Kesalahan apa yang sering terjadi terkait dengan Minimum Viable Product ?

Minimum viable product (MVP) adalah sebuah produk yang mempunyai kecukupan fitur untuk memberikan kepuasan kepada pengguna awal dan untuk mendapatkan umpan balik terkait dengan produk kita.

Kesalahan apa yang sering terjadi terkait dengan Minimum Viable Product ?

Banyak kesalahan yang sering terjadi ketika kita membuat atau merancang sebuah produk diawal dengan menggunakan pendekatan proses minimum viable product (MVP). Tujuan utama dari MVP adalah membuat produk yang layak, untuk dapat memberikan sebuah solusi kepada penggun dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.

Selain itu, dengan membuat MVP, maka kita dapat meminimalkan investasi yang kita keluarkan, dan karena salah satu perhatiannya adalah waktu, maka kita akan semakin cepat belajar terkait dengan tanggapan pengguna terhadap produk kita.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi terkait dengan pendekatan proses minimum viable product (MVP) antara lain :

Minimum viable product (MVP) tidak dianggap sebagai sebuah proses.

Hanya karena ada kata produk didalamnya, maka kita menganggap bahwa MVP merupakan produk versi awal yang akan kita luncurkan ke pasar. Hal ini biasanya berdampak pada "cepat puas"nya kita terhadap produk yang kita buat setelah kita meluncurkan.

“An MVP is a process that you repeat over and over again: Identify your riskiest assumption, find the smallest possible experiment to test that assumption, and use the results of the experiment to course correct.” Yevgeniy Brikman

Kunci dari MVP adalah MVP merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada proses pengembangan sebuah produk,oleh karena itu, MVP membutuhkan iterasi-iterasi. Proses iterasi ini akan terus berulang hingga anda mendapatkan model bisnis yang tepat.

Tujuan utama dari MVP bukanlah belajar tentang pengguna

Ketika awal membuat sebuah produk, ide produk kita selalu didasari oleh asumsi-asumsi yang kita tentukan sebelumnya. Asumsi terkait dengan permasalahan pengguna, asumsi terkait dengan calon pengguna, asumsi terkait dengan proses akuisisi pelanggan hingga asumsi terkait dengan bagaimana kita mendapatkan keuntungan dari produk kita.

The minimum viable product is that version of a new product which allows a team to collect the maximum amount of validated learning about customers with the least effort.Eric Ries

Satu-satunya cara untuk mencari tau bahwa asumsi-asumsi yang kita tentukan adalah benar hanya dengan mewujudkan produk yang kita buat dan secepat mungkin melakukan tes pasar sehingga kita dapat belajar banyak dari hasil tes yang kita dapatkan.

Minimum berarti sebuah produk yang tidak lengkap.

Dalam kenyataannya, banyak produk yang ketika diluncurkan merupakan produk yang belum berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuan dibuatnya produk tersebut. Gambar diatas merupakan ilustrasi yang sangat baik untuk menggambarkan kesalahan sebuah MVP.

Ketika tujuan awalnya adalah membuat sebuah kendaraan, maka yang dibuat adalah komponen-komponen kendaraan, sehingga ketika produk diluncurkan, masih belum bisa dikatakan sebuah produk yang berfungsi sesuai dengan tujuan awalnya.

“An MVP should have the smallest possible feature set that creates gains and reduces pains for customers” Steve Blank

Sebuah MVP merupakan perkembangan sebuah produk menjadi produk yang lebih baik lagi. Ilustrasi dibawah ini dapat menggambarkan MVP itu sendiri.

Kegagalan bukanlah sebuah masalah

Hanya karena MVP bertujuan untuk mempercepat diluncurkannya sebuah produk, maka kita beranggapan bahwa kegagalan bukanlah sebuah masalah. Konsep seperti itu adalah konsep yang salah. Kegagalan adalah kegagalan dan tidak boleh kita menganggap remeh kegagalan itu sendiri.

