Kenali Dirimu dan Akan Kau Temukan Keindahan Sejati

Mengenal Diri

“Mengenal orang lain adalah kecerdasan; mengetahui diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati. Menguasai orang lain adalah kekuatan; Menguasai diri sendiri adalah kekuasaan sejati. Jika Anda menyadari bahwa Anda merasa cukup, Anda benar-benar kaya. ” - Lao Tzu

Banyak sekali kalimat sejenis dari para filusuf terkait pengenalan diri. Aristoteles berkata,

Mengenal diri adalah awal dari kebijaksanaan

Begitu juga seorang ulama besar Islam, Yahya bin Muadz Ar-Razi, juga berkata,

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Kalimat diatas juga dikutip oleh Al-Ghazali dalam kitabnya yang berjudul “Kimiya’ al-Sa‘adah : Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi”, dimana beliau juga mengutip ayat Al-Quran

Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Al Ghazali juga berpesan,

Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain.

Mengapa kita harus mengenali diri kita sendiri ?

Salah satu alasan utama adalah karena didalam diri kita terdapat beberapa “entitas” yang saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Al-Ghazali mngatakan bahwa didalam diri manusia terdapat 3 sifat yang saling bertentangan, yaitu

  1. Sifat Setan, yaitu sifat-sifat yang membawa kehancuran atau keburukan pada diri manusia dan lingkungannya, seperti iri dengki, tipu daya, fitnah dan lain sebagainya.

  2. Sifat Binatang, yaitu sifat-sifat yang lebih condong pada naluri biologis, seperti makan, minum, kawin dan lain sebagainya

  3. Sifat Malaikat, yaitu sifat-sifat baik dalam diri, yang selalu “memandang” keindahan Allah swt, seperti pengasih, penyayang dan lain sebagainya.

Selain itu, didalam kitab yang sama, al Ghazali membagi diri manusia menjadi beberapa entitas, yaitu badan, jiwa, nafsu dan akal. Analogi sederhana terkait hubungan tersebut juga dijelaskan al Ghazali sebagai berikut,

Badan (jasad) adalah sebuah kerajaan, dimana jiwa (roh) adalah rajanya, nafsu adalah tentaranya dan akal adalah perdana menterinya.

Kita bisa bayangkan apabila setiap entitas tidak berperan sebagaimana mestinya. Jiwa yang seharusnya berperan sebagai seorang raja, dimana seharusnya selalu berbicara masalah kebijaksanaan, tetapi digantikan oleh nafsu, yang selalu berbicara tentang kesenangan.

Begitu juga ketika akal, yang seharusnya berbicara tentang kebenaran dan kebaikan, tetapi digantikan oleh nafsu, yang selalu mencari pembenar dan selalu berpikir secara “akal-akalan”.

Kesesuaian peran masing-masing entitas itu akan tercermin dalam perilaku manusia itu sendiri. Oleh karena itu, mengenal diri sendiri menjadi sangat penting, bahkan kalau tidak bisa dikatakan sebagai yang utama.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya yang berjudul Munabbihat ‘ala-sti‘dadi li Yaumil Miad juga menekankan untuk mengenali diri sendiri, mengingat didalam diri sendiri juga terdapat musuh yang terbesar

“Barangsiapa menyangka ada yang lebih memusuhi dirinya ketimbang nafsunya sendiri, berarti ia kurang mengenali pribadinya sendiri.”

Hal ini sesuai dengan hadist nabi Muhammad saw,

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya ” (Hadits riwayat ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Sebagai penutup, saya ingin mengutip ayat al Quran, yang menurut saya mempunyai makna sangat dalam, yaitu

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Al Ankabut: 69

Dari ayat al Quran diatas, menurut saya, salah satu cara agar mendapatkan petunjuk (dan hidayah) dari Allah adalah dengan berjihad, terutama jihad melawan sifat-sifat setan yang ada didalam diri kita sendiri. Dan hanya dengan mendapatkan petunjuk (dan hidayah) dari Allah sajalah maka manusia akan mendapatkan kebijaksanaan sehingga menjadi manusia yang seutuhnya (paripurna).

Wallahu a’lam bisshowab

1 Like