Karenamu Aku Paham


Mendungnya awan menjadi saksi kisah yang sampai sekarang tidak pernah usai. Entahlah apa yang membuat kisah ini tak kunjung padam dan membiarkan luka yang masih menganga lebar setelah di tinggal oleh seorang pengecut yang tidak pernah mau untuk menutup luka ini. Bahkan kegengsian adalah salah satu faktor pembuat luka ini tidak pernah menutup. Iya! Gengsi merusak segalanya bahkan membuat seseorang tidak pernah kembali seperti dulu karena tidak ada yang mau memulai. Manusia pengecut memilih untuk melupakan dan menghilang begitu saja. Begitupun dengan kisahku. Aku lebih memilih melupakan dan melangkah demi sedikit untuk tidak terjerat dalam suatu luka yang masih menganga lebar.
Tepat dimana hari itu seharusnya aku merasakan kebahagiaan yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya akan tetapi, aku merasakan hal yang tidak pernah ku duga. Tepat tiga tahun kita mempertahankan hubungan tetapi, di tahun ketiga ini kamu lebih memilih untuk menyerah. Tiga tahun berjalan beriringan bukanlah hal yang mudah. Dua insan yang memiliki kepribadian yang berbeda berusaha untuk bisa berjalan beriringan bukanlah hal mudah. Jika aku ceritakan kisah kita dari awal apakah bisa aku membendung air mata yang sangat berharga ini? Apakah masih pantas aku kembali mengeluarkan air mata hanya karena mengingat sosok dia? Aku begitu cengeng dan lemah ketika di hadapkan dengan sosok itu. Mulutku terbungkam,mataku memerah, dan hatiku merasa tersayat dengan begitu hebat. Lukaku yang belum menutup sempurna bahkan masih menganga lebar sangat sensitif ketika mengingat sosok itu. Sudah tau sakit tetapi masih saja suka memikirkan dia. Dasar aku! Sukanya menyakiti diri sendiri terus. Ku kira aku sudah tidak lagi merasakan patah ketika mengenal dia tetapi, di hari itu aku kembali di hadapkan dengan luka yang tidak biasanya aku rasakan. Bahkan jika di bandingkan dengan kisahku sebelum ini, sungguh ini lebih menyakitkan. Dia kujadikan rumah ketika aku sudah berkelana sejauh mungkin, dia tempat ternyamanku untuk kujadikan titik pulang,tetapi kini rumah itu tak lagi berpenghuni. Kini rumah itu sunyi. Rumah yang selalu menjadi titik pulang kini hanya tersisa ruang kosong yang meninggalkan sejuta kenangan tanpa menyisihkan kebahagiaan sedikit pun.
Katanya aku sungguh berharga di matanya. Katanya aku selalu menjadi titik ternyaman. Katanya aku adalah kebahagiannya. Katanya ia tidak rela melihat air mataku menetes. Tetapi mengapa kini dia adalah sebab dimana aku meneteskan air mata? Jika aku adalah bahagianya mengapa dia hancurkan aku? Apakah dia tidak ingin bahagia? Ataukah dia sudah menemukan kebahagiannya pada sosok selain aku? Dia yang dulu takut kehilanganku, tapi kini malah dia sendiri yang meninggalkan aku. Sungguh semua kalimat itu terdengar sampah dan aku menyesal telah mendengar semua ucapan itu. Ternyata hanya seorang pengecut yang tidak bisa memegang omongannya sendiri dan itu ada pada dirinya.
