Kekuatan Itu Bernama Cinta

Siang yang ganas di sebuah terminal tua. Deru mesin bersahutan di sana-sini, meniadakan sunyi dan sepi, yang kalah oleh bising dan sesak.

Aku mengelus perutku yang asyik berdendang. Kulirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Rupanya kedua jarum yang tak pernah berhenti berputar itu nyaris mendekati angka satu.

Aku menengadah ke langit, memeriksa letak matahari yang barangkali sedikit lebih lekat ke titikku berdiri itu, sebab panas siang itu agaknya tak biasa. Mungkin matahari sedang tidak baik-baik saja.

Kuselipkan tangan kananku ke dalam saku seragam pramuka yang membalut tubuhku. Benar dugaanku, sisa uangku tak seberapa. Kurelakan rasa lapar menggeliati badanku.

“Halo. Selamat siang. Saya sudah sampai di Terminal Arjosari Kak,” kata-kata itu melompat keluar dari mulutku, menyambar panggilan masuk yang mendesak handphoneku.

Kepalaku mengangguk-angguk, mengiyakan kalimat demi kalimat yang menembus masuk telingaku. Di seberang sana, seorang perempuan muda dengan ramah menuntunku menemukan jalan yang mesti kutempuh.

“Terima kasih Kak.”

Panggilan kututup. Segera kupacu keda kakiku. Gerak jejakku terhenti di depan sebuah toilet umum. Pria paruh baya yang duduk di muka tersenyum. Setelah menitipkan tas punggungku kepadanya, aku bergegas masuk.

“Nanana . . . Nananana . . .” senandung kecil meluncur menggema seisi bilik mungil tempatku membersihkan rok sekolahku itu.

Isi kepalaku memutar kembali rekaman kejadian yang tak kuduga di dalam bus tadi. Memoriku menyambangi seorang bocah yang menumpahkan muatan perutnya, tepat mengenai rok cokelatku. Kakaknya yang tengah merangkulnya dalam pangkuan, persis di sampingku, berulang kali meminta maaf. Kusodorkan senyuman ramah kepadanya.

“Ini, adik. Pakai untuk bersihkan rokmu,” ucap seorang lelaki seraya menyodorkan sebotol air kepadaku.

Aku gemar tersenyum kecil manakala melihat orang-orang di sekitarku saling berbagi kebaikan. Satu hal yang kupikir bakal terancam punah hari-hari ini. Tapi kita memang tak bisa menyangkal kekuatan sebuah cinta. Cinta itu pula lah yang menggerakkan setiap hati untuk tak letih memberi diri bagi sesama.

Kilas balikku pada peristiwa di bu tadi seketika buyar oleh siraman air terakhir yang jatuh dari gayung hijau itu. Kendati bekas muntahan itu tak kunjung sirna, bahkan enam tahun setelah kisah ini kuutarakan kembali, aku tak pernah menyimpan sesal, apalagi dendam.

Aku menarik gagang pintu dan menghamburkan diri keluar toilet. Kulit hitam dan rambut keritingku yang khas membuatku seakan menjadi “tontonan” siang itu. Aku menerobos keramaian terminal.

Objek yang sedari tadi kucari, jatuh tepat di pelupuk mataku. Angkot biru itu berdiri tegak di antara angkot lainnya. Kututurkan kepada sang sopir bahwa aku hendak menuju Universitas Brawijaya.

“Tapi saya belum tahu kampusnya dimana, Pak,” ucapku.

“Tidak apa-apa, nak. Bapak tunjukkan. Anak duduk di depan ya, di samping Bapak. Nanti kalau sudah tiba, Bapak kasih tahu,” balasnya.

Angkot yang kutumpangi membelah jalanan Kota Malang. Sebelum kami mencium gerbang keluar terminal, kulihat banyak kendaraan merayap di sana. Benar saja, kami harus berdesakan dengan puluhan, bisa jadi juga ratusan kendaraan lain yang mengular panjang.

Aku ingat betul, pertengahan Februari 2014, erupsi Gunung Kelud sedang berlangsung. Debu halus diterbangkan angin sampai ke kota itu, pun beberapa kota dan kabupaten di sekitarnya.

