Keledai yang Pandai

image

Sebuah perumpamaan, diceritakan seorang petani yang memiliki keledai tua. Keledai itu jatuh ke sumur petani. Petani mendengar keledai itu meringkik. Setelah memeriksa situasi dengan cermat, petani itu merasa kasihan pada keledai itu tetapi ia memutuskan bahwa keledai maupun sumurnya tidak dapat diselamatkan. Sebagai gantinya, ia memanggil tetangga-tetangganya dan memberi tahu mereka apa yang telah terjadi. Petani itu meminta mereka untuk membantu mengangkut tanah untuk mengubur keledai tua di sumur dan menyingkirkannya dari kesengsaraannya.

Pada awalnya, keledai tua itu histeris meringkik, sangat marah! Tetapi ketika petani dan tetangganya terus menyekop tanah ke dalam sumur, kotoran itu menghantam punggungnya, dan sebuah pikiran muncul di keledai tua itu. Tiba-tiba dia sadar bahwa setiap kali sekop tanah mendarat di punggungnya: dia harus mengibaskannya dan menaikki tanah tersebut! Inilah yang dilakukan bagal tua, sekop demi sekop.

“Kibaskan dan naik … kibaskan dan naik … kibaskan dan naik!” dia mengulangi untuk mendorong dirinya sendiri.

Tidak peduli betapapun menyakitkannya tanah itu, atau betapa susahnya situasi itu, keledai tua itu berjuang keras dan terus mengibaskannya dan naik! Anda bisa menebaknya? Tidak lama sebelum keledai tua itu babak belur dan kelelahan, dia melangkah dengan kemenangan tepat ke bibir sumur itu!

Apa yang tampak seperti sesuatu yang akan menguburnya, akhirnya malah memberkatinya. Semua karena cara dia menangani kesulitannya.