Sudah tiga tahun lamanya aku dan dia menjalin hubungan. Kita sudah melewati berbagai lika-liku rumitnya menyatukan dua insan agar selalu merasakan kenyamanan dan keharmonisan. Menahan cemburu,marah,dan kecewa. Itu semua sudah kita lalui dengan kesabaran dan kita tetap bisa kembali merajut bahagia tetapi, entahlah mengapa di tahun ketiga ini aku merasa banyak yang berubah dalam dirnya. Bahkan sebagian kebiasaan-kebiasaan yang biasa dia berikan kepadaku kini lambat laun hilang dan berubah menjadi sebuah pesan singkat dan dingin. Ketika fase itu berada dalam hubungan bagiku itu wajar bahkan aku tidak bisa marah atau selalu menyudutkan dia kenapa dia kini berubah. Ketika dia bersikap dingin kepadaku bahkan aku langsung mencari-cari dimana letak kesalahanku tanpa aku bertanya kepadanya. Ketika dia berubah sikap apakah aku ikut bersikap dingin kepadanya? Jelas tidak. Prinsipku dalam menjalin hubungan yang masih aku pegang sampai saat ini adalah ketika satu insan sedang menjadi api maka satu insannya lagi harus bisa menjadi air. Begitupun dengan keadaanku saat itu, aku berusaha menenangkan pikiranku dan terus berusaha agar aku menahan egoku dan emosiku. Jujur saja aku adalah seorang manusia biasa yang masih bisa merasakan sakit hati ketika aku merasa tidak emiliki salah apapun tetapi aku di biarkan dan merasa tidak di anggap. Semua kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering kita lakukan hilang bahkan ketika bertukar kabarpun dia tidak sesegera mungkin membalas pesanku. Naluri seorang wanita itu tajam banget, ketika aku merasakan sesuatu yang berbeda dari hubunganku ini aku sudah menduganya pasti ada sesuatu. Waktu itu aku berfikir paling dia bosan tetapi aku masih diam dan tetap bersikap manis dan menyembunyikan rasa penasaranku ini tetapi, setiap harinya bukannya semakin membaik tetapi malah sebaliknya. Aku ingat betul waktu itu aku sedang memperjuangkan cita-citaku untuk bisa masuk ke PTN impianku,waktu itu aku tidak fokus dalam belajar karena masalah ini. Akhirnya aku memutuskan untuk off sosmed dalam beberapa minggu agar aku bisa fokus belajar. Ternyata ga semudah itu ya, pikiranku masih tetap memikirkan dia padahal belum tentu dia disana memikirkan aku dan akhirnya atas kehendak Tuhan aku mulai terbiasa tanpa dia.
Malam yang hening di lengkapi dengan lantunan lagu yang membawaku mengingat sosok dia dan tidak terasa air mataku menetes karena mengingat hubunganku yang di ujung tanduk dan tidak ada kejelasan. Aku memberanikan diri untuk membuka pesan dan akupun langsung terdiam. Iya aku terdiam karena dia sama sekali tidak menghubungiku bahkan malah teman-teman dia yang menghubungiku untuk memberikan informasi mengenai dia. Ternyata cukup resah dan membuat hati tidak karuan ya, saat mendengarkan kabar orang yang kita sayang melalui orang lain. Kalo kabar baik mungkin bisa tenang tetapi, ini bukan kabar baik melainkan telah beredar gosip dimana-mana. Aku bukanlah orang yang langsung percaya dengan omongan orang lain bahkan ketika ada kabar yang tidak mengenakan aku langsung memastikan kepada dia apakah berita itu benar. Aku orang yang percaya banget sama omongan dia apapun itu bahkan aku tidak tahu apakah omongan dia memang benar atau tidak tetapi, aku percaya dan lega ketika mendapat penjelasan dari dia. Sebegitu percayanya aku padanya karena dalam prinsipku ketika aku sedang menjalin hubungan aku harus bisa percaya dengan pasanganku. Aku tidak peduli kalaupun dia ada main belakang denganku karena aku percaya bahwa kebohongan sekecil apapun suatu saat pasti akan ketahuan. Kita sempat berantem karena memang aku sudah berubah. Berubah dalam segi sikap. Aku yang dulu cuek akan omongan orang, yang cemburunya di pendam sendiri, yang dulunya sangat percaya tapi, kini aku berubah menjadi perempuan yang cemas karena takut kehilangan dia. Makin hari dia makin bersikap dingin kepadaku, disitu aku pasrah dan terbiasa tanpa dia. Sampai sampai aku menghilang dari kehidupan dia sebentar untuk menenangkan diriku sendiri. Karena aku mikir buat apasih aku selalu menunggu kabar dia yang sudah jelas dia sulit untuk mengabariku. Setelah beberapa hari aku menghilang aku memberanikan diri untuk membuka pesan dan tujuanku bukan dia tetapi aku membuka pesan siapa tau ada sesuatu yang penting dari teman-temanku. Setelah aku membuka pesan, notif pertama yang masuk adalah pesan dari dia, kita ngobrol dengan hati yang sama sama panas dan tidak terarah karena pikiran pun kacau.
