© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Kekerasan Umat Beragama, Rizal Ramli: Ada yang Main Mau Adu Domba Bangsa

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman sekaligus tokoh nasional Rizal Ramli meyakini bahwa peristiwa kekerasan terhadap umat beragama bukan soal perbedaan pendapat ataupun soal toleransi, akan tetapi ada dalangnya dibalik peristiwa tersebut.

“Ada yang main, mau ngadu bangsa kita, mau bikin suasana kacau. Dugaan saya sengaja dibilang orang gila supaya bisa dilepas semua,” katanya, Kamis (15/2).

bagaimana menurut pendapat Anda?

Adu domba merupakan sebuah perbuatan yang sangat tercela karena tujuan daripada adu domba itu ialah menyebarluaskan berita yang tidak benar (fitnah) agar antar individu atau masyarakat tidak saling menyukai satu sama lain dan akhirnya terjadi pertikaian dan peperangan. Dengan kata lain, adu domba merupakan suatu perbuatan rekayasa yang sengaja dilakukan untuk merusak, memfitnah, atau menghancurkan orang lain serta merupakan pemicu terjadinya permusuhan.

seharusnya sebangai warga negara yang baik jangan mudah diadu domba dengan hal hal yang bisa memperkeruh suasana berbangsa dan bernegara, toleransi umat beragama juga sangat penting ditegakkan untuk menghindari hal hal yang tidak diingikan.sebaiknya gunakan sebagai pengetahuan jangan samakan antara satu dengan yang lainnya, hormat saling menghormati, saling menghargai merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan.

Kekerasan: Diskusi Pembuka

.ewg

  • Kekerasan merupakan fenomena politik dan sosiologis yang bersifat universal. Ia dapat berlangsung pada level individual, kolektif, institusi, maupun sistem secara keseluruhan. Kekerasan bisa berlangsung secara horisontal pada masing-masing level, tetapi bisa juga berlangsung secara vertikal atau kombinasi di antara keduanya. Kekerasan juga bisa berlangsung secara terbuka, tetapi juga bisa bersifat tertutup, sebagaimana diekspresikan dengan sangat baik dalam kekerasan domestik yang umumnya menempatkan kaum perempuan dan anak-anak sebagai korban.

  • Raut ekspresi kekerasan pun sangat bervariasi, mulaidari kekerasan yang bersifat simbolik5 hingga pada kekerasan fisik; dari kekerasan verbal hingga peperangan antar bangsa atau negara. Metode yang dilibatkan dalam kekerasan juga sangat bervariasi. Akan tetapi di antara variasi metode yang dipakai, terdapat kesamaan watak yakni eksploitasi energi anarkhis baik yang inherent dalam nature manusia sebagai ”makluk”, maupun energi anarkhis yang merupakan produk karya peradaban manusia, seperti senjata dan sistem persenjataan, misalnya. Daya dan wilayah jangkauan destruksi dari kekerasan, juga bervariasi, mulai dari kehancuran yang bersifat total hingga pada kehancuran terbatas, mulai dari kehancuran fisik hingga pada kehancuran yang bersifat psikis.

  • Akar dari kekerasan juga sangat bervariasi. Sebagian, sebagaimana pendekatan psikologi sosial mengargumentasikan, melekat dalam insting manusia sebagai ”makluk.” Dalam konteks ini, kekerasan muncul sebagai akibat dari pertarungan dua insting yang melekat dalam libido yang berakhir dengan dominasi thanatos yang merupakan insting perusak atas eros sebagai insting kehidupan. Sebagian lainnya, terpulang pada sebab-sebab yang bersifat struktural, seumpama sistem sosial, ekonomi dan politik. Dari sudut ini, kekerasan merupakan bagian penting dari apa yang digambarkan Geertz sebagai strukturisasi makna-makna dalam kebudayaan sebagai bagian fundamental dari usaha pernyataan kekuasaan (exertion of power) dari kategori struktur yang berkontestasi. Sementara sebagian yang tersisa, terkait dengan nilai yang melekat dalam kebudayaan ataupun ideologi, termasuk agama, serta melekat dalam sistem pembilahan masyarakat secara askriptif.

  • Dari sudut yang lain, kekerasan boleh jadi merupakan tindakan irasional, tetapi dalam kasus yang lain, kekerasan merupakan wujud dari pilihan tindakan yang rasional. Sejumlah riset mengkonfirmasi bahwa kekerasan merupakan pilihan rasional. Lichbach, misalnya, menggunakan kata kunci ”selective incentive” dalam menjelaskan keterlibatan petani dalam pergolakan-pergolakan pedesaaan tertentu yang disandarkan pada kalkulasi masing-masingnya atas keuntungan masa depan yang ditawarkan oleh suatu pergolakan yang spesifik. Dalam bentuknya yang lunak, sebagaimana diargumentasikan oleh Scott, kekeraan juga menjadi pilihan rutin yang berbasis keseharian dari petani dalam menyiasati struktur represif yang bekerja dalam keseharian mereka.

