mencium kaki ibu sembari mengucap kata maaf karena telah meninggalkannya. Saat aku masuk ke rumah, terlihat mereka bertiga menyambutku. Lanyaknya sebuah kejutan ulangtahun. Mungkin memang saatnya aku harus menyampaikan jawaban akan pilihanku. Di depan ibu mereka bertiga meminta jawaban, “Jadi siapa yang kamu pilih de?” ucap Zidny. Mata penuh harap mereka membuatku tak tega hati mengatakannya. “Iya de, jika kamu memilih satu diantara kita bertiga, kami akan bisa menerima keputusanmu itu.” sahut Fahri. Segera aku jawab pertanyaan mereka dengan mata tertutup, “Bismillah, aku pilih Yuda.” Fahri dan Zidny terlihat senyum kecil sambil menatapku. Sungguh rasanya aku tak kuat menatap mata mereka, aku langsung saja pergi ke kamar. Sore hari aku duduk di taman belakang.
“De, boleh aku duduk sini?” tanya Yuda.
Aku tersenyum dan menjawab, “boleh yu.”
kita menjadi canggung mungkin karena pernyataanku tadi pagi.
“De apa alasanmu memilihku bukankah kamu mencintai mereka, jujur aku tadi tidak ada harapan kamu memilihku.” sembari dia menatapku.
" Aku memilihmu karena kamu pilihan ibu." jawabku.
Yuda tersenyum dan berkata lagi, “apa hanya itu alasannya?”
Aku tersenyum dan menggangguk.

                                ***

Memang benar kata orang takdir sebercanda itu orang yang aku impikan bertahun-tahun tapi aku lebih memilih yang lain. Secara perlahan aku mencintai Yuda karena sikap hangat dan romantisnya padaku. Untuk Fahri dan Zidny aku tetap menyayanginya sebagai seorang sahabat.

1 Like