Kesehatan Mental Ternyata Perlu Diperhatikan, loh!

Menurut World Health Organization, kesehatan mental adalah kondisi psikologis individu yang memiliki kesadaran akan kemampuannya dalam menghadapi tekanan dan menyelesaikannya secara positif, mampu bekerja produktif dan efisien, serta mampu memberi kontribusi terhadap lingkungannya. Di negara berkembang seperti Indonesia, hal ini masih kurang dipandang publik. Masih banyak orang yang menganggap bahwa Kesehatan Mental adalah hal yang sepele karena tidak ada penyakit fisik yang terlihat. Padahal nyatanya, fisik dan mental adalah hal yang saling berkaitan. Kesehatan fisik yang buruk dapat memengaruhi kesehatan mental, begitupun dengan kesehatan mental yang buruk dapat memengaruhi kesehatan fisik.
Ada beberapa penyakit mental yang cukup banyak kita temui, entah di film-film ataupun dengan orang-orang yang kita kenal. Beberapa penyakit mental itu ialah seperti; Bipolar Disorder; depresi; Gangguan Kecemasan (anxiety disorder); Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD); Gangguan Disosiatif (Dissociative Disorder); ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Penyakit-penyakit ini jelas sungguh menggangu orang yang mengidapnya, tapi banyak orang-orang disekitar kita yang tidak peduli tentang apa yang mereka rasakan. Kita cenderung melakukan hal yang kita mau tanpa memikirkan perasaan orang lain disekitar kita. Kita tidak mungkin akan selalu mengetahui ketika seseorang mengidap penyakit mental, seperti yang kita tahu hal ini sulit dilihat hanya dengan fisiknya saja, tapi dengan kita berperilaku baik, kita dapat mengurangi beban mereka meskipun sedikit.
Tetapi bagaimanapun, penyakit mental juga betul adanya dapat memengaruhi kesehatan fisik kita. Dilansir dari alodokter.com, bahwa depresi, sebagai penyakit mental, memiliki beberapa ciri psikologi, yaitu :