MVP bukanlah tentang kegagalan, tetapi bagaimana kita belajar dari kegagalan yang ada. Semakin kita cepat mengalami kegagalan, maka semakin cepat pula kita mempelajari hal-hal yang mengakibatkan produk kita gagal. Hal ini sangat berguna untuk meminimalkan kerugian.

“The ones that ultimately succeed go quickly from failure to failure, all the while adapting, iterating on, and improving their initial ideas as they continually learn from customers.” Steve Blank

Referensi : https://www.linkedin.com/pulse/minimum-viable-product-5-signs-youre-doing-wrong-aileen-seth-3

Berikut ada tulisan menarik dari Rik Higham, seorang Senior Product Manager di Skyscanner, terkait dengan penggunaan Minimum Viable Product (MVP) sebagai cara dalam mengembangkan sebuah produk, yang ditulis pada website TechinAsia.

Istilah Minimum Viable Product atau MVP memiliki cacat dalam definisinya, yaitu penggunaan kata “produk”. MVP bukanlah produk. MVP adalah sebuah cara testing untuk mengetahui apakah masalah yang kamu angkat layak diselesaikan, sekaligus cara meminimalkan risiko dan mengetes asumsi sebelum implementasi riil.

Daripada menjalankan MVP, lebih baik kamu mengidentifikasi suatu asumsi yang memiliki risiko terbesar, kemudian mengujinya. Proses ini disebut Riskiest Assumption Test atau RAT, dan mengganti MVP dengan RAT bisa membuat hidupmu jadi lebih mudah.

Salah kaprah tentang MVP yang sering terjadi

MVP sudah terlalu sering digunakan, sampai-sampai istilah ini jadi melenceng dari makna aslinya. Sering kali yang dimaksud MVP adalah versi perdana dari sebuah produk yang belum sempurna. Hasilnya, MVP jadi terlalu kompleks untuk digunakan sebagal alat uji coba cepat—sebagaimana tujuan awalnya—tapi juga terlalu jelek untuk dijadikan produk siap dirilis.

Khawatir akan hasil produk yang kurang baik, developer biasanya kemudian membuat Minimum Valuable Product atau Minimum Lovable Product untuk mengatasinya.

Ini cara pandang yang salah, sebab mereka jadi menghabiskan terlalu banyak sumber daya untuk menguji asumsi yang berisiko tinggi, dan makin terlambat mendapat pelajaran dari konsumen riil.

Minimum Viable Test terkadang digunakan sebagai usaha untuk membuat iterasi-terasi kecil sebelum produk dirilis. Proses ini gagal menjawab dua pertanyaan penting, yaitu apa yang kamu tes dan mengapa kamu melakukan testing. Kata “minimum” juga punya takaran yang ambigu.

Eric Ries, penulis buku The Lean Startup, ketika ditanya seberapa minimum MVP yang perlu dibuat, menjawab dengan, “Mungkin jauh lebih minimum dari yang kamu kira.”

RAT tak sekadar meminimalkan, tapi mengurangi secara drastis

Dibanding MVP, RAT lebih eksplisit. Kamu tidak perlu membangun lebih dari apa yang dibutuhkan untuk mengetes risiko terbesar, tidak ada tuntutan akan desain dan kode program yang sempurna, dan tidak perlu khawatir kamu akan menghasilkan sebuah produk secara prematur.

MVP menggoda kita dengan kepastian palsu akan jalur yang jelas dan lurus menuju solusi optimal. Sementara RAT justru menempatkan fokus pada pembelajaran. RAT seperti lilin di kegelapan yang membantu kita bergerak maju selangkah demi selangkah. Setelah bisa memvalidasi asumsi yang paling berisiko, kamu bisa maju ke asumsi berikutnya, dan sedikit demi sedikit membangun rasa percaya diri bahwa idemu dapat berhasil.