Malam sebelumnya, aku sampaikan kepada ayahku bahwa aku hendak mengikuti sebuah turnamen nasional di Malang. Aku tahu, berat bagi ayahku untuk memberikan izin. Bukan karena ia tak merestui cintaku pada passion yang kugelati sejak duduk di bangku Sekolah Dasar itu. Tapi karena kondisi yang kurang bersahabat.

Sudah sebulan lamanya, ibuku pulang ke kampung halaman kami di sebuah pulau indah bernama Adonara, yang termasuk dalam gugusan kepulauan Sunda Kecil, yang detak jantungnya juga berdenyut di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ayahku belum gajian waktu itu. Tapi kuyakinkan kepadanya bahwa aku masih memiliki cukup uang, setidaknya ongkos transportasi.

“Sudah sampai, nak.”

Suara serak pria yang duduk di sampingku itu, menceraikanku dengan lamunan yang ternyata sudah cukup lama merengkuhku. Benar saja, aku yang sedari tadi tidak sungguh-sungguh memperhatikan isi jalan di hadapanku, kini dibuat bingung tatkala sebuah kawasan megah hadir tepat di depan atmaku.

Aku menghela nafas panjang. Lagi, kutemukan keramahan dalam diri sesamaku. Pak sopir tadi memberikan ‘diskon’ bagiku. Katanya, aku hanya perlu membayar separuh dari ongkos yang semestinya, agar aku bisa memiliki cukup uang cadangan untuk sekadar membeli makanan ringan. Sungguh, cinta seperti itulah yang sangat aku rindukan. Seandainya semua orang dapat merasakan cinta yang tumbuh di dalam hatinya, dan memberikan cinta itu kepada siapa saja, pasti dunia ini akan jauh lebih hangat, walau panasnya bumi terus meningkat.

Dadaku sesak menyadari betapa luasnya kampus ini. Bahkan hampir setengah jam aku mondar-mandir mencari gedung yang kumaksud, belum jua aku berhasil. Entah sudah berapa banyak orang yang kutemui dan kutanyai, aku masih terlantar di lorong-lorong kampus.

“Kalau kalian jatuh cinta pada impian kalian, kejar! Jangan biarkan cinta kalian pupus.”

Kalimat itu kembali mendengung di kepalaku, bak lagu paling unggul dalam playlist yang sewaktu-waktu siap berputar ketika lelah merambah dada. Kalimat itu mendarat dari lidah seorang guruku, yang sampai kini pun tak dapat kutanggalkan.

Kedua kakiku pada akhirnya saling bertemu dalam satu ketukan final yang sama. Seorang mahasiswa ramah menyambutku. Kusongsong keramahannya dengan irama keramahan yang sama. Ia membawaku memasuki sebuah lift untuk naik ke lantai atas. Sebelum pintu lift itu benar-benar saling mengatup, sejumlah panitia lain menghadang. Mereka menyerbu kami, dan kami pun bertolak ke tempat yang lebih tinggi.

Tak ku sangka, cinta lain datang menyapaku dalam diri mereka. Barangkali air mukaku terlampau sukar untuk kumalingkan dari kelelahan dan kelaparan yang menjalar. Maka mereka yang kala itu membawa banyak makanan ringan, menyodorkan satu di antaranya untukku. Aku hampir saja menelurkan butiran air mata, kalau-kalau aku gagal memingit rasa haruku sendiri. Ternyata menemukan cinta tidak harus lewat hal-hal besar. Dalam setiap tindakan, bahkan sekecil apapun itu, cinta yang murni akan selalu menampakkan diri.

“Nomor 12” tuturku kepada panitia sembari menunjukkan angka yang kudapatkan.

Ya, nomor tersebut adalah nomor penampilanku pada babak penyisahan keesokan harinya. Aku yang sangat terlambat menghadiri Techinal Meeting itu nyaris kelabakan dan tak tahu apa-apa. Yang kutahu, aku akan tampil membawakan sebuah pidato dalam Bahasa Inggris yang naskahnya sudah kususun jauh hari sebelumnya.

