Kenangan Kelam Syafira

Api

Summary

Picture by Google

Awalnya Syafira menganggap mimpinya hanya bunga tidur semata. Tapi tidak setelah mimpi yang mengerikan itu terus menghampiri sampai ketiga kali. Apalagi setiap Syafira bangun dari tidurnya, ia tampak lelah, berkeringat, dan muncul perasaan persis seperti yang dialaminya dalam mimpi. Bahkan suara Syafira berteriak kencang meminta pertolongan terdengar hingga keluar.

Ibu dan ayahnya pun sontak terbangun untuk melihat Syafira, khawatir akan keadaan putri kesayangan.

“Syafira hanya mimpi buruk, Bu.” Jawab Syafira setiap ditanya oleh orang tuanya.

Tidak ingin membuat ibunya khawatir, Syafira bungkam setiap ditanya perihal mimpi buruknya. Tapi Syafira juga tidak dapat menyembunyikan rasa cemas yang melanda hati dan pikirannya. Bahkan Minggu pagi yang cerah tak dapat mengalihkan perhatiannya akan kenangan yang begitu kelam dalam mimpinya.

Mangggarai, tempat kelahiran Syafira tujuh belas tahun lalu. Daerah yang membesarkannya dengan berbagai keunikan budaya dan adat yang masih terjaga kearifannya di pedalaman sana. Menyimpan sejuta makna leluhur yang terpendam, menunggu untuk diceritakan pada anak cucu sang pewaris, Syafira. Hingga kebakaran hebat terjadi, menjadi kenangan mengerikan bawah sadar Syafira sewaktu kecil. Namun akhirnya, Syafira dan ibunya memutuskan untuk pindah ke tempat kerja ayahnya di Bali setelah neneknya meninggal dunia karena sakit tua. Sembari berharap Syafira lupa akan kenangan duka di kampung halamannya.

Jalanan aspal depan rumah menjadi saksi kegelisahan Syafira yang sedang duduk meringkuk di lantai teras. Seolah tahu perasaan berkecamuk anak semata wayangnya, ibu Syafira merasa sudah saatnya untuk bercerita tentang masa lalu dan budaya masyarakat leluhurnya.

“Syaf, apa kamu percaya akan pertanda mimpi?” ibu merangkul Syafira penuh pengertian tapi pandangannya jauh menerawang. Syafira menatap ibunya dengan heran.

“Ibu pernah bermimpi tentangmu, waktu Ibu melahirkanmu tepat pukul satu malam cahaya bulan tengah tertutup kabut hitam tapi entah dari mana sinar biru menembus bilik dan menyinarimu seolah tau kau menangis takut akan kegelapan.” ibu bergeming sejenak mengingat masa lalunya.

“Kabut asap, Bu…” Syafira bercerita dengan ketakutan yang sama seperti dalam mimpinya. Sebegitu mengerikan kejadian dalam mimpinya, Syafira tetap berharap akan ada pertanda baik baginya. Syafira menceritakan semua peristiwa yang diingat dalam mimpinya secara runtut. Ibunya pun mendengarkan dengan saksama berusaha memahami dan menganalisis tafsir mimpi Syafira.

Setidaknya Syafira merasa lega setelah ber- tombo nipi dengan ibunya. Syafira menunggu penjelasan ibunya tidak sabar.

“Tidak ada asap jika tidak ada api, Syaf. Akan terjadi kebakaran tapi rumah kita hanya sebagai perumpamaan, ibu yakin bukan disini. Biar nanti ibu yang cari tahu, kamu tenang ya… hmm atau mungkin ini hanya bagian dari kenangan masa lalumu di Manggarai, jadi kamu tak usah khawatir.” Kata ibu berusaha menenangkan Syafira.

Belum sempat bercerita dengan ayahnya, Syafira telah terlelap saat ayah pulang begitu larut. Ibu Syafira yang menunggu suaminya pulang sedang duduk di sofa ruang tamu, wajahnya terlihat tegang.

“Aku tau apa yang akan kamu lakukan, Mas!” sergah ibu tak sabar.

Ayah Syafira duduk menghampiri ibunya, “Oh, mimpi Syafira? Dengar! Aku tidak butuh tafsir mimpimu!” bentak ayah.

Bentakan keras ayahnya samar terdengar dalam tidur Syafira, ia terbangun berusaha melihat apa yang terjadi. Dari balik pintu kamar Syafira mendengar sayup suara di ruang tamu. Segera Syafira menajamkan indra pendengarannya.

“Rancangan proyekku telah rampung kukerjakan dengan susah payah jadi kau tidak perlu ikut campur, mengerti!” kata ayah nampak marah.

“Proyekmu itu tak akan bisa menggantikan hutan yang akan kau bumi hanguskan, Mas. Bahkan kau telah membangkitkan kenangan kelam masa kecil Syafira. Apa kau tak sadar?”

Syafira terkejut mendengar pertengkaran ayah dan ibunya, “Proyek? Bumi hangus? Maksudnya ayah akan membakar hutan. Dan ohh, kenangan itu, tidaaak! ” ucap Syafira tak dapat mengendalikan emosinya lagi. Syafira pun terhuyung mundur perlahan. Kabut asap yang membubung jelma raksasa dalam mimpinya, api berkobar pun terasa ingin menangkapnya langsung tergambar jelas di pikiran Syafira. Seketika semua terlihat gelap, Syafira pun ambruk di samping tempat tidurnya.