Kapal Kargo Listrik Pertama di Dunia Telah Berlayar

Baterai litium ion merupakan baterai yang paling umum digunakan saat ini pada barang-barang elektronik maupun kendaraan listrik. Baterai litium ion terdiri dari anoda (kutub negatif), katoda (kutub positif), elektrolit dan separator. Anoda pada baterai lithium ion menggunakan material grafit sebagai tempat terjadinya oksidasi ion litium. Material grafit dapat digantikan dengan material maju yang berbasis karbon seperti graphene atau carbon nanotube (CNT).

Pada bulan November 2017, Baterai litium ion digunakan oleh The Guangzhou Shipyard International Company Ltd untuk memproduksi kapal kargo listrik yang mampu menampung barang lebih dari 2000 ton. Kapal tersebut dapat menempuh perjalanan sepanjang 80 km (50 mil) setelah baterai litium ion diisi ulang selama 2 jam. Kapal kargo listrik memiliki panjang 70,5 meter, lebar 13,9 meter, kedalaman 4,5 meter dan berat kapal total sekitar 600 ton[3]. Selain baterai litium ion, kapal kargo listrik menggunakan superkapasitor sebagai sumber energi tambahan. Kapasitas baterai litium ion dan superkapasitor sekitar 2400 kWh yang setara dengan kapasitas baterai 40 mobil listrik tipe BYD new E6 “Pioneer”[4]. Kecepatan kapal kargo listrik adalah 12,8 km/jam (8 mph). Jumlah baterai litium ion yang digunakan sebanyak 1000 pak sehingga berat baterai total ditambah superkapasitor sekitar 26 ton. Huang Jailin, General Manajer Hangzhou Modern Ship Design & Research Co, menuturkan bahwa setelah kapal kargo ini digerakkan oleh tenaga listrik maka tidak akan lagi menghasilkan emisi yang akan mencemari lingkungan. Kedepan, teknologi kapal listrik dapat digunakan untuk membawa penumpang seperti kapal pesiar atau kapal penyebrangan.

Kapal kargo listrik akan di uji coba di pulau Longxue, Nansha. Ironinya, kapal kargo listrik akan membawa batu bara untuk menyuplai kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik di sepanjang pearl river atau sungai mutiara. Batu bara merupakan bahan bakar fosil yang menyumbang emisi gas CO2. Lalu, listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tersebut dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai litium ion di kapal kargo. Hal ini berarti kapal kargo listrik belum sepenuhnya mengurangi emisi gas CO2 yang menyebabkan pemanasan global. Harapannya, kapal kargo listrik tidak akan lagi membawa batu bara sehingga zero emission di sektor transportasi barang dapat diwujudkan.

Sumber: