Kesungguhan Aden


Amanda menutup pintu secara perlahan dan terduduk. Matanya mempersilakan benih air menuruni kontur wajah yang dilapisi riasan tipis. Ia masih mengenakan kemeja hitam dan rok senada sebatas lutut. Tas selempang ia genggam di tangan kirinya.

Namun tak berselang lama, garis bibirnya menyiratkan gelak yang belum sampai pada angin hingga suaranya terdengar oleh dirinya sendiri. Punggungnya merosot sampai pandangan matanya tertuju pada AC yang diam seakan tengah memerhatikannya.

“Sialan kau, Aden!” pekik Amanda frustrasi.

:arrow_up_small::arrow_up_small::arrow_up_small:

Denting cangkir beradu di tengah riuh kedai kopi. Makin sore, tempat ini bagai rumah bagi belasan pengunjung. Setiap jam pulang kerja seakan tak pernah mau mereka segera membersihkan diri dan berbaring lunglai. Sebagian memilih duduk di sini membuang beban yang sudah dipikul seharian, termasuk sosok laki-laki berambut mengilap, bola mata cokelat, dan berperawakan tinggi.

Aden.

Tidak saban hari pergi kemari, tetapi pelayan kedai kopi hapal betul kapan pria itu datang dan minuman apa yang akan dia pesan.

" Thank you , Ar," ucapnya kepada Ardian, pemilik kedai yang mengantarkan kopi itu sendiri kepada Aden.

Tanpa membalas ucapanya, Ardian turut duduk di hadapan teman kuliahnya dulu. Itulah yang membuat Aden nyaman berlama-lama di sini.

“Ar.”

“Hm?”

“Menurut lo apa gue berlebihan?” tanya Aden lalu menyodorkan ponselnya dan Ardian meraihnya.

Layar menampilkan sederet obrolan daring dimana Amanda merupakan lawan bicara Aden. Kalimat di setiap bubble chat -nya cenderung singkat, tetapi panjang jika dihitung per harinya.

Sontak Aden terkesiap ketika Ardian tertawa lepas sampai meja dipukul olehnya. Pria berkemeja itu menunggu jawaban dengan tidak sabar.

“Pantes! Lo lagi marahan sama Amanda?”

“Nggak.”

“Terus? Amanda aja cuma baca chat lo tanpa bales lagi.”

“Biasa kali.”

“Biasa?”

Aden mengerutkan dahi. Ia merasa aneh dengan temannya yang mempertanyakan kenapa hal ini dianggap biasa. Aden pikir Amanda tidak pernah mempermasalahkan kalau Aden mengirim pesan kepadanya. Buktinya, tidak ada ujaran kasar yang menafsirkan kemarahan.

“Lo cuma kurang peka sama perasaan orang. Btw , ini ceritanya lo lagi pedekate ?” Tanya Ardian lebih intens.

“Nggak. Gue udah punya.”

“Siapa? Terus apa gunanya lo chat kayak orang pacaran gini?”

“Brilliant. Gue memperlakukan semua cewek sama, tapi bukan berarti semua cewek itu gue suka.”

Hening sejenak.

Mulut Ardian masih menganga. Alisnya bertaut lalu mendesah. Ia menunduk, menggelengkan kepalanya, dan kembali menengadah melihat sorot mata Aden yang agak menyejukkan lagi menjengkelkan

“Minum kopinya!” Aden menurut. “Lo kebanyakan kafein apa kekurangan, hah?”

Sembari mengedarkan pandangan, Aden menyeruput kopi sampai habis. Cairan hitam itu tak lagi panas. Redam oleh sejumlah perbincangan yang saling tukar di antara dua orang ini.

:arrow_up_small::arrow_up_small::arrow_up_small:

23 Februari

Aden: Amanda… gabut serius
Aden: Amanda
Aden: Malam minggu kamu kemana?

Amanda: Di rumah lah

Aden: Oh iya, cewek nggak boleh keluar malam-malam, ya?

Amanda: Itu tau

Ditemani Ochi, kucing hitam milik Aden, ia bergelung di dalam selimut sambil membaca ulang untuk meneliti apa yang salah dengan perkataannya.

20 Februari

Amanda: Den
Amanda: Boleh minta tolong?