  1. Mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan
  2. Tidak stabil secara emosional
  3. Merasa putus asa atau frustasi
    Tapi di kenyataannya, depresi ternyata dapat menunjukan ciri-ciri penyakti pada fisik. Penyakit fisik ini pun cukup mengganggu para penderitanya. Beberapa cirinya yaitu;
  4. Rasa lelah yang sering muncul, padahal pengidap depresi tidak melakukan kegiatan berat. Bahkan bisa tidak melakukan kegiatan sama sekali.
  5. Berkurangnya toleransi terhadap rasa sakit.
  6. Sakit punggung dan leher.
  7. Sakit kepala yang sering muncul
  8. Permasalahan dalam penglihatan.
  9. Sakit perut.
  10. Permasalahan pencernaan.
    Beberapa hal diatas dapat menyatakan bahwa seseorang sedang mengidap penyakit mental yaitu depresi, meskipun orang tersebut tidak menyadari dirinya sedang depresi. Hal-hal tersebut terjadi karena ketika seseorang mengidap depresi, hormon stress dikeluarkan dan dapat menyebabkan beberapa kemungkinan seperti peradangan dalam tubuh yang juga mungkin berkaitan dengan saraf di otak, dan karena stress tersebut, otot sekitar kepala ikut menegang dan menyebabkan nyeri. Beberapa bagian dari otak juga dapat mengalami penyusutan, hal ini berkaitan dengan fungsi otak pada bagian tertentu. Jadi tidak bisa dipungkiri, bahwa penyakit mental juga dapat menyebabkan penyakit fisik.
    Salah satu contoh yang dapat kita lihat adalah seorang public figure Indonesia, Marshanda, yang pada 2009 lalu sempat menggemparkan media sosial dengan meluapkan emosi dan kemarahan dalam rekaman video yang dipublikasikan di Youtube. Muncul berbagai komentar tentang Marshanda tanpa kita mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan olehnya. Beberapa tahun kemudian, artis ini mengaku bahwa dirinya pada saat itu sedang mengalami halusinasi dan depresi. Marshanda juga mengatakan bahwa dirinya didiagnosis mengidap penyakit mental, yaitu Bipolar Disorder. Ternyata, depresi ini juga bisa menjadi salah satu dampak yang kita rasakan ketika kita mengidap suatu penyakit mental. Menurut id.theasianparent.com, Bipolar Disorder, salah satu penyakit mental yang ditandai dengan mood atau alam perasaan yang sangat ekstrim, dapat merasakan depresi dan mania. Suasana hati dari para penderita dapat berganti secara tiba-tiba, antara perasaan yang berlawanan; ketika senang, sangat bahagia, disebut mania, dan ketika sedih, sangat terpuruk, disebut depresi.
    Jika dibiarkan, perilaku seperti ini dapat membawa seseorang untuk melakukan hal yang buruk, salah satunya adalah menyakiti diri sendiri atau bahkan membunuh diri. Misalnya ketika seorang pengidap ADHD yang cukup dikenal butuh perhatian, dan kita memerlakukan mereka dengan rasa angkuh dan tidak peduli, hal ini dapat memicu mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. Kita memang tidak diwajibkan untuk memberi mereka perhatian penuh, tapi menghadapi mereka dengan sedikit kebaikan juga tidak akan merugikan kita. Begitupun dengan orang-orang lainnya yang mengidap gangguan mental, tetapi karena di negara berkembang seperti Indonesia permasalahan ini cenderung kurang diperhatikan, bahkan dianggap gila, maka banyak sekali yang tidak berani membuka dirinya serta membiarkan hal ini begitu saja akhirnya muncul hal-hal yang tidak diinginkan. Bagi Marshanda sendiri, dirinya memilih bergaul dengan orang-orang yang mengerti dan mendukung kondisinya untuk mengatasi gangguan yang dideritanya. Pemain sinetron ini pun banyak belajar dari apa yang dideritanya agar bisa terus berjalan tanpa perlu dikendalikan oleh pikiran dan perasaannya.
    Ditambah lagi, di zaman sekarang ini, manusia juga mudah sekali terpicu oleh hal-hal kecil. Seperti misalnya unggahan seseorang di media sosialnya tentang kehidupan sehari-harinya yang mewah dan sangat menyenangkan. Perlu diingat kembali, apa yang kita lihat di media sosial, belum tentu benar adanya. Banyak yang mudah berpikir bahwa dirinya kurang, dirinya tidak berharga, menjadi tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, oleh karena sebuah unggahan seseorang yang belum tentu benar kenyataannya. Jika memang hal ini menjadi sebuah gangguan, dan mungkin dapat menyebabkan kita berpikiran bahwa diri kita tidak lebih baik daripada orang lain, atau diri kita tidak berharga dan tidak pantas, maka sebaiknya penggunaan media sosial ini diminimalisir. Kita tidak dapat mengontrol apa yang akan orang lain unggah atau yang orang lain pikirkan tentang kita, tapi kita selalu memiliki cara untuk tidak membuat hal-hal tersebut masuk ke dalam pikiran kita.
    Kita tidak tahu apa yang menyebabkan gangguan-gangguan ini terjadi, entah trauma, genetik, atau bahkan orang tersebut hidup di lingkungan yang tidak baik. Dari hal ini, kita dapat belajar untuk mencoba mendengar apa yang menjadi permasalahan orang lain tanpa menganggap sepele apa yang mereka rasakan, karena kita tidak tahu apa yang mereka hadapi dan seberapa kuat mereka dapat menahan dampak dari gangguan tersebut. Kita juga dapat berbuat baik kepada siapapun yang kita temui, karena kita tidak tahu apa yang sedang mereka alami. Dengan melakukan hal ini, kita dapat meringankan beban seseorang, bahkan dapat membuat mereka selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan. Perlu kita ingat terus menerus, bahwa kesehatan mental adalah suatu hal yang sangat penting. Kita juga harus terus bersyukur bila kita tidak memiliki gangguan kesehatan mental tersebut. Meskipun penyakit ini tidak terlihat wujudnya, penyakit ini sungguh mengganggu orang yang menderitanya. Jika kalian merasa bahwa diri kalian mengidap penyakit mental ini, jangan segan untuk bercerita dan datang ke ahlinya ya!
    Berbuat hal yang baik bukanlah hal yang sulit dilakukan, jadi tunggu apa lagi? Mari berbuat baik dan bawa perubahan di sekitar kita!

Referensi :