Kunci proses RAT terletak pada tes yang kecil dan cepat. Apa eksperimen terkecil yang bisa kamu lakukan untuk mengetes asumsi terbesar? Seperti dipaparkan oleh Tom Chi, co-founder Google X,

“Memaksimalkan pembelajaran dengan cara meminimalkan waktu yang diperlukan untuk mencoba hal baru.”

Bukan sekadar meminimalkan, tapi benar-benar menguranginya secara drastis. Prototipe untuk ide kompleks seperti Google Glass pun dibuat hanya dalam satu hari!

Cara menemukan asumsi dasar untuk proses RAT

Mengidentifikasi asumsi dasar butuh banyak energi dan kedisiplinan mental. Pandanglah setiap kejadian sebagai masalah konsumen, lalu telusuri ke belakang.

Kondisi seperti apa yang memunculkan kejadian tersebut? Kumpulkan setiap asumsi dan bertanyalah, “Apa asumsi yang menjadi latar belakangnya?” Ulangi terus sampai kamu mencapai asumsi yang paling dasar. Proses ini mirip seperti teknik 5 Whys—penelusuran secara mundur untuk mengidentifikasi asumsi di balik tiap masalah.

Di sini, kamu setidaknya sudah memiliki gambaran jelas tentang hal-hal penting yang tadinya tidak kamu ketahui, dan gambaran jelas tentang RAT seperti apa yang kamu perlukan.

Mulai setiap ide baru dengan RAT

Hal ini tidak hanya berlaku di startup, justru mungkin malah lebih krusial di perusahaan yang sudah mapan. Ketika kamu sudah beroperasi dengan sukses selama bertahun-tahun, kamu bisa terjebak dalam perasaan aman.

Ini berbahaya, karena kamu jadi rentan terhadap inovasi perusahaan saingan, dan bisa-bisa malah membuang uang untuk membangun produk yang tidak diminati. Sementara itu para pesaingmu berhasil menemukan pekerjaan yang tepat untuk dilakukan, dan membuat produk yang sesuai kebutuhan masyarakat. Perlahan-lahan, mereka mencuri pelangganmu.

RAT di perusahaan yang sudah mapan memiliki tantangan yang berbeda. Keterbatasan startup mendorong para pegiatnya berpikir secara cermat, cocok dengan cara kerja RAT. Tapi dengan sumber daya melimpah, sepertinya konsekuensi yang kita terima lebih kecil ketika menjalankan proyek besar tanpa validasi terlebih dahulu.

RAT perlu pola pikir yang berbeda, dan kadang-kadang bisa menyulitkan para engineer, desainer, atau manajer produk yang sudah menduduki posisi tetap. Profesionalisme akan mendorong mereka untuk membuat produk yang sempurna, dengan fitur lengkap dan kode yang terpoles rapi. Tapi bila produkmu tidak dibutuhkan orang, tidak ada artinya meski produk itu punya kualitas tampilan indah atau kode yang sempurna.

Maksimalkan penemuan

RAT memprioritaskan pekerjaan-pekerjaan penting untuk memvalidasi ide dengan cepat. RAT menghilangkan godaan untuk membuat produk setengah jadi yang tidak sempurna, tapi bukan berarti prosesnya mudah.

Kamu harus selalu sigap, dan waspada akan terjadinya perluasan ruang lingkup. Seluruh tim harus terus saling bertanya, “Apakah ini benar-benar hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk menguji asumsi yang paling berisiko?”

Kesalahan konsep atau miskonsepsi paling umum dalam pembuatan MVP adalah sebagai berikut :

1. MVP dianggap sebagai produk, bukan suatu proses.
Walaupun memiliki kepanjangan Minimum Viable “Product”, MVP sendiri pada dasarnya bukanlah produk itu sendiri, melainkan proses pembangunan produk menuju hasil akhir paling optimal yang sesuai dengan semua keinginan pengguna dengan cara mempertimbangkan segala timbal balik yang diberikan pengguna selama menggunakan MVP. Proses ini harus dilakukan terus menerus sehingga pengetahuan yang diperoleh mengenai prosuk optimal juga semakin banyak.

