Kenangan Senja dan Air Mata (Cerpen)

Apa kabar Senja? Sudah dua ratus Sembilan puluh enam hari sejak kali terakhir kita bersama. Aku masih belum jua bisa beranjak dari kekang kenangan ini. Jangan tanya kabarku Senja, aku tentu tak baik-baik saja. kau pasti sangat paham, aku tak mudah untuk memutar melodi baru untuk menggantikan sendu dan biru tanpamu. Karena, setiap aku hendak memulai, rindu ini selalu membawaku padamu. Namun, sangat sakit tiap mengingat rinduku takkan pernah berujung temu.

Memoriku melaju bersama kenanganmu. Kenangan senja saat kita pertama kali bertemu. Kala itu, kau tersenyum manis menyapaku, sesekali menyibak rambut yang menutupi wajahmu oleh angin yang juga ingin bermain denganmu. Aku tak bisa berkata. Bibirku membalas senyummu dan hatiku berdegup kencang. Aku tentu tak bisa melupakan kenangan itu.

Hari berikutnya, kita bertemu lagi di posko kesehatan. Kau, dengan sabarmu merawat anak-anak yang terluka. Terlihat lelah dan khawatir jika melihat darah dari kulit mereka. namun, walau kau lelah, kau tetap bisa tersenyum.

“Mengapa kau ingin menjadi relawan di desa terpencil seperti ini?” tanyaku saat kuberanikan diriku menyapa dan memberikan minuman.

“Pengabdian. Aku hanya ingin mengabdi atas ilmu yang kupunya walau belum sempurna,” jawabmu singkat.

“Kenapa?” tanyaku masih bingung.

“Hanya ingin saja. Aku hanya ingin orang-orang tak merasakan sakit,” sahutmu kemudian tersenyum. Aku pun balas tersenyum.

“Ah, ya. Namaku Senja. Kita sepertinya bertemu dari kemarin tapi belum saling berkenalan,” ujarmu sambil mengulurkan tangan.

“Jan,” jawabku menyambut uluran tanganmu.

Sejak hari itu, kita sering menghabiskan waktu bersama. Berjalan di pantai kala senja, bercerita tentang hari itu, atau berdiskusi seputar hal-hal sederhana yang membuat kita tertawa. saat itu, kurasa nabastala jingga begitu indah bersamamu. Namun itu sebelum kutau bahwa senyummu adalah dinding tempat menyembunyikan rahasia. Kau, yang ternyata berusaha untuk tegar dengan waktu yang kau punya.

Senja di hari ke dua puluh satu, kulihat darah merah itu mengalir dari hidungmu. Kau masih saja bisa berbohong dan bilang bahwa kau baik-baik saja, namun tubuhmu tak bisa bekerja sama. Hari berikutnya kulihat kau jatuh dengan tubuh lemah dan kulit yang memucat. Dengan susah payah kau berbicara, mencegahku untuk tidak memberitahu siapa-siapa.

“Aku tak ingin mereka tau tentang kondisiku.”

“Tapi aku tak bisa membiarkanmu seperti ini,” ujarku bergegas hendak mencari bantuan. Saat itulah tanganmu yang lemah mencegahku.

“Sudahlah. Kumohon padamu tetaplah di sini saja dan berpura-puralah kau tak melihat semua ini,” pintamu dengan suara lemah.

Aku tak bisa bergerak lagi meski ingin aku memberitahu teman-teman untuk membantumu, tapi melihat matamu yang begitu berharap, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kau menarikku untuk duduk dan menggenggam erat tanganku.

“Aku hanya butuh istirahat dan semuanya akan baik-baik saja,” katamu lagi.

Setelah kejadian itupun, kau bersikap seolah tak ada yang terjadi. Kau bahkan hanya menjawab kalau kau hanya kecapaian dan tak sengaja ketiduran di ranjang pasien sambil tertawa bercanda. Kau tak tau betapa aku menahan tangis melihatmu yang begitu.

“Aku, memang tak ingin memberitahu tentang penyakitku kepada siapapun. Aku hanya tak ingin mereka melihatku sebagai kaca yang rapuh,” ujarmu di suatu sore.

“Kau tau alasanku menjadi relawan? Aku ingin mengabdi. Mengabdi untuk terakhir kalinya. Aku ingin membantu orang mengurangi rasa sakit walau aku belum menjadi dokter. Aku sangat ingin menjadi dokter, tapi aku tak yakin aku punya banyak waktu untuk itu,” ujarmu. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matamu. Namun kau tetap melanjutkan kata-katamu.

“Aku sangat tidak suka melihat orang sakit, karena aku tau rasa sakit itu tak enak. Maka aku ingin orang lain tak merasa sakit. Aku ingin menyembuhkan mereka walau aku tak bisa menyembuhkan diriuku. Aku ingin mereka bahagia, walau aku mungkin tak bisa melihat mereka bahagia.”

Aku tak bisa berkata apapun. Tak kuasa juga aku menahan tangis.

“Jangan menangis Jan. Aku paling tak bisa melihatmu menangis,” ujarmu lagi. Kau kemudian bersandar di bahuku.

“Aku ingin sekali bisa bersamamu lebih lama. Aku merasa nyaman bersamamu. Kau adalah orang yang paling aku percaya.”

Aku semakin menangis.