Seorang peserta dari sekolah lain datang merapatiku. Dengan sabar, ia menjelaskan keseluruhan ketentuan turnamen nasional itu kepadaku, sebagaimana yang sebelumnya disampaikan pada Techinal Meeting yang baru berakhir. Keramahannya membuatku semakin percaya bahwa cinta memang selalu punya segala cara untuk memberikan diri kepada sesama, bahkan aku yang pada waktu itu adalah calon lawannya dalam perlombaan itu. Ia tak lantas menutup mata. Justru cinta memampukannya untuk tidak memandangku sebagai rival, yang perlu dijaraki.

Aku pulang ke rumah dengan girang. Satu hariku terlewati dengan penuh cinta. Cinta yang sama kubawa pulang meski harus melalui perjalanan panjang dari Kota Malang ke Kecamatan Pandaan, di Kabupaten Pasuruan. Sepanjang perjalanan pulang, aku melempar pandang pada deretan orang-orang yang lalu lalang. Sambil tersenyum bangga, kutatap cakrawala yang membentang di balik jendela bus.

“Tingkap-tingkap langit, terbukalah lebar! Turunkanlah cintamu kepada setiap kami yang haus dan lapar akan cinta itu,” bisikku dalam hati.

Hari yang lebih mencengangkan tiba. Keesokan harinya, aku berangkat ke Kota Malang bersama guru Bahasa Inggris di sekolahku. Setelah babak penyisihan, guruku pulang. Tinggallah aku sendirian. Tapi aku tahu, dan selalu tahu, aku tak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada kekuatan lebih besar yang membarengiku. Dan kekuatan itu berjubah cinta, bertajuk cinta.

Benar saja, dalam kesendirianku, aku bertemu dengan teman-teman lain, yang kemudian membuat kami menjadi akrab. Malam pengumuman itu, aku melihat namaku bertengger pada urutan ke tiga belas dari enam belas peserta yang dinyatakan lolos ke babak semifinal. Dengan segenap teguh, aku mengumpulkan utuh dalam diriku, agar jemariku masih sanggup meladeni pertandingan di depan, yang tentu akan jauh menakutkan.

Conquer the Fear and Strive with Love. Taklukan ketakutan dan perjuangkan cinta. Itulah tema Brawijaya English Tournament 2014 yang menjadi ajang turnamen Bahasa Inggris tingkat nasional yang kuikuti. Aku memegang tema itu dengan penuh keteguhan. Cinta adalah satu-satunya kekuatan terbesar bagiku untuk mengalahkan beragam ketakutan yang memelukku. Aku yakin, cinta tak akan pernah lelah, tak akan pernah kalah.

Babak semifinal kulewati dengan penuh tertatih. Bagaimana tidak, belum semenit berdiri di depan, lututku gemetar. Kepalaku rasanya hampir copot. Lidahku keluh. Aku tak lagi mengingat isi pidatoku. Yang kusampaikan hanya spontanitas yang ternyata gagal kututurkan dengan durasi waktu yang tepat. Aku kembali ke tempat duduk dengan lesu.

“Semua berakhir,” gerutuku dalam benak.

Di luar prediksi, namaku terpampang di urutan peserta yang lolos ke babak final. Namaku muncul di urutan pertama, sesuatu yang sama sekali tak berani kubayangkan. Nyatanya, cinta memampukanku untuk tetap menujunya.

Babak final usai. Aula utama itu diserbu ratusan manusia. Aku duduk diam dengan kegusaran yang nyala di dada. Dan cintaku pada akhirnya menemui kemenangan. Aku dinyatakan keluar sebagai jawara ketiga.

Rintik hujan menghujam Kota Malang. Di balik jaket tebalku, aku menyembunyikan diri. Malam itu, aku menjemput keajaiban bergelar cinta tiada tara yang Tuhan titipkan lewat peristiwa paling dahsyat sepanjang hidupku itu. Dengan gemetar, aku mengeluarkan piala yang kusimpan di dalam tas, lalu menunjukkannya kepada ayah yang sudah menungguku di gerbang kampus.

“Terima kasih”, ujarku menatap angkasa yang gersang ditinggal gemintang.

Sejak saat itu, aku percaya, jarak antara kita dan impian kita hanya satu kepalan tangan bernama tekad. Dan untuk menghadirkan tekad itu, yang kita butuhkan adalah satu energi bernama cinta. Karena cinta adalah kekuatan terbesar yang tak akan pernah bisa dikalahkan oleh apapun dan siapapun.

FB_IMG_15939317301110727

1 Like