2. Minimum = produk tidak lengkap
Kata minimum dalam MVP seringkali disalahartikan bahwa produk yang digunakan sebagai MVP tidak perlu lengkap untuk diserahkan kepada pengguna. Hal ini merupakan kesalahan yang fatal dikarenakan kita tidak bisa mendapatkan timbal balik yang diharapkan apabila produk yang diberikan pengguna tidak memenuhi fungsionalitas paling dasar.
Kata minimum dalam MVP merujuk kepada produk jadi yang tidak perlu diberi tambahan fungsionalitas, hanya sekedar mengakomodir keinginan pengguna dalam mencapai tujuan keberadaan produk.

3. Gagal Bukan Masalah
MVP yang sering dianggap sebagai sebuah prototype menyebabkan tim pengembang merasa bahwa kegagalan merupakan hal yang wajar dan seakan “siap” mendapatkan kesalahan. Padahal MVP harus disiapkan dengan sebaik-baiknya dan mengakomodir goal produk sebaik mungkin agar dapat mencapai timbal balik dari pengguna secara maksimal.

4. Tujuan MVP mempelajari pengguna
MVP dibuat bukan untuk mempelajari pengguna anda, namun untuk mempelajari produk paling optimal yang dapat anda bangun untuk pelanggan. Keberadaan pengguna dalam MVP berperan sebagai pemberi feedback dan memberikan input mengenai produk, sehingga tujuan akhirnya adalah mencapai produk yang optimal sesuai dengan keinginan pengguna

Kesalahpahaman paling umum dari pembuatan MVP adalah dimana sebuah start-up mengartikan “minimum” sebagai “tidak lengkap”, sehingga mereka meluncurkan sebuah produk per-fitur yang tidak saling bekerja satu sama lain.

Selain kesalahpahaman tersebut, ada beberapa kesalahan-kesalahan lain yang mungkin terjadi:

  1. Terlalu banyak fitur
    Terkadang, tim pengembang lupa bahwa target MVP kita pada awalnya adalah untuk menunjukkan potensi utama yang ada pada produk Anda kepada pengguna-pengguna yang termasuk ke dalam profil pengguna khusus, atau early adopters yang visioner. Karena melupakan ini, tim pengembang akhirnya mencoba membuat sebuah produk high-end yang sempurna, sehingga waktu yang termakan sangat banyak, padahal tujuan kita adalah merilis MVP dengan cepat.

  2. Menganggap bahwa MVP adalah tujuan akhir
    Ada beberapa yang menganggap bahwa MVP adalah sebuah produk jadi, yang nantinya akan dijual luas, maka dari itu, MVP dianggap sebagai titik dimana mereka harus berhenti. Pada kenyataannya, MVP adalah sebuah proses. Sebuah titik awal dimana Anda mulai memahami apa yang sebenarnya user Anda inginkan.

Referensi:

Mempekerjakan tim yang salah
Startup biasanya membuat dua kesalahan umum dalam mempekerjakan tim. Mereka memilih opsi termurah, dan mereka tidak mempekerjakan tim layanan dengan lengkap.

Melewatkan Tahap Perencanaan dan Prototipe
Baik fase perencanaan dan pembuatan prototipe sangat penting dalam keberhasilan MVP, dan meskipun mungkin membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikannya, hal tersebut sangat berharga dan menghemat banyak waktu dalam jangka panjang.

Memilih metode pengembangan yang salah
Ada beberapa metode yang dapat digunakan pengembang saat membuat MVP. Untuk sebagian besar, dapat dikategorikan ke dalam dua metodologi yang berbeda yakni Agile dan Waterfall.

Referensi:
https://clearcode.cc/blog/what-to-avoid-minimum-viable-product/