  • Bagi Indoensia, kekerasan dengan berbagai dimensi, akibat dan sebab sebagaimana dijelaskan secara cepat di atas bukan kisah baru. Ia kisah yang sudah sangat panjang, sedemikian panjang dan dalamnya sehingga memberikan sumbangsih penting ke dalam kosa-kata bahasa Inggris yang hingga kini masih digunakan, ”amoek.” Tulisan ini, jauh dari berkehendak untuk mengeksplorasi wilayah kekerasan yang sedemikian tak terbatas. Fokus kajian akan diberikan kepada kekerasan yang bersumber atau yang terjadi atas nama agama atau yang menemukan agama sebagai alasan pembenarnya.

Kekerasan: Kapita Selekta

  • Dalam beberapa tahun terakhir ini Indonesia menjadi salah satu kawasan di dunia yang paling produktif dalam memproduksi aneka kisah tragis di sekitar kekerasan atas nama agama. Dengannya, menempatkan negeri ini sebagai ”perpustakaan” maha luas yang menyimpan arsip berbasis pengalaman diri mengenai berbagai variasi kekerasan yang menjadikan agama sebagai pembenar. Beberapa kasus selektif yang direkam media massa berikut ini memberikan gambaran cukup menyeluruh mengenai isu ini, berikut variasinya.
    Pertama, kekerasan yang berlangsung dalam ranah agama yang sama. Dari sudut aktor yang terlibat, terdapat variasi-variasi, antara lain:

    • kekerasan yang melibatkan Ormas dalam komunitas agama yang sama.
    • kekerasan yang melibatkan negara yang bertindak atas nama agama resmi dalam merepresi ”aliran sesat” dalam satu agama.
    • kekerasan yang melibatkan komunitas dari agama yang sama.
    • kekerasan yang melibatkan institusi pemegang otoritas agama atas warga dari komunitas agama yang sama.
  • Kedua, kekerasan yang melibatkan agama yang berbeda. Dari sudut aktor, terdapat variasi pola pula.

    • kekerasan yang melibatkan Ormas satu agama atas komunitas dari agama lain.
    • kekerasan yang melibatkan Ormas dari komunitas agama yang berbeda. Khusus yang satu ini, lebih menampakkan diri dalam raut kekerasan verbal atau simbolik.
    • kekerasan atas kelompok agama yang melibatkan negara melalui pengaturan tertentu.
      Ketiga, kekerasan satu kelompok agama atas kelompok lain yang melakukan aktivitas yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama.
  • Variasi pola juga ditemukan di sini antara lain berupa:

    • kekerasan dilakukan oleh Ormas agama atas aktivitas-aktivitas yang dianggap sebagai simbol kemaksiatan, dan sejenisnya.
    • kekerasan atas nama agama oleh kelompok masyarakat yang ditujukan pada aktivitas-aktivitas yang didakwa sebagai simbol kemaksiatan, dan sejenisnya.
      Berikut ini akan disajikan secara sepintas beberapa kasus yang menggambarkan sebagian dari kategori di atas.

Kekerasan Atas Nama Agama: Sebuah Spekulasi

  • Kekerasan atas nama agama atau yang menempatkan agama sebagai pembenarannya mendapatkan respons yang bervariasi. Azyumardi Azra menggunakan perspektif politik dalam memahami persoalan ini. Menurut Azyumardi, kekerasan atas nama agama telah ada sejak era pasca kemerdekaan dengan munculnya DI/TII. Sebuah gerakan politik yang menggunakan agama sebagai justifikasinya dalam usaha untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Sejarah mencatat DI/ TII gagal. Akan tetapi pada masa Soeharto muncul lagi. Hanya saja, sebagian kelompok radikal di era Soeharto adalah produk rekayasa militer atau intelijen melalui Ali Moertopo dengan Opsusnya dan Bakin yang merekayasa bekas anggota DI/TII. Sebagian direkrut kemudian disuruh melakukan berbagai aksi seperti Komando Jihad dalam rangka mendiskreditkan Islam. Sejak jatuhnya Soeharto, kelompok ini muncul lebih visible, lebih militan, dan vokal.

  • Hal ini semakin diperkeras oleh kehadiran media massa, khususnya media elektronik sepetti TV yang banyak memberikan liputannya atas sepak-terjang kelompok sejenis.
    Aksi ini bisa karena faktor agama saja dan bisa juga karena politik. Ini bisa bertitik tolak dari pemahaman keagamaan tertentu kemudian diisi oleh muatan politik. Atau sebaliknya muatan politik lebih dulu baru diberikan justifikasi agama. Mereka punya agenda politik tertentu yang dijustifikasi oleh ayat-ayat Al Quran atau Hadis atau pandangan ulama tertentu. Atau bisa jadi dua-duanya. Penggunaan agama sebagai alat justifikasi bisa disebabkan karena pemahaman keagamaannya sangat literer atau harfiah. Dengan pemahaman ini mendorong mereka melakukan tindakan politik tertentu, termasuk tindakan kekerasan.