Aden: Minta tolong apa, sayang?

15 Februari

Aden: Besok ke car free day yuk!

Amanda: Aku ada teman

Aden: Siapa?
Aden: Cewek?

Amanda: Nggak tau

Aden: Kok, nggak tau? 'Kan temanmu

Pria yang kini memakai kaus oblong dan celana pendek bangkit dari kasur sekaligus mendekap Ochi, membaringkan kucing itu di lantai. Kemudian, ia melenggang pergi ke pekarangan rumah.

Aden ingat pernah menawarkan tumpangan kepada Amanda karena hampir terlambat. Amanda tidaklah sedingin itu. Dia adalah orang yang ramah tamah, bahkan sangat terbuka kepada rekan kerja satu divisinya.

Pria itu juga sempat mengantarkannya pulang ketika lembur kerja dan kebetulan satu arah dengan jalan ia pulang.

Beberapa bulan lalu, gurauan benar-benar melingkupi mereka. Amanda tampak senang, sebab penerimaan orang-orang di kantor terhadap dirinya. Tetapi, mungkinkah Aden terlalu memanfaatkan keadaan sebagai penghilang kejenuhannya di saat Brilliant makin menunjukkan sikap acuh tak acuh?

Gue tau , mungkin menurut lo Amanda bukan cewek cakep . Nggak punya kulit seputih Brilliant, nggak seanggun Brilliant, nggak selembut Brilliant, tapi bukan berarti dia bisa dijadikan permainan . Amanda juga manusia dan dia perempuan. Kalau lo emang nggak suka , bersikaplah biasa aja , tapi jangan melihat ini sebagai suatu yang biasa . Ini di luar ekspektasi gue , sungguh .

Den, lo pikir semua cewek bisa kebal sama rayuan lo ? Sama kata - kata puitis yang katanya " nggak sengaja " bikin anak orang baper , terus lo tinggalin gitu aja . Buktinya sekarang lo jarang chat Amanda lagi . Karena apa ? Karena lo bosan atau emang Amanda mulai nggak peduli kayak Brilliant? Pantes lah mereka kasih pelajaran semacam itu .

Ingat , Aden. Lo bukan bocah ingusan lagi .

Terbersit suara Ardian di kepalanya. Berputar-putar sampai Aden dibuat pusing oleh kelakuannya sendiri. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lantas membuang nafas berat. Semudah itu kah jika kiranya Aden berniat meminta maaf? Sedangkan, dia sudah membuka diri sebagai orang yang penuh canda tanpa diselingi keseriusan.

:arrow_up_small::arrow_up_small::arrow_up_small:

Deru motor terhenti di tepi jalan kompleks perumahan. Sambil melihat sekeliling ia menemukan seorang perempuan berjongkok menata tanaman potnya di halaman rumah bernuansa tropis.

Begitu mendengar tapak kaki melangkah, perempuan yang memunggungi Aden seketika menoleh. Namun, kemudian ia tak terlalu menghiruakan kehadiran pria itu. Aden terus mendorong kakinya untuk maju selangkah.

“Pergi, Aden!” Dan terhenti.

“A-aku tau.”

“Tapi, aku lebih tau,” kata Amanda, beranjak menghadap lawan bicara, membuat Aden terkesiap kehabisan kata-kata. “Brilliant kekasihmu.”

“I-ini fatal dan ya… aku minta maaf.”

Amanda menelengkan kepalanya, melempar tatapan tanda tanya. Ia tertawa kecil, lalu berjalan mendekat.

“Sebaiknya kamu pulang ke rumah, buang ingatan tentang ini sepanjang perjalanan. Anggap aja nggak pernah terjadi sebelumnya. Benang diulur kian memanjang, diikat kian mendekat, sampai benang itu mati, tak bisa dikembalikan seperti semula. Sebelum berlarut-larut kita sepakati bahwa TIDAK ADA APA-APA SEBELUMNYA dan bersikap biasa kalau memang tidak ada keinginan untuk saling memiliki.”

Wanita itu mengentakkan roknya dan berbalik ke dalam rumah, menanti hingga Aden tak tampak di luar sana.

Menyampaikan pesan hati tak semudah itu. Bisa jadi, ia hanya haus akan kelakar.

2 Likes