X: Assalamualaikum, apa kabar? Aku mau ngomong sama kamu
Y: Waalaikumsalam, baik silahkan berbicara
Bahkan ketika aku menerima pesan seperti itu aku sudah merasakan bakal ada sesuatu yang terjadi sama hubungan ini. Dan ternyata benar feelingku, dia mengabariku hanya untuk memutuskan hubungan ini. Waktu kita berdebat hebat aku sudah beberapa kali menanyakan apakah dia bersikap dingin karena sudah bosan tetapi, dia selalu menjawab tidak dan tidak. Dan di dalam obrolan ini aku meminta penjelasan kenapa dia minta putus dan katanya kita udah ga sefrekuensi. Kita berdebat dan mencurahkan segala opiniku dan opini dia. Bahkan sesekali aku memohon agar hubungan ini diperbaiki bukan di akhiri tetapi, dia tetap bersikeras untuk mengakhiri hubungan ini dan akhirnya aku nyerah dan tidak perlu memohon lagi karena aku berfikir bahwa yang pergi akan tetap pergi.
Berbulan-bulan lamanya aku menikmati proses ini dengan begitu pait dan hampir saja aku kehilangan jati sendiri. Aku hampir merubah diriku tanpa kesengajaan. Iya! Aku bukanlah orang yang suka sendiri, aku lebih suka bersosial dan selalu mecurahkan apapun yang terjadi kepada orang terdekat ataupun mencurahkan dengan sebuah tulisan. Akan tetapi semenjak luka ini terus melebar hingga sampai terasa di otak dan sangat sulit untuk dilupakan aku yang dulu kian berubah. Bahkan aku tidak mengenal diriku. Aku mengutuk cermin bergambarkan seseorang yang pengecut. Iya! Itu aku. Aku menjadi seorang pengecut yang lari dari masalah. Aku seorang pengecut yang tidak mencintai diri sendiri bahkan mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana aku bisa berdamai dengan diri sendiri jika tidak ada keberanian untuk menyelesaiakan suatu masalah yang tanpa sadar membuat diri sendiri semakin hancur. Kali ini bukan hanya hati saja yang mati, akan tetapi seluruh organ tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hidup berantakan dan tidak terarah karena satu luka yang belum pernah usai. Saat itu, aku mengutuk dan menyalahkan seseorang yang telah memberikan luka ini dan dia tidak lebih dari seorang pecundang yang tidak mau bertanggungjawab untuk kembali menutup luka ini. Dia memberikan kebahagiaan bahkan dia juga yang memberikan luka. Manis sekali bibirnya sampai aku pun sangat percaya dengan apa yang dia katakana waktu itu. Dengan bodohnya aku begitu percaya dan begitu yakin bahwa dia akan terus memberikan kebahagiaan. Memang cinta itu buta dan tuli. Kita tidak bisa mendengar dan melihat mana yang tulus dan mana yang tidak. Dia adalah seorang yang hadir di hidupku membawa sejuta kebahagiaan dan dia juga yang membawa sejuta kepaitan. Hari demi hari aku berusaha ingin menjadi orang yang pengecut, lebih memilih melupakan. Akan tetapi aku tidak pernah bisa melakukan itu. Bahkan untuk membenci dia aku tidak bisa apalagi untuk melupakan. Aku rasa diriku adalah manusia yang paling bodoh waktu itu. Berbulan-bulan aku tidak memaksakan untuk membenci dia ataupu melupakan dia, biarlah berjalan sebagaimana mestinya. Dari situ tumbuhlah rasa kepercayaan kepada diriku sendiri. Aku harus sabar, aku harus ikhlas menerima semuanya agar aku kembali berdamai dengan diriku sendiri. Setelah sekian lamanya, akhirnya aku berhasil. Tanpa memaksakan diriku sendiri dan dengan sendirinya luka ini menutup. Dan kini aku sadar bahwa untuk melupakan kenangan dengan seseorang bukan mencari pengganti tetapi, mampu berdamai dengan diri sendiri dan selalu berusaha mencintai diri sendiri.