  • Penggunaan kekerasan oleh kelompok ini oleh Azyumardi disebabkan karena pada awalnya kelompok ini merupakan kelompok politik. Untuk mendapatkan dukungan publik Indonesia yang mayoritasMuslim, mereka menyertakan agama. Tujuannya agar sikap politiknya, termasuk kekerasan, seolah-olah dibenarkan agama. Cara ini sebenarnya karena melihat ajaran agama secara sepotong-sepotong. Misalnya, memahami jihad itu hanya perang. Perang yang dikembangkan bersifat indsikriminatif dimana tidak hanya orang non-muslim saja yang menjadi target, tetapi juga orang Islam yang berbeda pendapat. Orang Islam sendiri, akhirnya menjadi sasaran jihad versi mereka.

  • Romo Mudji Sutrisno24 memahaminya dari sudut budaya. Dari segi kebudayaan, agama berfungsi sebagai perekat damai. Ia merupakan teks yang mengajarkan hubungan damai dengan sesama dan tulus damai dengan Yang Kuasa. Geertz menempatkannya sebagai ruang pengarti makna hidup dan orientasi hidup yang bersumber pada teks suci kebenaran hingga mendasari lapis-lapis pandangan hidup lainnya seperti akal sehat, ilmu pengetahuan, dan estetika.

  • Krisis di tahap agama akan mengakibatkan krisis mendasar dan total. Sebab, pengarti makna hidup runtuh. Di sini saja, terjawab bahwa peran agama secara budaya menjadi perajut identitas individu maupun kolektif atau komunitas. Di situ, juga terletak salah satu jawaban mengapa usaha mati-matian untuk tidak terjadi krisis identitas, komunitas memegang agama erat-erat dengan ketotalan tafsiran dan pembahasan hukum kebenaran mutlak. Sekalipun demikian, konflik bisa tetap diatasi secara budaya. Contoh paling mencolok adalah wacana konflik peradaban dari Samuel Huntington yang membuat masing-masing peradaban yang merasa eksistensi identitasnya ditantang konflik lalu memakai jalur politik identitas untuk mempertahankan diri dan melawan. Lalu, kapan potensi kekerasan itu meruyak ke luar dan apa sebabnya? Agama potensial menjadi kendaraan dan legitimator kekerasan bila radikalisme perjuangan politik identitas mengambilnya sebagai amunisi.

  • Tamrin Amal Tamagola, memahami kesemuanya melalui kaca mata yang berbeda, yakni kaca-mata struktural. Dalam pemahamannya, konflik antar agama sudah ada sejak dahulu, bukanlah buah reformasi. Konflik beragama di Halmahera, misalnya, telah terjadi sejak 1960- an dan di Kalimantan sejak 1950an. Namun setiap konflik bernuansa SARA berhasil ditumpas oleh pemerintah Soeharto. Hal ini dicapai melalui perasionalisasi seperangkat lembaga hegemonik-ideologis, antara lain dengan memaksakan asas tungal Pancasila. Cara lain adalah dengan menciptakan mesin politik raksasa, Golkar dengan lembaga turunannya, dengan jaringan cabang dan ranting yang meliputi jaringan birokrasi sipil, termasuk BUMN, militer. Cara terakhir adalah dengan menggerakkan serangkaian mesin penundukan dengan kekerasan, dengan menggencarkan intimidasi aparat militer, polisi dan berbagai organisasi milisi serta organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila, Pemuda Karya.

  • Pasca jatuhnya Soeharto, konflik dengan kekerasan yang melibatkan agama yang berbeda meluas karena adanya faktor bom waktu yang telah disemaikan selama masa Orba, dan hancurnya berbagai lembaga manajemen konflik baik yang dipunyai komunitas sipil, maupun yang dikendalikan negara. Bom waktu ini berupa bom waktu struktural, institutional, behavioral. Bom waktu struktural karena ketidakadilan dan marjinalisasi ekonomi, politik, dan sosial-budaya serta kelembagaan. Bentuk marjinalisasi kelembagaan hadir dalam raut penghancuran secara sistematis lembaga adat perekat sosial yang diakrabi warga dan pengikisan identitas budaya suku tertentu.

Referensi

Haryanto, Ariel, (2006). State Terrorism and Political Indentity in Indonesia: Fatally Belonging, London: Routledge.

Kampschulte, Theodor, (2001). Situasi Ham di Indonesia: Kebebasan Beragama dan Aksi Kekerasan, Internationales Katholisches Missionswerk Mision.

Lay, Cornelis, (2004). Antara Anarki dan Demokrasi. Jakarta: Pensil 324.

Galtung, Johan (1996). ‘On the Social Cost of Modernization, Social Disintegration, Atomie/Anomie and Social Development.’ Development and Change, Vol 27, No. 2, April 1996