Ternyata, semuanya tetap akan tau pada waktunya. Kau jatuh lagi dengan darah mengalir di hidungmu. Kali ini, kau tak bisa menyembunyikannya karena kondisimu begitu parah hingga kami harus membawamu ke rumah sakit. Dokter bilang penyakitmu sudah sangat parah. Beberapa teman langsung menangis mendengar semua itu.

“Mengapa kau tak memberitahu kami,” protes mereka kepadaku. Aku hanya diam saja.

“Kau ini, apa maumu hah?” Tanya Rudi yang kini termakan emosi.

“Sudah hentikan. Jangan bertengkar di sini. Senja di dalam sedang kritis, kau jangan buat suasana jadi runyam,” ujar Putri.

Beberapa saat kemudian, perawat keluar.

“Pasien sudah sadar. Ia mencari orang yang bernama Jan,” ujar perawat itu.

Semua mata menoleh ke arahku. Dengan langkah pelan, aku masuk ke ruang rawatmu.

“Maafkan aku karena mungkin mereka menyalahkanmu,” ujarmu lemah.

“Kau harusnya khawatirkan keadaanmu, bukan aku,” balasku.

“Bisa kau panggilkan mereka?”

“Kau butuh istirahat,” bantahku.

“Aku juga butuh menjelaskan semuanya, sebelum pergi dengan penyesalan.”

Aku terdiam. Air mataku meleleh. Namun, segera kuhapus. Aku berdiri, beranjak memberitahu mereka. Dengan segera mereka masuk ke dalam ruanganmu. Beberapa teman wanita mulai menangis. Kau, dengan suara lemahmu menjelaskan alasan yang semakin membuat air mata kami mengalir deras. Hari itu, aku seperti tak bisa bernapas karena dadaku terlalu sesak melihat keadaanmu.

:blossom:

Semakin hari, kulitmu semakin pucat. Badanmu juga semakin kurus dan lemah. Namun kau masih saja bisa tersenyum saat kusuapi makan.

“Aku ingin melihat senja Jan,” ujarmu di suatu sore.

“Tapi kita tak bisa ke pantai,” balasku.

“Tak apa. cukup di taman,” ujarmu mengiyakan.

“Baiklah, akan kutanya perawat dulu,” ucapku.

Aku segera keluar kemudian meminta izin sekaligus meminjam kursi roda. dengan hati-hati, kupindahkan badanmu ke kursi roda. Kulihat kau begitu senang saat menatap langit yang mulai jingga.

“Sudah lama rasanya ya Jan,” ujarmu. “Kapan terakhir kali kita menatap senja bersama Jan?”

Aku hanya diam.

“Hh… rasanya waktu sangat cepat berlalu Jan. perasaan baru kemarin kita berkenalan,” ujarmu lagi.

Aku hanya menatapmu. Menatap wajahmu yang terterpa cahaya jingga.

“Kau senang bertemu denganku?” tanyamu.

“Tentu saja.”

Kau tersenyum kemudian berkata : “Syukurlah, aku juga sangat senang bertemu dengnmu.”

Kau menyandarkan kepalamu di bahuku. Rasanya, kepala ini begitu ringan dari sebelumnya.

“Aku masih ingin melihat senja bersamamu Jan, tapi sepertinya waktuku tidak banyak. Nanti, jika aku sudah tak ada, aku harap kau tak membanci senja.”

Aku hanya bisa menangis saat mendengar kata-katamu.

“Anggaplah senja ini sepertiku Jan…” katamu lagi. “Ceritakanlah tentang hari itu kepadaku. Aku akan sangat suka cerita-ceritamu Jan.”

“Ayoh, coba ceritakan satu saja ceritamu. Aku ingin dengar,” ujarmu. Kau menunggu dan aku hanya diam, menangis.

“Ayolah Jan…” rajukmu dengan suara lemah. Aku segera mengatur suaraku. Menarik napas dalam-dalam dan mulai bercerita.

“Hari ini…” aku hampir saja menangis lagi.

“Hari ini… aku bersama seorang gadis. Gadis yang sangat aku cintai.”

Kau pun tersenyum.

“Dia baik, tegar dan murah senyum. Dia gadis yang hebat. Gadis yang bisa membuatku bahagia. Gadis yang sangat mengagumkan…”

Saat itu, kulihat matamu terpejam. Kau tertidur sangat lelap. Aku kembali menangis lagi, namun segera kulanjutkan ceritaku.

“Gadis itu memintaku untuk bercerita tentang hari ini. Ia sangat suka ceritaku. Ia bilang padaku untuk tak membenci senja… ia memberiku kenangan tentang senja juga air mata.”

:blossom:

“Jan, ayo pulang. Hari sudah menjelang malam,” ujar Putri menepuk bahuku.

Aku segera menghapus air mataku. Dengan lembut, aku mengusap rumput yang mulai tumbuh subur, seolah mengucap pamit padamu. Aku berharap kau tak sedih sekarang, karena kami datang untuk menjengukmu Senja.

“Ayo, kata penjaga, makam akan segera di tutup,” ujar Rudi mengingatkan. Aku mengangguk sambil berjalan pelan bersama Putri dan teman-teman lainnya.

Nah Senja, hari ini aku ingin bercerita. Aku mengunjungimu bersama teman-teman. aku tak pernah membenci senja, tapi aku hanya tak bisa melupakan kenangan senja dan air mata.

Tuban, 17 Oktober 2020